Anekdot Seniman (12): SEMBAHYANG KAKI SATU

Oleh Henri Nurcahyo

AMANG RAHMAN memiliki kebiasaan blusukan ke tempat-tempat keramat. Baik berupa kuburan atau candi dan peninggalan purbakala. Nampaknya ini ada hubungannya dengan tema lukisannya yang surealistis dan ngelangut.  Dari perjalanan blusukan di sebuah desa, Amang bercerita ada orang sembahyang hanya dengan satu kaki. Padahal dia normal. Bagaimana kisahnya?

Dibandingkan dengan candi-candi besar yang sudah menjadi objek wisata, Amang lebih suka mengunjungi candi yang belum pernah dipugar atau hanya berupa reruntuhan batu.

“Jangan bilang siapa-siapa kalau saya belum pernah ke Borobudur ya,” ujarnya.

Nampaknya Amang “malu” bahwa dia belum pernah mengunjungi salah satu keajaiban dunia itu. Sedemikian terkenalnya candi di kawasan Magelang tersebut sehingga orang yang belum pernah ke sana, mungkin, akan dianggap ketinggalan zaman atau kuper. Padahal, apa salahnya tidak pernah ke Borobudur?

Namun agak berbeda dengan masjid, Amang tidak pantang mengunjungi masjid-masjid besar di berbagai kota. Namun baginya, justru akan jauh sangat berkesan manakala bisa masuk ke surau kecil di sebuah desa dan bersembahyang di sana.

Nah suatu ketika Amang bercerita oleh-oleh blusukannya. Dikisahkan, pada suatu ketika dia sedang berada di sebuah desa terpencil. Kebetulan saat itu sudah melewati jadwal sholat dhuhur. Amang mengaku sangat terkesan dengan mushola yang hanya berdinding kayu itu. Bangunannya berada di tengah rerimbunan pepohonan di alam pedesaan yang asri. Ada rumpun bambu di belakangnya. Sementara tempat wudlu berupa sebuah gentong dengan lubang di bagian dasarnya.

 Hal ini mengingatkan Amang yang pernah mengalami masa kecil di Bangkalan Madura, dimana setiap rumah selalu ada suraunya.

Begitulah, Amang menunaikan sholat sendirian di musholla yang sepi itu. Dia merasa sangat tenang sekali, sehingga sholatnya khusuk. Usai sholat, Amang melakukan wiridan dan melafalkan doa. Pada saat itulah ada seorang lelaki yang berdiri di samping Amang hendak menunaikan sholat. Amang diam saja.

“Allahu akbar,” terdengar lelaki tadi mengucapkan takbir.

Yang membuat Amang heran, lelaki itu kemudian mengangkat kaki kirinya.

Penasaran, Amang kemudian beralih posisi duduk di belakang orang itu. Dia perhatikan betul, bahwa selama sembahyang empat rokaat ternyata orang itu hanya berdiri di atas kaki kanan saja.

Meski Amang sudah  selesai sembahyang, namun dia menunda keluar dari musholla. Dia menunggu sampai orang itu selesai berdoa. Setelah itu Amang bertanya:

“Maaf Pak, boleh saya bertanya sesuatu?

“Oh monggo. Saya kok gak pernah lihat Bapak ya?”

“Iya, saya bukan orang sini, kebetulan lewat.”

“Oh gitu, saya juga bukan orang sini kok.”

Amang membatin, ya jelas saja belum pernah ketemu. Wah orang ini pinter mbanyol rupanya.

“Anu Pak, saya mau tanya boleh?”

“Iya, boleh saja. Tanya apa?”

“Apakah kaki kiri Bapak sakit?”

“Tidak.”

“Mungkin, maaf ya, invalid.”

“Tidak juga.”

Amang bingung. Lantas dia bertanya lagi.

“Sekali lagi maaf, apakah Bapak mengikuti aliran tarekat tertentu?”

“Enggak kok. Ada apa memangnya?”

“Begini Pak, saya heran, saya perhatikan dari tadi  Bapak sembahyang dengan satu kaki saja?’  

Didahului dengan senyum lebar, lelaki tadi menjawab:

“Begini lho, waktu saya wudlu tadi, ternyata airnya habis. Kaki saya yang kiri tidak kebagian air wudlu. Jadi tidak boleh sembahyang kan? Betul tidak?”

Amang tidak bertanya lagi. Bengong.

Saya tidak percaya. Langsung menyangkal ceritanya kali ini:

“Ahh gak mungkin, sampeyan pasti ngarang ini.”

“Lho, ingat perjanjian kita, tugasmu menulis, tugasku bercerita.”

Saya kemudian tertawa ngakak.

Sak karepmu Pak. (*)