OBITUARI TJUK K. SUKIADI (3): ISTERI PAK TJUK SUDAH KEMBALI KE RUMAH

Catatan Henri Nurcahyo

POSTINGAN Yuni Sugiyo di fesbuk ini sungguh membuat saya kaget: Innalillahi wa innailaihi rojiun BKKKS jawa timur berduka lagi kemarin pak Tjuk menghadap sang khaliq hari ini bu tuti moga almarhum almarhummah diampuni semua dosa”nya , diterima amal ibadahnya & di tempatkan disurganya. amiin…. (pukul 09.14).

Saya langsung respon: “Bu Tuti siapa?

“bu Tuti Rofiati ketua yayasan BKKKS,” jawabnya

“Oh, terimakasih. Saya deg-degan dengan kondisi Ibu Tjuk.”

“iya saya tadi pagi juga kaget moga bu Tjuk senantiasa dalam lindungannya & senantiasa di beri kesehatan .amiin.”

(ejaan saya copas sesuai aslinya, hn)

Dari FB Yuni Sugiyo

Saya perlu bertanya untuk menegaskan sebab saya tidak tahu siapa nama asli istri Pak Tjuk, yang selama ini hanya dikenal dengan panggilan Ibu Tjuk. Jangan-jangan namanya Tuti. Ternyata siang harinya ada kabar di grup WA Bu Tjuk meninggal dunia. Bahkan disertai komentar, “pasangan suami isteri sehidup semati.”

Saya langsung tanyakan, “kabar dari mana?” Saya langsung tanya puteri Pak Tjuk, belum dijawab. Kemudian kabar itu diralat, “maaf yang meninggal bukan Bu Tjuk, tapi Bu Tuti.”

Masih berubah lagi, karena ada sumber lain yang menyebut Bu Tuti sehat-sehat saja. Karena Bu Tuti adalah ketua Yayasan BK3S, saya langsung tanyakan ke orang dalam BK3S sendiri, Bu Pinky, Ketua Badan Pengurus BK3S yang menggantikan posisi Tjuk Sukiadi. Kemudian Bu Pinky membenarkan, bahwa yang meninggal adalah Tuti Rofiati, masuk RS hari Minggu, juga Covid-19, beserta putri dan dua cucunya juga kena Covid.

Jadi, bagaimana kabar Bu Tjuk sendiri? Ternyata nama lengkapnya adalah: Hj. Indijati Sukiadi, S.H. Kemarin (Senin) beliau ditest Swab, hasilnya hari ini (Selasa). Ternyata, saya dapat kabar, “kondisi sudah membaik. Kemarin swab PCR. Hari ini hasil swab PCR sudah keluar,  NEGATIF. Insya Alloh hari ini bisa KRS / pulang dari RS Husada Utama ke rumah,  jl. Ketintang Madya No. 59.” Itu kabar melalui WA pukul 11.00 siang.

Dua jam kemudian ada update: “Bu tjuk sudah sembuh covid,  masih ada keluhan kencing kurang lancar. Kepulangan ditunda dulu,  tidak hari ini. Dipulihkan dulu masalah kurang lancar kencingnya, mumpung sekalian masih di RS. Juga belum dikasih tahu meninggalnya pak Tjuk,  krn keluarga khawatir nanti shock/drop. Rencana akan diberitahukan saat akan pulang dari RS HU.”

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Bu Tjuk atau juga dipanggil Bu In, ketika nanti diberi tahu suaminya sudah tiada. Tentu saja saya berharap agar beliau tidak schok, tidak drop, yang menyebabkan turunnya imun dan ujung-ujungnya mudah terserang Covid lagi. Karena itu ada gagasan bahwa yang akan memberi tahu adalah salah satu puterinya yang paling dekat, didampingi psikolog. Saya hanya bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja.

Hampir tengah malam, sebuah berita dari Radian Jadid masuk ke WA saya. “Alhamdulillah,  malam ini kondisi sudah sembuh dari covid-19, kesehatan sudah baik. 22.30 KRS (keluar Rumah Sakit Husada Utama). 23.00 Sampai rumah Ketintang. Masih belum diberitahu kalau Pak Tjuk wafat.” Dua buah foto Bu Tjuk hendak turun dari mobil dan foto ketia sudah di rumah disertakan dalam berita itu. (Terima kasih banyak ya Radid).

