Anekdot Seniman (13): “PRANK” DARI BAGONG KUSSUDIARDJO

BAGONG Kussudiardjo memang dikenal akrab dengan Amang Rahman. Selain sebagai koreografer tari yang mumpuni, Bagong juga dikenal sebagai pelukis. Mereka sama-sama senang guyonan, khususnya Amang yang sangat kaya anekdot. Karena itu manakala ketemu dipastikan saling berhahaha. Begitu pula ketika Amang Rahman dan Daryono berkunjung ke rumah Bagong di Yogyakarta. Diam-diam Bagong mengerjai (prank) mereka berdua.

Amang dan Daryono memang sahabat dekat, disamping M. Roeslan, Krishna Mustadjab, Tedja Suminar, Rudi Isbandi dan juga O.H. Supono. (Al Fatehah buat mereka semua, hn). Seringkali mereka pergi barengan kemana-mana. Hanya saja, tidak semua sahabatnya itu memiliki sense of humor yang bagus, khususnya (maaf) Rudi Isbandi dan Tedja Suminar.  

Satu contoh tentang Tedja. Ketika Lini, anak Tedja, masih sangat kecil, Amang datang ke rumah Tedja dan ngudang (bahasa Indonesianya apa ya?):

Anake cinten niki leek?” Maksudnya, anaknya siapa ini? Cinten, maksudnya Sinten, yaitu siapa. Tetapi cinten juga bisa berarti bahasa Jawa krama dari kata Cina.

Waktu itu Tedja langsung tersinggung. Baper, kata anak sekarang.

Babah, masiyo anake Cino opok’o?” Biar, meskipun anaknya Cina kenapa?

Maklum, Tedja memang memiliki garis keturunan etnis Tionghoa.

(Mohon maaf yaa Lini dan Ninik, semoga hal ini tidak membuat tersinggung. Kalau tidak berkenan akan saya hapus. hn)

Saya tidak tahu kelanjutan kejadian ini. Amang hanya cerita sepotong itu saja.

Nah, kembali ke soal Bagong. Ketika Amang dan Daryono bertamu, maka guyonan demi guyonan berlangsung gayeng. Mereka berbincang akrab di teras rumah. Bagong yang memang sudah hidup berkecukupan menjamu kedua seniman sahabatnya ini. Makan pun disiapkan.

Hanya saja, sekian lama mereka ngobrol, Amang dan Daryono merasa belum punya kesempatan bagaimana caranya meminta ongkos pulang ke Surabaya. Mereka sepertinya tidak jenak. Bagong nampaknya menangkap kegelisahan itu.

Tenang wae, mengko tak sangoni nggo mulih. Sak iki cerita-cerita sik,” ujar Bagong. Maksudnya, tenang saja, nanti saya beri sangu untuk pulang. Sekarang cerita-cerita saja dulu.

Selang beberapa waktu kemudian, Bagong masuk ke dalam rumah. Kemudian dia menyuruh pembantunya memanggil Amang.

“Pak, njenengan dipanggil Pak Bagong.”

“Saya saja?”

Nggih.

Amang tersenyum. Sedangkan Daryono memancarkan sorot mata heran. Mengapa hanya Amang yang dipanggil?

Maka Amang pun masuk ke dalam rumah, bertemu Bagong, diberi sesuatu, dan keluar dengan senyum-senyum.

“Sekarang giliranmu Dar,” ujar Amang.

Daryono senang. Syukurlah ternyata dia mendapat giliran juga.

Akhirnya mereka berdua pamitan, menuju stasiun, pulang ke Surabaya.

“Karcis beli sendiri-sendiri yaa,” ujar Amang.

Daryono bisa memaklumi, karena mereka sama-sama percaya bahwa Bagong sudah memberikan sangu. Meskipun di dompet mereka ada sedikit uang kalau hanya untuk beli karcis saja. Tetapi mereka masih bertanya-tanya, kira-kira berapa sangu yang diberi Bagong tadi? Kelihatannya kok lumayan tebal. Mereka tentu tidak berani (sungkan) menghitungnya di depan Bagong, melainlan langsung dimasukkan kantong celana.

Begitulah, ketika mereka sudah berada di dalam kereta, Amang lantas pamitan ke Daryono hendak ke toilet. Bukan hendak buang air, melainkan ingin mengetahui persis berapa jumlah uang satu bendel yang ada di kantongnya.

Keluar dari toilet, gantian Daryono yang izin ke toilet. Begitu Daryono keluar dari toilet, masih belum sempat duduk kembali, Amang langsung berkata:

“Bagaimana? Sama ya?”

Jianc…..k. Dikadali Bagong,” gerutu Daryono.

Ternyata, “segepok” uang yang diberi Bagong tadi hanya bagian atas dan bawahnya. Sedangkan di tengahnya adalah kertas yang dipotong-potong persis ukuran uang.

Saya mendapatkan cerita ini bukan langsung dari Amang, namun disampaikan oleh Bagong sendiri ketika bertemu dengan teman-teman pelukis di Jakarta. Wadji Iwak (Al Fatehah juga) meneruskan kisah ini ke saya. Dan ketika saya unggah ke Jawa Pos, Amang kaget.

Lho, koen kok eruh?” Kamu kok tahu?

“Lha iyo, cik sempate Bagong mengguntingi kertas seukuran uang,” komentar Amang.

Belakangan, saya juga dapat cerita, Bagong juga heran, kok cerita itu bisa muncul di Jawa Pos. (*)