Jelajah Budaya Tirtayatra (2): RITUAL TERIMA KASIH KEPADA AIR

Catatan Henri Nurcahyo

TERLEPAS dari kepercayaan Hindu-Budha, bahwasanya air adalah sumber kehidupan bagi mahluk hidup. Sebagian besar luasan bumi ini adalah air. Bahkan tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Inilah saatnya berterima kasih dan menghormat atas jasa-jasa air. Terima kasih kepada Sang Pencipta yang telah memberi air gratis bagi kehidupan. Itulah makna hakiki dari Jelajah Budaya Tirtayatra.

Dari laman infoseputarbali didapatkan keterangan, kata tirtha secara tata bahasa Sanskerta disebutkan  berasal dari akar kata “tr” yang berarti “tiryate anena” (dengan mana diseberangkan), dengan mana orang diseberangkan dari lautan dosa.  Istilah lain yang mempunyai arti yang sama dengan tirthayatra adalah tirthatana, tirthabhigamana.  Orang-orang yang melakukan tirtayatra disebut tirtayatri  yang di India disebut yatri saja.

Orang-orang suci juga disebut sebagai tirtha karena mereka memunyai kekuatan suci untuk menyucikan orang, seperti halnya kekuatan yang dimiliki oleh tempat-tempat suci dan/atau tirtha. Di Bali tirta berarti air suci yang sudah dimohonkan kepada Tuhan yang mana sudah mendapat berkat dari Tuhan.

Disamping tirtayatra ada istilah lain yang mirip dengan tirtayatra adalah dharmayatra. Dharmayatra biasanya lebih tepat untuk menyebutkan orang-orang yang melakukan perjalanan suci untuk menyebarkan dharma. Jadi kata Yatra (dibaca Yatre) itu artinya perjalanan suci, bukan uang (dibaca Yotro) dalam bahasa Jawa.

Tirtayatra dalam bahasa sehari-hari di Bali dipahami dengan tangkil atau sembahyang ke berbagai pura. Jadi tidak harus mengunjungi tempat-tempat yang ada mata airnya. Perjalanan suci atau tirtayatra bukanlah perjalanan biasa untuk bersembahyang, namun di dalamnya termuat pengendalian diri dan pengekangan diri. Dalam kegiatan tirtayatra terjadi suatu interaksi yang positif diantara para pelaku tirtayatra. Tirtayatra akan mendekatkan antara umat satu dengan yang umat lainnya karena dalam perjalanan akan terjadi suatu komunikasi sosial.

Baiklah, saya tidak akan menguraikan panjang lebar perihal Tirtayatra, khususnya dalam konteks Hindu. Saya hanya tertarik dengan Tirtayatra karena terkait dengan keberadaan gunung Penanggungan yang dikelilingi oleh candi-candi yang berada di lokasi mata air. Selain candi Jawi, Belahan, Jedong dan Jalatunda, sebetulnya ada Candi Selokelir yang lokasinya sulit dijangkau dengan kendaraan. Harus berjalan kaki di jalur yang terjal. Selokelir memang bukan candi patirtan namun diduga kuat di dekat candi ini pernah ada mata air besar yang sudah lama mati, entah kapan, dan sekarang hanya berupa curah (jurang) di belakang candi.

Menurut budayawan Seloliman, Gatot Hartoyo, bisa jadi mata air di dekat Selokelir ini dialihkan alirannya ke pemukiman di desa Kedungudi di lokasi bawah candi.  Atau bisa juga mati secara alami. Yang jelas sekitar gunung Penanggungan memang banyak ditemukan puluhan atau bisa jadi ada ratusan mata air, termasuk sebuah mata air besar di desa Kedungudi.

Menurut Gatot, percandian besar yang ada di setiap lereng gunung Penanggungan yaitu Jolotundo, Jedong, Sumber Tetek dan Selokelir, jelas membuktikan konon di situ tempat hunian yang cukup padat atau ramai. Tempat hunian yang padat jelas unsur air menjadi jaminannya. Sekarang hanya Selokelir yang kering tanpa adanya sumber. Mengapa? Sangat dimungkinkan sumber yang konon ada di seputar percandian tertutup dan selanjutnya muncul di areal bawah candi yakni di desa Kedungudi , karena tempat hunian bergeser atau turun di bawah candi.

“Coba diteliti sumber air besar di sisi utara desa Kedungudi di batas desa. Sumber itu cukup besar dan keluarnya air jelas berasal dari area Candi Selokelir,” tambah Gatot.

Kalau Sumber Tetek, Jedong dan Jolotundo berada di wilayah perkampungan. Tapi Selokelir cukup jauh dari perkampungan (Kedungudi ). Nah berpindahnya sumber itu bisa karena dibuat oleh masyarakat atau alam (dengan sendirinya) atau juga oleh masyarakat karena kebutuhan.

