{"id":2598,"date":"2026-04-11T00:28:00","date_gmt":"2026-04-11T00:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2598"},"modified":"2026-04-11T00:28:00","modified_gmt":"2026-04-11T00:28:00","slug":"hidup-harus-berbagi-jangan-serakah-kata-besut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2598","title":{"rendered":"Hidup Harus Berbagi, Jangan Serakah, Kata Besut"},"content":{"rendered":"<p>SIDOARJO: Juragan tambak udang dan tambak bandeng gegeran. Keduanya tak mau mengalah. Masing-masing tidak mau berbagi atas hasil panennya kepada tetangga. Maunya hanya memperkaya diri sendiri. Mereka juga saling serobot luasan lahan tambak. Bahkan ketika Besut menengahi, persoalan makin rumit sehingga harus melibatkan orang luar.<\/p>\n<p>Hal itu terjadi dalam pentas Ludruk Besutan di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) Jumat malam (10\/4). Sajian ini\u00a0berlangsung meriah dan penuh <em><i>ger-geran <\/i><\/em>lantaran aksi spontan aktor Robet Bayonet (juragan tambak udang)\u00a0dan Didik Jogoyudo\u00a0(juragan tambak bandeng). Tokoh Besut, yang diperankan Meimura (Meijono) tak mampu mengatasi sehingga langsung memanggil penonton ke atas panggung, yaitu\u00a0Autar Abdillah, Dokter Sudi Haryanto, dan Esthi Susanti.<\/p>\n<p>Jadi siapa yang salah? \u201cYang salah itu negara, pemerintah dan masyarakat sendiri,\u201d ujar Esthi.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2600\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.54-2-800x533.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.54-2-800x533.jpeg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.54-2-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.54-2-768x512.jpeg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.54-2-1536x1023.jpeg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.54-2.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Pentas dimulai oleh munculnya tokoh Besut membawa obor dan sehelai daun pisang, naik ke panggung, kemudian ngidung dan <em><i>ngudoroso <\/i><\/em>soal kondisi masyarakat.\u00a0Soal bagaimana menjaga kota Sidoarjo tetap rukun. Kali ini Mei memerankan sosok Besut dan Rusmini sekaligus secara monolog.<\/p>\n<p>Setelah Besut turun, disusul kemunculan Robet dan Didik ke atas panggung. Pada sesi inilah suasana menjadi semarak dan penuh improvisasi guyonan sebagaimana ciri khas ludruk. Meski keduanya gegeran namun malah menimbulkan kelucuan yang mengundang tawa penonton.\u00a0Tidak bisa dibedakan, apakah dialog mereka sudah <em><i>sepelan <\/i><\/em>(direncanakan) ataukah murni improvisasi. Itu tidak penting. \u201c<em><i>Lha wong <\/i><\/em>cuma dua hari dikabari,\u201d kata Robet.<\/p>\n<p>Maklum, Robet adalah aktor handal ludruk yang selama ini\u00a0pernah\u00a0sukses memimpin Ludruk Luntas. Sayangnya, setelah berjuang sekuat tenaga mempertahankan tobong di Surabaya, akhirnya tumbang juga. Sedangkan Didik Jogoyudo\u00a0adalah pendiri kelompok Ludruk GPS (Generasi Pecinta Seni). Menjadi sutradara pertunjukan ludruk opera Sekar Kawedhar dan ludruk Tjap Adipati Terung. Sejak pelajar hingga sekarang tergabung dalam Teater Lecture Sidoarjo. Beberapa kali menjadi aktor film layar lebar. Pentasnya terkini di acara Perayaan Giling Tebu di PG Candi (6\/4) sukses melakonkan Sarip Tambakoso.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2601\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.55-800x533.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.55-800x533.jpeg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.55-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.55-768x512.jpeg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.55-1536x1023.jpeg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.55.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Sebelum pentas Besutan, diawali penampilan karawitan dan tari oleh Komunitas Kain Kebaya Indonesia (KKI) DPC Sidoarjo pimpinan Ibu Izzatul Aini, disambung karawitan dari komunitas Suara Nusantara Jayandaru (SNJ) pimpinan Ibu Titik, lantas dipungkasi dengan tarian Pitik Walik oleh Sanggar Raff Dance Company (RDC) pimpinan Arif Rofiq.<\/p>\n<p>Ludruk Besutan kali ini merupakan program pentas keliling 10 kota oleh Meimura dalam program Pemberdayaan Ruang Publik dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dengan tajuk &#8220;Besut Jajah Deso Milangkori&#8221;. Diawali dari Surabaya (4\/4), disambung Sidoarjo (10\/4), menyusul Jombang (18\/4), dan Nganjuk (25\/4). Kota-kota lain yang segera menyusul adalah Mojokerto, Nganjuk, Kediri, Blitar, Malang, dan berakhir di Jember.