Ludruk Tidak Boleh Menyerah

MOJOKERTO: Dalam era teknologi yang kian pesat perkembangannya maka ludruk harus bisa mengimbangi dengan berbagai inovasi yang berkembang pada masyarakat. Ludruk tidak boleh menyerah. Seniman Ludruk harus bisa mengimbangi perkembangan teknologi. Manfaatkan sarana YouTube untuk menggelar pentas secara virtual.

Seniman tradisi ternama Jawa Timur, Syakirun alias cak Kirun, menyampaikan hal ini dalam acara Workshop Ludruk yang digelar oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mojokerto di hotel Royal Trawas, Kamis (5/11). Acara yang berlangsung hingga Jumat ini diikuti oleh 45 pelaku ludruk dari 15 grup ludruk. Selain Kirun, narasumber yang memberikan materi adalah Henri Nurcahyo (Pemahaman UU Pemajuan Kebudayaan), Meimura (Penyutradaran), Edi Karya (Manajemen Produksi), Sukatno (Manajemen Panggung), dan Roci Marciano (akting).

Lebih lanjut Kirun mengatakan, bahwa kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan penghasilan. Kreativitas itu ikut muncul sebuah pertunjukan secara Virtual. Virtual artinya segala kegiatan yang menyerupai aslinya dengan memanfaatkan teknologi Internet. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, namun tidak mengurangi isi dan makna dari sebuah pertunjukan terutama Ludruk, mulai dari Koor, Remo., Pordag serta Cerita. Selain itu kita juga dibatasi dengan waktu yang tidak seperti pementasan yang biasanya, namun dalam Pertunjukan secara Virtual  kurang lebih hanya sekitar 2-3 jam. Bahkan cukup satu jam saja dengan memenuhi segala aturan protokol kesehatan dari Pemerintah.

Pementasan secara virtual, tambahnya, adalah satu kemasan pertunjukan yang meminimalkan segala aspek pendukung dari sebuah tontonan yang dikemas secara apik. Namun semua tidak mengurangi daripada makna dan isinya yang merupakan ciri khas pertunjukan tersebut.  Jadi seandainya seseorang melihat dan tanpa membaca judul atau keterangan mereka sudah tahu bahwa itu pertunjukan Ludruk walaupun dikemas secara singkat dan padat karena tidak meninggalkan ciri khas dari Ludruk.

Kirun berani mengklaim bahwa apa yang dilakukannya dengan ludruk virtual merupakan satu-satunya di Jatim, bahkan di dunia, karena Ludruk memang hanya ada di Jatim. Penonton yang subscribe sudah mencapai puluhan ribu, hampir seratus ribu. Sponsor sudah berdatangan. Bahkan Kirin mengaku banyak tawaran pentas ludruk secara virtual dari kalangan pejabat di pemerintah pusat.

Ludruk virtual merupakan jawaban kreatif yang dapat dilakukan seniman ludruk untuk bisa tetap eksis di tengah pandemi ini. Seniman, kata Kirun, jangan hanya bisa demo menuntut pemerintah agar diizinkan pentas. “Kalau toh sudah diizinkan namun tidak ada yang nanggap gimana?” tanya Kirun oratoris.

Sementara itu, dalam sambutan pembukaannya, Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto H.Amat Susilo, S.Sos, Msi, menyatakan ikut prihatin atas kondisi ludruk yang sepi tanggapan. Karena itu pemerintah berusaha sedikit meringankan beban seniman dengan memberikan bantuan sosial berupa uang tunai. “Silakan ajukan kepada kami, biar segera diproses,” ujarnya.

Henri Nurcahyo yang membawakan materi mengenai Undang Undang Pemajuan Kebudayaan, menyampaikan perlunya seniman mengenali potensinya sendiri. Deskripsi itu penting agar dapat dilakukan tindakan yang diperlukan untuk kemajuan ludruk. Bahwasanya pelestarian itu saja tidak cukup. Namun sebagaimana amanat dalam UU Pemajuan Kebudayaan, ada Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan.

Sedangkan Meimura menekankan pentingnya kehadiran sosok sutradara bekerjasama dengan tim yang tepat dan ahli di bidangnya.   Kehadiran seorang sutradara tidak hanya memberi suport spirit pertunjukan namun juga support moril, materiel, bahkan hadir sebagai sosok “orang tua asuh “ terlebih bila sang Sutradara juga sebagai pemilik kelompok Ludruk. Pekerjaan dan tugas sutradara dalam kesenian ludruk, tidak saja memilih cerita, memilih pemain/Casting, merangkai susunan dramatika,menjaga pos-pos artistik, estetik, tapi juga dituntut dapat membangun dramatika yang terbarukan diatas cerita yang lama.

Pembicara terakhir pada hari pertama, Edi Karya, mengajak para pelaku ludruk untuk belajar dari kelompok lainnya yang laris. Dia sebutkan contoh, ludruk Karya Baru, yang menjaga konsistensi pemainnya, tidak gonta-ganti. Semua pemain selalu mengutamakan grupnya sendiri. Pimpinan ludruk Karya Baru juga rajin membuat jejaring dan hapal betul agenda ritual di banyak desa yang biasanya mendatangkan hiburan ludruk. Juga orang-orang yang punya hajat.

Sukatno, mantan Kepala Taman Budaya Jatim yang kini aktif di STKW Surabaya, menyampaikan pesan bahwa untuk menjamin keberhasilan sebuah usaha maka manajemen harus dilaksanakan berdasarkan dalil-dalil umum manajemen. Diantaranya: Prinsip pembagian kerja,  Prinsip wewenang dan tanggung jawab, Prinsip tertib dan disiplin, Prinsip Kesatuan komando, Prinsip semangat kesatuan, dan prinsip keadilan dan kejujuran.

Roci Marciano, seorang dosen di STKW Surabaya menegaskan sikap yang perlu dimiliki oleh seorang aktor dalam menjalankan profesi perannya didalam kehidupan ialah bersikap. Aktor itu adalah seorang pemeran yang menghidupkan tokoh yang ada maupun yang tidak ada melalui dirinya. Berlatih improvisasi menjadi penting ditekankan bagi seorang aktor, karena pada dasarnya kehidupan itu sendiri banyak menuntut kepekaan seorang aktor untuk melakukan improvisasi. (h)