Anekdot Seniman (10): RAYUAN MAUT BUAT ISTRI

Oleh Henri Nurcahyo

PAMERAN lukisan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta adalah dambaan setiap pelukis Indonesia. Waktu itu, TIM menjadi semacam kawasan sakral yang mampu “membaptis” seniman. Pelukis yang mampu berpameran tunggal di TIM sudah layak dianggap selebriti. Mereka sering menjadi sumber berita kalangan wartawan. Dan, ini yang menarik, banyak perempuan yang mendekatinya. Tidak terkecuali terhadap Amang Rahman. Lantas, bagaimana sikap Bu Amang? Cemburu? Nah ini ceritanya menarik.

Tetapi bukan berarti lantas Amang memanfaatkan ketokohannya untuk menggaet wanita. Bagi Amang Rahman, perempuan adalah sumber kehidupan kedua setelah Tuhan. Wanita adalah ibu. Amang selalu berpikir tentang ibu manakala melihat wanita. Dia merasakan adanya keperkasaan dari balik kelembutannya. Karena itu Amang sangat mengaguminya sehingga rasa kagum itu terus terbawa dalam hidupnya bahkan akhirnya memengaruhi proses berkaryanya.

Sebaliknya, kalangan perempuan yang mengagumi Pak Amang juga memandangnya sebagai sosok yang terhormat. Apalagi Amang dikenal sebagai pelukis religious surealistis sehingga dianggap setara dengan Kyai. Mereka sangat segan terhadap Pak Amang yang selalu tampil serius itu. Padahal, di balik keseriusannya itu justru tersimpan kelucuan tersendiri. Religiusitas dan humor bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Itulah sosok Amang Rahman.

Begitu pula terhadap istrinya. Amang menikahi gadis dari Jombang, Wasi Kasiati, saat Amang berumur 31 tahun. Setelah sebelumnya bekerja serabutan, setahun berikutnya Amang bertekad menjadi pelukis. Bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya Amang menghidupi istrinya hanya dengan mengandalkan “pekerjaan” sebagai pelukis pemula. Namun ketabahan dan kesabaran istrinya menghadapi hal ini justru menumbuhkan rasa hormat kepadanya.

Karena itulah ketika Amang sudah mulai menanjak kariernya, dia mengajak istrinya menemani berpameran di Jakarta. Mereka berdua menginap di Wisma Seni TIM yang memang menjadi langganan seniman luar Jakarta.

Ketika itu Amang dan istrinya sedang makan di sebuah rumah makan di kawasan TIM. Tiba-tiba masuklah seorang perempuan cantik yang langsung menyapa Amang.

“Pak Amang, apa kabar?” sapanya manja.

Amang mengenalkan pada istrinya. Setelah itu Amang dan si cantik itu asyik ngobrol masalah lukisan lantaran dia memang seorang wartawati. Sedemikian asyiknya sampai Bu Amang nyaris tidak terlibat sama sekali dalam pembicaraan tersebut.

Setelah beberapa jenak lantas Amang mengatakan:

“Wah kalau hanya cerita gak jelas, harus melihat langsung lukisan saya.”

“Ayok Pak Amang,” sahut perempuan itu.

Maka keduanya lantas keluar dari rumah makan dan berjalan menuju galeri tempat Amang berpameran tunggal. Dengan semangat empat lima Pak Amang menjelaskan satu persatu lukisannya. Maklum gaya lukisan Amang memang cenderung “lebih banyak ceritanya ketimbang nampakan visualnya.” Wartawati cantik itu berulangkali menyatakan kekagumannya mendengar penjelasan Amang.

Entah berapa lama mereka berada dalam galeri, kemudian si cantik berpamitan.

“Terima kasih Pak Amang, nanti saya beritahu kalau dimuat yaa,” ujarnya sambil melemparkan senyum manisnya.

Bukan main senangnya Pak Amang. Dia merasakan ada gairah tersendiri yang mengalir dalam darahnya. Namun saat itu juga dia kaget, menyadari bahwa istrinya masih tertinggal di rumah makan. Bergegas Pak Amang ke restoran itu. Istrinya sudah tidak ada. Amang menduga istrinya pasti kembali ke Wisma Seni.

Betul juga, Bu Amang duduk sendirian di sebuah bangku semen di depan kamarnya.

“Kenapa gak masuk?” tanya Amang.

“Mana bisa masuk, kuncinya kamu bawa,” sahut Bu Amang.

Amang kaget dan merasa sangat bersalah. Dia tidak mampu berkata-kata. Dia hanya duduk di samping istrinya sebagai sikap permintaan maafnya.

“Seneng yo omong-omong karo wong ayu,” ujar istrinya sambil cemberut.

Amang masih diam. Dia tahu memang bersalah.

Sampek lali karo bojone,” tambah Bu Amang.

“Iya, iya aku salah. Sepurane,” jawab Amang.

“Kamu seneng yo karo perempuan itu?”

Tiba-tiba Amang muncul kenakalannya. Dia seketika hendak mengusili istrinya.

“Kamu seneng ya?” ulang istrinya.

“Iya seneng,” jawab Amang kalem.

Tentu saja istrinya kaget. Kemudian air matanya meleleh di pipi. Dihapusnya dengan ujung bajunya. Dia menangis sesenggukan.

Wis talah ojok nangis, didelok wong liyo iku lho isin,” ujar Amang.

Bu Amang masih menerusnya tangisnya. Lantas Amang bicara panjang lebar:

Sik talah, perempuan tadi itu memang cantik. Dia juga pinter. Datang ke sini bawa mobil sendiri. Pasti dia juga kaya. Siapa sih lelaki yang tidak senang dengan dia? Termasuk aku.”

Amang menunggu reaksi istrinya. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar. Masih saja menangis sesenggukan.

“Terus terang aku seneng dengan dia. Semua laki-laki normal pasti punya perasaan yang sama. Apa aku salah?”

Masih belum ada reaksi. Amang melanjutkan:

“Masalahnya, apakah dia juga seneng karo aku? Pikiren talah, aku ini sudah tua, elek, tidak kaya sama sekali, jadi pelukis juga belum terkenal banget. Lukisan ya belum laris. Perempuan mana yang suka sama aku?”

Amang berhenti sejenak.

Tak kandani yo, di dunia ini satu-satunya perempuan yang senang sama aku cuma satu. Ya kamu ini. Siapa lagi yang mau?”

Amang melirik istrinya yang mulai menghentikan tangisnya.

Wis ayok masuk ke kamar saja,” ajak Amang.

Bu Amang tersenyum. Pak Amang tersenyum. Mereka berdua masuk kamar di wisma seni. Ceklek. Pintu dikunci. (*)