Perlu Pendekatan Baru Narasi Kepemimpinan Perempuan

SIDOARJO: Ada kecenderungan untuk meminggirkan tokoh-tokoh perempuan yang berdaya. Bahwasanya kalau perempuan menjadi pemimpin itu harus galak, harus keras, sementara perempuan pemimpin yang lemah lembut malah dianggap tidak berdaya. Karena itu diperlukan pendekatan baru dalam narasi kepemimpinan perempuan.

Hal itulah yang mencuat dalam seminar daring (webinar) dengan tema “Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Budaya Nusantara” yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan, Jumat siang hingga sore (18/12).

Dalam seminar ini hadir sebagai pembicara adalah Dr. Antarini Arna, Doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta; Dr. Pinky Saptandari, antropolog dan pengajar Fisip Unair;  Dr. Adriana Venny Aryani, Komisioner di Komisi Nasional anti Kekerasan terhadap Perempuan periode 2015-2019 untuk Divisi Pemantauan dan Advokasi Internasional untuk Divisi Pemantauan dan Advokasi Internasional (2015 – 2019). Dan satu-satunya narasumber pria adalah M. Dwi Cahyono, M.Hum, arkeolog dari Universitas Negeri Malang. Sedangkan moderator dalam acara ini adalah Henri Nurcahyo, ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan.

Dalam paparannya yang berjudul: “Pentingnya Perspektif Kesetaraan Gender Dalam Narasi Seni dan Budaya Dalam Konteks Promosi Toleransi,” Antarini menyerukan pentingnya membaca ulang narasi dengan pendekatan feminis atau menggunakan lensa gender. Seperti apa daya atau kuasa perempuan pada konteks zamannya, dari mana daya atau kuasa itu berasal, dan bagaimana dia menggunakannya. Perlu digali bagaimana tokoh perempuan dari perut seni dan budaya tradisional.

“Kita perlu menarasikan kepemimpinan tokoh perempuan dalam seni dan budaya tradisional dengan pendekatan baru. Bagaimana memberi makna baru konsep maskulinitas tradisional,” tegas perempuan pelahiran Madiun yang menjabat sebagai Senior Advisor on Human Rights snd Gender Justice dan mantan pembela korban Jugun Ianfu dan korban 1965 itu

Apa yang disampaikan Antarini Arna, yang akrab disapa Rino, senada dengan gagasan Pinky Saptandari yang menyebut bahwa kepemimpinan perempuan selalu dipertanyakan karena kepemimpinan selalu berwajah maskulin. Identik dengan laki-laki.  Dunia  publik dan politik dianggap dunia laki-laki. Ada dominasi ideologi  patriarki dalam masyarakat dalam bungkus budaya dan  praktik beragama. Juga rendahnya penghargaan terhadap perempuan dalam balutan konsep ibuisme dan domestikasi perempuan. Dunia ilmu pengetahuan, termasuk ilmu sejarah selalu berada dalam dominasi patriarki.

Karena itu, tambah antropolog dan pengajar di Fisip Unair ini, penting melawan lupa sejarah gerakan perempuan, baik sebelum dan setelah 1965. Harus ada redefinisi, rekonstruksi dan dekonstruksi kepemimpinan perempuan.

Selama ini posisi ibu hanya dikonstruksikan harus memberikan manfaat bagi semuanya, seperti dalam syair lagu  “kasih ibu bagaikan surya yang menyinari dunia.” Tapi lupa bahwa ibu juga berhak untuk memerjuangkan dirinya sendiri.

Ironisnya, tambah mantan Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak ini, Hari Ibu yang selama ini diperingati setiap tanggal 22 Desember itu lantas disamakan dengan Mother’s Day di negara-negara Barat. Padahal kelahiran Hari Ibu adalah dimaksudkan untuk menandai era kebangkitan keberdayaan perempuan dalam berorganisasi.

Sementara Dr. Adriana Venny menyoroti posisi “Perempuan dalam Mitos-mitos Nusantara” sebagaimana yang menjadi topik disertasinya dalam Ilmu Filsafat  dari Filsafat Universitas Indonesia. Menurut peraih penghargaan Kartini Award kategori Social Activist pada tanggal dari El John Foundation ini, selama ini dongeng-dongeng nusantara yang telah berupa teks  banyak mengandung ideologi tertentu yang merugikan perempuan. Padahal anak-anak di Indonesia sangat menggemari cerita sebelum tidur ataupun story telling. Menceritakan sebuah kisah yang mengandung tema pembunuhan, traficking, penelantaran dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya, membuat banyak orangtua menjadi gamang. Akibatnya mungkin saja orangtua akhirnya lebih menjatuhkan pilihan pada dongeng-dongeng Barat yang lebih ramah terhadap anak.

Banyak mitos atau dongeng yang terkesan mengerikan. Dalam dongeng “Calon Arang” misalnya digambarkan sebagai perempuan buruk rupa yang jahat, menakutkan dan menyebarkan wabah mematikan. Padahal Calon Arang adalah sosok pemberontak yang sulit diatasi oleh Raja Airlangga. Masih banyak contoh lainnya

“Karena itu perlu ada teks baru yang berkeadilan gender,” tegas mantan Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan hingga tahun 2008 ini.

Dwi Cahyono yang tampil terakhir menyodorkan topik “Citra Perempuan dalam Konteks Budaya Panji.” Menurut arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM) ini, filosofi Cerita Panji adalah soal mencari dan menemukan yang direpresentasikan tokoh Raden Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji alias Candrakirana.

“Tidak sepenuhnya perempuan dalam Cerita Panji berada dalam peran dominasi laki-laki,” tegas lelaki kelahiran Tulungagung ini.

Ternyata, paparan keempat pembicara ini menyambung satu sama lain meski tanpa janjian lebih dulu. Mereka senada untuk memerkuat peran perempuan dan memberikan tafsir kritis terhadap teks dalam seni budaya nusantara.

Pada ujung seminar, Prof. Dr. Toeti Heraty Rooseno, Doktor Filsafat Universitas Indonesia, menyumbangkan pemikirannya mengenai perlunya dilakukan reformasi pendidikan agama. “Sebab apa yang selama ini diceramahkan oleh para Ustadz itu berpengaruh kuat dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap posisi perempuan yang masih direndahkan,” tegas tokoh perempuan ternama itu. (h)