Seni Budaya Harus Bisa Jadi Perekat Kerukunan Antar-Umat Beragama

SIDOARJOKINI – Sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang seni budaya, Komunitas Seni Budaya BrangWetan meyakini bahwa seni budaya bukan hanya sebagai sarana rekreasi dan ekspresi artistik belaka, melainkan dapat menjadi perekat bagi kerukunan antar-umat yang berbeda beragama.

Demikian dikatakan Henri Nurcahyo, Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan, dalam siaran pers yang diterima sidoarjokini.com dalam rangka kegiatan Jelajah Budaya Lintas Agama di Hotel Luminor, Sidoarjo, Jumat – Sabtu (4 – 7/9/2020). Kegiatan ini atas kerjasama Komunitas Seni Budaya BrangWetan dengan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI.

“Karena itu kegiatan Jelajah Budaya Lintas Agama diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan bangunan-bangunan tempat beribadah sehingga bukan hanya memiliki fungsi sebagai sarana ritual beragama belaka melainkan sebagai tujuan wisata dan aktivitas seni budaya, bahkan bagi pemeluk agama lainnya. Juga dapat terciptanya pemahaman bahwa seni budaya dapat menjadi sarana perekat jaringan komunitas generasi muda lintas-agama,” kata Henry Nurcahyo.

Tempat-tempat ibadah yang akan dikunjungi adalah Masjid Al Abror (Kauman), Gereja Katolik Paroki Santa Maria Annuntiata (Sidoklumpuk), Vihara Buddha Dharma Bhakti (Pondok Jati), Klenteng Teng Swie Bio (Krian), Pura Margo Wening (Krembung) Pesanggrahan Penghayat Kepercayaan Sapta Darma (Krembung).

“Mustinya juga akan mengunjungi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sidoarjo, namun ada kendala teknis sehingga pihak gereja yang akan mengirimkan pendeta untuk memberikan materi di hotel. Demikian pula Vihara Buddha yang tidak bisa dikunjungi dalam jumlah besar, maka pimpinannya akan presentasi di hotel,” kata Henry.

Adapun jenis-jenis kesenian yang menyertai acara ini adalah musik Islami Banjari, paduan suara Katolik, musik Kristiani, penampilan Parita Buddha, barongsay dan tari Bali.

Untuk memberikan bekal wacana kepada peserta maka panitia mendatangkan narasumber, yaitu Dr. A. Rubaidi, M.Ag (UIN Sunan Ampel Surabaya), Mashuri, MA (Balai Bahasa Jatim), Alto Labetubun (aktivis Perdamaian, Jakarta) dan Dodi Dihaudin (Gusdurian, Sidoarjo). Serta selingan stand up commedy lintas agama dari Djadi Galajapo.

Tujuan kegiatan ini adalah “Mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila”, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan menekankan prinsip “Ketuhanan yang berkebudayaan dan berkeadaban”; juga sila Persatuan Indonesia; Mengantisipasi kemungkinan menguatnya fundamentalisme agama, meredam potensi konflik, konservatisme eksklusif dan ekstrim yang memaksakan kehendak;

Mencegah terjadinya eksklusi sosial karena berkembangnya kecenderungan pemahaman, penghayatan dan pengamalan keagamaan yang tidak lagi mencerminkan semangat “ketuhanan yang berkebudayaan”; “yang lapang dan toleran”.; Menguatkan nilai-nilai toleransi diantara para pemeluk agama yang berbeda maupun diantara sesama pemeluk agama yang sama;

Mewujudkan kegiatan yang memiliki nilai strategis dalam mempromosikan toleransi dan keberagaman, khususnya di kalangan generasi muda sebagai pelaku aktif. Dan juga mewujudkan “Kota-kota Pancasila” di Indonesia dengan mengambil wilayah Kabupaten Sidoarjo sebagai percontohan. (res/*)

Sumber: https://sidoarjokini.com/2020/09/03/seni-budaya-harus-bisa-jadi-perekat-kerukunan-antar-umat-beragama/