Anekdot Seniman (3): PENDERITAAN ADALAH HIBURAN

Oleh HENRI NURCAHYO

MEMANG ironis, ketika Amang Rahman masih dalam kondisi serba kekurangan, justru banyak kisah lucu yang terjadi. Orangpun tertawa ngakak mendengarnya, padahal yang dikisahkan itu adalah peristiwa nyata tentang penderitaan. Maklum, memang dia nyaris tanpa penghasilan yang berarti. Namun sepertinya Amang menjadikan penderitaannya sebagai sebuah hiburan tersendiri. Begitulah caranya menyiasati kehidupan. 

Nama aslinya adalah Abdul Rahman, dipanggil Mamang ketika kecil, namun dalam seluruh dokumennya tertulis Amang Rahman. Sebagaimana sudah saya tulis, bahwa dua dunia Amang Rahman adalah antara humor dan kekhusukan. Dia suka menertawakan kekonyolan diri sendiri tanpa beban namun menyodorkan kepiluan dalam keheningan melalui lukisannya. Baru melihat kedatangannya saja orang sudah siap-siap tertawa karena pasti ada cerita lucu tentangnya. Tetapi begitu kita menghadapi lukisannya, dunia ngelangut, sunyi, sepi dan transenden yang tersaji di kanvasnya.

A.D Pirous adalah pelukis kaligrafi dari Bandung yang oleh Amang sudah langsung dikenalkan sebagai saudara angkatnya kepada saudara-saudara Amang. Tanpa minta persetujuan lebih dulu. Ketika Iwan Meulia Pirous, anak Pirous, menulis tugas akhir tentang Amang Rahman, dia selama satu minggu tidur di rumah Jalan Kali Kepiting. Dia makan dan tidur bersama anak-anak Amang yang lain. Iwan sangat terkesan, sehingga ketika pulang ke Bandung dia minta izin ke ayahnya,

“Ayah, apakah boleh saya memanggil Oom Amang dengan sebutan Abi?”

Pirous mengisahkan hal itu dalam kata pengantar buku “Ambang Cakrawala Seni Lukis Amang Rahman Jubair” yang saya tulis bersama Mamannoor, yang terbit bersamaan dengan Ulang Tahun ke 70 Amang Rahman dan pameran tunggalnya. Sayang sekali, lelaki yang mengaku tidak tamat SD ini sudah meninggal dunia bulan Januari 2001, sedangkan pameran di aula Museum Nasional itu diselenggarakan bulan November tahun yang sama.

Pirous menyebut Amang adalah lelaki yang tingkahnya acuh, spontan dan manusiawi. Dia sering memerolok dirinya sendiri yang sedang (bahkan seringkali) dalam kesulitan dengan sikap santai dan bergurau. Maka tak heran suatu ketika Amang bertemu Pirous di Jakarta dan berkata:

“Rous, tolong paketkan saya ke Surabaya.”

Tahu sendiri maksudnya kan?

Soal AD. Pirous ini oleh Amang sering disebut-sebut dalam perbincangan dengan kalangan seniman Surabaya. Ketika teman-temannya mengajak Amang ikut menjadi penggemar batu akik, dengan santai Amang mengelak;

“Bagi saya akik yang paling mahal itu ada di Bandung. Namanya A.D. Pirous.”

Sepulang dari Jakarta, Amang ditanya ketika bertemu teman-teman seniman di kompleks Balai Pemuda.

“Lho, Pak Daryono mana Pak?”

“Sakit, tiga hari gak bisa buang air besar.”

“Lho kenapa?”

“Bagaimana bisa BAB kalau tidak ada yang dimakan,” jawabnya santai.

Tentu saja ini hanya karangan Amang saja, sebab kadang cerita itu diganti dengan namanya sendiri. Yang jelas, kisah-kisah kesulitan mendapatkan makanan itu sudah menjadi cerita umum yang beredar di kalangan seniman. Bersama sahabat-sahabatnya, seperti M. Daryono, Khrisna Mustajab, M. Roeslan, mereka menjalani kesulitan hidup dengan cara jenaka.

Pernah mereka makan di sebuah warung. Amang ingin meminjam kacamata yang dikenakan Khrisna Mustajab. “Biar ikan teri kelihatan seperti pindang,” ujarnya.

Cara hidup menyikapi penderitaan ini agaknya menular ke istrinya.  Sejak menikah tahun 1961, Amang memang tidak punya penghasilan tetap. Kepada calon mertuanya dia mengaku bekerja sebagai pedagang. Maka pasangan suami istri itu menjadi terbiasa berpindah-pindah mengontrak rumah sehingga teman-temannya menjuluki sebagai “kontraktor”.

“Yang paling menyedihkan itu ketika masa kontrak rumah sudah habis bertepatan dengan keharusan membayar biaya sekolah anak-anak,” ujar istri Amang, yang juga sudah almarhumah.

Apakah Bu Amang sedih? Tentu saja. Namun dia, sebagaimana suaminya, menyikapinya dengan santai dan bergurau;

“Yah, beginilah susahnya jadi orang kaya. Kami kerap kali berpindah rumah. Rumah kami banyak sekali sampai kami sendiri bingung menghitungnya.”

Amang memang berasal dari keluarga pedagang namun hanya dia sendiri yang menjadi seniman. Sejak muda dia memang bercita-cita menjadi sastrawan. Baru ketika kemudian banyak bergaul dengan pelukis, dia ikut serta mendirikan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) bersama dengan Krishna Mustajab dan M. Roeslan tahun 1967. Amang memang terlambat belajar seni lukis juga tercatat sebagai salah satu pendiri Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Sejak memilih profesi sebagai pelukis inilah dia merasa ada sesuatu yang dapat diharapkan sebagai penghasilan dari berjualan lukisan. Namun ternyata tidak mudah menjualnya. Apalagi dengan harga yang memadai. Ada sejumlah lukisannya yang hanya ditukar dengan tiket kereta api Gaya Baru agar bisa pulang ke Surabaya. Pernah juga menukar lukisan dengan beras. Bahkan hanya cukup membayar ongkos becak plus mentraktir makan pengemudi becaknya. Soal yang disebut terakhir ini nanti saja ceritanya. Lumayan panjang.

Karena sering menawarkan lukisan ke berbagai pihak, Amang menyebut cara penjualan itu menganut sistem “dor to dor” bukan sekadar “door to door.” Maklum, memang ada nuansa “penodongan” agar orang membeli lukisannya. Miris kaan? Al Fatehah buat almarhum.

                Tunggu kelanjutannya yaa…. (*)

Keterangan foto (ki-ka): Mahmud Buchori, AD. Pirous, Amang Rahman, dan Sunaryo