{"id":2354,"date":"2025-08-01T00:38:44","date_gmt":"2025-08-01T00:38:44","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2354"},"modified":"2025-08-08T05:48:30","modified_gmt":"2025-08-08T05:48:30","slug":"bukan-artjog-bukan-fair-ini-artsubs","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2354","title":{"rendered":"Bukan ArtJog, Bukan ArtFair: Ini Artsubs!"},"content":{"rendered":"<p>Artsubs, pameran senirupa kontemporer itu hadir lagi di Surabaya untuk kedua kalinya. Setelah Oktober tahun lalu diselenggarakan di Post Bloc\u00a0 (Kantor Pos Besar Surabaya), kali ini di kompleks Balai Pemuda. Nirwan Dewanto mengklaim, bahwa Artsubs adalah pameran seni rupa kontemporer\u00a0 paling besar di Indonesia. Bahkan melebihi ArtJog dari sisi luasan areal pamer dan jumlah senimannya. \u201cJangan bandingkan dengan ArtJakarta yang hanya berupa <em>fair<\/em>, dan \u00a0menyewakan <em>booth<\/em>,\u201d tegas Nirwan didampingi Asmujo Jono Irianto sebagai kurator.<\/p>\n<p>\u201cArtsubs edisi kedua di tahun ini hadir dengan pendekatan yang menggabungkan atmosfer <em>artists fair<\/em> (bukan <em>art fair<\/em>) yang dinamis dengan kedalaman konsep ala biennale,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Tidak ada pembagian tema yang ketat dalam hajatan yang dibuka mulai Sabtu ini (2\/8) hingga 7 September 2025. Pameran ini menggabungkan hampir semua area di Balai Pemuda menjadi ruang pamer yang menyatu. Konsepnya dibuat mengalir. Mulai dari pintu masuk Gedung Balai Pemuda di sisi barat yang disekat-sekat secara dinamis, termasuk areal panggungnya, bergeser ke areal plaza yang sudah disulap jadi ruang pameran <em>indoor<\/em>, mengisi sela-sela sebelah Balai Budaya yang menghubungkan area barat dan timur Balai Pemuda, dan berakhir di area <em>basement <\/em>yang dikhususkan karya-karya yang \u00a0menanggapi budaya massa. Sementara di halaman digelar spot-spot pendukung.<\/p>\n<p>Jika tahun lalu memilih tema <em>Ways of Dreaming<\/em> (berbagai cara bermimpi) kali ini hadir dengan mengusung tema <em>Material Ways<\/em> (Jalan Ragam Materi) dan menghadirkan 135 seniman. Pilihan tema ini mengedepankan\u00a0 residu sebagai materi karya, dengan makna yang lebih luas dibandingkan limbah. Karena residu cakupan maknanya \u00a0tidak hanya merujuk pada sampah fisik, namun juga meliputi ekses informasi, jejak digital, hingga kebisingan sosial yang tersisa dari kehidupan modern. Residu bukan hanya sampah plastik atau kaca. Informasi palsu, kebenaran alternatif, dan noise digital juga bagian dari residu zaman.<\/p>\n<p>Melalui tema ini, para seniman menunjukkan bagaimana mereka menggunakan bahan seperti plastik, kaca, kain, limbah industri, video, bahkan kecerdasan buatan (AI) sebagai media untuk bercerita, menyampaikan kritik sosial, dan menanggapi kehidupan modern yang sarat dengan konsumsi dan digitalisasi. Mengajak seniman dan penonton untuk merenungi hubungan manusia dengan dunia material, baik sebagai medium seni, gaya hidup, maupun jejak budaya. Ini bisa dimaknai sebagai eksplorasi terhadap berbagai bahan fisik \u00a0sekaligus menjadi kritik atas kehidupan modern yang makin digerakkan oleh konsumsi dan teknologi. Di sisi lain, tema ini juga membuka ruang bagi refleksi tentang benda-benda sebagai penanda sejarah, memori, dan identitas kolektif. Dengan demikian, &#8220;Material Ways&#8221; bukan hanya soal benda, tapi juga tentang bagaimana kita menjalani hidup, membentuk makna, dan menata masa depan melalui material yang kita pilih, warisi, atau pertanyakan.<\/p>\n<p>Dikatakan Asmudjo, seni hari ini bukan hanya soal keindahan, melainkan sudah menjadi cara bagi seniman menghadapi berbagai isu kontemporer, mulai dari krisis lingkungan, budaya populer, hingga ketergantungan pada teknologi. Dalam pameran ini bisa disaksikan berbagai karya eksperimental yang dibuat dari limbah, sampah plastik, hingga instalasi berbasis video dan <em>augmented reality<\/em>. Hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan manusia saat ini dikelilingi oleh materi, informasi, dan teknologi.<\/p>\n<p>\u201cArtsubs ini tak ubahnya seperti museum seni rupa kontemporer selama 5 minggu,\u201d ujar Asmujo.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2356\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250731_155956.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"551\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250731_155956.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250731_155956-768x529.