{"id":2223,"date":"2024-11-07T10:14:29","date_gmt":"2024-11-07T10:14:29","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2223"},"modified":"2024-11-07T10:14:29","modified_gmt":"2024-11-07T10:14:29","slug":"desa-bungurasih-bukan-dari-mbah-bungur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2223","title":{"rendered":"DESA BUNGURASIH BUKAN DARI MBAH BUNGUR"},"content":{"rendered":"<p><strong><b>Oleh Henri Nurcahyo<\/b><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>BUNGURASIH selama ini dikenal karena keberadaan terminal antarkota terbesar di Indonesia. Meski nama resminya adalah Terminal Purabaya (akronim dari Gapura Surabaya) namun orang lebih mengenal dengan sebutan Terminal Bungurasih. Tidak banyak orang yang tahu bahwa di desa itu terdapat makam Mbah Bungur, yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai orang pertam yang menghuni desa Bungur. Karena itu nama desanya disebut Bungur karena sifat Mbah Bungur yang penuh kasih. Benarkah demikian? Ternyata jawabannya adalah: Tidak.<\/p>\n<p>Bungurasih adalah salah satu dari 17 desa di kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Posisinya berbatasan langsung dengan\u00a0kota Surabaya. Di desa inilah terdapat Terminal Purabaya atau lebih \u00a0dikenal dengan nama Terminal Bungurasih, \u00a0terminal tipe A seluas 12 hektar yang langsung dikelola pemerintah pusat. Tapi siapa sangka bahwa Bungurasih adalah desa kuno yang sudah berusia lebih dari seribu tahun?<\/p>\n<p>Jejak-jejak kekunoan itu antara lain ditandai dengan banyaknya pohon sawo. Ketika masih belum seramai sekarang di Bungurasih memang banyak pohon sawo, \u00a0Knitu, Gayam, Nyamplung, Ketapang, Rukem, Mundu, Juwet, Kecacil (Kepundung), yang jarang terdapat di desa-desa lain.\u00a0Menurut Kyai Mun&#8217;im dalam buku \u201cFragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara\u201d keberadaan pohon sawo punya kisah menarik. Bahwasanya Pangeran Diponegoro ketika ditangkap pasukan Belanda dengan cara yang licik\u00a0tahun 1830 M, pernah berpesan kepada\u00a0para pengikutnya agar segera menanam pohon sawo\u00a0sebagai sandi bagi laskarnya agar terus melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda.<\/p>\n<p>Sawo atau dalam bahasa Arab berbunyi <em>Sawwu <\/em>memiliki arti Rapatkan Barisan! Selengkapnya: <em>sawwu shufufakum <\/em>(luruskan\/ rapatkan barisan). Hal\u00a0ini sesuai dengan pepatah, <em>Sawwuu shufuufakum fainna tashwiyata shufuufi min tamaami harakah <\/em>(rapatkan barisan karena merapatkan barisan prasyarat bagi suksesnya\u00a0perjuangan).<sup>\u00a0\u00a0<\/sup>Hal ini mengingatkan bacaan yang disampaikan seorang imam sebelum memimpin sholat berjamaah, di mana kata terakhir bukan <em>harakah <\/em>melainkan \u201csholat\u201d.<\/p>\n<p>Apakah hal ini dapat dimaknai bahwa pada tahun 1830 sudah ada desa Bungurasih? Masyarakat setempat meyakini bahwa desa Bungurasih sudah ada jauh sebelumnya. Mereka percaya bahwa yang disebut\u00a0Mbah Bungur atau Ibrahim Jaelani, adalah orang yang paling awal tinggal di Bungurasih. Diperkirakan Mbah Ibrahim wafat 20 tahun setelah Sunan Ampel wafat. Jadi kira-kira abad ke-15.\u00a0Namun sebelum Mbah Ibrahim ada tokoh yang lebih tua, yang melakukan <em>mbabat alas <\/em>yaitu dengan nama Mbah Bongoh Kasiana. Hanya saja, jatidiri keduanya tidak diketahui, kecuali cerita rakyat dalam berbagai versi.<\/p>\n<p>Ternyata, menurut data sejarah Bungurasih sudah berusia 1000 (seribu) tahun lebih.<\/p>\n<p><strong><b>Cerita Rakyat<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Mengapa dinamakan Bungurasih? Secara etimologis kata Bungurasih diduga berasal dari pohon Bungur (<em>Langerstromia sp). <\/em>\u00a0Bungur adalah sejenis tumbuhan berwujud <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pohon\">pohon<\/a>\u00a0atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Perdu\">perdu<\/a>\u00a0yang dikenal sebagai pohon peneduh jalan atau pekarangan. Bunganya berwarna merah jambu, bila mekar bersama-sama tampak indah.<\/p>\n<p>Lantas, tambahan kata \u201casih\u201d dalam Bungurasih? