{"id":2284,"date":"2025-01-28T00:33:13","date_gmt":"2025-01-28T00:33:13","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2284"},"modified":"2025-01-28T02:08:09","modified_gmt":"2025-01-28T02:08:09","slug":"abdillah-nasikh-bangkitkan-literasi-dan-pentingnya-pusat-kesenian-sidoarjo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2284","title":{"rendered":"Abdillah Nasikh:  Bangkitkan Literasi dan Hibah Dewan Kesenian"},"content":{"rendered":"<p>SIDOARJO: H. Abdillah Nasikh, menyambut baik terbitnya buku \u201cBungurasih Desa Kuno\u201d karya Henri Nurcahyo yang diterbitkan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan. Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo ini berharap buku tersebut dapat menjadi khasanah keilmuan dan daya tarik tersendiri bagi anak-anak muda dan terutama menjadi bahan literasi Sidoarjo khususnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya juga ingin kehidupan literasi di Sidoarjo ini bangkit, terutama untuk anak-anak muda. Masak kalah dengan daerah-daerah lain. Saya yakin Sidoarjo mampu,\u201d tegas ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Sidoarjo ini.<\/p>\n<p>Hal ini disampaikan dalam pembukaan acara Bedah Buku \u201cBungurasih Desa Kuno\u201d yang dilangsungkan di aula Munali Patah Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Minggu, 26 Januari 2025. Dua narasumber yang membahas buku ini adalah Goenawan Sambodo (epigraf, ahli prasasti), dan Dokter Sudi Haryanto, ketua Komunitas Sidoardjo Masa Kuno, dengan moderator Ribut Wijoto, ketua Dekesda. Sedangkan sejarawan dan arkeolog M. Dwi Cahyono yang dijadwalkan juga sebagai narasumber berhalangan hadir.<\/p>\n<p>Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan bekerjasama dengan Dewan Kesenian Sidoarjo dan Pemerintah Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo, yang dalam acara tersebut diwakili oleh Kaur Keuangan, M. Aly.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2287\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSC04325.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"449\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSC04325.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSC04325-768x431.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Abdillah Nasikh sendiri sebetulnya juga merupakan warga Desa Bungurasih yang menginisiasi penulisan sejarah Desa Bungurasih. Karena itu dia tahu persis bahwa lahirnya buku \u201cBungurasih Desa Kuno\u201d ini bukan hal yang mudah, sebab sejak bertahun-tahun Bungurasih memiliki makam keramat yang tidak (belum) diketahui sejarahnya. Diyakini keberadaan makam keramat yang dikenal dengan sebutan Mbah Jenggot ini ada hubungannya dengan <em>punjere <\/em>desa Bungurasih. Namun sebuah makam itu tidak bisa \u201chidup\u201d kalau tidak ada ceritanya. Ibarat sebuah onggokan batu atau sebuah patung kalau tidak ada <em>asbabun nuzul\u00ad-<\/em>nya, tidak akan menarik. Katakanlah ada sebuah batu yang datar bagian atasnya, kalau ada narasi, misalnya, itu adalah tempat duduk Gadjah Mada misalnya, maka akan lain ceritanya.<\/p>\n<p>Ditambahkan, seperti juga cerita tentang dongeng \u201cSeribu Sumur\u201d di desa Bungurasih, kalau hanya sebatas cerita tidak akan ada artinya apa-apa dan tidak menarik bagi anak-anak muda. Di belakang rumahnya ada \u201csumur sumbing\u201d karena posisinya miring. Konon katanya ditendang kudanya Majapahit (menurut penuturan sebelumnya, Nasikh menyebut ditendang pasukan Diponegoro, <em>red<\/em>). Batu batanya tidak terlihat bundar tapi memang terlihat melengkung. Dan sampai sekarang sumurnya tidak pernah <em>sat <\/em>(surut). Padahal digunakan untuk banyak kos-kosan.