Prof Mas’ud Said: Dunia Hancur Karena Tidak Saling Peduli

SIDOARJO: Kebahagiaan itu sesuatu yang mahal.  Padahal Allah memberi kebahagiaan di depan kita, seperti saling percaya, giving, loving, and carrying. Memberi itu adalah sebuah kebudayaan yang menguatkan siapa saja. Giving tidak harus berupa materi. Bisa berupa waktu, atau memberi hati. Demikian pula loving, menyintai. Saya kira yang menggerakkan kita semua ini adalah karena cinta. Ketiga, carrying, peduli. Tanpa kepedulian, kita semua tidak akan sampai berada di sini.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, Prof Mas’ud Said, mengemukakan hal itu dalam acara sarasehan “Padang Bulan di Kampung Seni” yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan, Sabtu malam, 31 Oktober yang lalu.

Di tengah guyuran hujan yang masih juga belum reda, acara batal dilaksanakan di tempat terbuka namun justru berlangsung efektif dalam bentuk sarasehan di serambi rumah Mahmud Yunus. Secara kuantitas memang sedikit yang hadir namun Prof Mas’ud yang jauh-jauh dari Malang tetap hadir. Lelaki yang lahir di Sidoarjo pada 8 Maret 1964 ini sebelumnya membuka sebuah acara yang diselenggarakan ISNU Cabang Ponorogo secara daring.

Dr. Tjuk Kasturi Sukiadi, yang lebih suka menyebut dirinya aktivis, juga hadir menerjang hujan dari Surabaya. Demikian pula beberapa tokoh masyarakat, ulama, termasuk anggota DPRD Provinsi Jatim, Khulaim. Usai Prof Mas’ud memberikan tausiyah, hadir pula Dr. H. Hudiyono, pejabat Bupati Sidoarjo.

Menurut Prof. Mas’ud,  dunia itu hancur karena saling tidak peduli, tidak saling menyinta, dan tidak saling memberi. Korupsi itu terjadi karena taking bukan giving. Hanya mengambil saja tanpa memberi. Termasuk mengambil yang bukan haknya. Ini adalah bencana kemanusiaan terbesar dalam birokrasi. Mengambil yang bukan haknya adalah bencana ekonomi terbesar dunia. Sebagaimana dikatakan Mahatma Gandhi: bahwa ”Dunia cukup besar untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, namun dunia terlalu kecil untuk bisa memenuhi kerakusan manusia.” Dunia tidak akan bisa menyediakan untuk gaya hidup kita.

Semboyan yang diserukan Mahatma Gandhi adalah: Satyagraha (tidak berkompromi dalam menegakkan kebenaran), Swadesi (memroduksi kebutuhan sendiri), dan Ahimsa (tanpa kekerasan). Ini sebetulnya sangat nusantara. Kita selama ini terlalu banyak impor karena tidak melaksanakan ketiga hal tersebut. Kita tidak memroduksi kebutuhan kita sendiri. Inti dari kebudayaan yang agung itu terdapat di tiga komunitas adat di Indonesia bisa dijadikan contoh: Bali, Tengger dan Samin. Bali yang dulu, bukan sekarang, di tiap tikungan selalu memajang hiasan, menghormati alam, tidak boleh memotong ranting pohon yang menjulur ke rumahnya, karena Tuhan yang mengirimkan sinar matahari sehingga daun dan ranting itu tumbuh. Demikian pula yang ada di Samin sebagai salah satu inti dari kebudayaan nusantara, walaupun kita memiliki sekitar 360 suku bangsa.

Dalam skala dunia, bahwa semua bangsa di dunia ini ketika pertama kali lahir pasti berbentuk kerajaan. Tidak satupun negara di dunia ini yang tidak berawal dari kerajaan. Hanya negara-negara baru saja yang bukan kerajaan, seperti Amerika Serikat dan Australia. Itupun mengambilnya dari Inggris. Maknanya apa, semua itu muncul dari budaya atau kultur, baru ada negara. Kalau ada negara tanpa kultur maka usianya tidak akan lama. Saya memerkirakan Amerika itu akan ambruk. Apa yang dibanggakan Amerika itu kan freedom, padahal kebebasan itu akan mencelakakan mereka. Juga The Wealth, kekayaan yang tidak terbatas. Dan ini berlawanan dengan falsafah Gandhi. Ketika ego dan kekayaan manusia tidak dibatasi maka akan menimbulkan bencana bagi dirinya sendiri dan dunia.

Sebagaimana dikatakan Thomas Lickona (1992), bahwa disamping tatanan kultur, kebudayaan itu adalah kebiasaan dan adat istiadat, yang merupakan core value, bahwa hidup yang ideal itu ada tiga tingkatan. Yang pertama, moral knowing. Ini adalah yang paling rendah. Kita hanya tahu soal kebaikan tetapi kebaikan itu tidak menjadi kebiasaan kita. Yang agak lumayan adalah moral feeling, dimana kalau menghadapi keburukan kita langsung berontak. Sedangkan yang paling bagus ada pada tingkatan moral action. Bahwa seluruh pemimpin, mulai dari Ustad, Bupati, Camat, Walikota, Gubernur, hingga Presiden itu kalau seluruh kegiatannya berdasarkan moral action.

