{"id":2752,"date":"2026-09-16T06:08:37","date_gmt":"2026-09-16T06:08:37","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2752"},"modified":"2026-09-16T06:11:55","modified_gmt":"2026-09-16T06:11:55","slug":"artsubs-sebagai-ruang-publik-dan-pengetahuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2752","title":{"rendered":"Nirwan Dewanto: Seni Rupa Potensi Besar Kehidupan Publik"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA: Diskursus seni rupa hingga sekarang terus berkembang, dan pameran seni rupa tidak lagi semata-mata menjadi ruang untuk memajang karya, melainkan juga menjadi wadah yang mampu mempertemukan karya, seniman, dan publik dalam jumlah yang besar. Pengalaman ARTSUBS memperlihatkan hal tersebut. ARTSUBS 2024, misalnya, mampu menarik kurang lebih 35.000 pengunjung. Angka ini menunjukkan bahwa seni rupa sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari kehidupan publik, bukan hanya menjadi konsumsi kalangan tertentu.<\/p>\n<p>Nirwan Dewanto (Kurator ARTSUBS), menyampaikan hal itu dalam diskusi seni rupa \u00a0\u201cARTSUBS 2026: Surabaya dan Medan Seni Indonesia,\u201d Senin siang (14\/9). Acara tersebut dilangsungkan Auditorium Program Studi Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, Kampus Lidah Wetan.<\/p>\n<p>Selain Nirwan, diskusi ini menghadirkan narasumber: Hendra Himawan KBUSR (Kurator KBUSR), Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn. (Guru Besar dalam bidang ilmu Seni Rupa) dengan moderator: Asy Syams Elya Ahmad (Dosen Seni Rupa Murni UNESA).<\/p>\n<p>ArtSubs yang merupakan gabungan Biennale dan ArtFair kali ini berlangsung di Balai Pemuda Surabaya tanggal 19 September &#8211; 8 November 2026, diikuti oleh 113 seniman, termasuk di antaranya adalah 7 \u00a0karya kolaborasi (kelompok). \u00a0\u00a0Selain Nirwan Dewanto, yang menjadi kurator adalah Asmujo Irianto, dengan tema: \u00a0\u201c<em><i>Border <\/i><\/em>(Batas), <em><i>Treshold <\/i><\/em>(Ambang), dan <em><i>Beyond <\/i><\/em>(Seberang ).\u201d<\/p>\n<p>Dituturkan oleh Nirwan, ARTSUBS sendiri mengandung banyak unsur eksperimental. Namun, pada hakikatnya, sebuah pameran seni rupa tetap merupakan sebuah tontonan atau <em><i>show<\/i><\/em>. Persoalannya kemudian bukan apakah pameran itu merupakan tontonan, melainkan tontonan seperti apa yang hendak dihadirkan kepada publik. Apa yang dilihat masyarakat ketika datang ke sebuah pameran? Bagaimana karya ditampilkan? Bagaimana ruang dibentuk? Bagaimana hubungan antara karya, seniman, ruang, dan penonton dibangun? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam diskursus dan keilmuan seni rupa.<\/p>\n<p>Dalam konteks yang lebih luas, kemajuan suatu bangsa modern tidak hanya ditentukan oleh perkembangan ekonomi, teknologi, atau infrastrukturnya. Bangsa yang mampu berkembang secara berkelanjutan selalu memiliki fondasi <em><i>culture <\/i><\/em>atau kebudayaan yang kuat, sekaligus menyediakan akses terhadap fasilitas kebudayaan yang inklusif. Kebudayaan menjadi salah satu ruang tempat masyarakat membangun cara berpikir, kreativitas, kepekaan, dan kemampuan membaca perubahan zaman.<\/p>\n<p>Sayangnya, Indonesia masih menghadapi persoalan dalam membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif. Akses terhadap pengetahuan dan pengalaman seni masih belum sepenuhnya terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, pameran seni rupa tidak cukup dipahami sebagai aktivitas estetis, tetapi juga dapat menjalankan fungsi pendidikan publik (<em><i>public education<\/i><\/em>) dan pendidikan kewargaan (<em><i>civic education<\/i><\/em>). Pameran dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat, mengalami, mempertanyakan, dan memahami berbagai persoalan yang berlangsung di sekitarnya.<\/p>\n<p>Dalam pengertian ini, <em><i>culture <\/i><\/em>dapat dipandang sebagai semacam lumbung kreativitas. