OBITUARI TJUK KASTURI SUKIADI

Bagian Pertama

Catatan Henri Nurcahyo

SETELAH terbaring beberapa hari di ruang ICU Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) milik Universitas Airlangga, Tjuk Kasturi Sukiadi akhirnya pulang ke haribaan-NYA sore ini (16/1). Tentu saja saya sedih, karena sejak mendengar kabar Pak Tjuk masuk ICU karena terpapar Covid 19, saya selalu berharap beliau berhasil keluar dengan wajah gembira. Namun Tuhan berkehendak lain. Pak Tjuk betul-betul keluar ruangan ICU, keluar dari rumah sakit, bahkan keluar dari dunia fana menuju alam keabadian untuk selama-lamanya.

Sebetulnya saya tidak terlalu dekat dengan lelaki yang selalu menyebut dirinya aktivis ini. Namun belakangan interaksi saya dengan Pak Tjuk sedemikian intens dalam beberapa kesempatan. Saya kagum atas semangatnya yang selalu berkobar-kobar ketika bicara soal nasionalisme, soal kebangsaan, soal kebudayaan, dan juga dorongan semangatnya kepada mereka yang berusia muda.

Tidak segan-segan Pak Tjuk melontarkan pujiannya kepada anak muda yang menurutnya layak dipuji. Kadang saya merasa sungkan sendiri ketika dipuji Pak Tjuk di depan banyak orang.

“Dik Henri ini orang yang konsisten dengan budaya Panji. Dia itu Pejuang Budaya Panji,” tegasnya.

Banyak orang mengira dia seorang Profesor, padahal “hanya” bergelar Doktor dari Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Pak Tjuk memang tidak berkeinginan meraih gelar professor karena dirinya lebih suka berada di lapangan bersama para aktivis dan bukan berkutat dengan penelitian ilmiah di kampus. Toh masih sering saja orang menyebutnya professor alias guru besar. Ya memang dia “guru besar” dalam arti guru bagi banyak orang yang cinta negeri ini, cinta bangsa dan kebudayaan. Sampai-sampai sosok Tjuk Sukiadi lebih melekat dengan predikat budayawan ketimbang ekonom dalam pengertian sempit.

Saya masih ingat, awal bulan September 2020 saya memposting di fesbuk acara yang akan saya selenggarakan di Hotel Luminor Sidoarjo dengan judul “Jelajah Budaya Lintas Agama.” Acara selama tiga hari dua malam ini merupakan ruang perjumpaan para remaja lintas agama dan kepercayaan untuk saling mengunjungi masing-masing tempat ibadah dalam perspektif sebagai pusaka budaya. Dalam kunjungan itu disambut oleh kesenian religi sesuai agama yang bersangkutan. Malam harinya digelar diskusi budaya, agama dan Pancasila.

Pak Tjuk langsung tertarik. Bertanya dimana lokasinya. Lantas ia menulis komentar agak panjang, “Wah acaranya hebat banget. Salut kepada aparat/Dinas Sidoarjo yang sudah berani memberi fasilitas dan berpartisipasi aktif dalam acara kolosal ini. Biasanya aparat pemerintah di zaman pandemi Covid 19 ini kan kerjaannya adalah ngerem dan meden-medeni. Btw saya tertarik ikut mendengarkan diskusi hari pertama dan hari kedua……   “

Hari Jum’at malam, tanggal 4 September 2020 tahu-tahu Pak Tjuk sudah muncul di lantai atas Hotel Luminor tempat acara berlangsung. Saya kaget, saya kira Pak Tjuk hanya bercanda. Sebab acara ini memang saya tidak mengundang siapapun. Ini acara terbatas. Peserta yang semula berjumlah 60 remaja saya potong hingga separuhnya karena pembatasan protokol kesehatan.

Saya tidak sampai hati membiarkan lelaki sepuh ini hanya duduk di antara kursi peserta yang semuanya masih remaja. Beliau saya persilahkan duduk di kursi panggung, bersama dengan narasumber dan pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo untuk mengikuti acara pembukaan.

Begitu seremonial pembukaan selesai, Pak Tjuk akan bergeser ke tempat duduk di bawah. Namun cepat-cepat saya dan Willy Yunus mencegahnya. Saya dan Willy sudah sepakat bahwa Pak Tjuk tidak boleh hanya menjadi penonton pasif. Beliau harus tampil bersama dengan narasumber yang sudah direncanakan yaitu Dr. A. Rubaidi dari UIN Sunan Ampel Surabaya yang berbicara dengan topik “Pancasia dan Keberagaman”, dan pembicara Mashuri dari Balai Bahasa Jatim dengan topik kebudayaan. Sedangkan Pak Tjuk saya biarkan bicara tentang apa saja.

