{"id":2728,"date":"2026-09-03T01:37:46","date_gmt":"2026-09-03T01:37:46","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2728"},"modified":"2026-09-03T03:04:53","modified_gmt":"2026-09-03T03:04:53","slug":"hambaruan-kumpulan-puisi-bahasa-bakumpai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2728","title":{"rendered":"HAMBARUAN, KUMPULAN PUISI\u00a0BAHASA BAKUMPAI"},"content":{"rendered":"<p>Judul Buku : HAMBARUAN, Kumpulan Puisi Bahasa Bakumpai<\/p>\n<p>Penulis : Fitri Sei Getas<\/p>\n<p>Tataletak : Henri Nurcahyo<\/p>\n<p>Rancang Sampul: Diolah dari AI<\/p>\n<p>Ukuran buku : 14,8 x 21 cm<\/p>\n<p>Tebal : 120 halaman<\/p>\n<p>Cetakan : Pertama, September 2026<\/p>\n<p>Penerbit : Komunitas Seni Budaya BrangWetan<\/p>\n<p>www.brangwetan.com<\/p>\n<p>Email: komunitasbrangwetan@gmail.com<\/p>\n<p>Bekerjasama dengan<\/p>\n<p>Komunitas Sastra Kumpai Basiuh<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hambaruan adalah bahasa Bakumpai, bagian etnis Dayak yang menjadi muslim. Hambaruan bisa dimaknai sebagai jiwa, ruang sunyi tempat segala pengalaman, kenangan, cinta, luka, kerinduan, dan kehidupan berdiam tanpa suara. Ia menyimpan apa yang tak selalu mampu diucapkan oleh lidah, tetapi terus hidup di dalam batin. Dari ruang itulah puisi-puisi dalam buku ini lahir. Dari sesuatu yang pernah dirasakan, dijalani, dicintai, lalu berusaha diabadikan sebelum waktu mengubahnya menjadi kenangan.<\/p>\n<p>Fitriani, atau nama penanya Fitri SeiGetas, lahir dan besar di tepian sungai Barito di Bakumpai. Sempat menamatkan pendidikan di IAIN Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan, menjadi Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah Bakumpai (2024, 2025), dan terlibat dalam beberapa antologi puisi. Sejumlah prestasi yang diraihnya antara lain: Nominasi Penulis Terbaik Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional 2024, Nominasi Juara Nasional Predikat Penulis Indonesia 2024, Penulis Terpilih Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional (2024), Finalis 100 Puisi terbaik Festival Puisi Pendek Nasional 2024, Penulis Terpilih Event Lomba Puisi Batch 13 Tingkat Nasional 2024, Nominasi pemenang sayembara Pantun Berkait (ASKS 2024). Juara II lomba cipta puisi (2024), Juara I Lomba Manuskrip Puisi (ASKS 2025). Nominasi 200 besar Festival Pantun ASEAN (2025). Antologi Pemenang Sayembara: Tuping Banjar Pada Matanya Mengalir Air Keruh (ASKS 2024), \u00a0Antologi Pemenang: Lomba Manuskrip puisi Wangkang Nyanyian Ritual (2025).<\/p>\n<p>Buku ini adalah buku kedua berisi 66 puisi bahasa Bakumpai, setelah sebelumnya antologi puisi tunggalnya: \u201cSungai Luka Aku Mati\u201d (2025), berisi 65 puisi bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>Menurut Fitri, buku ini merupakan sebuah upaya untuk ikut menjaga dan melestarikan bahasa Bakumpai, sekaligus merawat kearifan lokal yang hidup dan bersemayam di dalamnya. Saya percaya, bahasa akan terus bernapas selama masih ada yang menggunakannya, menuliskannya, membacanya, dan mewariskannya. Melalui puisi, kata-kata Bakumpai diharapkan tidak hanya menjadi peninggalan, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan yang dapat dikenali dan dirasakan oleh generasi setelah kita. Selama bahasa itu masih ditulis, dibaca, dan diucapkan, hambaruan yang bersemayam di dalamnya belum benar-benar hilang. Selama masih ada yang mengingat, tak ada yang benar-benar selesai menjadi masa lalu.<\/p>\n<p>Melalui bahasa Bakumpai, tambahnya, saya mencoba memungut serpihan kehidupan yang begitu dekat, tetapi sering luput kita sadari. Sungai yang mengalir seperti nadi kehidupan. Tangan yang menebarkan jala dan menunggu rezeki dari arusnya. Tanah yang menerima benih dan keringat manusia. Tanaman yang tumbuh dari tanah dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada pula aroma dan cita rasa kuliner yang diwariskan dari dapur ke dapur, dari tangan ke tangan. Rasa yang bukan hanya mengenyangkan tubuh, tetapi menyimpan cerita tentang rumah, keluarga, dan kampung halaman.