Di candi Selokelir inilah pernah ditemukan Arca Panji dan Sekartaji, yang sekarang berada di ITB namun arca Sekartaji entah ada dimana. Di lereng barat daya gunung Penanggungan juga ada dusun Sendang. Sebagaimana namanya, juga terdapat sebuah sendang (danau kecil) yang hingga sekarang mata airnya masih mengucur.

Tirta dalam bahasa Kawi berarti air, pemandian, sungai, kesucian, toya atau air suci, atau bermakna sungai yang suci. Namun tirta juga bermakna bertapa atau pertapaan. Air suci layak disebut Tirta Nirmala atau Tirta Amerta, yang dipercaya banyak khasiatnya, selain untuk membersihkan dosa, menyembuhkan berbagai penyakit, juga dipandang sebagai air keabadian. Para dewa dipercaya telah meminum air amerta sehingga mereka bersifat abadi, tidak mengenal kematian. Itulah sebabnya hingga sekarang banyak orang yang langsung berendam di Jalatunda, minum air dari pancurannya, bahkan membawa air bergalon-galon ke rumah. Pengunjung yang tidak membawa botol tidak perlu bingung karena di warung-warung sekitar candi dijual botol dan jerigen.

Sementara di candi Belahan, mungkin karena lokasinya yang sulit dijangkau, apalagi jalanan rusak, maka pengunjungnya relatif sepi.  Padahal air dari candi ini juga dipercaya berkhasiat sebagaimana di Jalatunda. Banyak pengunjung yang ingin merasakan langsung mandi di pancuran air yang mengucur dari payudara patung Dewi Laksmi. Dulu anak-anak kecil desa sekitar dan bahkan juga pengunjung suka mandi di kolamnya. Namun belakangan ada larangan. Dituliskan di sebuah poster, “hanya mereka yang melakukan ritual boleh mandi di situ.” Maka sekarang keberadaan kolam ini juga banyak ikannya seperti di Jalatunda. Padahal beberapa tahun yang lalu tanpa ikan.

Adalah sebuah fenomena  yang sangat menarik, bahwa dari tubuh gunung Penanggungan dapat mengeluarkan air sekian banyak sejak ratusan tahun yang lalu tanpa pernah habis hingga sekarang. Jalatunda dan Belahan adalah sebagian contohnya, dimana air yang keluar dari kedua candi ini masih terus mengucur dengan kualitas prima. Itulah sebabnya kedua candi ini disebut candi Patirtan. Menurut kepercayaan Hindu-Budha, air yang berasal dari candi patirtan dianggap suci sehingga menjadi pelengkap utama dalam suatu ritus upacara keagamaan. Sedangkan mata air di Candi Jawi malah tersebar di beberapa titik sekitar candi dalam debit yang sangat besar sehingga ditampung oleh perusahaan air minum isi ulang untuk dipasarkan ke masyarakat kota.

Sayang sekali di kawasan Candi Jedong mata airnya nyaris punah. Entah karena apa. Bisa jadi karena tidak ada upaya konservasi lingkungan. Padahal dahulu kala di kawasan ini merupakan pusat mata air yang menyembul dari banyak titik. Bukti nyata yang bisa disaksikan sekarang adalah keberadaan kolam renang yang mangkrak. Dipastikan air yang digunakan untuk kolam renang ini berasal dari mata air, bukan PDAM. Sekarang masyarakat desa Wotanmas Jedong harus menyedot air jauh di lereng utara Penanggungan. Sementara satu-satunya mata air yang terdapat dalam sebuah gua, sekarang dipagar besi agar tidak lagi bisa dimasuki orang sebagaimana sekian tahun yang lalu.

Tetapi, apapun kondisinya saat ini, menelusuri candi-candi patirtan di seputar gunung Penanggungan adalah sebuah perjalanan yang mengasyikkan. Bukan hanya menjadi wisata sejarah yang menarik, melainkan merupakan sebuah Tirtayatra (Perjalanan Suci), atau perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang memiliki air suci. Tirtayatra juga mendekatkan antara umat dengan tempat suci, dan juga mendekatkan antara manusia dengan Sang Pencipta. Dengan adanya kedekatan-kedekatan tersebut akan semakin menambah kekaguman akan kemahakuasaan Tuhan dan  meningkatkan rasa bhakti kehadapan-Nya.

