{"id":2471,"date":"2025-08-24T16:37:01","date_gmt":"2025-08-24T16:37:01","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2471"},"modified":"2025-08-25T01:11:02","modified_gmt":"2025-08-25T01:11:02","slug":"kasih-pegon-dan-perlawanan-jejak-panjang-arahmaiani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2471","title":{"rendered":"Arahmaiani, Sempat Dituding Darahnya Halal"},"content":{"rendered":"<p><strong>Catatan Henri Nurcahyo\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>MESKI sekilas tampak sederhana, dua karya Arahmaiani dalam ARTSUBS #2, \u201cKasih\u201d dan <em><i>Song of the Rainbow<\/i><\/em>, menyimpan sejarah panjang dan berliku.<\/p>\n<p>\u201cKasih\u201d hadir sebagai <em><i>soft sculpture <\/i><\/em>yang ditempel di dinding, berupa kaligrafi Arab Pegon berwarna-warni yang timbul dari bahan lembut, sementara <em><i>Song of the Rainbow <\/i><\/em>adalah karya dua dimensi. Keduanya menegaskan pesan tentang toleransi dalam keberagaman: bahwa Islam sejatinya adalah kasih, kelembutan, dan sikap anti-kekerasan.<\/p>\n<p>Bersama Handiwirman Saputra, Arahmaiani\u2014perempuan kelahiran Bandung, 21 Mei 1961\u2014berbagi kisah proses kreatifnya di selasar Balai Budaya, Sabtu siang (23\/8), dipandu moderator Asmujo. Menurut Asmujo, sejak mahasiswa Yani\u2014begitu ia akrab disapa\u2014sudah dikenal \u201cnakal\u201d: pernah dikejar tentara Orde Baru, dipaksa mengundurkan diri dari ITB, hingga lari ke Australia. Bahkan, ia sempat dianggap \u201cdarahnya halal\u201d karena karyanya dituding melecehkan agama.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2476\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250731_162502.jpg\" alt=\"\" width=\"575\" height=\"708\" \/><\/p>\n<p>Pertanyaannya, kalau karya \u201cKasih\u201d itu substansinya adalah menyampaikan tentang kelembutan, mengapa tidak sekalian diberikan akses bagi pengunjung pameran agar memegangnya? Memang di dinding tidak terdapat larangan \u00a0\u201cdilarang menyentuh karya\u201d sebagaimana karya-karya pada umumnya. Tapi mereka pasti tak akan berani menyentuhnya. Tanpa interaksi langsung antara pengunjung dengan karya, maka pesan itu kurang maksimal tersampaikan.<\/p>\n<p>Menjawab pertanyaan ini, salah satu perupa kontemporer terkemuka di Indonesia ini, mengatakan: \u201cSemula saya malah menginginkan karya itu jangan dipajang di dinding. Tapi diletakkan saja di lantai sehingga orang bebas memegang dan bahkan selonjoran di atasnya. Tapi kan ada pertimbangan, nanti jadi kotor, rusak, dan sebagainya.\u201d<\/p>\n<p>Dalam karya <em><i>Song of the Rainbow<\/i><\/em>, Arahmaiani menampilkan potongan huruf Arab Pegon: <em><i>Syin <\/i><\/em>berwarna kuning, <em><i>\u2018Ain <\/i><\/em>merah, <em><i>Lam <\/i><\/em>biru tua, dan <em><i>Alif <\/i><\/em>hijau, semuanya diletakkan di atas latar biru muda. Setiap huruf membawa simbolnya sendiri\u2014<em><i>Syin <\/i><\/em>sebagai cahaya pengetahuan, \u2018<em><i>Ain <\/i><\/em>sebagai sumber kehidupan, <em><i>Lam <\/i><\/em>sebagai penegasan tauhid, dan <em><i>Alif <\/i><\/em>sebagai lambang keesaan\u2014sementara warna-warna yang dipilih menguatkan makna tersebut. Latar biru muda berfungsi sebagai ruang universal, langit yang menaungi perbedaan huruf dan warna itu agar hadir dalam satu harmoni.<\/p>\n<p>Dalam konteks Arab Pegon, huruf-huruf yang dipilih Arahmaiani\u2014<em><i>Syin <\/i><\/em>(sy)<em><i>, \u2018Ain <\/i><\/em>(a)<em><i>, Lam <\/i><\/em>(l), dan <em><i>Alif <\/i><\/em>(a)\u2014jika dirangkai membentuk bunyi \u201csyala\u201d, yang dalam lidah Jawa\u2013Sunda dekat dengan kata \u201cnyala\u201d. Kata ini berkaitan dengan cahaya, api, dan penerangan, sehingga selaras dengan konsep pelangi dan pesan harmoni yang ia usung dalam <em><i>Song of the Rainbow<\/i><\/em>. Dengan cara itu, Arahmaiani bukan hanya menghadirkan huruf sebagai bentuk visual, tetapi juga menghidupkan makna tersembunyi yang berakar pada bahasa dan budaya lokal.