{"id":2496,"date":"2025-09-11T01:02:29","date_gmt":"2025-09-11T01:02:29","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2496"},"modified":"2025-10-03T23:41:50","modified_gmt":"2025-10-03T23:41:50","slug":"budi-zakia-bahasa-bakumpai-terancam-punah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2496","title":{"rendered":"Budi Zakia: Bahasa Bakumpai Terancam Punah"},"content":{"rendered":"<p>BARITO KUALA: Bahasa Bakumpai semakin hari semakin berkurang penuturnya. Baik sebagai bahasa sehari-hari maupun dalam komunitas. Orang Bakumpai yang menikah dengan orang Banjar misalnya, maka Bakumpainya kalah. Anak-anaknya pasti menggunakan bahasa Banjar. Kalau polanya seperti itu, maka dengan demikian kemungkinan 10-20 tahun yang akan datang bahasa Bakumpai akan punah. Kecuali ada pola tertentu, dari bapak atau ibunya, yang menerapkan dan mengajarkan bahasa Bakumpai kepada generasi berikutnya. Karena itu penting. Misalnya dimulai dari tatanan rumah keluarga. Sebab orang Bakumpai itu toleransinya tinggi. Orang Bakumpai menikah dengan orang Jawa, bahasa Bakumpainya hilang. Anak-anaknya berbahasa Indonesia. Kesemuanya ini adalah catatan penting dalam konteks kebahasaan.<\/p>\n<p>Hal ini disampaikan oleh Muhammad Budi Zakia Sani, MPd, dalam acara \u201cWorkshop Gerak Kata Bakumpai: Menari Bahasa, Menyuarakan Sungai\u201d di Balai Kesenian Rakyat, kelurahan Lepasan, Kecamatan Bakumpai, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (31\/08\/25). Acara ini berlangsung dua hari, sejak Sabtu, diselenggarakan oleh Fitriani selaku penerima Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (XIII) Kalimantan Tengah &#8211; Kalimantan Selatan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2498\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/2.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"682\" \/><\/p>\n<p>Selaku ketua panitia, Fitri menyampaikan acara ini hadir sebagai upaya untuk menghidupkan kembali bahasa Bakumpai melalui pendekatan kreatif. Workshop ini dirancang agar para peserta, khususnya anak muda, dapat belajar bahasa Bakumpai secara aktif dan partisipatif sambil mengekspresikannya dalam bentuk karya seni. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat hubungan antara bahasa, budaya, dan lingkungan hidup masyarakat Bakumpai yang sangat terkait dengan Sungai Barito.<\/p>\n<p>\u201cMelalui kegiatan ini diharapkan akan tumbuh kesadaran, kebanggaan, dan kemauan dari generasi muda untuk menjaga, menggunakan, dan mengembangkan bahasa serta budaya lokal mereka dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ruang-ruang kreatif,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Acara yang diikuti oleh 30 remaja berusia 12-20 tahun ini dibuka oleh Kepala Balai \u00a0Bahasa Kalimantan Selatan, Ibu Armiyati Rasyid, S.Ag.\u00a0M.Pd. Dalam sambutannya Ibu Armiyati Rasyid menyambut baik acara yang diselenggarakan atas bantuan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII ini. Hal ini selaras dengan program Balai Bahasa yaitu revitalisasi bahasa daerah.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2499\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/3.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"360\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/3.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/3-768x346.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>\u201cSaya melihat yang ada di sini adalah generasi muda yang akan memimpin Kalimantan Selatan dengan bekal pengetahuan tentang kebudayaan akan menjadi bekal bagi kalian semua. Mungkin ke depan ibu Fitri akan muncul ke garda depan dengan karya-karya kreatifnya. Dengan acara ini diharapkan akan memunculkan bakat-bakat baru yang menggunakan bahasa Bakumpai menjadi basis kreatif untuk berpidato, berpuisi, melawak, menyanyi, dan sebagainya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, atas nama perwakilan \u00a0BPKW XIII, Rika Rusitasari mengharapkan agar para generasi muda ikut melestarikan dan juga mengembangkan kebudayaan yang ada di Bakumpai. Mewakili ibu Kepala BPKW XIII \u00a0yang sedang ada tugas lain, diharapkan pula kegiatan ini dapat terus berlanjut. Dengan kegiatan ini para peserta dapat mengambil manfaat dan hikmahnya setelah acara ini selesai dan melanjutkan lagi.