Dengan potensi air yang melimpah terus menerus selama ratusan tahun, bisa dibayangkan bahwa Gunung Penanggungan adalah sebuah tandon air raksasa yang menyimpan air yang masih mengalir sepanjang masa.  Saya sempat berpikir, dari mana asalnya air yang tersimpan di gunung Penanggungan ini? Kalau sebuah danau tentu air berasal dari tempat di atasnya. Meski keberadaan danau itu ada di dataran tinggi, seperti Ranu Kumbolo di lereng Semeru misalnya. Lha Penanggungan ini airnya dari mana?

Bagi yang pernah mendaki gunung Penanggungan hingga ke puncaknya dapat menyaksikan bahwa puncak gunung ini berupa kawah mati karena sesungguhnya ribuan tahun yang lalu Penanggungan adalah sebuah gunung berapi yang aktif. Nah kawah mati yang berupa cekungan inilah yang saya duga berfungsi sebagai penadah air hujan sehingga meresap ke dalam tubuh gunung Penanggungan dan keluar dari mata air.

Disamping itu, limpahan air dari dalam tubuh Penanggungan banyak yang tercurah di Jalatunda karena di sisi barat ini masih berupa hutan belantara yang menahan laju air agar tidak cepat habis. Disamping itu kawasan hutan juga berfungsi menjadi daerah tangkapan air sehingga menambah persediaan air manakala hujan turun. Dampak positifnya, air yang keluar dari Jalatunda berinteraksi dengan akar-akar pepohonan yang dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan. Hal ini menambah nilai lebih khasiat air Jalatunda.

Yang mengherankan, di kawasan candi Belahan airnya tetap melimpah. Tidak sebagaimana candi Jalatunda yang berupa puden berundak, ternyata candi Belahan berdiri sendiri, terbuat dari susunan batu bata yang sudah nampak aus. Yang mengkhawatirkan di kawasan sekitar candi dieksploitasi perusahaan penambang batu dan sirtu. Entah sudah berapa luas lereng Penanggungan sisi timur ini digerus untuk penambangan ini. Mungkin air di Belahan berasal dari kawasan hutan yang masih terjaga di sebelah selatannya, dimana juga terdapat rumah-rumah penduduk.

Bagaimanapun, konservasi lingkungan untuk menjaga kelestarian air ini harus tetap dilakukan agar tidak mengalami nasib kelangkaan air sebagaimana desa Wotanmas Jedong. Bahkan, sebetulnya kekayaan mata air di desa ini masih dapat dikembalikan lagi manakala dilakukan upaya-upaya yang penghijauan yang intensif.

Yang jelas, limpahan air yang tak pernah habis itu berasal dari perut gunung Penanggungan sebagai gunung suci. Nama asli gunung Penanggunan adalah gunung Pawitra. Dari sebutan ini saja sudah dapat dikaitkan dengan keberadaan air, sebagaimana dalam lakon pewayangan Dewa Ruci yang mengisahkan Bima menjalankan tugas dari Begawan Durna untuk mencari “Tirta Pawitra Mahening Suci.” Sebutan itu  hanyalah sebuah perlambang yang bermakna: Dimana ada air di situ ditemui kehidupan. Tirta Pawitra adalah air bening yang tidak hanya dilihat dari wujudnya namun juga  kegunaannya menghidupi semua makhluk. Mahening  bermakna mewujudkan arti ketentraman lahir dan batin. Sedangkan suci berarti terhindar dari dosa.

Karena itu tidak salah bahwa kualitas air Penanggungan (khususnya Jalatunda) merupakan air bersih yang disebut-sebut terbaik di dunia setelah air zamzam berdasarkan penelitian arkeolog Belanda tahun 1991.

Disamping itu, air tersebut  berasal dari  gunung Penanggungan yang terdapat puluhan candi (punden berundak) di lerengnya. Dahulu kawasan ini merupakan tempat bertapa para pendeta atau karshian (tempat para Rshi) sejak zaman sebelum Majapahit. Tak heran Gunung Penanggungan memiliki aura spiritual yang luar biasa, dipercaya sebagai Swargaloka, tempat bersemayamnya para dewa. 

Disebut Gunung Penanggungan bisa jadi karena meniru nama desa di sisi barat dayanya.  Namun ada juga tafsir lainnya karena gunung ini hanya setinggi 1659 meter sehingga “nanggung”. Tinggi juga tidak, rendah juga tidak. Penafsiran lainnya, kata penanggungan berarti “menanggung kebutuhan banyak orang.” Nah jika dihubungkan dengan ketersediaan airnya yang sangat melimpah selama ratusan tahun selama ini, bukankah itu semua dapat dimaknai sudah menanggung kebutuhan air masyarakat banyak? Entah berapa desa yang memenuhi kebutuhan airnya dari sumber langsung dari kaki gunung Penanggungan ini.

 (bersambung)