Lantas, jatidiri Sidoarjo itu seperti apa? Belum jelas. PR kita adalah melakukan objektivikasi apa keunggulan Jenggala itu. Tidak hanya statue, prasasti.   Tanpa modal kebudayaan hanya tinggal administrasi dan geografi belaka, borderless. Berkaitan dengan hal itu maka Sidoarjo, diantara 38 kota/kabupaten di Jatim, paling sulit dicandra. Hanya sanad-nya saja yang jelas, tetapi siapa dan anaknya siapa tidak jelas. Siapa yang dapat menjelaskan Sangkan Paraning Sidoarjo? Ini problem besar. Surabaya, Malang atau Banyuwangi, semua memiliki titik sentral yang cukup dikatakan dalam dua frasa yang diikuti oleh masyarakatnya. Sulit sekali membuat katagorisasi ilmiah buat Sidoarjo. Kita harus temukan dulu ma huwa, ma hiya Sidoarjo. What is Sidoarjo. Apakah Sangkan Paraning Sidoarjo?

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Ada tiga ornament dalam kebudayaan untuk membuat sesuatu menjadi landing. Kalau dalam Islam ada Nabi Muhammad SAW yang menggerakkan umatnya. Cina itu menjadi besar karena ada Deng Xiao Ping. Ada Partai Komunis yang menjadi penggeraknya. Ahluss Sunnah wal Jamaah memiliki Hadratus Syech Hasim Asy’ari. Bahkan agak lumayan ada Gus Dur. Muhammadiyah memiliki K.H. Ahmad Dahlan. Uni Sovyet dulu memiliki Gorbachev dan Lenin. Pakistan memunyai Zia Ul Haq. India memunyai Mahatma Gandhi dan Indira Gandhi. Inggris punya Margareth Thatcher. Jadi tidak ada kebudayaan tanpa tokoh budaya. Tapi kita punya siapa? Bung Karnolah yang menjadikan Indonesia kuat. Setelah Bung Karno siapa? Kalau toh ada, apakah landing di masyarakat?

Harus ada pemegang dan penyebar kebudayaan. Sebagaimana hadits Nabi, bahwa lisan saja tidak cukup. Harus ada action. Bukan hanya moral knowing dan moral feeling. Sama dengan yang diserukan Kanjeng Nabi, bahwa iman itu tidak cukup hanya sebatas lisan, Qolu bil lisan, dan Tasdiqun bil qolbu, itu tidak cukup. Harus ada wa ‘amalun bil arqan. Artinya, iman itu tidak cukup disampaikan dalam lisan dan disimpan di hati, tetapi harus dilaksanakan sesuai dengan rukun-rukunnya. Karena itu saya minta  orang-orang ISNU untuk tidak banyak pidato. Yang penting adalah action­-nya.

Kita dapat memulai dari adab-adab atau kebiasaan kecil, dimana kita saling percaya, saling menyinta, saling membutuhkan. Ada sesuatu yang tidak dapat kita beli dengan uang walaupun semuanya dapat diuangkan. Kebahagiaan tidak bisa ekuivalen dengan jabatan. Justru sekarang ini, jabatan adalah jalan tercepat menuju penjara.

Kebudayaan itu ada empat bentuk. Pertama adalah situs peninggalan. Kedua adalah sendra, meliputi lukis, tari, suara. Kalau Remo dianggap milik Surabaya, Sidoarjo punya apa? Ketiga, adalah kebiasaan lokal yang berulang-ulang dan dikerjakan bersama-sama. Seperti weweh, soyo, rewang, gugur gunung, tahlilan, istighosah dan sebagainya. Juga dulu masih ada neloni, mitoni, dan sebagainya. Sedekah bumi itu juga menjadi bagian dari kebudayaan karena termasuk Local Wisdom. Keempat, ….

Dan akhirnya, mantan Asisten Staf Khusus Presiden RI ini memberikan pesan: Jangan bekerja sendiri. Semua adala bala kebudayaan. Bahkan termasuk anak-anak yang di jalanan. Tanpa itu semua maka seperti Partai Komunis Cina tanpa Deng Xiao Ping. Seperti Glasnost Perestroika tanpa Gorbachev. Indonesia tanpa Soekarno. Atau seperti NU tanpa Hadratus Syech Hasyim Asy’ari. Tidak mungkin.

Sementara itu, Dr. Hudiyono, Pj. Bupati Sidoarjo, menyambut baik acara in. Sebab, dengan Silaturrahmi maka segala urusan bisa selesai, nambah kesehatan dan awet muda serta nambah rejeki. Pertemuan ini diharap dapat meningkatkan sinergitas seniman dengan pemerintah kabupaten Sidoarjo. Dengan demikian ruang-ruang yang ada di masyarakat dapat terisi semua, karena tidak mungkin harus menggantungkan pada pemerintah. Melalui Cangkrukan ini kita bisa bicara santai namun bisa mendapatkan info yang banyak. Diharapkan masyarakat Sidoarjo ini bisa guyub, rukun dan makmur.

Manakala kegiatan budaya bisa hidup maka pertumbuhan ekonomi yang sempat terkontraksi turun diharapkan bisa normal kembali. Dan yang penting juga, bahwa budaya itu membuat perasaan halus. (h)