<\/p>\n<p>Dalam kata pengantarnya, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, Armiati Rasyid, S.Ag., M.Pd., mengapresiasi dan menyambut baik kehadiran karya ini sebagai sumbangsih berharga bagi khazanah sastra daerah, sekaligus bagian dari ikhtiar bersama dalam pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daerah di Kalimantan Selatan.<\/p>\n<p>Ditambahkannya, bahasa adalah rumah tempat sebuah bangsa menyimpan dirinya sendiri. Di setiap kosakata yang diucapkan, tersimpan cara pandang, nilai, dan pengalaman hidup yang telah dijalani generasi demi generasi. Ketika membaca kumpulan puisi Hambaruan karya Fitri Seig ini, kita sesungguhnya sedang diajak menyelami bukan sekadar rangkaian kata dalam bahasa Bakumpai, melainkan juga jiwa dan denyut kehidupan masyarakat yang telah lama hidup berdampingan dengan Sungai Barito.<\/p>\n<p>Makna yang tersirat dalam judulnya, hambaruan\u2014jiwa, ruang batin tempat segala rasa dan kenangan bersemayam\u2014menjadi napas yang menghidupkan setiap larik dalam buku ini. Penulis dengan cermat menghadirkan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat Bakumpai: jukung yang menyusuri sungai, jala yang ditebar menanti rezeki, aroma masakan yang mengalir dari dapur ke dapur, hingga adat dan tradisi yang dijaga turun-temurun. Semua itu dirangkai bukan sebagai catatan nostalgia semata, melainkan sebagai upaya sungguh-sungguh untuk merawat dan mewariskan bahasa daerah agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.<\/p>\n<p>Dalam konteks pengembangan dan pelindungan bahasa daerah, penerbitan karya sastra seperti kumpulan puisi ini memegang peran yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Revitalisasi bahasa daerah tidak cukup dilakukan melalui pengajaran formal atau dokumentasi kebahasaan semata, tetapi \u00a0memerlukan ruang hidup yang nyata\u2014tempat bahasa itu dipakai, dirasakan, dan dicintai. Karya sastra menjadi salah satu ruang hidup tersebut. Melalui puisi, kosakata Bakumpai tidak berhenti menjadi data dalam kamus atau arsip penelitian, tetapi tumbuh menjadi bahasa yang bernapas, dibaca, dan diwariskan dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p>Semoga langkah ini menjadi inspirasi lahirnya karya-karya sastra berbahasa daerah lainnya, sehingga bahasa Bakumpai\u2014dan bahasa-bahasa daerah lain di tanah air\u2014terus mengalir sebagaimana sungai yang tak pernah berhenti, membawa kehidupan bagi yang hidup di sepanjang alirannya.<\/p>\n<p>Fitri Seig, melalui Hambaruan, telah menunjukkan bahwa puisi mampu menjadi ruang pulang bagi kata-kata yang mulai jarang terdengar, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan pembaca masa kini dan generasi mendatang. Ketekunan dan kecintaannya pada bahasa ibu patut menjadi teladan, khususnya bagi generasi muda Bakumpai agar tidak kehilangan jejak identitas kebahasaan dan kebudayaannya.\u00a0(<strong><b>hn<\/b><\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul Buku : HAMBARUAN, Kumpulan Puisi Bahasa Bakumpai Penulis : Fitri Sei Getas Tataletak : Henri Nurcahyo Rancang Sampul: Diolah dari AI Ukuran buku : 14,8 x 21 cm Tebal : 120 halaman Cetakan : Pertama, September 2026 Penerbit : Komunitas Seni Budaya BrangWetan www.brangwetan.com Email: komunitasbrangwetan@gmail.com Bekerjasama dengan Komunitas Sastra Kumpai Basiuh &nbsp; Hambaruan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2731,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[292,502],"tags":[674,673,671,672],"class_list":["post-2728","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-penerbitan","category-terbaru","tag-armiati-rasyid","tag-balai-bahasa-kalsel","tag-dayak-muslim","tag-iain-antasari"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2728"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2728\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2734,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2728\/revisions\/2734"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2731"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}