PELUNCURAN BUKU “TJUK KASTURI SUKIADI SANG NASIONALIS”

SURABAYA: Pemikiran dan gagasan Tjuk Kasturi Sukiadi semoga dapat menjadi teladan dan sumbangsih kepada bangsa dan negara. Hal itu disampaikan oleh Ibu Indijati Sukiadi, istri  Dr. H. Tjuk Kasturi Sukiadi, sebagaimana dituliskan dalam buku “Tjuk Sukiadi Sang Nasionalis” yang diluncurkan di Sasana Tribuana Tungga Dewi BKKKS Jawa Timur, Jalan Raya Tenggilis, Surabaya Kamis (27/5).

“Buku ini adalah kado yang sangat berharga bagi almarhum Pak Tjuk yang kalau hari ini masih hidup tepat berusia 76 tahun,” ujar Bu Tjuk.

Sementara Ketua Umum BKKKS Jawa Timur, Pinky Saptandari, menyatakan dengan penerbitan buku ini merupakan bentuk penghormatan tersendiri atas jasa dan dedikasi almarhum terhadap kerelawanan sosial dimana almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Umum BKKKS Jatim.

Dalam acara peluncuran yang hanya mengundang peserta terbatas lantaran protokol kesehatan itu hadir Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dr. M. Alwi, M.Hum, mantan rektor Unair Prof. dr. Soedarso Djojonegoro, Koordinator Barisan Kebangsaan Heri Purwanto, komedian Djadi Galajapo,  dan segenap pengurus Yayasan BKKKS. Seluruh peserta yang hadir dalam acara tersebut mendapatkan buku gratis yang sudah dibeli oleh BKKKS Jawa Timur.

Buku ini selengkapnya berjudul “Tjuk Kasturi Sukiadi Sang Nasionalis. Menekuni dan Mengamalkan Politik Kebangsaan Demi NKRI ” merupakan karya Henri Nurcahyo, dan diterbitkan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan. Penerbitan buku ini juga bisa terlaksana atas bantuan dari Sasongko Budi dari STIE Perbanas dimana Pak Tjuk pernah menjabat sebagai Ketua (Rektor) dan bantuan dari Putut Sri Mulyanto dari PT. Pelindo, serta subsidi dari pihak keluarga.

Tjuk Kasturi Sukiadi atau akrab dipanggil Pak Tjuk adalah seorang ilmuwan ekonomi yang menyebut dirinya Aktivis karena memang lebih banyak berkiprah langsung di lapangan. Dalam buku yang ditulis selama 3 (tiga) bulan ini dikisahkan perihal prinsip hidupnya sebagai seorang  Nasionalis, Pancasilais, Soekarnois;  Kepedulian pada Dunia Pendidikan;  Kepedulian terhadap Seni Budaya; Relawan Sosial Dan Kemanusiaan; juga kiprahnya dalam dunia usaha menjadi Komisaris di berbagai BUMN (Semen Gresik, PTPN, BPJS dll), serta pandangannya perihal bencana semburan lumpur panas Lapindo.

Pak Tjuk memang lahir dari keluarga nasionalis. Ayahnya adalah aktivis PNI dan Soekarnois yang kemudian mendidiknya menjadi Aktivis GSNI, GMNI  dan menjadi pelopor Gerakan Reformasi 1998 di Surabaya. Meski menjadi pendukung Jokowi dalam pilpres sejak awal, namun Pak Tjuk tidak segan-segan mengritiknya.  “Saya Bukan Barisan Penjilat,” tegasnya.

Dalam buku setebal 260 halaman ini juga memuat kisah-kisah humanis perihal kisah cinta Tjuk Sukiadi dan Indijati, istrinya yang justru lebih tua usianya dan masih sehat hingga berusia 83 tahun saat ini. Termasuk juga bagaimana pandangannya terhadap bahaya Covid-19 yang menurutnya jangan membuat masyarakat menjadi paranoid.  Namun justru Covid-19 itulah yang kemudian merenggut nyawanya setelah dinyatakan posiif awal tahun dan meninggal dunia tanggal 16 Januari 2021. Pak Tjuk memiliki 4 (empat) anak, dimana perempuan yang pertama meninggal dunia tahun 2016, yang kedua laki-laki, sedangkan yang bungsu adalah putri kembar.

Lahir di Malang tanggal 23 Mei 1945, Tjuk adalah putra sulung dari 12 (dua belas) bersaudara, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga,  meraih gelar master di Inggris dan Doktor Ekonomi serta sekaligus mengajar di almamaternya. Pak Tjuk juga dikenal sebagai Ketua Badan Koordinasi Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur yang kemudian diserahkan kepada Ibu Pinky Saptandari, sedangkan Pak Tjuk menjadi Pembina. (hn)