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu memang sudah lama sekali saya dan teman-teman menginginkan bagaimana caranya sejarah Bungurasih bisa terangkat. Membangkitkan literasi bagi anak-anak muda, juga di desa-desa, itu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi pada era <em>gadget <\/em>atau era \u201csetan gepeng\u201d ini,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dalam buku ini juga disebutkan bahwa ternyata Bungurasih adalah salah satu desa tertua di Jawa Timur, yaitu sudah berusia 1.165 tahun. Sedangkan Sidoarjo baru berusia 166 tahun. Jadi selisih hampir seribu tahun. Bungurasih bukan satu-satunya, karena juga disebutkan dalam buku ini ada beberapa desa yang berbarengan munculnya. Mudah-mudahan buku ini dapat menjadi kompor gas bagi desa-desa lainnya. Demikian juga teman-teman BPD (Bungurasih) agar tidak hanya melulu perhatian ke fisik tetapi (buku) ini juga.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2286\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/8.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"449\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/8.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/8-768x431.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong>Dana Hibah Dekesda<\/strong><\/p>\n<p>Terinspirasi dengan Bungurasih maka Nasikh menyampaikan sudah mengalokasikan dana untuk lima makam di Sidoarjo, antara lain Makam Sono, Mbah Barnawi, Mbah Ud, dan dua makam besar lagi, yang kemudian dibukukan dan menjadi bahan literasi Sidoarjo.<\/p>\n<p>\u201cTermasuk dana hibah untuk Dewan Kesenian Sidoarjo karena memang kecil maka akan saya tambahi. Bukan dari APBD tapi dari <em>pokir <\/em>saya,\u201d janjinya.<\/p>\n<p>Sekadar diketahui, Pokir adalah singkatan dari Pokok-pokok Pikiran yang merupakan usulan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pokir merupakan aspirasi masyarakat yang dititipkan kepada anggota DPRD untuk diperjuangkan.<\/p>\n<p>Menurutnya, Sidoarjo punya pengantin pegon, busana khas Jenggala, termasuk udeng Pacul Gowang. Diusulkan, harus ada hari tertentu kita mengenakan batik khas Sidoarjo dan udeng. Seperti hari ini, tambahnya, saya pakai Batik Madura, bukan apa-apa, saya mau otokritik sama-sama. Batik Sidoarjo ini terlalu kalem. Warna-warna tanah. Mungkin karena orang tambakan. Sementara Madura itu warnanya mencolok. <em>Ngejreng-ngejreng. <\/em>Kalau perlu Dekesda membuat lomba desain batik Sidoarjo ala gen-Z. Tidak sekadar yang lama-lama.<\/p>\n<p>Sebagai ketua DPRD Nasikh menyampaikan terimakasih. Karena dunia ini tanpa seniman rasanya sepi. Yang bisa mengkritik, halus, dan bisa membuat tertawa itu hanya seniman. Semoga ke depan sinergitas antara pemerintahan dan seniman terus kita bangun sehingga nanti perkembangan dan kehidupan seni budaya di Sidoarjo ini lebih maju. Termasuk, ada keinginan untuk ke luar dari area alun-alun direncanakan DPRD pindah kantor. Karena sentra seni budaya di Sidoarjo kurang. Jadi kalau bisa dikemas sedemikian rupa seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta anak-anak muda bisa tampil berekspresi. Jadi di Sidoarjo ada tempat untuk ekspresi anak-anak muda, termasuk seniman. (<em>hnr<\/em>)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SIDOARJO: H. Abdillah Nasikh, menyambut baik terbitnya buku \u201cBungurasih Desa Kuno\u201d karya Henri Nurcahyo yang diterbitkan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan. Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo ini berharap buku tersebut dapat menjadi khasanah keilmuan dan daya tarik tersendiri bagi anak-anak muda dan terutama menjadi bahan literasi Sidoarjo khususnya. \u201cSaya juga ingin kehidupan literasi di Sidoarjo ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2285,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,362],"tags":[416,437,438,440,441,439],"class_list":["post-2284","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-1","category-terkini","tag-bungurasih","tag-ketua-dprd-sidoarjo","tag-mbah-ud","tag-ribut-wijoto","tag-setan-gepeng","tag-tim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2284"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2291,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2284\/revisions\/2291"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2285"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}