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2500\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/4.jpg\" alt=\"\" width=\"754\" height=\"600\" \/><\/p>\n<p>Pada hari pertama, workshop diisi oleh pelatihan membuat puisi dalam bahasa Bakumpai yang dipandu oleh Budi Zakaria, \u00a0seorang Jurnalis, budayawan, dan aktivis lingkungan.<\/p>\n<p>Hari kedua, sebelum Budi Zakia memberikan materinya, diawali dengan penuturan Ba Andi-andi oleh Madiah (64) yang akrab dipanggil Uma Ratu atau Mama Ratu. Budi Zakia berharap kegiatan ini dapat menguatkan literasi tentang kebakumpaian. Paling tidak, di jantung-jantung pertahanan bahasa Bakumpai. Karena kecamatan Bakumpai adalah pertahanan terakhir dengan sejumlah kecamatan lain di Barito Kuala, di mana masyarakatnya masih berbasis etnis Bakumpai. Ini menjadi perhatian kita semua untuk menjaga kelestarian bahasa, seni dan budaya Bakumpai.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2501\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/6.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/6.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/6-768x512.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Terkait dengan Andi-andi, Dosen di Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM\u00a0ini menyampaikan, sejauh ini tersebar di beberapa lokus Kalimantan Selatan. Ada di Meratus, Loksado, dan Paramasan, yang berbasis masyarakat Dayak Bukit. Ternyata, Andi-andi juga ditemukan di masyarakat Bakumpai. Hanya saja, ini yang menarik, kita menemukannya malah dalam bahasa Banjar. Mungkin dulu disampaikan dalam bahasa Bakumpai. Tetapi secara turun temurun ada pengaruh budaya Banjar yang memiliki pengaruh kuat terhadap budaya Bakumpai. Dalam ritual pernikahan saja menggunakan busana Banjar, kulinernya juga Banjar. Hal ini karena Bakumpai hidup berdampingan dengan masyarakat Banjar. \u00a0Marabahan sebagai pusat etnis Bakumpai, dulunya adalah sebuah bandar besar di mana masyarakat dari berbagai latar belakang budaya memasukinya hingga terjadi akulturasi.<\/p>\n<p>\u201cTantangannya adalah bagaimana mempertahankan inti-inti budaya Bakumpai. Khususnya dalam konteks kesenian Andi-andi. Karena itu perlu ada rekonstruksi untuk menampilkan Andi-andi dalam bahasa Bakumpai agar menjadi ciri khas tersendiri,\u201d \u00a0tutur Ketua Umum Madihinesia Kalimantan Selatan ini.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan berikutnya kemudian Uma Ratu membawakan Andi-andi dalam bahasa Bakumpai. (<em><i>hn<\/i><\/em>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BARITO KUALA: Bahasa Bakumpai semakin hari semakin berkurang penuturnya. Baik sebagai bahasa sehari-hari maupun dalam komunitas. Orang Bakumpai yang menikah dengan orang Banjar misalnya, maka Bakumpainya kalah. Anak-anaknya pasti menggunakan bahasa Banjar. Kalau polanya seperti itu, maka dengan demikian kemungkinan 10-20 tahun yang akan datang bahasa Bakumpai akan punah. Kecuali ada pola tertentu, dari bapak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2497,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,502],"tags":[567,566,564,565,563],"class_list":["post-2496","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-1","category-terbaru","tag-balai-kesenian-rakyat","tag-balai-pelestarian-kebudayaan-wilayah-xiii","tag-budi-kurniawan","tag-fitriani","tag-universitas-lambung-mangkurat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2496","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2496"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2496\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2505,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2496\/revisions\/2505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2497"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2496"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2496"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2496"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}