Menonton Panji di Selomangkleng yang Sepi

KOTA KEDIRI: Gara-gara pandemi, rasanya lama sekali tidak ada pertunjukan kesenian, khususnya Panji. Maka begitu saya baca poster H-1 acara Panji di Selomangkleng (kadang ditulis tanpa huruf K), langsung saya putuskan berangkat. Meskipun saya tahu ini acara disiarkan langsung melalui streaming Youtube. Dalam bayangan saya, acara akan berlangsung seperti biasanya, namun dengan jumlah penonton terbatas. Saya nekat datang karena berharap bisa bertemu dengan teman-teman Kediri disamping para penyaji. Setidaknya ada Agus Bimo dan Djarot B. Darsono yang sudah saya kenal lama.

Ternyata, kompleks wisata Goa Selomangleng sangat sepi. Ketika saya datang hanya ada beberapa orang yang lalu lalang, sebagian bersepeda. Sejumlah penjual makanan nampaknya masih berharap ada yang membeli, setidaknya dari pengunjung acara ini. Tapi bagaimana mungkin orang berkunjung ketika di pintu masuk sudah terpampang pagar pembatas dengan tulisan “Ditutup Sementara”. Ada dua orang pengunjung yang nyelonong masuk museum pun terpaksa ditolak karena masih libur. Padahal ini hari Minggu (15/11) yang biasanya pengunjung berjubel di objek wisata ini. Saya pun gagal bertemu dengan teman-teman Kediri.

Berbeda dengan acara biasa, kali ini tepat pukul 09.00 acara langsung dimulai. On time. Sejumlah kamera video bersiap di beberapa posisi. Sadar bahwa acara berlangsung on air, saya tidak berani berpindah-pindah posisi untuk dapat memotret dengan sudut pengambilan yang bagus. Saya tahu diri, kuatir pengambilan gambar terganggu karena kelebatan tubuh saya. Beberapa fotografer juga hanya mengambil gambar dari belakang kameraman video.

Sempat terbersit bahwa ternyata enak juga menyaksikan pertunjukan tanpa penonton langsung seperti ini. Saya bisa duduk manis dan memilih posisi strategis yang memungkinkan untuk dapat menyaksikan acara dengan jelas tanpa terganggu ratusan penonton yang biasanya berdesakan. Maklum, areal sempit di depan Gua Selomangkleng ini memang bukan panggung pertunjukan yang menyisakan tempat untuk penonton.

Karakter pertunjukan ini memang tidak cocok untuk dipentaskan di panggung prosenium, dimana penonton duduk manis menghadap ke arah panggung. Kalau toh ada panggung cocoknya teater arena, dimana penonton menyaksikan dari tiga arah. Bahkan sebagaimana “pertunjukan” kesenian nonkonvensional, memang tidak menyediakan space untuk penonton. Yang mau menyaksikan biarlah mencari tempat sendiri atau bahkan sebagian berbaur dengan penyaji yang lebih berkonsentrasi melakukan penjelajahan ruang dengan gerak.

Kalau toh di bibir bukit goa Selomangleng ini sempat dibangun panggung kecil, itu hanya untuk pemain gamelan. Selebihnya, semua penyaji tampil di area berlantai tanah, juga naik ke bebatuan menuju goa, bahkan ada sebagian yang tahu-tahu keluar dari goa. Entah kapan dan bagaimana caranya mereka sudah berada di sana, sebab goa itu buntu, tidak ada lobang pintu belakangnya. Barangkali, karena saya asyik menyaksikan petunjukan di arena depan diam-diam sejumlah pemain naik ke mulut goa dari arah samping selatan tanpa diketahui. Luar biasa. Apalagi yang menyaksikan pertunjukan via youtube.

Acara kali ini dimulai dengan ritual arak-arakan Panji dan Sekartaji, disusul Anter Asmorotedjo (Anter Dance, Yogyakarta), Bimo Wiwohatmo (Bimo Dance Theatre Yogyakarta), Dalang Seni Jantur Agus Bima Prayitno (Klaten), Studio Taksu Yogyakarta (Djarot B. Darsono), Rumah Tari Sangishu pimpinan Agus Gunawan (Lampung), Ambarwati (Sanggar Tari Budaya Nusantara Kediri) dan diakhiri sajian musik Joel Tampeng dan Bagus Mazasupa (Yogyakarta) yang bermain duet gitar dan kibor.

Kali ini, Walikota Kediri yang biasanya hadir, absen, diwakili oleh Kepala Dinas Parbudporra Kota Kediri.

Suasana pandemi ini sepertinya tidak menjadi halangan bagi seniman untuk berkreasi. Tugas seniman adalah berkarya. Dan itu adalah tugas kemanusiaan. Optimisme harus selalu ditegakkan. Sebagaimana dikatakan Bagus Mazasupa, “karya ini untuk menggambarkan suasana gembira karena sebentar lagi kita terlepas dari pandemi. Percaya !!!”

Sebagaimana dikatakan Kepala Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Parbudpora) Kota Kediri, Drs. H. Nur Muhyar, para penyaji tetap bersemangat menyajikan karyanya meski tanpa penonton. Setidaknya melalui acara ini dapat dijalin silaturahim, komunikasi dan persaudaraan untuk bersama-sama membangun kesenian dan kebudayaan nasional yang antara lain berbasis kesejarahan Panji di Kediri. Dalam era digitalisasi ini, kata Muhyar, mau tak mau menuntut kita meningkatkan skill untuk menampilkan karya secara digital. Diharapkan, karya ini dapat dinikmati baik sebagai hiburan atau untuk mengedukasi masyarakat agar lebih berbudaya yang hidup dengan kehalusan seni dan sastra.

Begitulah, setiap tahun acara ini digelar selalu didominasi penyaji dari Yogyakarta dan Solo. Entah mengapa. Bahkan ketika Mbah Suprapto Suryodarmo masih ada, nyaris setiap tahun seniman dari Padepokan Lemah Putih Srakarta itu selalu tampil di sini. Penyaji dari Jatim yang pernah tampil antara lain Wayang Topeng Suroso dari Malang, musik Joko Porong, yang tetap saja hanya sebagai pengisi tambahan belaka. Pernah juga tampil Sawung Jabo dan Ayu Wedayanti.

Lantaran acara ini berlangsung live maka tepat dua jam acara sudah usai. Padahal biasanya sampai sore hari.
Ya sudah begitu saja. Sila disimak foto-fotonya saja. Atau kalau mau saksikan rekamannya bisa klik: https://www.youtube.com/watch?v=O35vx0mN-a0&feature=youtu.be

Foto-foto lebih lengkap bisa diakses di sini: https://www.facebook.com/henrinurcahyo/posts/10221107626615241?notif_id=1605507650613245&notif_t=feedback_reaction_generic&ref=notif

Salam Panji
Henri Nurcahyo