Gus Muhdlor: Utamakan Akar Budaya Kalau Mau Maju

SIDOARJO: Semua negara besar. Bahkan semua instansi pemerintahan dan lembaga apapun, kalau ingin survive, syaratnya cuma satu, harus ada akar budaya atau local wisdom. Ini paling penting dan sudah terjadi dimana-mana. Contohnya adalah di Balkan, dimana Islam pernah berkuasa 3-4 abad lamanya. Tetapi karena Islam masuk ke sana melalui perang, maka ketika perang kalah maka hari ini Islam mulai terkikis di sana. Karena pendekatannya melalui jalan perang. Sedangkan mengapa di Indonesia lebih awet, karena bergerak lewat jalan budaya.

Hal itu disampaikan oleh Gus Muhdlor Ali, Bupati Sidoarjo terpilih, dalam kesempatan acara “Jagong Budaya” di Sanggar Budaya dan Sejarah S. Karno di desa Wunut, Porong, Minggu (24/1). Acara ini diselenggarakan oleh Sanggar Budaya S. Karno bekerjasama dengan Komunitas Seni Budaya BrangWetan.

Sekitar 40 orang yang hadir dari berbagai komunitas. Disamping BrangWetan sendiri juga hadir Komunitas Gusdurian, Paguyuban Mister and Miss Sidoarjo, Lesbumi Jatim, Delta Art Forum, Komunitas Lentera, Rumah Budaya Demang Wagi, Sahabat Beasiswa Sidoarjo, Kampung Sinau, dan sejumlah peserta perorangan.

“Karena itu kalau Sidoarjo ingin menjadi daerah yang maju dan menjadi daerah yang berwibawa di mata daerah lain maka harus dapat memerjuangkan local wisdom Sidoarjo sendiri,” tegas putera ulama Gus Ali Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Bumi Solawat, Tulangan.

Bupati yang masih berusia  30 (tiga puluh) tahun itu mengisahkan ketika  pernah ke Banyuwangi, begitu masuk pendopo kabupaten ditunjukkan lukisan abad sekian. Bergeser lagi lukisan lain dengan cerita yang lain lagi. Tapi yang dipajang di Sidoarjo malah lukisan kuda. Mengapa harus kuda? Artinya, lukisan apapun yang dipasang harus menggambarkan dan mengedukasi masyarakat tentang jatidiri Sidoarjo.

“Saya juga pernah bertanya, PON tahun 2000 ini yang buat siapa? Mengapa maskotnya merak? Sejak kapan Sidoarjo ada merak?” ujar putera keenam Gus Ali ini.

Jadi intinya, kata Gus Muhdlor, bahwa segala sesuatu itu harus dibangun sedari dini. Penataan budaya itu dimulai dari hal kecil di setiap elemen yang ada di kabupaten Sidoarjo. Demikian pula bunderan McD misalnya, cerita apa yang digambarkan di sana? Tidak ada ceritanya. Karena itu hal-hal seperti ini harus diubah. Panggil ahli sejarah yang benar. Arsitek yang benar. Juga budayawan yang benar, sehingga yang dibangun itu ada citarasanya. Bayangkan, masak semua gedung bentuknya hanya kotak-kotak seperti tahu.

Coba bayangkan jalanan di bawah tol Pondok Candra itu. Tiang-tiang beton itu kalau ditangani seniman lukis akan jadi bagus. Pabrik cat di Sidoarjo kan banyak. Cuma memang harus diberikan lampu penerangan agar tidak disalahgunakan untuk perbuatan mesum.

Direktur Pendidikan Yayasan Bumi Shalawat Progresif  ini lantas memiliki gagasan hendak meniru pemerintah DKI Jakarta dalam hal  TGUPP (Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan). Untuk itu harus dikeluarkan Peraturan Bupati (Perbup). Sidoarjo harus ada staf khusus bidang budaya. Hal ini berangkat dari pemikiran bahwa  negara yang kuat itu kalau memegang teguh local wisdom.

Misalnya saja di pendapa Sidoarjo itu ada ruangan khusus untuk menyimpan pusaka. Siapakah yang ahli mengenai pusaka itu? Mengapa tidak diduplikasi dan dijadikan sarana pendidikan untuk masyarakat? Setiap minggu pendopo dibuka, lukisan-lukisan ditampilkan, dijelaskan ceritanya. Juga pusaka-pusaka itu. Misalnya, ini adalah senjatanya Adipati kesekian, dan sebagainya.