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata \u201casih\u201d bermakna kasih atau sayang.\u00a0Asih berarti mengasihi. Sebagaimana\u00a0orangtua memberikan\u00a0rasa aman dan\u00a0nyaman bagi anaknya, perhatian dan tanggungjawab, menghargai, memberikan pujian dan juga hukuman yang pantas\u00a0(<em>reward and<\/em><em>\u00a0<\/em><em>punishment<\/em>).\u00a0Asih\u00a0adalah\u00a0sifat yang\u00a0halus, sabar,\u00a0tenang,\u00a0ramah,\u00a0dan\u00a0sifat-sifat yang baik-baik.\u00a0Calon pasangan hidup atau pacar disebut juga kekasih, yaitu orang yang dikasihi dan disayangi. Karena itulah desa Bungurasih, dipercaya merupakan gabungan dari tokoh yang dipercaya masyarakat setempat yang <em>mbabat alas<\/em>, bernama Mbah Bungur yang memiliki sifat-sifat tersebut di atas sehingga dinamakan Desa Bungurasih.<\/p>\n<p>Banyak cerita rakyat terkait dengan Mbah Bongoh Kasiana, dan juga Mbah Bungur alias Mbah Jenggot, Mbah Ibrahim al Jaelani, Mbah Joyo Amijoyo, atau juga disebut Mbah Kramat. Masyarakat percaya bahwa lahan yang sekarang ditempati bangunan SD Darul Ulum itu dulunya adalah sebuah makam dengan pepohonan yang rimbun. Dulu\u00a0pernah ada bangunan megah,\u00a0konon di situlah rumah Mbah Bongoh Kasiana yang sekarang makamnya berada di tengah kompleks pemakaman desa Bungurasih.<\/p>\n<p>Mbah Bongoh dan masyarakat desa yang hidup pada masa itu belum beragama Islam. Suatu ketika datanglah seorang ulama yang mengislamkan penduduk desa Bungur. Namanya kemudian dikenal dengan Mbah Bungur. Ada yang menyebut, bahwa ulama ini juga mengislamkan Mbah Bongoh. Namun pendapat lain menentangnya karena Mbah Bongoh dan Mbah Bungur ini adalah dua orang yang berbeda zaman.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2224\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/5-Makam-Mbah-Bongoh-800x360.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"360\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/5-Makam-Mbah-Bongoh-800x360.jpeg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/5-Makam-Mbah-Bongoh-1024x461.jpeg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/5-Makam-Mbah-Bongoh-768x346.jpeg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/5-Makam-Mbah-Bongoh-1536x691.jpeg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/5-Makam-Mbah-Bongoh.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><em>Makam Kek Gede Bongoh Kasiana<\/em><\/p>\n<p>Makam Mbah Bungur atau Ki Ageng Bungur berada di bawah pohon beringin besar\u00a0berusia ratusan tahun, di luar kompleks pemakaman umum. Dulu pernah ditemukan sejumlah batu bata berukuran besar yang berserakan di sekitar tempat ini. Sebuah makam besar yang berada di tengah dan dikerubungi kelambu itulah yang dipercaya sebagai makam Mbah Bungur alias Mbah Ibrahim. \u00a0Dulu nisannya terbuat dari batu\u00a0dan tumpukan bata kuno, namun kondisi sekarang makam itu sudah sedemikian bagus. Saat dibangun nisan dan bata kunonya dikubur juga di dalamnya\u00a0sehingga menghilangkan keaslian makam tersebut. Sayang sekali.<\/p>\n<p>Salah satu cerita rakyat (entah dari mana sumbernya, <em><i>hn<\/i><\/em>) menyebutkan bahwa Mbah Bungur berasal \u00a0dari Jilan, Kailan, Kilan, atau al-Jil, Kurdistan Selatan, sebelah timur laut Kota Baghdad, di selatan Laut Kaspia, Iran. Makanya mendapat sebutan Al Jailani. Beliau merupakan seorang Waliyulloh, di mana Datuk atau leluhur Syeikh Sayyid Ibrahim Al Jaelani adalah ulama\u00a0yang berasal\u00a0dari Baghdad\u00a0yang datang ke Indonesia untuk berdakwah\u00a0dan\u00a0akhirnya menikah dengan keluarga Kesultanan Bima (Sumbawa \u2013 Nusa Tenggara Barat). Karena di Bima terjadi perang saudara pada abad ke 17 dia menghindar dan tidak mau ikut dengan urusan politik sehingga meninggalkan Bima dan lebih condong dagang dan dakwah saja.