Jelajah Budaya Tirtayatra (12): NAROTTAMA SANG PENGAWAL

Catatan Henri Nurcahyo

Berada sekitar 100 meter di arah bawah (barat laut) candi Jalatunda, terdapat petilasan Narotama. Orang kadang menyebutnya sebagai “makam” Narotama, meski hal ini disangsikan. Yang jelas, di kompleks petilasan ini terdapat dua buah makam di bawah pohon (entah siapa yang dimakamkan di situ), kemudian ada satu bangunan yang di dalamnya terdapat beberapa batu, salah satunya seperti prasasti, yang ditempatkan dalam ruang khusus sebagai tempat bersamadi.

Menurut juru kunci di situ, kedua bangunan seperti makam itu katanya bukan makam sebagaimana umumnya. Hanya bentuknya saja dibuat seperti makam. Tidak ada makam di tempat ini, apalagi makam Narotama. Apalagi Narotama tentunya beragama Hindu yang jenazahnya tentu tidak dimakamkan. Hanya saja dalam perkembangannya keberadaan “makam” ini lantas berkembang menjadi cerita lisan yang menyebutkan bahwa makam Narotama dikeramatkan. Bagi peziarah, sebelum tirakat di makam Narotama terlebih dulu harus melakukan mandi di pemandian Jolotundo agar badan menjadi bersih dan suci.

Lantaran bentuknya sudah dibuat seperti makam Islam itulah maka banyak orang yang kemudian melakukan ziarah dengan beraneka tujuan.  Sebagaimana dituturkan oleh Suroso, penjaga wisata Jaatunda kepada laman nasionalisme.co, ada yang mencari solusi berupa ketenangan batin, penyembuhan penyakit, atau laku spiritual sebagai tuntutan seorang musafir atas perintah Sang Guru. Tapi ada juga yang meminta agar diberi kesuksesan dalam bekerja dan meniti karier.

Namanya tempat keramat, maka ada satu isyarat bahwa peziarah akan menemui keberhasilan. Itu bila sudah ditemui harimau putih. Binatang gaib ini diyakini sebagai jelmaan Narotama.

“Kalau tokoh spiritual bertemu Mbah Putih (sebutan harimau gaib itu, red) maka tanda mendapat keberhasilan. Harimau itu adalah jelmaan ilmu Ki Patih Narotama. Ia memang dikenal sakti. Dari kesaktian itulah ia bisa menyelamatkan raja Airlangga dari tentara Wura-Wari dab akhirnya ia diangkat menjadi patih Kahuripan.” jelas Surahmat (54), warga Biting, Seloliman.

Bapak yang hidup bertani dan pencari kayu bakar di hutan ini mengatakan, bahwa harimau itu tidak akan mengganggu peziarah dan pelaku spiritual di tempat ini. Justru macan putih ini sangat bersahabat.

“Kalau Mbah Putih sudah mau bertemu dengan peziarah, maka besar kemungkinan tujuan ngalab berkahnya berhasil dikabulkan Yang Maha Kuasa,” lanjutnya.

Penuturan Surahmat yang dibenarkan oleh Suroso, penjaga wisata candi Jolotundo ini mengaku juga sering bertemu dengan Mbah Putih saat keliling hutan di sekitar wisata Jolotundo.

“Mbah putih justru banyak menolong kami. Kekeramatannya bisa menangkal dari orang-orang yang bermaksud jahat. Daerah wisata ini terasa aman dan nyaman juga sebagai peringatan bagi orang yang berniat jelek. Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti. (Kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan).”

Kok? “Karena mau tidak mau mereka lebih dulu harus berhadapan dengan harimau putih itu,” kata Suroso.

Apapun yang dikatakan tentang “makam” Narotama itu, yang kelas keberadaan bangunan di situ tergolong baru. Dulunya hanya ada batu biasa, kemudian diberi atap dan seterusnya berkembang menjadi tempat yang disakralkan. Kesakralan itu semakin dikuatkan dengan adanya bangunan yang persis makam meski tanpa nisan. Di dalam bangunan yang terdapat tiga batu itu sengaja dibuat ruangan tertutup untuk tempat bersamadi, dan sebuah beranda. Belakangan semakin banyak yang melakukan semedi di tempat ini, membawa sesajen dan semacamnya yang tentunya tidak disukai kalangan muslim.