<\/p>\n<p>Acara malam ini juga menjadi sarana kolaborasi antara Sanggar Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) yang dipimpin Meimura, Komunitas Seni Budaya BrangWetan (Henri Nurcahyo), dan Dewan Kesenian Sidoarjo. Berikutnya, selain BrangWetan dan SAMIN, acara akan melibatkan komunitas kesenian di masing-masing kota.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2602\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.53-800x533.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.53-800x533.jpeg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.53-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.53-768x512.jpeg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.53-1536x1023.jpeg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.53.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Dalam kesempatan diskusi usai pentas, Ribut Wiyoto, ketua Dekesda yang kali ini menjadi salah satu narasumber, memberikan kesaksian bahwa sebetulnya ludruk masih disukai oleh masyarakat. \u00a0Hanya saja, justru banyak kelompok ludruk yang berguguran atau hanya tinggal menjadi \u201cludruk papan nama.\u201d Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah, mereka masih berpegang pada aturan konvensional, bahwa ludruk harus dimainkan dalam kelompok besar, iringan gamelan lengkap, bermain di gedung dan panggung. Karena itu, tambah Ribut, kehadiran pentas ludruk garingan oleh Meimura ini merupakan tawaran kreatif agar ludruk tidak menyerah oleh keadaan.<\/p>\n<p>Kebetulan, pemementasan di Dekesda ini memang dilangsungkan di panggung, lengkap dengan tatalampu dan tatasuara, lantaran memang sudah tersedia. Penonton juga duduk manis di kursi, bukan pentas lesehan sebagaimana di teater arena, atau seperti pentas perdana di Surabaya minggu lalu.<\/p>\n<p>Dipimpin oleh moderator Henri Nurcahyo, narasumber lainnya, Arif Rofiq, menyebut pentingnya peran pemerintah dalam upaya pelestarian dan pengembangan ludruk ini. Tapi Rofiq yakin bahwa tanpa bantuan pemerintah pun seharusnya ludruk bisa hidup. Rofiq yang berasal dari desa Plandi Jombang, di mana pelopor ludruk Pak Santik dimakamkan, sangat mengapresiasi Meimura yang disebutnya istikomah dalam berkesenian. Menurutnya, seni itu simbolik, bukan pesan verbal. Namun sayangnya banyak seniman yang malah tidak yakin dengan pesan-pesan simbolik ini. Maunya serba verbal saja.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2603\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.52-800x600.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"600\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.52-800x600.jpeg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.52-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.52-768x576.jpeg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.52-1536x1153.jpeg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-11-at-07.13.52.jpeg 1599w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Warmin, pegiat seni tradisi yang juga dosen STKW Surabaya, bahwa bukan hanya pesan yang harus disampaikan, tetapi kesan apa yang bisa didapat oleh penonton seusai pertunjukan. Kecerdasan itu penting, namun kesadaran lebih penting. \u201cKarena itu yang perlu dilestarikan bukan sebatas keseniannya sendiri, melainkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,\u201d ujarnya dalam kesempatan tanya jawab usai diskusi. \u00a0(*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SIDOARJO: Juragan tambak udang dan tambak bandeng gegeran. Keduanya tak mau mengalah. Masing-masing tidak mau berbagi atas hasil panennya kepada tetangga. Maunya hanya memperkaya diri sendiri. Mereka juga saling serobot luasan lahan tambak. Bahkan ketika Besut menengahi, persoalan makin rumit sehingga harus melibatkan orang luar. Hal itu terjadi dalam pentas Ludruk Besutan di Dewan Kesenian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2599,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15,502],"tags":[604,607,605,440,606,464],"class_list":["post-2598","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-reportase-1","category-terbaru","tag-dekesda","tag-didik-jogoyudo","tag-esthi-susanti","tag-ribut-wijoto","tag-robet-bayonet","tag-sudi-haryanto"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2598"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2604,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2598\/revisions\/2604"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}