Tidak ada Kebanggaan

Dalam kesempatan itu Gus Muhdlor juga menyayangkan bahwa selama ini adalah masyarakat Sidoarjo sendiri tidak bangga dengan kotanya. Tidak ada yang dibanggakan. Ikonnya tidak dibangun. Branding-nya tidak dibangun. Ibarat punya stadion bagus, bentuknya seperti sangkar emas, tapi ternyata isinya burung emprit. Karena itu harus dibangun semacam tetenger untuk menunjukkan kepada generasi sekarang bahwa leluhur kita dahulu pernah punya karya yang hebat.

Selama ini yang dikenal oleh dunia luar tentang Sidoarjo malah Lapindo. Itupun merupakan bencana semburan lumpur panas. Sungguh memrihatinkan. Karena itu ikon Sidoarjo harus digali, kalau perlu diciptakan.

Jujur saja kita ini malu, katanya. Soal manajemen air misalnya. Airlangga sejak seribu tahun yang lalu sudah menata bagaimana ada bendungan Wringin Sapta. Kemudian membuat kanal air sebanyak 23 buah. Harus diakui, leluhur kita ini lebih visioner daripada kita. Airlangga sudah memikirkan membuat sungai di dalam tanah. Kita ini, sungai yang di atas tanah saja tidak dipikirkan.

Karena itu Gus Muhdlor mengajak bareng-bareng menciptakan ekosistem yang baik antara budayawan, pemerintah, masyarakat, sehingga masyarakat tahu jatidiri kotanya, bangga terhadap daerahnya. Jangan sampai seperti yang terjadi selama ini, orang-orang Sidoarjo yang pinter-pinter lebih suka tinggal di Jakarta. Tetapi saya yakin, kata Gus Muhdlor, suatu saat manakala orang memiliki kebanggaan terhadap daerahnya maka meskipun ditawari uang berapapun akan tetap memilih mengabdi di daerahnya. Karena tidak semua orang mau menjadi TKI walaupun jumlahnya banyak. Minimal bisa dekat dengan keluarga, kenal dengan daerahnya sendiri, dan sebagainya.

Ekosistem itu penting agar apa yang kita lakukan ada kesinambungannya. Kalau pelukis terus menerus melukis tapi tidak ada yang beli ya percuma. Begitu juga kampanye literasi digalakkan namun pada saat yang sama juga harus didorong minat membaca masyarakat. Demikian pula keberadaan hotel-hotel dan restoran yang sangat banyak di Sidoarjo ini, harus dikolaborasikan dengan kebutuhan seniman untuk berekspresi. Semuanya ini juga menyangkut soal budaya sistemik yang melibatkan banyak pihak.

Gus Muhdlor menegaskan bahwa komitmennya terhadap dunia seni budaya masih tetap. Karena itu sejak awal dia tidak mau kampanye di kalangan seniman, baru setelah ada keputusan jadi, “saya baru sowan ke Pak Karno. Karena saya melihat bahwa seni itu adalah hal yang harus diperjuangkan, bukan semata-mata harus dimanfaatkan,” tegasnya.

Kesemuanya ini harus didukung banyak pihak. Kalau hanya pemerintah saja tidak kuat. Karena itu bagaimana antara pemerintah, akademisi, investor, media dan masyarakat bahu membahu menjadi satu membangun Sidoarjo yang lebih baik lagi. Tugas bupati dan juga wakil bupati, hanya menjadi fasilitator.

“Anak-anak muda sekarang apa tahu Sarip Tambak Oso? Apakah mereka pernah menonton wayangan Porong? Yang mereka hapal hanya artis Korea,” tegas sekretaris GP Ansor Sidoarjo itu .

Pada akhir paparannya Gus Muhdlor menuturkan, “saya pernah diskusi panjang dengan Kepala Dinas Pendidikan. Saya katakan, anak-anak sekolah selama ini bertahun-tahun sekolah hanya untuk menjawab ujian selama tiga hari. Hakekat pendidikan itu jauh lebih luas dibanding hanya menyelesaikan soal tiga hari saja.” (hn)