<\/p>\n<p>Menariknya, kedua karya Arahmaiani ini dipajang bersebelahan di dinding yang menyiku, sementara sisi dinding lainnya sengaja dibiarkan kosong. Yani memang tidak menjelaskan hal ini dalam acara Wicara Seniman tersebut. Tetapi hal ini bisa dimaknai, bahwa kekosongan itu bukan tanpa arti. Kekosongan itu tak ubahnya sebagai ruang jeda, ruang napas, sekaligus bingkai tak kasatmata yang justru menegaskan kehadiran karya. Dalam tradisi Timur, termasuk Islam dan Buddhisme yang kerap dirujuk Arahmaiani, \u201ckosong\u201d bukanlah hampa, melainkan potensi\u2014tempat di mana makna lahir dan tumbuh. Dengan demikian, dinding kosong itu dapat dibaca sebagai ruang kesunyian yang memperkuat pesan kelembutan, toleransi, dan kasih yang diusung karya-karyanya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2474\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20250809_154643-Copy.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"295\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Darahnya Halal<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Mengudar masa lalunya, sebagai mahasiswa seni rupa, Yani pernah kecewa dengan pendidikan seni di Indonesia yang menurutnya jauh dari realitas sehari-hari. Ia memilih berkarya di jalanan, bereksperimen secara intuitif dengan <em><i>performance art<\/i><\/em>. Pada 17 Agustus 1983, ia ditangkap\u00a0dan diinterogasi\u00a0oleh aparat setelah membuat karya dengan kapur di jalanan yang mempertanyakan makna kemerdekaan. Waktu itu, dia bersama dua kawan menggambar berbagai peralatan militer,\u00a0tank, dan senjata,\u00a0dengan kapur \u00a0sebagai bentuk protes atas pemerintahan otoriter Soeharto.\u00a0Setelah ditahan selama sebulan Arahmaiani baru dilepas setelah menandatangani surat tidak sehat secara mental. Konsekuensinya: dikeluarkan dari ITB.<\/p>\n<p>Dalam kebingungan masa muda, ia hijrah ke Sydney bersama teman-temannya. Di sana, Yani bekerja di pasar komunitas <em><i>hippies <\/i><\/em>yang peduli isu penjajahan sekaligus menemukan akses pada manuskrip-manuskrip Nusantara yang tak pernah ia temukan di perpustakaan kampus. Pengalaman itu membuka matanya, hingga 2,5 tahun kemudian ia memutuskan: \u201cAku harus pulang.\u201d<\/p>\n<p>Sejak 1994, ia menekuni tradisi Arab Pegon\u2014jejak budaya Islam Nusantara yang sarat toleransi dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ia mendatangi situs-situs purbakala, berkemah di candi-candi, menyerap aura sejarah. Dari sana lahirlah karya monumental Lingga\u2013Yoni, simbol keseimbangan kosmis yang mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada oposisi biner: benar-salah, baik-buruk, hidup-mati.<\/p>\n<p>Dalam lukisannya ini dia membalik posisi lingga dan yoni: yang perempuan (yoni) justru ditempatkan di atas, sementara lingga (laki-laki) berada di bawah. Dengan cara itu, ia hendak menggugat budaya patriarki sekaligus mempertanyakan klaim dominasi maskulinitas.<\/p>\n<p>Tapi kelompok Islam fundamentalis, lukisan Lingga-Yoni membuat mereka marah. Mereka menuduh Yani menistakan agama karena menggabungkan huruf Arab dengan simbol kelamin. Padahal teks yang ia tampilkan berbunyi: \u201calam adalah kitab\u201d\u2014sebuah ajakan untuk menyadari kesatuan manusia dengan alam.<\/p>\n<p>Tuduhan serupa muncul pada karya instalasi berupa etalase berisi patung Buddha, simbol Hindu, Al-Qur\u2019an, Coca-Cola, dan kondom produksi perusahaan anak Soeharto. Pertanyaannya sederhana: mengapa kitab suci diletakkan di dekat kondom? Bagi Arahmaiani, itu adalah kritik atas ekonomi global yang masih menyisakan bentuk-bentuk penjajahan.<\/p>\n<p>Keributan itu bergulir. Untunglah ia mendapat pembelaan dari tokoh-tokoh seperti Cak Nun, Romo Muji Sutrisno, WS Rendra, hingga Syuba Asa. Meski demikian, ancaman pembunuhan tetap menghantui, membuatnya kembali melarikan diri ke Australia, di mana ia sekaligus mengajar.<\/p>\n<p>Sejak itu, perempuan yang menolak disebut feminis ini semakin mendalami tradisi budaya Islam Nusantara. Baginya, Arab Pegon tanpa harakat adalah medium kreatif yang mempertemukan Islam dengan budaya lokal melalui akulturasi. Dari situlah ia menemukan bahwa leluhur Nusantara memiliki kebijaksanaan: tidak merasa paling benar, tidak mudah menghakimi yang berbeda, dan selalu mengutamakan keseimbangan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2475\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Arahmaiani-4.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"593\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Arahmaiani-4.