Anekdot Seniman (7): MELUKIS TERUS, KAPAN LAKUNYA?

Oleh Henri Nurcahyo

TUGAS Pelukis ya melukis. Soal bagaimana lukisan itu terjual itu urusan lain. Kalau sejak awal pelukis sudah memikirkan bagaimana lukisannya laku maka tidak akan bisa murni lagi melukisnya. Sudah berorientasi pasar. Karena itu O.H. Soepono punya prinsip tegas: “Kalau saya berhadapan dengan kanvas maka saya adalah pelukis. Tetapi ketika lukisan sudah jadi maka saya adalah pedagang.”

Di kalangan pelukis Surabaya O.H. Supono adalah pelukis yang sukses. Ketika banyak pelukis lain sulit berpameran, Pono malah sudah membuka galeri sendiri, Galeri O.H.Supono, di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Waktu itu TIM adalah kawasan sakral bagi seniman Indonesia. Galeri milik Pono berada di posisi strategis, depan Grha Bhakti Budaya.

Cerita soal O.H. Supono nanti saja. Kali ini soal Pak Amang dulu.

Nah mungkin karena terpengaruh OH. Supono maka istri Pak Amang selalu uring-uringan melihat Pak Amang kok lukisannya tidak laku.

“Ngerokok teruus, ngelukis teruuus, kapan payune,” ujar Bu Amang.

Jengkel dengan gerutuan istrinya akhirnya Pak Amang langsung pamitan keluar hendak menjual lukisan. Ditentengnya sebuah lukisan ukuran sedang, dia berjalan ke ujung gang, lantas naik becak.

“Kemana Pak?”

“Gentengkali,” jawab Pak Amang.

Becak pun melaju hingga akhirnya sampai di kantor wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pak Amang lantas menuju ke gedung Bidang Kesenian dan langsung naik ke lantai dua.

“Ada perlu apa Pak?”

“Mau ketemu Pak Tris. Ada?”

“Masih rapat Pak. Apa mau ditunggu?”

“Masih lama?”

“Wah nggak tahu Pak.”

Orang yang dimaksudkan itu adalah Soetrisno Rachmadi, kepala bidang kesenian Kanwil Depdikbud yang memang akrab dengan kalangan seniman. Para pelukis suka mendatanginya manakala perlu menjual lukisan. Tidak terkecuali Pak Amang.

Setelah sekian lama menunggu Pak Amang gak betah, akhirnya meninggalkan tempat, keluar dari ruangan. Sementara becak yang dinaikinya dari rumah masih menunggu di depan kantor.

“Kita ke Karang Bulak Cak,” ujar Pak Amang.

Di siang yang panas terik itu becak kembali melaju ke Karang Bulak, rumah seorang yang akrab dengan kesenian dan sudah berkecukupan hidupnya. Ternyata, orang yang dicari sedang keluar rumah. Kepalang tanggung, Pak Amang harus sabar menunggu.

Jam demi jam berlalu. Belum ada tanda-tanda tuan rumah kembali. Sementara perut mulai keroncongan. Pak Amang juga terpikir tukang becak yang masih menanti di ujung gang. Pak Amang memang belum memberikan ongkos, menunggu lukisan laku.

Akhirnya, datanglah orang yang ditunggu-tunggu. Pak Amang berbinar-binar wajahnya. Sementara sang tuan rumah tersenyum lebar karena dia sudah langsung bisa menebak apa tujuannya Pak Amang bertamu.

“Piro iki Mang,” ujarnya menanyakan harga. To the point.

“Sembarang lah, ngerti dewe kan.”

Maka transaksi berlangsung kilat.

Ketika Pak Amang hendak pamit, tuan rumah mencegah:

“Lho gak melok mangan sik tah?”

“Gak wis, aku dienteni tukang becak,” kata Amang.

Begitulah, betapa senangnya Amang bisa berhasil menjual lukisan. Maka dengan semangat empat lima dia bilang ke tukang becak:

“Mangan sik Cak, sampeyan durung mangan kaan?”

Mereka berdua makam dengan nikmat di sebuah warung.

“Rokoke Cak,” ujar Amang menawarkan rokok.

Selang beberapa lama, setelah kenyang dan puas merokok, akhirnya becak kembali melaju pulang ke rumahnya, Jalan kali Kepiting.

“Gimana payu?” Bu Amang langsung menyambutnya.

“Ya laku lah.”

“Mana uangnya?”

“Uang? Ya habis.”

“Kok habis?”

“Lha tadi lukisan memang laku. Trus saya buat makan-makan dengan tukang becaknya. Kasihan dia dari pagi belum makan. Trus beli rokok. Ini saya langsung beli lima pak.”

Bu Amang kaget. Melotot. Tidak bisa berkata apa-apa. Langsung balik kanan sambil cemberut.

Lha terus, apa perlunya menjual lukisan kalau ternyata tidak menghasilkan uang?

Begitulah. Al Fatihah buat Pak Amang. (*)