Anekdot Seniman (6): DILARANG MEROKOK DALAM MOBIL

Oleh Henri Nurcahyo

CERITA kali ini masih soal rokok. Ada kaitannya dengan Arifin Hidayat (alm) yaitu pelukis yang sukses sebagai pengusaha pertamanan dan juga menjadi seniman bonsai. Arifin dikenal usil mengerjai teman-temannya (di-prank, istilah sekarang). Saya sendiri pernah dikerjai dengan cara memasukkan jajanan tetel (kue dari ketan) ke dalam sepatu saya. Termasuk juga Pak Amang Rahman sehingga dia gagal merokok dalam mobil sedan milik Arifin.

Sebagai salah satu pendiri Aksera, Amang adalah dosen dan sekaligus pegawai tata usaha. Waktu itu para mahasiswanya diajarkan sikap-sikap idealis sebagai seniman. Tidak boleh meniru karya siapapun. Apalagi salah satu dosennya yang menjadi sosok ideal mahasiswa adalah Gatut Kusumo (alm), mantan anggota Tentara TRIP, aktivis Angkatan 66, yang aktif dalam kesenian sebagai sutradara film dan penulis. Karena itu tidak mengherankan rata-rata mahasiswa Aksera pantang berorientasi pasar dalam berkarya. Lukisan tidak laku tidak masalah. Melukis bukan untuk mencari kekayaan, itu prinsip.

Arifin Hidayat adalah perkecualian. Kemampuannya dalam seni rupa dia salurkan menjadi seniman taman. Dia menerima jasa pembuatan taman. Tentu saja sikap ini dipandang sebelah mata oleh kalangan mahasiswa Aksera. Namun perjalanan waktu membuktikan bahwa justru Arifin yang di kemudian hari sukses secara materi. Punya rumah lumayan mewah, punya mobil, dan kalangan pelukis malah menjadikannya kolektor lukisan. (Cerita soal ini nanti saja ditulis tersendiri).

Amang Rahman adalah salah satu seniman yang sering bertandang ke rumah Arifin. Biasanya dia belajar soal bonsai. Arifin sendiripun menghormatinya sebagai mantan dosen dan sesepuh pelukis Surabaya. Sementara Arifin justru memulai kembali sebagai pelukis justru ketika dia sudah mapan.

Nah suatu ketika Pak Amang diajak Arifin pergi ke Malang naik mobilnya. Arifin sudah memperhitungkan bahwa kebiasaan Amang suka merokok pasti akan merepotkan. Arifin berpesan, bahwa Pak Amang tidak boleh merokok dalam mobil. Apalagi karena mobil ber-AC.

Pak Amang mencoba patuh. Namun hanya dalam hitungan belasan menit rokok di sakunya sudah dikeluarkan. Sebatang rokok sudah ditempelkan di lubang hidung, dihisap-hisap aromanya. Sementara Arifin hanya melirik sambil menahan senyum.

“Pon, koen gak kepingin pipis?” ujar Amang kepada Pono, sopir Arifin yang sedang mengemudi mobil.

Maksudnya, kalau ada kesempatan buang air di tepi jalan Amang bisa menyempatkan diri merokok. Arifin tahu persis maksud Pak Amang. Tapi dia sengaja diam saja.

Tidak berselang lama Amang bertanya lagi:

“Pon, gak kepingin pipis tah? Tapi jangan di pom bensin yaah.”

Akhirnya Pono paham yang dimaksudkan Amang.

Sampeyan pingin ngerokok tah Pak?” tanya Pono.

Tanpa menunggu jawaban, mobil segera ditepikan di jalanan sepi. Dekat dengan pepohonan besar. Maklum kaum laki-laki biasanya pipis di batang pohon.

Begitu turun, Pak Amang langsung mengeluarkan rokoknya. Menyulut dengan korek namun gagal menyala. Dia ambil satu batang lagi dari bungkusnya, dinyalakan lagi, tetap tidak mau menyala. Begitu terus hingga semua rokok dalam bungkus itu tidak satupun yang berhasil dinyalakan. Amang heran. Bagaimana mungkin bisa begitu? Bukankah rokok ini masih kering. Korek juga menyala sempurna.

 “Lho, gak jadi merokok Pak,” tanya Pono.

“Lha iyo, aneh, kok semua rokokku gak bisa disumet. Tidak mau menyala” keluh Amang.

Arifin tak bisa menahan senyumnya meski dia tidak berkomentar apa-apa. Ya sudah, Amang gagal merokok. Perjalanan dilanjutkan kembali.

Cerita ini disampaikan sendiri oleh Arifin langsung kepada saya. Bukan Pak Amang yang bercerita. Ternyata, sebelum berangkat Arifin sengaja “mencuri” rokok Pak Amang, apalagi kalau bukan Gudang Garam Hijau. Dia keluarkan satu persatu batang rokok itu, kemudian masing-masing rokok dicoblos beberapa kali dengan peniti. Tentu saja tidak bisa menyala meski dihisap.

Ketika cerita ini saya sampaikan ke Amang Rahman beberapa tahun kemudian, Amang kaget dan misuh-misuh. “Jianc…..k Ipin.”

Ternyata Arifin tidak pernah cerita perbuatan usilnya kepada Pak Amang. Dan Amang sendiri tidak juga tahu kalau saya tidak cerita. (*)

Catatan:

Menulis naskah ini mudah, karena sudah hapal di luar kepala. Yang sulit itu mencari dokumentasi fotonya. Arifin Hidayat, saya punya fotonya lumayan banyak, tapi entah dimana. Maklum foto lama dalam bentuk hardcopy. Belum ada digital.