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Salah satu kekuatan pameran ini adalah kemampuannya menyatukan seni \u2018tinggi\u2019 dan budaya \u2018populer\u2019. Tidak ada lagi dikotomi antara seni rupa luhur dan <em>handap <\/em>(populer). Pameran ini\u00a0 bukan hanya visual, tapi juga intelektual. Di tengah banjir produksi dan informasi, karya-karya seni rupa di sini memberi ruang untuk jeda, berpikir, dan mengajukan pertanyaan tentang arah masa depan. \u00a0Banyak seniman yang mengolah elemen dari budaya massa, media sosial, dan simbol-simbol digital, lalu mengubahnya menjadi karya reflektif. Pendekatan ini membuktikan bahwa seni tidak eksklusif, melainkan akrab dengan kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Dengan tema ini dimaksudkan untuk\u00a0 menyajikan kekayaan seni rupa kontemporer Indonesia, tidak lagi sebatas lukisan dan patung, melainkan juga menjelajahi berbagai ruang kehidupan, menjadi semacam \u201canti-estetika\u201d. Makna dan praktek seni rupa meluas dan mencair, bersaing dengan kebudayaan populer, bukan lagi terkurung oleh lingkaran \u201cborjuis\u201d.<\/p>\n<p>\u201cKalau toh banyak remaja yang <em>selfie, <\/em>ya biar saja, itu memang sebuah cara untuk berkomunikasi dengan generasi Z,\u201d ujar Nirwan.<\/p>\n<p>Sebagian kecil nama-nama seniman yang ikut mengisi pameran ini antara lain Nasirun, dengan karya patung kayu Buroq, sebuah lukisan panjang \u201cSemua ingin Duduk di Kursi\u201d dan enam lukisan kecil dengan judul \u201cMembaca Rupa Karya 1-6\u201d. Ada Agus Suwage dengan karya \u201cjus tembakau di atas kertas\u201d, Tara Sosrowardoyo, Galam Zulkifli, Pande Wardina, Ali Aspandi, Wilman Hermana, Apriliana Tri, Ilham Karim, Sumbul Pranov, AC Andre Tanama, Yudi Sulistiyo, Galih Reza Suseno, Naufal Abshar, I Made Widya Diputra, Pupuk D. Purnomo. (Ketika saya melihat persiapan pameran ini Kamis siang, memang masih sedikit yang sudah diberi label, <em>hn<\/em>).<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2357\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250731_160535.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"553\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250731_160535.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250731_160535-768x531.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Dan yang tak boleh dilupakan, hajatan ini terselenggara bukan atas nama dana pemerintah, melainkan tidak lepas dari tangan dingin lelaki bernama Rambat. Sosok ini semula adalah pedagang lukisan alias <em>bakulan. <\/em>Namun ketika menggandeng Nirwan dan Asmujo menjelma menjadi <em>Maecenas <\/em>seni yang fanatik dengan menggelar pameran seni rupa kontemporer Artsubs dalam posisi sebagai direktur utama.<\/p>\n<p>Dikatakan Nirwan, \u201cjangan berharap pada pemerintah, berhentilah jadi pengemis, tapi kita harus berani katakan: mau gak pemerintah bekerjasama dengan kita.\u201d<\/p>\n<p>Menurut Rambat, \u201cArtsubs tahun lalu mampu menyedot 37 ribu pengunjung, dengan yang berbayar sebanyak 28 ribu. Padahal dengan durasi pameran selama 5 minggu hanya berani pasang target 10 ribu pengunjung. Transaksi yang terjadi sebanyak 107 karya, mulai yang harga di atas Rp 1 M hingga yang puluhan juta rupiah. Tahun ini ditargetkan menyedot pengunjung sebanyak 50-60 ribu. Karya lukis termahal yang dipamerkan mencapai nilai Rp3 miliar, sementara harga karya lain dimulai dari Rp1 juta.<\/p>\n<p>\u201cHarga tiket Rp 100 ribu untuk umum, pelajar Rp 50 ribu, rombongan sekolah yang membawa surat pengantar dari kepala sekolah gratis,\u201d ujar Rambat. (<strong>henri nurcahyo<\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artsubs, pameran senirupa kontemporer itu hadir lagi di Surabaya untuk kedua kalinya. Setelah Oktober tahun lalu diselenggarakan di Post Bloc\u00a0 (Kantor Pos Besar Surabaya), kali ini di kompleks Balai Pemuda. Nirwan Dewanto mengklaim, bahwa Artsubs adalah pameran seni rupa kontemporer\u00a0 paling besar di Indonesia. Bahkan melebihi ArtJog dari sisi luasan areal pamer dan jumlah senimannya. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2355,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,484,502],"tags":[468,472,471,467,469,473,175,470],"class_list":["post-2354","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-1","category-seni-rupa","category-terbaru","tag-asmujo-jono-irianto","tag-balai-pemuda","tag-material-ways","tag-nirwan-dewanto","tag-rambat","tag-residu","tag-seni-rupa-kontemporer","tag-ways-of-dreaming"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2354","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2354"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2354\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2361,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2354\/revisions\/2361"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2355"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2354"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2354"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2354"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}