<\/p>\n<p>Versi lainnya menyebut Mbah Ibrahim berasal dari Gresik, keturunan seorang\u00a0pembesar\u00a0Giri\u00a0Kedaton\u00a0bernama\u00a0Sayyid\u00a0Abdul\u00a0Malik, \u00a0keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW. Makamnya terletak di Glintung, Desa Kepatihan, Menganti, Gresik. \u00a0Dikisahkan oleh Rofiq, juru kunci makam kepada media sapanusa.id, dia ditugaskan Sunan Giri untuk mendirikan pengadilan dan kejaksaan di wilayah Payung Agung\u00a0dan melakukan Islamisasi. \u00a0Sayyid Abdul Malik Isroil diperkirakan hidup di pertengahan abad ke-14 hingga awal abad 15. Putra-putrinya menjadi pemimpin wilayah yang tersebar di wilayah Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. \u00a0Termasuk, Sayyid Ibrahim yang bergelar Pangeran Bungur Asana. \u201cSekarang jadi Desa Bungurasih, Waru, Sidoarjo,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Untuk mengungkap siapa sebenarnya jatidiri Mbah Bungur, sekitar tahun 1995 pernah dibentuk tim\u00a0oleh pemerintah desa Bungurasih\u00a0untuk menelusuri\u00a0riwayat Mbah Bungur alias Mbah Ibrahim dengan mendatangi Mbah\u00a0Hasyim (KH Yusuf Hasyim),\u00a0paman Gus Dur. Menurut Mbah Hasyim, bahwa Ibrahim Al Jaelani adalah tokoh besar\u00a0yang bertugas mengamankan Jawa Timur, mungkin semacam Kapolda\u00a0atau Pangdam. Beliau meninggal\u00a020\u00a0Tahun\u00a0setelah meninggalnya\u00a0Sunan Ampel Surabaya. Jika Sunan Ampel meninggal tahun 1479 M berarti Ibahim Al Jaelani wafat tahun 1499 M.<\/p>\n<p>Cerita lainnya lagi,\u00a0Mbah Joyo Amijoyo mempunyai anak\u00a0perempuan\u00a0yang sangat cantik.\u00a0Karena kecantikannya\u00a0banyak pria yang naksir ingin melamarnya. Begitu juga dengan seorang laki-laki\u00a0yang bernama\u00a0Celuring, anak yang cakap\u00a0dan tampan\u00a0serta\u00a0mempunyai ilmu\u00a0yang\u00a0luar biasa, namun memunyai\u00a0kebiasaan suka mencuri. \u00a0Mbah\u00a0Joyo\u00a0Amijoyo membuka sayembara,\u00a0barang siapa yang menginginkan anaknya untuk dijadikan istri harus bisa\u00a0membuatkan sumur\u00a0sebanyak\u00a01.000\u00a0sumur (sewu) atau sumur windu dan harus selesai sebelum matahari terbit.<\/p>\n<p>Singkat cerita, Celuring dibantu oleh punggawa-punggawanya\u00a0yang\u00a0tidak kelihatan oleh mata biasa\u00a0hampir berhasil melaksanakan tugasnya.\u00a0Mbah Joyo Amijoyo mengumpulkan ibu-ibu untuk menumbuk\u00a0padi\u00a0di\u00a0lesung-lesung\u00a0dan\u00a0menyuruh\u00a0punggawa-punggawanya\u00a0mengumpulkan <em>damen <\/em>(batang pohon padi\u00a0yang telah diambil padinya)\u00a0untuk dibakar\u00a0sehingga\u00a0kelihatan merah\u00a0menyerupai sinar matahari terbit.\u00a0Celuring dinilai gagal menyelesaikan tugasnya membuat seribu sumur.\u00a0Padahal, saat itu Celuring sudah mampu menyelesaikan sebanyak 999 sumur.<\/p>\n<p>Jejak-jejak sumur\u00a0sewu (seribu) tersebut\u00a0masih dapat dijumpai di desa Bungurasih, Ketegan\u00a0dan\u00a0Wage. Kekunoan sumur tersebut ditandai dengan\u00a0batu bata khusus berbentuk bulat, tidak terlalu dalam, airnya sangat jernih dan tidak bisa habis walaupun musim kemarau panjang dan dipakai banyak orang menyedotnya dengan pipa menggunakan 6 buah mesin pompa.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2226\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/8-sumur-1-800x800.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"800\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/8-sumur-1-800x800.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/8-sumur-1-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/8-sumur-1-400x400.jpg 400w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/8-sumur-1-768x768.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/8-sumur-1-1536x1536.jpg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/8-sumur-1.jpg 1560w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Cerita berikutnya, konon di desa Bungurasih waktu itu ada warga yang memiliki seekor ayam jago yang tidak terkalahkan. Hal ini terdengar sampai ke wilayah Majapahit sehingga ada salah satu punggawa Majapahit yang penasaran sehingga datang bersama dengan para hulubalangnya\u00a0dan menantang adu jago. Kesepakatannya, siapa yang jagonya kalah maka pemiliknya juga harus ikut mati. Ternyata ayam jago milik punggawa Majapahit itu kalah. Sebagaimana perjanjian maka punggawa tersebut harus juga ikut mati. Punggawa Majapahit itulah yang kemudian dikenal dengan nama Mbah Jenggot\u00a0alias Mbah Bungur.