Jelajah Budaya Tirtayatra (10): JALATUNDA DULU TEMPAT MENYEPI DAN MOKSA

Catatan Henri Nurcahyo

JALATUNDA  merupakan sebuah bangunan (populer disebut candi) terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 16,85 m lebar 13,52 m tinggi 5,20 m dengan altar sesaji di bagian atasnya. Berbeda dengan candi di Jawa Tengah, atau pemahaman masyarakat umum mengenai candi, bahwa candi Jalatunda ini tidak memiliki ruang-ruang sebagai sebuah bangunan. Kondisi fisiknya menempel di dinding bukit secara bertingkat, sehingga dalam arkeologi dikenal dengan sebutan Punden Berundak.

Demikian pula puluhan candi  lain yang berserakan sampai ke puncak Gunung Penanggungan. Bentuk bangunan seperti ini juga terdapat pada  Candi Sukuh dan Candi Cetho di lereng gunung Lawu, yang menampilkan ciri-ciri piramida berundak mirip bangunan piramida Amerika Tengah.

Dalam bahasa Indonesia, dengan menyebut candi cenderung merujuk pada sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari peradaban HinduBuddha. Biasanya digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa ataupun memuliakan Buddha. Tetapi sesungguhnya, istilah ‘candi’ tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs purbakala non-religius dari masa Hindu-Buddha atau klasik Indonesia, baik sebagai istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga disebut dengan istilah candi. Maka Jalatunda, tergolong “candi” patirtaan atau patirtan.

Secara fisik, pada dasarnya candi ini adalah sebuah kolam berukuran 16×13 meter yang berorientasi menghadap ke barat. Patirtan ini dibangun dengan cara memotong bagian barat lereng gunung Penanggungan. Candi Jalatunda memiliki beberapa kolam berbagai tingkatan. (Kondisi yang sekarang sudah agak berbeda dengan aslinya, hn). Paling bawah sendiri adalah kolam dangkal (hanya sekitar 30 cm) yang dipenuhi dengan ikan-ikan, di atasnya ada altar dengan kolam yang melingkarinya. Bentuk patirtan Jalatunda empat persegi panjang dengan teras di tengah dan puncak pancuran di tengah-tengahnya ternyata memiliki arti simbolis sebagai gambaran Mahameru.

Dalam konsepsi Hindu, gunung Mahameru dianggap sebagai gunung suci tempat bersemayamnya para dewa. Konsepsi ini sebenarnya telah dikenal semenjak zaman prasejarah masa megalitik yang menganggap gunung sebagai unsur tertinggi tempat bersemayamnya roh nenek moyang.

Patirtan Jalatunda juga dianggap melambangkan lautan dalam cerita Amrtamanthana yang menceritakan proses mendapatkan air suci dengan menggunakan gunung Mahameru yang dililit ular Batara Wasuki. Sedangkan teras dengan pancuran berbentuk silindris yang dililit seekor ular melambangkan bentuk Mahameru. Sehingga air yang keluar dari pancuran itu dianggap sebagai air suci atau Amrta.[i]

Di atas kolam altar (yang kecil) terdapat bangunan seperti candi yang makin ke atas makin meruncing, dan menempel pada dinding belakang. Bangunan ini memiliki dua relung yang pada bagian atas masing-masing relung dihiasi kala. Relung bagian atas telah kosong, sedangkan relung bawah terdapat arca naga yang berfungsi sebagai saluran air dari dinding belakang kolam kecil.

Pada dinding kolam altar dihiasi dengan relief di tiga sisinya. Mengamati relief yang sarat kisah menarik ini ini mengindikasikan bahwa pembuatan candi ini diakukan oleh tangan-tangan yang trampil dan membutuhkan waktu yang lama. Konon proses pembangunan candi ini butuh waktu lima tahun.  Dalam kondisi sekarang sebagian besar relief itu tidak lagi berada di tempat aslinya, sudah disimpan di museum Trowulan dan Museum Nasional di Jakarta, sebagian lagi hilang entah kemana. Posisi relief itu sudah digantikan oleh batu andesit polos biasa. Lagi pula, kalau toh tetap berada di tempat aslinya, relief itu sulit dinikmati keindahannya karena terus menerus terkena air pancuran sehingga tertutup semacam lumut.