“Merdeka !!” Serunya mengawali paparannya yang berapi-api. Pak Tjuk menceritakan dirinya sendiri sebagai seorang aktivis yang lahir dari keluarga nasionalis tulen dan merasa sangat berbahagia karena termasuk generasi yang dapat mendengar langsung pidato Bung Karno. Dituturkannya, kondisi perekonomian negara saat itu sangat buruk sekali. Ekonomi perjuangan. Masih lekat dalam ingatan ketika Tjuk kecil membayangkan memiliki sepeda motor dengan cara mengikat sebuah balon yang dipasang sedemikian rupa sehingga bergesekan dengan ruji roda sepeda ketika berputar dan menimbulkan suara mirip suara motor.

Maka kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang ini, kondisi perekonomian kita sudah amat sangat jauh lebih maju. Kita bisa begini ini, kata Tjuk, karena Pancasila. Aneh sekali kalau ada yang mengatakan bahwa Pancasila  tidak ada gunanya. Ini orang yang tidak mau bersyukur.

“Ketika Bung Karno pidato Pancasila, belum ada kemerdekaan. Juga sebagaimana kata Gus Dur bahwa bangsa Indonesia ini memang belum selesai. Kita harus selamatkan negeri ini dengan mengamalkan Pancasila. Soekarno sendiri adalah produk keberagaman. Ibunya orang Bali, ayahnya orang Jawa, dan dia juga belajar Islam,” tegasnya.

Dengan penuh semangat Pak Tjuk menyampaikan, “Meskipun negeri ini pernah dijajah, kita jangan memiliki mental inlander. Karena itu Bung Karno mengatakan; Beri aku sepuluh pemuda yang progresif revolusioner maka aku akan mengubah dunia.”

Beruntung para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda, jauh sebelum Indonesia merdeka, dimana masing-masing pemuda mengorbankan kesukuannya. Orang Jawa tidak bersikukuh dengan kejawaannya Hanacaraka dibuang. Juga orang Ambon, Sumatera dan sebagainya. Semuanya berkorban, yang ada hanyalah Indonesia. Seperti kata Gus Dur, perbedaan orang Jawa dengan Sunda dan Cina itu lebih jauh dibanding perbedaan orang Jawa dengan Papua.

Kalau Bung Karno mengatakan “Jangan lupakan sejarah” sekarang ada gerakan “Jangan percaya sejarah. Tinggalkan sejarah.” Begitulah, khilafah itu mengajarkan ahistoris. Sampai-sampai Pancasila dilecehkan secara vulgar dan menjijikkan oleh orang yang mengaku ulama. Soekarno sendiri adalah orang sejarah. Dan Gus Dur adalah orang yang memahami Soekarno dan menyambungkannya dengan masyarakat. Soekarno adalah satu-satunya pemimpin Asia yang mendapat gelar Pahlawan Islam Asia Afrika. Soekarno adalah orang muslim yang mendapat bintang kehormatan paling banyak dari Vatikan.

Jadi Pancasila adalah temuan Bung Karno yang merupakan sublimasi paling tinggi dibandingkan dengan ideologi apapun. Banyak masjid-masjid yang megah dan mewah, tetapi mengapa umat Muslim malah menjadi kerdil? Mengapa muslim seolah menjadi mayoritas yang ketakutan di negeri ini? Seharusnya yang mayoritas harus mengayomi yang lebih kecil. Harus bisa berbudi bawa leksana. Menampung semuanya. Bagaimana menjadi kelompok yang besar namun juga disertai dengan jiwa dan wawasan yang besar pula.

Ada orang-orang yang malah mengerdilkan Islam supaya kita menyalahkan yang lain. Kita tidak pernah bersyukur tentang capaian-capaian Indonesia. Perkembangan Islam di Indonesia secara ornamental itu melebihi agama apapun. Mengapa hal ini tidak kita syukuri. Yang dilihat hanyalah orang lain yang dianggap mengganggu. Mereka lantas teriak memusuhi Yahudi tanpa pernah bisa membedakan Yahudi sebagai bangsa, sebagai agama atau sebagai negara Israel.

Terakhir, kata Pak Tjuk, sebagai anak muda belajarlah sejarah. Tuntutlah ilmu meski sampai jauh ke negeri Cina. Meski ada yang mengatakan ini hadits dloif namun substansinya benar sekali. Kita sekarang menyaksikan sendiri kemajuan luar bisa Cina yang bahkan membuat Amerika iri. Dengan kata lain, tangkaplah api Islam, jangan hanya mengambil abu dan reruntuhannya belaka.

“Salam Pancasila. Salam Pancasila. Salam Pancasila. Merdeka …!!!” Ruang pertemuan di hotel itu seakan terbakar oleh pidato Pak Tjuk yang berapi-api.

Hari sudah larut malam, acara berakhir, Pak Tjuk berpamitan pulang. Langsung saya tawarkan kamar untuk tempat istirahat. Pak Tjuk menolak. Ternyata Pak Tjuk datang sendirian, dengan mobil yang disopirinya sendiri. Terima kasih Bapak.

(bersambung)