<\/p>\n<p><strong><b>Bungurasih Desa Perdikan<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Keberadaan desa Bungurasih ternyata ada kaitannya dengan sejarah kerajaan Mataram sebagaimana disebut dalam prasasti Prasasti Ka\u00f1cana (Prasasti Gedangan)<strong>. <\/strong>Prasasti tembaga 14 lempeng ini (Tamra Prasasti) merupakan tinulad (tiruan) dari masa Majapahit yang diketahui berdasarkan bentuk tulisannya.\u00a0\u00a0Prasasti Ka\u00f1cana (Gedangan) yang dikeluarkan pada tahun 782 \u015aaka (=860 Masehi) oleh raja Mataram Sri Lokapala.<\/p>\n<p>Bagian awal Prasasti Ka\u00f1cana (Bungur A) menyebutkan bahwa\u00a0pada 13 paro terang bulan 782 \u015aaka (= <strong>31 Oktober 860<\/strong><strong>\u00a0M<\/strong>), \u015ar\u012b Mah\u0101r\u0101ja \u015ar\u012b Bhuwane\u015bwara Wisnusakalatmakadigwijaya Parakra-mottunggadewa Lokap\u0101lala\u00f1cana (Rakai Kayuwangi) memberikan anugerah penetapan (sima) <strong>Bungur Lor <\/strong>dan <strong>desa Asana <\/strong>kepada pendeta Buddha di Bodhinimba (Paduka Mpunku i Bodhhinimba) dengan kewajiban memelihara bangunan suci Ka\u00f1cana atau Dharmasima Lpas (bangunan suci yang bukan tempat pendarmaan seorang raja).<\/p>\n<p>Pada tahun itu kerajaan Medang atau Mataram berada di bawah kekuasaan\u00a0Sri Maharaja Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala (856-882 M). Raja Rakai Kayuwangi memberikan anugerah penetapan (sima) <strong>Bungur Lor <\/strong>dan <strong>desa Asana <\/strong>kepada pendeta Buddha di Bodhinimba (Paduka Mpunku i Bodhhinimba).\u00a0Itu sebabnya prasasti ini juga disebut <strong><b>Prasasti Bungur. <\/b><\/strong><\/p>\n<p>Boechori dalam buku \u201cMelacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti\u201d Rakai Kayuwangi memerintah tahun 778 S (856 M) berdasarkan\u00a0batu bertulis yang berasal dari suatu daerah di Jawa Tengah (mungkin Yogyakarta). Rakai Kayuwangi (Dyah Lokapala) adalah Raja Medang ketujuh yang memerintah sekitar tahun 855 \u2013 885 M. Putra bungsu Rakai Pikatan dan\u00a0Pramodawardhani.<\/p>\n<p>Dari dua nama yang disebutkan dalam prasasti itulah, yaitu Bungur Lor dan Asana, kemudian menjadi Bungur Asana yang kemungkinan merupakan asal usul nama Bungurasih yang dikenal\u00a0sekarang\u00a0ini.\u00a0<strong>Berarti Desa Bungurasih<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>sudah berusia<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>(2024 \u2013<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>860)<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>=<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>1.164<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>tahun<\/strong>.\u00a0Jauh\u00a0lebih\u00a0tua\u00a0dibanding\u00a0kerajaan\u00a0Kahuripan\u00a0yang\u00a0didirikan\u00a0oleh\u00a0Airlangga\u00a0tahun\u00a01019\u00a0M\u00a0atau Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram\u00a0Kuno\u00a0dari\u00a0Jawa\u00a0Tengah\u00a0ke\u00a0Jawa\u00a0Timur tahun 929 M.\u00a0Bahkan juga kerajaan Majapahit yang baru berdiri tahun 1293 M.<\/p>\n<p>Lantas di manakah desa Asana? \u00a0Ada\u00a0petunjuk\u00a0di\u00a0Prasasti\u00a0Kancana\u00a0lempeng\u00a0II.a, antara lain disebutkan: \u201c\u2026.. Dan ada juga tanah di kuryyak, di sisi utara Asana (juga) digunakan untuk menyokong p\u0101duka mpungku (senilai) (sebesar) m\u0101, 2 k\u0101, 10 m\u0101.\u201d<\/p>\n<p>Jika Kruyyak adalah nama kuno desa Kureksari maka posisi desa Asana ada di sebelah\u00a0selatannya.\u00a0Mungkin\u00a0sudah\u00a0ganti\u00a0nama,\u00a0sudah\u00a0hilang,\u00a0yang\u00a0jelas\u00a0bukan\u00a0lagi\u00a0menjadi nama\u00a0desa.\u00a0Jarak\u00a0desa\u00a0Asana\u00a0(apapun\u00a0namanya\u00a0sekarang) dengan\u00a0desa\u00a0Bungur Lor dibatasi oleh desa Kurek itu sendiri dan desa Kedungrejo. Lumayan jauh dan melompati dua desa. Tapi bisa jadi dulu tidak jauh dan kemungkinan berimpitan.