Jelajah Budaya Tirtayatra (8): KAWASAN MATA AIR YANG MERANA

Catatan HENRI NURCAHYO

SEKIAN tahun yang lalu, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun yang lalu, kawasan Jedong adalah daerah yang kaya mata air. Bekas-bekasnya masih dapat dilihat dengan jelas hingga sekarang ini. Tanda yang paling gamblang adalah sebuah kolam renang di seberang Situs Jedong yang sudah beberapa tahun mangkrak. Kolam berkeramik itu dibiarkan terlantar. Ada pintu masuk dengan loket karcis yang menandakan bahwa kolam ini dulunya banyak diminati sehingga harus membayar tiket untuk menggunakannya.

Melihat posisi kolam yang berada di ketinggian sebelah timur Situs Jedong, diperkirakan kolam ini dahulu kala merupakan tandon air untuk kebutuhan air bersih warga yang tinggal di bawahnya. Mungkin para Resi dulu menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, atau keperluan lainnya.  Namun bisa juga merupakan bangunan baru dengan memanfaatkan banyak sumber air di sekitarnya.

Kolam renang ini sempat terlantar selama sekian lama lantaran terjadi musibah, kemudian tahun 2019 dihidupkan lagi dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai sarana rekreasi dengan nama Sekar Tirta Airlangga. Tapi nampaknya belakangan sudah tidak lagi digunakan lantaran kekurangan pasokan air.

Ada pertanyaan menggelitik, apakah kolam renang itu dahulu merupakan sebuah bendungan sebagaimana disebutkan dalam Wulig 816 Cyaka (894 M)? Prasasti ini dibuat oleh Rakryan Binihaji Mangibil, yaitu selir raja Mpu Sindok yang kedudukannya disejajarkan dengan permaisuri, putra mahkota dan putra raja lainnya. Ia disebutkan sebagai seseorang yang memerintahkan pembangunan di tiga desa, yaitu Desa Kahulunan, Wwatan Wulas dan Wwatan Tamya. Perintah itu ditujukan kepada para rama di Wulig, Pangikettan, Padipadi, Pikattan, Panghawaran dan Busuran. Perintahnya supaya jangan ada yang berani mengusiknya dan agar rakyat dapat mengambil ikannya baik siang maupun malam hari (Brandes, 1913:81-82). (Ninie Susanti: Airlangga. Biografi Raja  Pembaru Jawa Abad XI. Komunitas Bambu, 2010).

Nah, dimanakah desa Wwatan Wulas dan Wwatan Tamya itu? Apakah sama dengan desa Wwatan Mas sekarang?

Yang menarik, ada mata air lagi di dalam sebuah goa yang berjarak sekitar 100 meter dari Candi Jedong. Di dalam goa ini sebetulnya terdapat sumber air bersih yang melimpah yang tertampung dalam sebuah kolam yang entah berapa kedalamannya. Menurut kisah penduduk yang pernah memasuki goa ini terlihat sebuah ceruk menuju ke kedalaman goa yang juga tidak diketahui sampai seberapa jauh menjorok hingga ke dalam. Konon pintu masuk ke dalam goa ini dulu ditutup dengan tumpukan batu bata yang tidak diketahui sejak kapan. Keberadaan goa ini justru ditemukan penduduk ketika tanpa sengaja tumpukan batu bata tadi runtuh sekitar tahun 1980-an.

Namun belakangan pintu masuk goa itu sudah semakin sedemikian rupa sehingga mengkhawatirkan untuk masuk ke dalam goa ini. M. Dwi Cahyono, yang pernah memasuki goa ini, menemukan pusat mata air yang merupakan titik asal air (tuk) dan talang-talang air terbuat dari batu berbentuk huruf U. Arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM) itu memberi kesaksian, bahwa mata air di goa ini merupakan sumber air kuna yang berkelanjutan fungsinya sebagai pasokan air untuk warga desa hingga kini.

Keberadaan talang batu berukuran besar di dalam goa ini menarik. Diduga kuat talang ini merupakan saluran seperti pipa besar itu sengaja dibuat manusia, bukan terbentuk secara alami. Hal inilah yang menimbulkan dugaan pada diri budayawan yang tinggal di Seloliman, Gatot Hartoyo, bahwa orang pada masa dulu sudah memiliki teknologi yang canggih untuk membuat pipa besar dari bahan batu untuk mengalirkan air.