Foto kiriman Radian Jadid

Ingatan saya melayang pada kejadian tanggal 20 Desember 2020, saat Pak Tjuk menggelar pertemuan terbatas di gedung  Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur. Acara tersebut digelar bersama dengan Heri Purwanto,  terbatas hanya 40 (empat puluh) undangan, yang disebutnya sebagai “Sesama anak ideologis Bung Karno.” Dan ternyata, Pertemuan Eksponen Nasionalis – Soekarnois – Pancasilais itu adalah juga sekaligus Hari Ulang Tahun Ibu Tjuk Sukiadi yang ke 82 (delapan puluh dua). Usianya memang lebih tua 7 (tujuh) tahun dibanding Pak Tjuk, yang lahir di Malang tanggal 23 Mei 1945 (persis 75 tahun) ini.

Foto kiriman Radian Jadid

“Isteri saya ini senior saya waktu mahasiswa, jadi memamg yuniornya ini yang kurang ajar,” ujar Pak Tjuk disusul tawa.

Pantas saja suguhan acara itu istimewa. Konsumsi acara makan siang disiapkan dalam besek ukuran besar yang dililit pita dengan warna-warna berbeda. Ibu Tjuk dan beberapa ibu-ibu BK3S selalu menemani acara itu hingga selesai.

Pada kesempatan itu, di sela-sela paparannya, Pak Tjuk sempat mengudar masa mudanya, dimana ketika masih remaja pernah pacaran dengan gadis Katolik dan rajin mengantarnya ke gereja.

Isterinyalah yang selalu memonitor kemana saja Pak Tjuk pergi. “Saya kalau diundang acara oleh Dik Henri dan Dik Willy ke Sidoarjo dan pulang sampai jam sebelas malam, pasti dimarahi isteri saya: Teko endi ae!” ujar Pak Tjuk.

Pasangan suami isteri ini memang seiya-sekata dan layak dijadikan panutan bagi keluarga besarnya. Dikisahkan oleh Fitri Sukiadi, salah satu puteri kembar Pak Tjuk dalam kesempatan Tahlilan Daring Senin sore (17/1): Hari-hari terakhir menjelang Bapak sakit, mereka masih sholat berjamaah bersama. Bahkan dalam keadaan sakit mereka masih sholat tahajud bersama. Bapak memang tidak fasih membaca Al Qur’an namun perbuatannya sangat baik kepada semua orang. Kalau toh gaya bahasanya terkesan sinis dan sarkas, tapi saya tahu hatinya sangat baik.

Masih diingatnya hari-hari terakhir itu saat Fitri mengantarkannya ke rumah sakit, ketika bertemu “Polisi Cepek” Pak Tjuk memaksakan diri untuk memberinya uang, meski sudah dilarang karena takut ketularan. Maklum ini masa pandemi. Pak Tjuk malah marah, “buka kacanya, aku yang kasih, mereka itu kasihan, butuh uang.” Saya trenyuh, kata Fitri, Bapak begitu pedulinya dengan orang-orang kecil. Mudah-mudahan saya bisa mengikuti apa yang diajarkan Bapak saya.

Sementara acara di BK3S itu sendiri berlangsung gegap gempita, berkali-kali terdengar pekik “Merdeka” setiap kali hendak bicara di depan. Mereka yang hadir hampir semua adalah alumni GSNI, GMNI, eks PNI dan kalangan simpatisan serta pengagum Bung Karno. Mulai dari anak-anak muda yang mahasiswa hingga tercatat yang paling tua adalah Soetrisno R, mantan Bupati Nganjuk, yang jauh-jauh datang dari Nganjuk ke Surabaya. Pak Tris, demikian panggilannya, lahir di Blora, 25 Mei 1938, berarti usianya sudah 82 tahun.

Acara itu diawali oleh pembacaan puisi panjang oleh Sutanto Suphiadi, disusul orasi dari masing-masing yang hadir dari kalangan muda dan tua secara bergantian. Mereka datang dari berbagai kota, mulai Malang, Jogjakarta, Purwokerto, Nganjuk, Mojokerto, termasuk Surabaya dan Sidoarjo. Juga yang hadir mewakili organisasi seperti Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Dalam kesempatan itu Pak Tjuk menyampaikan bahwa acara ini sudah sangat lama digagas bersama dengan Heri Purwanto. Bahwa apa yang disebut Eksponen Nasionalis – Soekarnois – Pancasilais, menurut Pak Tjuk, sudah bercerai berai. Meskipun ada partai yang mengklaim pewaris dan pengamal ajaran Bung Karno, namun nyatanya tidak berbuat apa-apa.

Sehari sebelumnya, kata Pak Tjuk, juga ada pertemuan hampir sehari penuh di Ubaya, dimana semua yang hadir memunyai pandangan dan kesedihan bersama mengenai bangsa dan negeri ini.

“Saya mengingatkan, bahwa kita sekarang ini berhadapan dengan bahaya yang sudah di depan mata. Hannibal sudah tiba di pintu gerbang Roma,” tegasnya.

(bersambung)