<\/p>\n<p>Dalam lempeng II.b. pada bagian akhir disebutkan \u2026\u2026 memohon pada paduka sri maharaja untuk berkenan memberikan dharmmasimmalpas (darma sima lepas)\u00a0\u2026\u2026\u2026..<\/p>\n<p>Kalimat\u00a0yang\u00a0terputus\u00a0ini\u00a0kemudian\u00a0dilanjutkan\u00a0di\u00a0lempeng\u00a0III.a.\u00a0yang\u00a0diawali dengan kata <strong>ingkang i Bungur lor (;) <\/strong>\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2227\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/10-Bungur-800x403.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"403\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/10-Bungur-800x403.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/10-Bungur-768x387.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/10-Bungur.jpg 899w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Selanjutnya\u00a0dalam\u00a0lempeng\u00a0III\u00a0b\u00a0Prasasti\u00a0Kancana\u00a0(Bungur\u00a0Lor)\u00a0disebutkan\u00a0:<\/p>\n<p><em>\u201c\u2026..i<\/em><em>\u00a0<\/em><em>sira<\/em><em>\u00a0<\/em><em>paduka<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Mpu-ngku<\/em><em>\u00a0<\/em><em>i<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Boddhi<\/em><em>\u00a0<\/em><em>mimba<\/em><em>\u00a0<\/em><em>an<\/em><em>\u00a0<\/em><em>panusuk<\/em><em>\u00a0<\/em><em>dharmmasima<\/em><em>\u00a0<\/em><em>lpas<\/em><em>\u00a0<\/em><em>irikang<\/em><em>\u00a0<\/em><em>i<\/em><\/p>\n<p><strong><em>Bungur<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><strong><em>Lor<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><em>mwang<\/em><em>\u00a0<\/em><em>ikang<\/em><em>\u00a0<\/em><em>ing<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Asana\u2026.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<p>Lempeng\u00a0VIII\u00a0b\u00a0Prasasti\u00a0Kancana\u00a0(Bungur\u00a0Lor)\u00a0:<\/p>\n<p><em>\u201c\u2026..i<\/em><em>\u00a0<\/em><em>sira<\/em><em>\u00a0<\/em><em>paduka<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Mpu-ngku<\/em><em>\u00a0<\/em><em>i<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Boddhi<\/em><em>\u00a0<\/em><em>mimba<\/em><em>\u00a0<\/em><em>an<\/em><em>\u00a0<\/em><em>panusuk<\/em><em>\u00a0<\/em><em>dharmmasima<\/em><em>\u00a0<\/em><em>lpas<\/em><em>\u00a0<\/em><em>irikang<\/em><em>\u00a0<\/em><em>i<\/em><\/p>\n<p><strong><em>Bungur<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><strong><em>Lor<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><em>mangaran<\/em><em>\u00a0<\/em><em>ring<\/em><em>\u00a0<\/em><strong><em>Asana<\/em><\/strong><em>,<\/em><em>\u00a0<\/em><em>ngaran<\/em><em>\u00a0<\/em><strong><em>Sang<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><strong><em>Hyang<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><strong><em>Dharmmasima<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><strong><em>ing<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><strong><em>Kancana<\/em><\/strong><em>\u2026.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Prasasti tersebut bukan hanya menandakan bahwa desa Bungur sudah ada tahun\u00a0860 M melainkan juga desa-desa di sekitarnya. Sebagaimana disebutkan dalam lempeng IX\u00a0a &amp; b Prasasti Kancana (Bungur Lor) dituliskan nama-nama tokoh (buyut) dari desa-desa (wanua) sekitar Bungur Lor yang diundang dalam acara penganugerahan Desa Sima, yaitu:<\/p>\n<p><strong><em>K<\/em><\/strong><strong><em>uryyak<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(kemudian\u00a0menjadi\u00a0desa\u00a0Kureksari), <strong><em>Wagai<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(desa\u00a0Wage), <strong><em>Gesang<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(desa\u00a0Pagesangan,\u00a0Surabaya), <strong><em>Pacekan <\/em><\/strong>(Pacekan dekat Jagir Surabaya yang kemudian berubah menjadi kampung Lumumba), <strong><em>Wurungkud<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(Rungkut,\u00a0Surabaya), <strong><em>Kulupwan<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(entah\u00a0di\u00a0mana\u00a0Kulupwan) <strong><em>Ganting <\/em><\/strong>(desa Ganting, Gedangan), <strong><em>Pamasangan<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(desa\u00a0Masangan), <strong><em>Wdi<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(desa\u00a0Wedi), <strong><em>Camunda<\/em><\/strong><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>(desa\u00a0Jemundo).