Mpu Narotama adalah pengawal Airlangga sejak masih belum menjadi raja. Narotama (atau ditulis dalam ejaan Narottama, dobel “t”), adalah putera pendeta istana  raja Udayana dari Bali yang ditugaskan mengawal Airlangga  datang ke tanah Jawa tahun 1006. Kedekatan Airlangga dan Narotama bagaikan pohon dan bayangannya. Kemudian Airlangga menikah dengan sepupunya sendiri, Dewi Galuh, yaitu puteri Dharmawangsa Teguh, Raja kerajaan Medang  dari wangsa Isyana. Lokasi kerajaan Medang ini sekarang di sekitar Maospati, Madiun, meski kemudian berpindah-pindah, termasuk di Jombang.

Tetapi pada saat pesta pernikahan dilangsungkan, diserang oleh pasukan Haji Wurawari dari Lwaram, sekutu kerajaan Sriwijaya. (Lwaram, sekarang desa Ngloram, Cepu, Jawa tengah). Konon penyerangan ini dilatarbelakangi sakit hatinya karena gagal mempersunting puteri mahkota kerajaan Medang. Raja Dharmawangsa Teguh tewas dalam serangan itu, juga puteri mahkota.

Sedangkan Airlangga lolos dan melarikan diri ke hutan dan lereng-lereng gunung, berteman dengan para pertapa yang suci kelakuannya dikawal hambanya yang setia yaitu Narottama. Ia dikenal sebagai tokoh sakti yang menyelamatkan raja dari serbuan tentara Wura-Wari. Dialah abdi yang teramat teguh dalam kesetiaan, mengikuti raja kemana saja perginya tanpa mau berpisah, ikut berpakaian kulit kayu, dan makan apa saja yang dimakan oleh para pertapa yang tinggal di hutan.

Singkat cerita, ketika pada tahun 1009 rakyat meminta Airlangga untuk membangun kembali kejayaan wangsa Isyana, Airlangga menjadi raja dan Narotama menjadi patih dengan gelar Rakryan Kanuruhan, atau nama lengkap gelarnya adalah Rakryan Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narottama Danasura. Nama ini masih ada sampai tahun 1041. Pada tahun 1032 Airlangga didampingi Rakryan Kanuruhan Mpu Narottama dan Rakryan Kuningan Mpu Niti berhasil membalaskan dendam wangsa Isyana dengan mengalahkan Raja Wurawari.

Menjelang akhir pemerintahan Airlangga terjadi huru-hara Calon Arang (yang masih bertalian darah dengan istri Prabu Dharmawangsa) dari desa Girah (sekarang bernama Gurah, Kediri). Huru-hara itu dipadamkan oleh Mpu Baradah, namun Mpu Baradah kemudian sakit, dan Narotama serta permaisuri Airlangga meninggal dunia. Dari peristiwa inilah kemudian Airlangga berniat mengundurkan diri sebagai raja, namun bimbang siapa yang meneruskan tahtanya. Dua anak lelakinya, yaitu Garasakan dan Saramawijaya, dianggap sama-sama berhak mewarisi kerajaan. Sebagaimana dapat dibaca dalam buku sejarah, Airlangga akhirnya membelah kerajaannya menjadi dua, Panjalu dan Jenggala.

Nah terkait dengan kedekatan Airlangga dan Narottama yang seperti itu maka dapat diduga bahwa yang disebut Petilasan Narotama tersebut adalah tempat istirahat atau semacam tempat tinggal Patih Narottama ketika Airlangga mengasingkan diri di Jalatunda.

Pendapat Dwi Cahyono bahwa di sekitar Patirtan Jalatunda dulunya juga terdapat banyak bangunan sangat masuk akal. Tidak mungkin patirtan yang dibangun Udayana tahun 977 M itu dibiarkan begitu saja selama ratusan tahun oleh Airlangga dan juga para pendeta yang menggunakannya sebagai tempat bertapa. Sepanjang sekitar lima ratus tahun kawasan Jalatunda dan sekitarnya adalah sebuah Karshian (tempat para Rshi) menjalankan praktek agama.

Sumber: https://www.nasionalisme.co/ – Narotama, Patih Penyelamat Raja Airlangga, 06/29/2016 diakses tanggal 29 April 2021

(Bersambung)