Anekdot Seniman (5): Tidak Pernah Kapok Merokok

Oleh Henri Nurcahyo

AMANG RAHMAN adalah seorang perokok berat. Saya tidak tahu berapa pak rokok yang dihabiskannya dalam sehari tetapi setiap saat di tangannya nyaris selalu tak pernah lepas dari rokok. Bahkan sambil melukis dengan tangan kananpun masih terselip rokok di jari-jari tangan kirinya. Banyak kejadian lucu terkait rokok ini sehingga dokter mengancam tak mau menangani Amang Rahman kalau masih merokok. Kapok? Tentu saja tidak.

Karena tak pernah lepas dari merokok maka berakibat banyak bajunya yang berlobang-lobang akibat terkena percikan bara rokok. Termasuk ujung baju lengan panjangnya banyak yang terbakar akibat Amang memegang rokok dengan terbalik ketika lengannya diposisikan di belakang badannya. Biasanya hal itu dilakukan ketika sedang bercakap-cakap dengan orang lain.

Rokok kesukaannya adalah rokok kretek Gudang Garam hijau. Mengapa?

“Soalnya kalau saya punya sepuluh bekas bungkusnya bisa ditukarkan satu pak rokok gratis,” jawabnya enteng.

Karena tidak pernah pegang duit maka istrinya yang selalu jadi sasaran setiap kali Amang ingin membeli rokok. Tentu saja hal ini mengurangi jatah belanja. Bu Amang pun marah-marah melihat kebiasaan suaminya ini.

Rokok teruuus, gak ngerti nek gak isok belonjo taah.”

Bukan sekali dua kali Bu Amang marah-marah soal rokok.

Koen iku lho, adane polisi ae,” kilah Amang. Dia menganggap istrinya seperti polisi yang suka melarang-larang.

Istrinya tak mau kalah. Dia menolak memberikan uang untuk beli rokok. Amang pun diam-diam menukar koleksi bungkusnya untuk mendapatkan rokok gratisan. Sampai beberapa hari Bu Amang masih melihat suaminya kebul-kebul menghisap rokok. Aneh, dari mana Pak Amang bisa membeli rokok?

Nah suatu ketika Bu Amang melewati sebuah warung, dia disapa oleh pemiliknya.

“Bu Amang, ini lho Pak Amang punya hutang 5 pak rokok. Belum dibayar.”

Haduh. Bu Amang geram. Pantas saja masih bisa merokok. Terpaksa dia yang harus membayarkannya di warung itu.

Merokok memang merugikan kesehatan. Itu kata dokter. Meski semua orang tahu hal itu toh tidak akan menghalangi untuk tetap merokok. Termasuk Pak Amang. Akibatnya,  Amang batuk-batuk. Dia pun mendatangi dokter langganannya.

“Saran saya Pak Amang, berhentilah merokok.”

“Iya Dok,” jawabnya asal-asalan. Yang penting dapat obat biar sembuh dan bisa merokok lagi.

Pada waktu yang lain, Amang batuk-batuk lagi akibat merokok. Dia datang ke dokter lagi.

“Pak Amang masih merokok?”

“Tidak Dok, sudah berhenti.”

“Bagus, kalau tidak mau batuk-batu lagi jangan merokok ya.”

“Iya Dok.”

Nah ketika Amang merogoh sakunya untuk membayar beaya berobat. Tanpa sengaja korek apinya terjatuh.

“Lho, katanya tidak merokok, kok bawa korek?”

“Anu Dok, itu punya istri saya, buat menyulut kompor.”

Dokter geleng-geleng kepala. Dia tahu pasien langganannya ini berbohong.

Sebagaimana para perokok pada umumnya, memang sangat sulit menghentikan kebiasaan merokok. Bahwasanya “merokok dapat merugikan kesehatan” sebagaimana ditulis di bungkusnya, toh mereka tidak peduli. Termasuk Amang Rahman.

Ternyata ancaman di bungkus rokok itu benar adanya. Untuk kesekian kalinya Amang batuk-batuk lagi. Kali ini lumayan parah. Sampai bunyi batuknya seperti burung perkutut yang bagus:

“Kooong, koong….” Dadanya pun sesak.

Apa boleh buat. Amang datang ke dokter langganannya yang sudah jengkel karena pasien satu ini masih melanggar perintahnya.

“Sudah Pak Amang, ini yang terakhir ya. Kalau Bapak masih merokok jangan ke sini lagi,” tegasnya sambil menulis resep.

“Iya Dok,” jawab Amang santai.

“Eh, iya apa maksudnya?” tanya dokter itu.

“Iya, saya tidak ke sini lagi.”

Lhadalah. Dokter melotot. Amang pun berlenggang pulang. (*)