<\/p>\n<p>Yang juga menarik, penyebutan nama Asana dalam prasasti ini mengingatkan nama lain Sayyid Ibrahim yang bergelar Pangeran Bungur Asana sebagaimana dikisahkan dalam cerita rakyat. Jika Sayyid Ibrahim hidup pada masa Sunan Ampel maka bisa disimpulkan bahwa desa Asana\u00a0memang sudah ada lebih dulu. Julukan Pangeran Bungur Asana disematkan kepada Sayyid Ibrahim\u00a0karena tinggal\u00a0di\u00a0desa\u00a0Asana.\u00a0Demikian\u00a0pula\u00a0ada\u00a0seorang\u00a0pandhita\u00a0bernama\u00a0Kek\u00a0Ageng Asana, julukan Mbah Bongoh, yang entah nama aslinya siapa.<\/p>\n<p>Karena\u00a0prasasti \u00a0sudah rusak\u00a0maka 507 tahun kemudian\u00a0dibuat tiruannya (tinulad) pada zaman Majapahit tahun 1289 Saka (1367 M) bersamaan dengan pemerintahan Hayam Wuruk (1350\u20131389 M). Prasasti tersebut disalin kembali untuk menguatkan hak daerah Bungur sebagai s\u012bma yang telah diberikan raja Rakai Kayuwangi.\u00a0Mulai lempeng 12 (prasasti Bungur B, Gedangan B) dapat diketahui bahwa P\u0101duka Bhat\u0101ra \u015ar\u012b R\u0101jasanagara Dyah Hayam\u00a0Wuruk\u00a0mengakui kembali hak tersebut pada tanggal 13\u00a0paro\u00a0gelap bulan Asuji tahun 1289 (= <strong>22 Oktober 1367<\/strong>). Hal ini mengindikasikan bahwa daerah itu memang penting pada masanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><b>Jejak-Jejak Pemukiman Kuno<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Kawasan\u00a0makam\u00a0Mbah Bungur dan Mbah Bongoh ini\u00a0dulu merupakan daerah\u00a0<em>wingit<\/em>, angker. Jarang sekali orang yang berani merambah ke situ. Hipotesisnya adalah, tempat-tempat yang <em>wingit <\/em>atau angker diduga ada peninggalan masa lalu yang terpendam. Ada jejak tua yang keramat. \u00a0Apalagi ada <em><i>barongan (<\/i><\/em>rumpun bambu) dan pohon beringin yang merupakan indikasi adanya sumber atau kandungan air di lahan tersebut. \u00a0Keberadaan pohon beringin mengindasikan daerah\u00a0itu mengandung\u00a0air\u00a0yang\u00a0melimpah.\u00a0Sifat\u00a0ekologis\u00a0pohon\u00a0beringin\u00a0memang\u00a0mampu menyimpan air dalam musim penghujan dan mengeluarkannya secara pelan pada musim kemarau.<\/p>\n<p>Suatu daerah adalah kaya air antara lain juga ditandai dengan tumbuhnya <em>barongan <\/em>(rumpun bambu). Bambu adalah tumbuhan yang memiliki kemampuan\u00a0menyerap\u00a0dan\u00a0menyimpan\u00a0air\u00a0dengan\u00a0baik.\u00a0\u00a0Karena itu, keberadaan\u00a0rumpun bambu\u00a0merupakan indikasi bahwa daerah itu dulunya kaya air. Bahkan mungkin pernah ada sungai atau semacam danau kecil yang sudah hilang.<\/p>\n<p>Nah apakah di bawah rimbunan <em>barongan <\/em>di sekitar makam Mbah Bungur juga terdapat\u00a0jejak-jejak masa\u00a0lalu\u00a0yang\u00a0terpendam?\u00a0Logikanya,\u00a0pada masa\u00a0Hindu &#8211; Buddha\u00a0dulu masyarakat tentu membutuhkan bangunan suci untuk kepentingan religiusnya. Jangan-jangan bangunan itu sudah terpendam di bawah <em>barongan<\/em>. Siapa tahu.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2228\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/11-800x360.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"360\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/11-800x360.jpeg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/11-1024x460.jpeg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/11-768x345.jpeg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/11-1536x690.jpeg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/11.