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Arahmaiani-4-768x569.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Selain dekat dengan para kiai NU, Yani juga memiliki jejaring dengan kalangan Muhammadiyah. Hubungan lintas ormas Islam ini memperlihatkan bagaimana ia berupaya merangkul keberagaman, melampaui sekat-sekat ideologis, dan tetap konsisten mengusung nilai toleransi.<\/p>\n<p>Bahkan nama \u201cArahmaiani\u201d itu sendiri mewakili bentuk sinkretisme atau percampuran dua budaya di keluarganya. Ayahnya seorang ulama dan ibu seorang Muslim yang berasal dari latar belakang agama Hindu-Buddha. \u201cArahma\u201d berasal dari bahasa arab yang berarti \u201ccinta\u201d dan \u201ciani\/yani\u201d berasal dari bahasa Hindi yang berarti \u201cmanusia\u201d.<\/p>\n<p>Beberapa bulan lalu, Arahmaiani bahkan diundang oleh Muhammadiyah untuk berbicara tentang warisan tradisi budaya leluhur, baik dari masa Islam maupun sebelumnya, serta kaitannya dengan isu lingkungan hidup. Untuk yang terakhir, ia merasa beruntung pernah belajar langsung di vihara Tibet dan mempraktikkannya di sana. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa ajaran di vihara tersebut sesungguhnya berakar dari tradisi dan budaya masa Borobudur\u2014sebuah warisan yang masih lestari hingga kini, terutama di kalangan sekte Topi Kuning yang dipimpin langsung oleh Dalai Lama.<\/p>\n<p>Hal ini seolah menjadi muara atas pengalamannya yang sejak kecil hidup di dekat alam terbuka dan kerap melakukan kegiatan di sana.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu pesan saya, jangan lupakan kearifan budaya tradisi, terutama yang terkait dengan lingkungan hidup dan kebersamaan. Itu adalah prinsip dasar kehidupan komunal. Komunitas itu penting. Bukan individualistis, yang ujung-ujungnya jadi egois. Kita harus saling mengingatkan supaya jangan keblabasan,\u201d tutur\u00a0penerima Anugerah Budaya Kota Bandung Tahun 2021 ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2473\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/9077aec6-d8e6-4451-9277-357a8c162e10.jpeg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"546\" \/><\/p>\n<p>Kabar terbaru, Arahmaiani akan menjadi pembicara dalam sebuah konferensi internasional di Doha, Qatar, pada November mendatang. Undangan itu datang dari kalangan terpelajar Timur Tengah yang tertarik mempelajari budaya Islam Nusantara. Ironisnya, mereka sendiri mengakui bahwa budaya Abrahamik di Arab cenderung sempit: Hindu, Buddha, bahkan tradisi animisme sudah lama terhapus dari ingatan.<\/p>\n<p>\u201cSaya bilang ke mereka, tolong dipastikan tidak ada orang-orang dari garis keras yang akan mengancam keselamatan saya,\u201d tegas \u00a0salah satu pelopor dalam perkembangan <em><i>performance art <\/i><\/em>di Indonesia dan Asia Tenggara\u00a0ini.\u00a0(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Henri Nurcahyo\u00a0 &nbsp; MESKI sekilas tampak sederhana, dua karya Arahmaiani dalam ARTSUBS #2, \u201cKasih\u201d dan Song of the Rainbow, menyimpan sejarah panjang dan berliku. \u201cKasih\u201d hadir sebagai soft sculpture yang ditempel di dinding, berupa kaligrafi Arab Pegon berwarna-warni yang timbul dari bahan lembut, sementara Song of the Rainbow adalah karya dua dimensi. Keduanya menegaskan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2472,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15,484,502],"tags":[556,485,555,557,554],"class_list":["post-2471","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-reportase-1","category-seni-rupa","category-terbaru","tag-arab-pegon","tag-asmujo","tag-cak-nun","tag-song-of-the-rainbow","tag-ws-rendra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2471","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2471"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2471\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2481,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2471\/revisions\/2481"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2472"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2471"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2471"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2471"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}