Disuguhi Barongsai dan Macapat, Malamnya Peserta JBLA Dengarkan Peta Konflik di Sidoarjo dan Timur Tengah

SIDOARJOKINI – Kegiatan Jelajah Budaya Lintas Agama (JBLA), Sabtu (5/9) kemarin mengunjungi empat tempat peribadatan di Sidoarjo, yaitu Vihara Dharma Bhakti (Perumahan Pondok Jati), Klenteng Teng Swie Bio (Krian), Pura Margo Wening (Krembung) dan Sanggar Sapta Darma (Krembung).

Kunjungan ke tempat peribadatan ini rangkaian dari kegiatan Jelajah Budaya Lintas Agama (JBLA) yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan dengan dukungan dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI. Kegiatan berlangsung 4 sampai 6 September 2020.


Liliana dan Ketua BrangWetan, Henri Nurcahyo.
Di Vihara Dharma Bhakti Sidoarjo, peserta sebanyak 30 generasi muda perwakilan dari setiap agama selain mendapatkan penjelasan dari pimpinan Vihara Dharma Bhakti Sidoarjo, Nico Tri Sulistio Budi, tentang keberadaan Vihara Dharma Bhakti juga dibacakan Parita yang berasal dari Bahasa Palu.

Nico menjelaskan keberadaan dan perkembangan agama Buddha di berbagai negara. “Perkembangan agama di berbagai negara tidak dapat dipisahkan dengan budaya negara setempat,” kata Nico yang juga penyuluh agama Buddha di Kabupaten Sidoarjo ini.

Peserta JBLA juga melihat dari dekat Rumah Wihara Dharma Bakti. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai Vihara Darma Bakti dengan beragam kegiatannya, peserta melanjutkan perjalanan ke Klenteng Teng Swie Bio di Krian.

Di rumah ibadah Tri Dharma ini selain disambut kesenian barongsai dan wayang potehi, peserta juga mendapatkan penjelasan dari pimpinan Klenteng Teng Swie Bio, Liliana, baik itu tentang Klenteng Teng Swie Bio, Tri Dharma hingga seni barongsai. Menurut Liliana, barongsai dan wayang potehi berasal dari Tiongkok Selatan ratusan tahun lalu dan terus dilestarikan khususnya di Indonesia. Dikatakan oleh Liliana, selama pandemi Covid-19 di Teng Swie Bio kegiatannya menurun menjadi 25%.

Di Pura Margo Wening peserta disambut tari jengger Bali. Ketua Pura Margo Wening, Tjokorda Mangku Ketut Suardika, menjelaskan tentang kebeberadaan Pura Margo Wening sebagai salah satu pura di Kabupaten Sidoarjo dari awal berdirinya hingga perkembangannya.

Berbicara budaya, Mangku Ketut Suardika ingin Jawa Timur memiliki art center seperti di Bali. “Jawa Timur lebih luas dari Bali layak memiliki art center untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan seni budaya Jawa Timur,” katanya sembari memberikan respon positif tentang kegiatan Jelajah Budaya Lintas Agama ini.

Sementara itu di Sanggar Sapta Darma di Krembung peserta disambut Ketua Persatuan Sapta Darma (Persada) Jawa Timur, Ir. Purnomo. Di hadapan peserta Purnomo menjelaskan perkembangan Sapta Darma. “Kami tidak jarang mengadakan seminar dan dialog interaktif di kampus terkait kiprah dan perkembangan Sapta Darma,” tutur Purnomo.

Pada malam harinya, di Hotel Luminor Sidoarjo, diselenggarakan diskusi dengan narasumber Alto Labetubun (praktisi keamanan dan perdamaian dari Jakarta) dan Dodi Dihaudin (Koordinator Gusdurian Sidoarjo) dan moderator Moh. Masrullah. Sebelumnya peserta mendengarkan petuah-petuah Jadi Galajabo.

Dalam diskusi ini Dodi Dihaudin banyak membeberkan potensi konflik di Kabupaten Sidoarjo. “Sidoarjo ini kelihatannya tenang-tenang saja, tapi sebenarnya diam-diam menyimpan benih-benih konflik,” kata Dodi. Jurus menghindari potensi konflik tersebut, kata Dodi, adalah dialog yang intens antar umat beragama di Sidoarjo.

Sementara Alto Labetubun yang hampir 20 tahun terlibat perdamaian di daerah konflik, terbanyak di Timur Tengah, banyak menceritakan pengalamannya sebagai praktisi perdamaian. Menurutnya, konflik selalu memberi harapan selesai karena ada pihak-pihak yang tidak menginginkan adanya konflik. (km/res)

Sumber: https://sidoarjokini.com/2020/09/06/disuguhi-barongsai-dan-macapat-malamnya-peserta-jbla-dengarkan-peta-konflik-di-sidoarjo-dan-timur-tengah/