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><em>Rumpun Bambu di dekat makam umum Mbah Bungur<\/em><\/p>\n<p>Sebagaimana ditulis oleh Abdul Rosyid Al Amin dalam makalahnya,\u00a0bahwa Kali Buntung (Sungai Bungur) ini dulunya merupakan sungai besar yang menjadi pintu masuk bagi para warga asing yang bertemu dengan penduduk lokal. Namun sima Bungur dengan kalinya yaitu Sungai Buntung mengalami perubahan morfologis yang siginifikan antara abad 8-20 Masehi yang disebabkan oleh penambahan daratan terhadap muka laut. Diperkirakan terhitung sejak abat 12 hingga sekarang ini terjadi penambahan daratan sebesar 33 kilometer. Mulai dari Trung (Krian) sampai dengan Jabon (Porong) daerah pantai timur Sidoarjo. Naiknya permukaan tanah ini menjadi salah satu faktor hilangnya sisa-sisa kebudayaan dan peradaban Sima Bungur yang tinggal dekat sungai.<\/p>\n<p>Indikasi\u00a0bahwa\u00a0desa\u00a0Bungur\u00a0memang\u00a0kaya\u00a0air\u00a0adalah\u00a0ditemukannya\u00a0sejumlah\u00a0sumur yang\u00a0besar\u00a0debitnya\u00a0sehingga\u00a0mampu\u00a0disedot\u00a0banyak\u00a0pipa.\u00a0Sebagaimana\u00a0dikisahkan\u00a0sebelumnya,\u00a0bahwa\u00a0di desa\u00a0ini\u00a0ada legenda\u00a0Sumur Sewu,\u00a0yang\u00a0ternyata\u00a0sekarang masih ada\u00a0beberapa sumur yang tersisa dan tetap berfungsi.\u00a0Sekitar tahun 70-an, masih ada beberapa sungai-sungai kecil\u00a0yang sekarang tidak ada bekasnya lagi. Bahkan ada sungai selebar sekitar 3 meter di utara kampung Bungur dan Kasihan sekarang sudah hilang sejak adanya pembangunan terminal Purabaya.<\/p>\n<p>Jejak-jejak kekunoan ini masih dapat ditemui di kawasan makam umum desa Bungurasih, banyak\u00a0ditemukan pecahan grabah dan batu bata kuno. Jadi kawasan ini dulunya merupakan pemukiman. Gerabah bukan hanya memiliki fungsi kebutuhan keseharian tetapi juga fungsi religius. Demikian pula di lahan sekitar makam Mbah Bungur, nampak di permukaan sisa-sisa batu bata berukuran besar yang sebagian sudah tertimbun tanah.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2229\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/12-800x360.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"360\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/12-800x360.jpeg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/12-1024x461.jpeg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/12-768x346.jpeg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/12-1536x691.jpeg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/12-rotated.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Dengan\u00a0demikian situs\u00a0ini\u00a0merupakan\u00a0situs\u00a0lintas\u00a0masa,\u00a0mulai\u00a0zaman\u00a0Hindu\u00a0Buddha hingga masa perkembangan Islam. Jadi ketika Mbah Bongoh datang ke tempat ini bukan berarti daerah ini merupakan hutan belantara yang <em>gung liwang liwung<\/em><em>\u00a0<\/em>(tidak ada penghuninya)<em>, <\/em>melainkan sudah\u00a0ada pemukiman. Mbah Bongoh yang dipercaya sebagai <em>sing mbabat alas desa <\/em>itu adalah inovator atau seorang tokoh pada masanya sehingga namanya menggunakan nama daerah di mana dia tinggal. Kata Bongoh bisa jadi sama saja dengan Bungur.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><b>Catatan Penutup<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Bungurasih adalah desa kuno. Kekunoan itu antara lain ditandai banyaknya pohon sawo di berbagai penjuru desa. Meski sekarang pohon sawo sudah nyaris punah namun sejarah mencatat bahwa pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro\u00a0(1830) pohon sawo dimanfaatkan sebagai sandi untuk laskarnya agar meneruskan perjuangan. \u00a0Tetapi menurut cerita rakyat bahwa desa Bungurasih sudah ada jauh sebelumnya, pada abad ke-15, ketika Mbah Bungur melakukan Islamisasi ke daerah ini. Menurut perkiraan, Mbah Bungur meninggal dunia tahun 1497 M yang berarti sudah 527 tahun yang lalu. Sebelum ada Mbah Bungur ada Mbah Bongoh alias Ki Gede Kasiani yang makamnya di tengah-tengah makam umum desa Bungurasih.<\/p>\n<p>Menyingkap asal usul Mbah Bungur dan Mbah Bongoh ada beberapa versi. Namun setidaknya sudah ada upaya untuk menggali sejarah sehingga dapat ditemukan identitas dan catatan yang jelas perihal masa lalu berdasarkan bukti-bukti dan hasil penelusuran. Manakala di waktu-waktu yang akan datang ditemukan data dan bukti baru, dapat melengkapi atau meluruskan yang kurang tepat.