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan kebudayaan dan karya-karya yang baik, semakin terbuka pula kemungkinan tumbuhnya gagasan baru. Mengunjungi pameran yang baik bukan sekadar kegiatan melihat karya, melainkan sebuah pengalaman yang dapat memperluas cara pandang. Dari sanalah masyarakat memperoleh kesempatan untuk terus berkembang.<\/p>\n<p>Tantangan bagi Surabaya, sebagaimana juga kota-kota metropolitan lainnya, adalah bagaimana menghadirkan pameran seni rupa yang baik, relevan, dan mampu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai situasi serta berbagai peristiwa yang sedang berlangsung. Di sejumlah kota, fungsi tersebut antara lain dijalankan melalui biennale atau perhelatan seni rupa berskala besar. Yogyakarta, misalnya, memiliki ArtJog yang dalam perjalanan panjangnya telah menjadi salah satu peristiwa penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia.<\/p>\n<p>Namun, Nirwan yang juga kelahiran Surabaya itu menjelaskan, perjalanan ArtJog sekaligus memperlihatkan bahwa masih terdapat ruang yang dapat dikembangkan untuk memperluas penyampaian pengetahuan dan pendidikan melalui seni rupa. Di titik inilah ARTSUBS hadir, bukan semata-mata untuk menambah jumlah pameran seni rupa di Indonesia, melainkan untuk memperkaya ruang pajang dan memperluas ekosistem seni rupa kontemporer Indonesia yang selama ini cenderung terkonsentrasi di kota-kota tertentu seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Surabaya, sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia, memiliki kapasitas dan ekosistemnya sendiri untuk menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut.<\/p>\n<p>Nirwan sendiri selama ini juga dikenal sebagai sastrawan, budayawan, kritikus kebudayaan, menghabiskan masa kanak-kanak serta remajanya di Banyuwangi dan Jember. Setelah menyelesaikan pendidikan Geologi di ITB, ia kemudian pindah ke Jakarta, dan kini tinggal di Yogyakarta serta berkarier di lingkungan sastra, kebudayaan, dan seni.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2754\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/FRZ00556.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/FRZ00556.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/FRZ00556-768x512.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Definisi Seni Kontemporer<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Sebagai kurator, Nirwan menyebut ARTSUBS merupakan pameran seni rupa kontemporer yang sekaligus membuka kesempatan untuk mendefinisikan kembali apa yang dimaksud dengan seni kontemporer. Pengertian seni kontemporer tidak lagi dapat dibatasi pada seni lukis dan seni patung. Perkembangannya telah merambah seni instalasi, seni performans, penggunaan berbagai material seperti benang, kayu, batu, logam, hingga teknologi dan berbagai pendekatan lintas disiplin. Karena itu, redefinisi terhadap kata kontemporer menjadi salah satu diskursus penting dalam perkembangan seni rupa hari ini.<\/p>\n<p>Dengan cakupan yang semakin luas tersebut, seni rupa kontemporer dapat diarahkan untuk merekam, mencerminkan, sekaligus menafsirkan kehidupan yang dekat dengan masyarakat. Seni tidak harus berbicara mengenai sesuatu yang jauh dan abstrak. Ia dapat berangkat dari persoalan sehari-hari, perubahan sosial, lingkungan, teknologi, identitas, ingatan, hingga berbagai peristiwa yang berlangsung di tengah kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Dalam posisi tersebut, ARTSUBS mencoba menjadi semacam moderator antara perupa dan masyarakat. Peran itu dijalankan melalui penyajian seni rupa kontemporer dalam sebuah pameran yang ditata secara sadar. <em><i>Display<\/i><\/em>, tata ruang, hubungan antarkarya, serta cara penonton bergerak di dalam ruang pamer menjadi bagian dari cara berkomunikasi. Dengan demikian, karya tidak hadir sendirian, tetapi ditempatkan dalam suatu konteks yang membantu publik berinteraksi dengan gagasan yang terkandung di dalamnya.