Di tengah dinding menonjol di sebelah atas (dahulu) dipasang arca sang Yogi yang menggambarkan Sang Hyang Oti Surapati dengan berwibawa memandang batu lingga sembilan yang terpasang di puncak bangunan semacam candi yang berbentuk gunungan diukir indah yang berada di tengah kolam yang berlantai batu gosok. Lingga sembilan itu berupa lingga utama yang dikelilingi empat lingga madya dan empat lingga kecil dililit seekor Nagaraja. Dari setiap ujung lingga memancar air yang ditampung oleh 13 (tiga belas) pancuran dan ditampung lagi oleh 16 (enam belas) pancuran yang lalu turun ke dalam kolam ikan.

Sebelum dilakukan pemugaran, dari tepi bagian tengah kolam ini dipasang foot steps, dan sebelum sampai ke altar tengah terpecah ke tiga arah. Yaitu ke altar tengah, ke kolam kiri dan kolam kanan. Sekarang hanya ada dua lajur foot steps, masing-masing dari arah tepi kolam depan menuju masing-masing kolam di kiri dan kanan. Pemasangan jalan setapak ini tentu dimaksudkan agar pengunjung tidak perlu mencebur ke kolam bawah untuk menuju kolam untuk mandi di kanan kiri candi ataupun ke kolam altar. Sekarang untuk menuju kolam altar harus mendaki dari arah samping (kiri dan kanan) candi. Perkembangan terakhir, akses menuju kolam altar itu sudah ditutup. Tak bisa lagi melakukan ritual di situ.

Bangunan di tingkat pertama yang teratas merupakan tempat mata air utama yang menggelontor ke luar dari lereng Gunung Penanggungan. Dahulu di lapik arca yang sekarang kosong, pernah bertahta arca Wishnu yang sekarang telah hilang. Di belakang lapik tersebut masih terdapat sisa prabhamandala yang berbentuk lingkaran. Tahta tempat lapik arca tersebut berada di batur yang lebih tinggi dari permukaaan air kolam tingkat I, pada bagian puncak batur terdapat deretan panil relief seperti simbar besar melebar, di bagian tengahnya terdapat lubang untuk memancarkan air keluar. Di sudut-sudut batur terdapat jaladwara yang berbentuk mulut makara sebagai tempat memancurkan air pula.

Di sisi utara batur dan terdapat bilik dari susunan balok batu, mempunyai celah pintu di sisi barat, jika seseorang memasukinya maka ia memasuki kolam kecil yang ditutup tembok batu bilik itu. Sekarang bilik kolam itu tidak mempunyai atap lagi, namun diduga di masa lalu ketika masih berfungsi terdapat tiang-tiang penopang atap yang terbuat dari bahan yang cepat lapuk, oleh karena itu bagian atap bilik sudah tidak ada lagi sisanya. Di sisi timur di bagian atas bilik, tentunya di masa silam pernah bertahta arca Garuda yang juga berfungsi sebagai jaladwara, sangat mungkin air dahulu memancar keluar dari paruh Garuda tersebut. Arca Garuda sekarang telah tiada, namun masih ada yang tersisa, yaitu pahatan yang berbentuk sayap burungnya saja.

Begitupun yang terdapat di selatan batur terdapat kolam berbilik batu juga, keadaannya sama dengan yang berada di kolam utara, hanya saja yang membedakannya adalah arca yang terletak di bagian atas kolam. Dahulu yang bersemayam di kolam selatan adalah arca Naga, arca tersebut sekarang masih ada, digambarkan Naga yang sedang menegakkan kepalanya dan menghadap ke arah kolam. Dahulu dari mulut Naga tentunya memancar air ke arah kolam, jadi berfungsi juga sebagai jaladwara, hanya saja kepala Naga tersebut, bagian mulutnya telah rusak terpotong.[ii]

Biasanya kolam ini digunakan mandi berendam para pengunjung. Salah satu dari dua kolam mandi itu memang dipercaya sebagai tempat mandi sekaligus berendam sang ratu. Sebuah kolam lainnya untuk sang raja (entah ratu dan raja yang mana, hn). Dan hingga sekarang pembagian tempat berdasarkan gender tersebut masih berlaku bagi pengunjung.  Di dinding batu khas bangunan candi itu diberi petunjuk “Pria” di kolam mandi sebelah timur, dan “Wanita” di barat. Karena Candi Jalatunda adalah pemandian ratu, maka banyak para pengalap berkah yang mandi di pemandian Jolotundo di zaman sekarang menginginkan kecantikan secantik ratu.