<\/p>\n<p>Menurut data sejarah bahwa ternyata nama desa Bungur Lor sudah disebut dalam Prasasti Kancana atau Prasasti Gedangan pada tahun 860 Masehi. Kalau dihitung dari tahun\u00a02024\u00a0ini\u00a0berarti desa\u00a0Bungurasih\u00a0sudah berusia 1.164\u00a0(baca: seribu seratus\u00a0enam\u00a0puluh empat) tahun. Jauh lebih tua dibanding kota Surabaya dan Majapahit (1293 M), lebih tua\u00a0dari\u00a0kerajaan\u00a0Airlangga\u00a0(tahun\u00a01019\u00a0M),\u00a0bahkan\u00a0lebih\u00a0dulu\u00a0ada\u00a0sebelum\u00a0Mpu\u00a0Sindok\u00a0memindahkan pusat kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah (sebutan sekarang) ke Jawa Timur tahun 929 M.<\/p>\n<p>Prasasti tertanggal 31 Oktober 860 Masehi itu menyebutkan bahwa Raja Rakai Kayuwangi dari Mataram memberikan penghargaan kepada Desa Bungur Lor dan Desa Asana sebagai Desa Sima (perdikan) dengan tugas menjaga bangunan suci kancana. Hal ini berarti, ketika penganugrahan itu diberikan, desa Bungur Lor memang sudah ada. Dengan demikian tanggal 31 Oktober 860 bisa ditetapkan sebagai Hari Jadi Desa Bungurasih.<\/p>\n<p>Karena itu, penulisan artikel ini belum selesai. Masih merupakan langkah awal dari perjalanan panjang menelusuri jejak sejarah desa Bungurasih yang sekarang malah terkenal sebagai lokasi terminal bus\u00a0Purabaya. Ada jejak sejarah masa lampau yang masih terpendam dan harus diungkapkan agar dipahami masyarakat sekarang, khususnya anak-anak muda sebagai penerus masa depan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><strong><b>Pustaka<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Abdullah,Taufik.\u00a0A.B.\u00a0Lapian\u00a0(editor\u00a0umum):\u00a0Indonesia\u00a0dalam\u00a0Arus\u00a0Sejarah.\u00a0Seri\u00a02:\u00a0Kerajaan Hindu Buddha. Ichtiar Baru van Hoeve atas kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012<\/p>\n<p>Al Amin, Abdul Rosyid, Historiografi dan Identitas Aliran Sungai Buntung di Kecamatan Krian , Sidoarjo, Jawa Timur. Makalah tidak diterbitkan.<\/p>\n<p>Boechari. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Kepustakaan Populer Gramedia, 2018.<\/p>\n<ol>\n<li>Mun&#8217;im DZ, Abdul :Fragmen Sejarah NU (Menyambung Akar Budaya Nusantara) Penerbit : Pustaka Compas Tahun : 2017<\/li>\n<\/ol>\n<p>Poesponegoro,\u00a0Marwati\u00a0Djoened.\u00a0Nogroho\u00a0Notosusanto\u00a0(editor):\u00a0Sejarah\u00a0Nasional\u00a0Indonesia. Jilid II, Zaman Kuno. Balai Pustaka, 2008<\/p>\n<p>Suhadi, Machi: Status Tanah\/Desa Perdikan di Jawa, Suatu Catatan dari Sumber Prasasti Kuno. Diambil dari Majalah Analisis Kebudayaan, Tahun II, Nomor 1, 1981\/1982, hlm 137-143. Diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><strong><b>Internet<\/b><\/strong><\/h3>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/intisari.grid.id\/\"><u>https:\/\/intisari.grid.id<\/u><\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/\"><u>https:\/\/kumparan.com\/<\/u><\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.sapanusa.id\/\"><u>https:\/\/www.sapanusa.id\/<\/u><\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Henri Nurcahyo &nbsp; BUNGURASIH selama ini dikenal karena keberadaan terminal antarkota terbesar di Indonesia. Meski nama resminya adalah Terminal Purabaya (akronim dari Gapura Surabaya) namun orang lebih mengenal dengan sebutan Terminal Bungurasih. Tidak banyak orang yang tahu bahwa di desa itu terdapat makam Mbah Bungur, yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai orang pertam yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2225,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17,362],"tags":[],"class_list":["post-2223","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel-1","category-terkini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2223","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2223"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2230,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2223\/revisions\/2230"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2225"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}