Jelajah Budaya Lintas Agama

SIDOARJO: Komunitas Seni Budaya BrangWetan menyelenggarakan acara “Jelajah Budaya Lintas Agama” pada Jum’at hingga Minggu (4-6 September). Garis besar program tersebut adalah: Mengunjungi tempat ibadah 6 (enam) agama dan Penghayat Kepercayaan di Sidoarjo, yang disambut dengan kesenian yang sesuai dengan masing-masing agama. Malam harinya dilangsungkan “Srawung Budaya Pancasila” berupa diskusi intensif untuk merumuskan format kerukunan umat beragama dengan pendekatan kebudayaan sebagai kontribusi kongkrit dari generasi muda di Hotel Luminor, Jl Pahlawan, Sidoarjo.

Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan, Henri Nurcahyo, menjelaskan bahwa acara ini diikuti oleh perwakilan organisasi pemuda 6 (enam) agama dan 1 (satu) Penghayat Kepercayaan dengan jumlah total sebanyak 30 (tiga puluh) peserta. Rencana semula memang melibatkan lebih banyak peserta namun karena saat ini sedang situasi pandemi Covid-19 maka jumlahnya dibatasi. Itupun peserta dibagi dalam 2 (dua) bus besar.
“Kami sangat ketat memberlakukan protokol kesehatan agar kegiatan ini tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19,” tegas Henri Nurcahyo.

Karena itu selain pembatasan peserta dan psysical distancing maka masing-masing peserta dibekali panitia berupa: masker medis, Faceshield dan hand sanitizer serta suplemen untuk menjaga imunitas. Panitia juga menyiapkan Thermogun (Infrared thermometer) untuk menera suhu tubuh masing-masing peserta dan panitia. Semua peserta dan panitia wajib cuci tangan sebelum memasuki sebuah ruangan atau tempat acara.
“Bahkan panitia melibatkan anggota Tim Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Kab. Sidoarjo yang akan mengawal kegiatan ini sejak dimulai hingga berakhir,” tegas Henri.
Kegiatan ini bekerjasama dengan Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, memilih tema: “Merajut Toleransi Antar Umat Beragama Melalui Jalan Budaya.” Tempat-tempat Ibadah yang akan dikunjungi adalah Masjid Al Abror; Gereja Katolik Paroki Santa Maria Annuntiata, Sidoklumpuk; Vihara Buddha Dharma Bhakti, Pondok Jati; Klenteng Teng Swie Bio, Krian; Pura Margo Wening, Krembung; dan Pesanggrahan Penghayat Kepercayaan Sapta Darma, Krembung.
Mustinya juga akan mengunjungi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sidoarjo, namun ada kendala teknis sehingga pihak gereja yang akan mengirimkan pendeta untuk memberikan materi di hotel. Demikian pula Vihara Buddha yang tidak bisa dikunjungi dalam jumlah besar, maka pimpinannya akan presentasi di hotel.

Jenis-jenis kesenian yang menyertai acara ini adalah Musik Islami Banjari, Paduan Suara Katolik, Musik Kristiani, penampilan Parita Buddha, Barongsay, dan Tari Bali.

Sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang seni budaya, BrangWetan meyakini bahwa seni budaya bukan hanya sebagai sarana rekreasi dan ekspresi artistik belaka melainkan dapat menjadi perekat bagi kerukunan antar-umat yang berbeda beragama. Karena itu kegiatan ini diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan bangunan-bangunan tempat beribadah sehingga bukan hanya memiliki fungsi sebagai sarana ritual beragama belaka melainkan sebagai tujuan wisata dan aktivitas seni budaya, bahkan bagi pemeluk agama lainnya. Juga dapat terciptanya pemahaman bahwa seni budaya dapat menjadi sarana perekat jaringan komunitas generasi muda lintas-agama.

Untuk memberikan bekal wacana kepada peserta maka panitia mendatangkan narasumber, yaitu Dr. A. Rubaidi, M.Ag (UIN Sunan Ampel Surabaya), Mashuri, MA (Balai Bahasa Jatim), Alto Labetubun (aktivis Perdamaian, Jakarta) dan Dodi Dihaudin (Gusdurian, Sidoarjo). Serta selingan stand up commedy lintas agama dari Djadi Galajapo.

Tujuan kegiatan ini adalah; Mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan menekankan prinsip “ketuhanan yang berkebudayaan dan berkeadaban”; juga sila Persatuan Indonesia; Mengantisipasi kemungkinan menguatnya fundamentalisme agama, meredam potensi konflik, konservatisme eksklusif dan ekstrim yang memaksakan kehendak; Mencegah terjadinya eksklusi sosial karena berkembangnya kecenderungan pemahaman, penghayatan dan pengamalan keagamaan yang tidak lagi mencerminkan semangat “ketuhanan yang berkebudayaan”; “yang lapang dan toleran”.; Menguatkan nilai-nilai toleransi diantara para pemeluk agama yang berbeda maupun diantara sesama pemeluk agama yang sama; Mewujudkan kegiatan yang memiliki nilai strategis dalam mempromosikan toleransi dan keberagaman, khususnya di kalangan generasi muda sebagai pelaku aktif. Dan juga mewujudkan “Kota-kota Pancasila” di Indonesia dengan mengambil wilayah Kabupaten Sidoarjo sebagai percontohan. (*)

Contact Person:
Henri Nurcahyo, 0812 3100 832