Bisa jadi pada masa dulu goa itu lumayan besar sehingga bisa dimasuki banyak orang yang kemudian memasang pipa batu untuk mengalirkan air dari sumber yang berada dalam perut gunung Penanggungan. Entah sampai sejauh mana panjang pipa itu menembus sampai ke dalam.

Menurut catatan Tim Ekspedisi Penanggungan Universitas Surabaya (Ubaya) tahun 2013, di sekitar goa ini pernah ditemukan batu bertarikh Saka 1041 (1119 M) yang kini tersimpan di Museum Trowulan. Hal ini berarti bahwa sumber air di Jedong telah digunakan oleh masyarakat sejak masa Kerajaan Kadiri. Menurut penduduk setempat, air dari sumber dalam goa ini digunakan untuk upacara tertentu, seperti perkawinan dan lain-lain, karena dianggap berkhasiat.

Bagi penduduk desa Wotanmas Jedong, kawasan candi ini memang menjadi lokasi untuk melakukan tradisi ritual seperti Bersih Desa.

Tetapi kondisi pada tengah Oktober 2015, terlihat lahan di sekitar goa itu penuh dengan pipa-pipa paralon yang berseliweran. Entah mengapa tidak dibuat kolektif dengan pipa besar yang kemudian dibagi-bagi. Ada beberapa tandon berukuran sedang dan kecil, sebagian sudah rusak, ada yang dikunci gembok. Ada juga rembesan air yang membentuk parit kecil dan airnya terbuang percuma entah ke mana. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa kawasan sekitar candi ini memang terdapat banyak mata air yang kemudian sekarang ini dianfaatkan penduduk dengan cara mengamankannya dengan bangunan beton kemudian menyalurkannya melalui pipa paralon atau besi.

Sebuah pohon Sukun besar (Artocarpus communis, Sp) bertengger di dekat sebuah tandon berukuran sedang yang sudah rusak. Tidak ada air tersimpan di dalamnya. Mungkin keberadaan pohon inilah yang sedikit menahan laju krisis air karena secara biologis pohon Sukun memiliki kemampuan yang lebih menyimpan air hujan.

Ketika Komunitas Seni Budaya BrangWetan melakukan Jelajah Budaya Tirtayatra sekarang ini (9/4/21) keberadaan mata air di goa dalam tanah sudah dipagar besi  sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan orang untuk masuk. Dari sela-sela jeruji besi itu menjulur pipa-pipa untuk menyedot air dari dalam goa dan dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Sementara di bagian depannya sudah diberi bangunan semen yang nampaknya untuk tempat ritual. Tidak ada lagi parit kecil di sekitarnya yang mengalirkan air sangat jernih sebagaimana yang saya saksikan tahun 2015 yang lalu.

Penduduk desa setempat sudah pernah melakukan upaya untuk menambah pemenuhan kebutuhan air dengan melakukan empat kali pengeboran tanah, tetapi tidak berhasil.  Sedangkan upaya untuk mengambil air dari Jolotundo yang berada di atasnya terkendala biaya yang besar, karena jaraknya lebih dari 10 km. 

Sepertinya diperlukan langkah-langkah konservasi untuk menghidupkan kembali masa kejayaan mata air di kawasan candi Jedong yang justru dikenal sebagai candi Patirthan ini.

Uraian tentang Candi Jedong sudah cukup ya. Serial berikutnya akan saya sajikan tentang Candi Jalatunda.

(Bersambung)

Sumber:

  • Ninie Susanti: Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI. Komunitas Bambu, 2010
  • Papan informasi di lokasi Situs Jedong
  • Slamet Muljana: Tafsir Sejarah Negara Kretagama. LKiS, 2006
  • Tim Ekspedisi Penanggungan Universitas Surabaya, Hadi Sidomulyo: Mengenal Situs Purbakala di Gunung Penanggungan”. Universitas Surabaya, 2013.
  • http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbtrowulan/2015/01/21/candi-jedong/