<\/p>\n<p>Karya-karya yang dipilih pun tidak semata-mata didasarkan pada aspek visual, tetapi juga pada kompleksitas pemaknaannya. Di dalamnya dapat terdapat proses kolaborasi, pencarian metodologi, eksperimen material, kebaruan pendekatan, maupun cara-cara baru dalam membaca kehidupan. Hal tersebut sejalan dengan gagasan tentang seni kontemporer yang terus berkembang dan tidak lagi terkungkung oleh batas-batas medium maupun disiplin seni yang konvensional.<\/p>\n<p>Di balik seluruh perkembangan tersebut tetap terdapat sosok penting yang menjadi sumber lahirnya karya: seniman. Seperti ditegaskan Nirwan Dewanto, \u201cProfesi seniman adalah profesi yang berjuang untuk hidupnya sendiri.\u201d Karena itu, pameran bukan hanya berbicara tentang karya, tetapi juga tentang keberadaan seniman dan bagaimana ekosistem seni memberi ruang bagi mereka untuk terus bekerja, bereksperimen, dan berkembang.<\/p>\n<p>Dalam konteks itu pula, <em><i>open call <\/i><\/em>menjadi penting. Ia dapat menjadi pintu masuk bagi seniman-seniman baru yang mungkin selama ini belum mendapatkan kesempatan tampil dalam ruang pamer besar. Kehadiran mereka memperluas perspektif mengenai kehidupan yang dibawa ke dalam pameran, sekaligus membuat ekosistem seni rupa tidak berhenti pada nama-nama yang sudah dikenal.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, ARTSUBS tidak sedang bercerita tentang Surabaya hanya sebagai kata keterangan tempat. Surabaya justru dipahami sebagai sebuah peristiwa dan ekosistem yang terus tumbuh. Ia dapat dianalogikan sebagai sebidang tanah yang menjadi subur karena mendapatkan air, pupuk, perawatan, dan berbagai unsur kehidupan. Ketika benih-benih ditanam di dalamnya, berbagai tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang.<\/p>\n<p>Demikian pula Surabaya. Ia tidak berdiri sendiri. Banyak orang dari berbagai daerah datang, tinggal, bekerja, belajar, berkarya, dan kemudian tumbuh di kota ini. Berbagai pengalaman dan inspirasi dari luar Surabaya bertemu dengan pengalaman lokal, lalu diterjemahkan kembali melalui pemaknaan masing-masing individu. Dari proses pertemuan, pertukaran, dan pengolahan itulah lahir gagasan-gagasan baru yang kemudian diwujudkan menjadi karya.<\/p>\n<p>ARTSUBS pada akhirnya menjadi ruang tempat akumulasi tersebut dipertemukan. Ia bukan sekadar panggung untuk memamerkan karya, tetapi ruang untuk memperlihatkan bagaimana berbagai gagasan, pengalaman, manusia, medium, dan peristiwa saling berjumpa. Surabaya bukan hanya tempat berlangsungnya ARTSUBS; Surabaya adalah salah satu energi yang membuat peristiwa itu mungkin tumbuh. Dan karena energi itu datang dari banyak arah, ARTSUBS pun tidak berhenti sebagai peristiwa milik satu kota, melainkan menjadi bagian dari percakapan seni rupa kontemporer Indonesia. (<strong><em><b><i>put<\/i><\/b><\/em><\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA: Diskursus seni rupa hingga sekarang terus berkembang, dan pameran seni rupa tidak lagi semata-mata menjadi ruang untuk memajang karya, melainkan juga menjadi wadah yang mampu mempertemukan karya, seniman, dan publik dalam jumlah yang besar. Pengalaman ARTSUBS memperlihatkan hal tersebut. ARTSUBS 2024, misalnya, mampu menarik kurang lebih 35.000 pengunjung. Angka ini menunjukkan bahwa seni rupa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2753,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,484,502],"tags":[],"class_list":["post-2752","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-1","category-seni-rupa","category-terbaru"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2752"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2752\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2757,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2752\/revisions\/2757"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}