Masih banyak reruntuhan candi Jalatunda yang masih berserakan di halaman atau ditempatkan dalam ruangan khusus di bagian bawah pelataran candi. Belum dapat diprakirakan di bagian mana batu-batuan itu berada dalam kondisi aslinya. Menurut Dwi Cahyono, bukan tidak mungkin di sekitar patirtan itu dulunya terdapat bangunan-bangunan suci lain. Mengingat keberadaan patirtan ini banyak dimanfaatkan dalam jangka waktu yang sangat lama, sekitar enam abad. Dan sepanjang masa itu, bukan tidak mungkin pula direnovasi oleh raja-raja yang menjabat pada masa itu. Indikasi kuat mengenai hal ini antara lain berupa ditemukannya artefak bangunan kuna di bawah posisi Jalatunda. Kira-kira di depan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) sekarang ini.[iii]

Sebelum tahun 1990-an, kawasan lereng menuju Jalatunda ini cukup ketat dalam pengawasan kepurbakalaan. Kompleks PPLH yang dibangun mulai tahun 1989 harus berurusan dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3, sekarang BPCB) Trowulan karena dianggap berada di kawasan yang sangat potensial mengandung peninggalan purbakala. Satu-satunya bangunan rumah permanen di kawasan ini pada waktu itu adalah rumah berlantai dua yang tidak jauh dari tanjakan jalan menuju Jalatunda. Namun belakangan nampaknya makin mudah saja mendirikan bangunan permanen di jalur menuju Jatalunda ini. Setidaknya ada sebuah pesantren, sebuah rumah dua tingkat (nampaknya belum diselesaikan), sementara bangunan dua lantai yang disebutkan pertama tadi dalam kondisi rusak tak dihuni lagi.

Pemugaran liar pernah terjadi di Jalatunda yang justru sudah dipugar secara profesional. Pemugaran candi  itu dilakukan dengan cara yang keliru. Misalnya pendirian bangunan baru yang puncaknya berhiaskan mahkota bertuliskan Makuto Romo (mahkota Prabu Rama) di belakang kompleks percandian itu. Kemudian penempatan batu candi di atas puncak gapura baru itu, peletakan batu yang digoresi tulisan di atas pondasi baru, dan pemindahan letak batu-batu yang berasal dari rekonstruksi percobaan tahun 1921. Beruntung bangunan mahkota itu sekarang sudah tidak ada lagi. Pemugaran oleh pemerintah dilakukan tahun 1991 – 1994.

Dari sisi fungsinya, candi Jalatunda termasuk candi yang berfungsi sebagai tempat pertapaan, didirikan di lereng pegunungan tempat raja bertapa. Mirip dengan Candi Wihara yang didirikan untuk para pendeta bersamadhi (Candi Sari dan Plaosan di Jawa Tengah). Ada candi yang didirikan sebagai lambang Budha (Candi Stupa) seperti Borobodur, Candi Pintu Gerbang sebagai gapura atau pintu masuk (Candi Bajang Ratu di Trowulan), ada lagi candi yang didirikan di tengah atau dekat kolam seperti Candi Belahan dan Candi Tikus, yang mungkin berkaitan dengan sistem irigasi.

Dari berbagai penelitian memang terdapat perbedaan mengenai fungsi candi ini. Ada yang menganggapnya sebagai tempat pemakaman lantaran pernah ditemukan peripih dan abu, namun sejumlah ahli lain membantahnya yang menduga abu itu adalah abu binatang, bukan abu pemakaman. Candi Patirtan Jalatunda lebih dipercaya dibangun sebagai tempat untuk bertapa, bersamadi, menyepi, mengasingkan diri dan moksa.

(Bersambung)


[i] Dikutip dari informasi yang ditempel di areal Candi Patirtan Jalatunda.

[ii] Agus Aris Munandar. Opcit

[iii] Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang. Wawancara dengan penulis.