CERITA PANJI BUKAN HANYA MASA LALU

TELAH banyak Cerita Panji dibicarakan dimana-mana dalam berbagai forum. Sudah sering diselenggarakan bermacam event berupa festival, pergelaran dan semacamnya. Berbagai upaya pengenalan kembali Cerita Panji tersebut patut mendapat apresiasi. Satu hal yang didapatkan dari serangkaian acara itu adalah, ada kesan bahwa Cerita Panji hanyalah dianggap sebagai warisan masa lalu yang adiluhung dan harus dikenang begitu…

Anekdot Seniman (23): AMANG RAHMAN MENINGGAL DUNIA 4 KALI

Catatan Henri Nurcahyo AMANG Rahman memang sudah meninggal dunia tanggal 15 Januari 2001. Sayang sekali Pak Amang tidak dapat menghadiri pameran ulang tahunnya ke-70 yang diselenggarakan pada akhir tahun yang sama. Juga peluncuran penerbitan bukunya yang saya tulis bersama dengan Mamannoor (alm). Tetapi ternyata sebelumnya dia sudah pernah “meninggal dunia” sebanyak 3 (tiga) kali. Jadi…

Anekdot Seniman (22): MAKAN DAN BAYAR, APA HUBUNGANNYA?

Catatan Henri Nurcahyo LAZIMNYA orang makan di warung itu ya harus bayar. Tapi hal ini tidak berlaku bagi seniman yang biasa nongkrong di Balai Pemuda tahun-tahun lampau. Meski mereka suka bicara idealisme sampai nyundhul langit namun ketika perut minta diisi ternyata menjadi persoalan tersendiri. Dasar seniman, ada saja akal mereka agar bisa tetap makan tanpa…

Anekdot Seniman (21): AGAR UANG TAK DIKETAHUI ISTRI

Catatan Henri Nurcahyo BARANGKALI masih berlaku sampai sekarang, bahwasanya ada di antara para pelukis suka menyembunyikan hasil penjualan lukisannya kepada istri. Memang tidak semua, namun ada saja “kreativitas” mereka agar istrinya tidak mengetahui suaminya punya uang. Kalau toh masih ketahuan, itu berarti tergolong istri yang “pinter cari uang.” Artinya, dimana saja suaminya menyimpan uang, pasti…

Anekdot Seniman (20): AMANG RAHMAN MERAYU PRAMUGARI

Catatan Henri Nurcahyo KETIKA Amang Rahman sudah mulai laku lukisan-lukisannya, dia dengan gagahnya bisa naik pesawat terbang, bukan lagi naik kereta api seperti biasanya. Dari balik jendela pesawat inilah  dia memandang awan gemawan di langit yang sering menjadi objek lukisannya. Kalau biasanya dia hanya imajinasi, sekarang bisa melihat langsung dari jarak dekat. Tapi siapa sangka…

Anekdot Seniman (19): NYEGAT MOBIL WALIKOTA

Catatan Henri Nurcahyo SIAPAKAH yang berani mencegat mobil walikota dan kemudian ikut numpang? Pelukis M. Daryono pernah melakukan hal itu. Zaman Surabaya dipimpin oleh Walikota Moehadji Widjaja (1979 – 1984) memang kalangan seniman sangat dekat. Hal ini mengulang masa-masa kepemimpinan Walikota Soekotjo (1965 – 1969 – 1974) yang kemudian melahirkan Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Walikota…

Anekdot Seniman (18): TANPA UANG, BISA NAIK ANGKUTAN DAN MAKAN DI RESTORAN

Catatan Henri Nurcahyo BARANGKALI dari sekian banyak anekdot terkait Amang Rahman maka inilah yang paling dramatis sekaligus lucu. Bagaimana mungkin Amang dan Ipe Ma’aruf dapat pergi ke Malang naik Mobil Penumpang Umum (MPU) dan makan di restoran padahal tidak punya uang sama sekali? Ketika saya  mendengar kisah ini merasa deg-degan hingga akhirnya tertawa ngakak. Improvisasi…

Anekdot Seniman (17): AMANG RAHMAN DIGAMBAR TELANJANG

Catatan Henri Nurcahyo KALI ini cerita tentang Ipe Ma’aruf, sketser handal yang tidak ada duanya di Indonesia hingga saat ini. Rudi Isbandi pernah menyebut Ipe adalah raksasa sketser Indonesia bersama dengan Lim Keng dan Tedja Suminar. Kini keduanya sudah tiada, termasuk Rudi Isbandi. Hanya Ipe yang bertahan hingga usia 83 tahun sekarang ini. Suatu ketika…

Anekdot Seniman (16): AMANG RAHMAN PINGSAN MENONTON TINJU

Catatan Henri Nurcahyo NASKAH serial ini saya ganti dengan sebutan Anekdot, bukan Humor. Ternyata Humor adalah fiksi sedangkan anekdot berdasarkan peristiwa nyata (non fiksi). Nah karena semua yang saya ceritakan adalah nonfiksi, maka lebih tepat disebut Anekdot. Semua sebutan Humor sudah saya ganti. Dengan demikian semua kesalahan sudah saya perbaiki. Termasuk, kisah kali ini, tentang…

Anekdot Seniman (15): KETIKA AMANG MENGGODA PEREMPUAN

SEBAGAIMANA yang sudah saya ceritakan bahwa Amang Rahman sangat menghormati perempuan. Dalam pandangan Amang, perempuan tak ubahnya bagai ibunya sendiri. Sebagai penghormatan dan kekaguman pada almarhumah ibunya maka ia memberikan nama bagi salah seorang cucu perempuannya sama dengan nama sang ibu, yakni Rahma. Tapi siapa sangka bahwa ternyata Amang juga suka “menggoda” perempuan.   Meski…