{"id":2780,"date":"2026-09-18T03:27:22","date_gmt":"2026-09-18T03:27:22","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2780"},"modified":"2026-09-18T07:59:13","modified_gmt":"2026-09-18T07:59:13","slug":"asmudjo-j-irianto-perjalanan-artsubs-dari-tahun-ke-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2780","title":{"rendered":"Asmudjo J. Irianto: Perjalanan ARTSUBS dari Tahun ke Tahun"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA: Asmudjo J. Irianto, kurator Artsubs menyatakan: Perbedaan antara ARTSUBS 1, ARTSUBS 2, dan ARTSUBS 3 tentu tidak cukup dilihat hanya dari judul atau tema yang diusung\u2014<em>Ways of Dream, Material Ways<\/em>, dan pada penyelenggaraan ketiga <em>Border, Thresholds and Beyond<\/em>. Di balik perubahan tema tersebut terdapat tujuan dan fokus yang berbeda pada setiap penyelenggaraan. Masing-masing edisi merupakan tahapan dalam upaya ARTSUBS membangun peristiwa dan ekosistem seni rupa kontemporer yang semakin luas.<\/p>\n<p>Hal ini disampaikan dalam acara Jumpa Pers di Hotel Kookon Surabaya,\u00a0 Kamis siang (17\/9). Hadir dalam acara itu kurator yang lain, yaitu Nirwan Dewanto, serta direktur ArtSubs, Rambat.<\/p>\n<p>Sebelumnya,\u00a0Nur Izzat dari Kempalan.com menanyakan:\u00a0\u201cApa sebenarnya yang membedakan ARTSUBS 1, ARTSUBS 2, dan ARTSUBS 3? Setelah tiga kali penyelenggaraan, perubahan atau perkembangan apa yang ingin dicapai ARTSUBS, baik dari sisi artistik, publik, maupun ekosistem seni di Surabaya?\u201d<\/p>\n<p>Ditambahkan, pertanyaan tersebut sekaligus membuka persoalan yang lebih luas mengenai posisi seni dalam perkembangan Kota Surabaya. Sebagai kota yang memiliki basis industri dan aktivitas ekonomi yang kuat, Surabaya selama ini masih menghadapi tantangan dalam menumbuhkan atmosfer seni yang sebanding dengan dinamika ekonominya. Karena itu, keberadaan ARTSUBS dapat menjadi salah satu momentum untuk memperkuat kehidupan seni di kota ini.<\/p>\n<p>Dalam konteks tersebut, media juga dapat mengambil bagian, bukan hanya dengan memberitakan kegiatan seni, tetapi turut membantu membangun perhatian publik dan memperluas dampaknya terhadap kehidupan ekonomi kota. Jika ekosistem seni berkembang, manfaatnya tidak berhenti pada seniman dan penyelenggara pameran, tetapi dapat bersinggungan dengan sektor lain seperti pariwisata, perhotelan, kuliner, transportasi, pendidikan, industri kreatif, hingga berbagai profesi pendukung seni.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2782\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/14.jpg\" alt=\"\" width=\"533\" height=\"800\" \/><\/p>\n<p>Karena itu, diperlukan sinergi antara pelaku seni, media, dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah daerah. Dengan dukungan lintas sektor tersebut, Surabaya diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi juga semakin mampu membangun atmosfer seni yang hidup. Kota ini bukan hanya bekerja dan berproduksi, tetapi juga memiliki ruang untuk mengalami, merayakan, dan mengembangkan seni. Dengan kata lain, Surabaya tidak hanya harus kuat secara ekonomi, tetapi juga perlu ikut \u201cbernyanyi\u201d melalui seni dan kebudayaan.<\/p>\n<p>Dijawab oleh Asmujo, bahwa ARTSUBS pertama, melalui tema <em>Ways of Dream<\/em>, lebih diarahkan pada upaya memetakan seni rupa kontemporer Indonesia. Pada tahap awal tersebut, ARTSUBS berusaha memperlihatkan keragaman praktik dan kecenderungan seni rupa kontemporer yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Keterlibatan kolektif seni sudah mulai dibangun, meskipun jumlahnya masih relatif terbatas. Edisi pertama dengan demikian menjadi semacam fondasi untuk mengenali medan dan memperlihatkan luasnya lanskap seni rupa kontemporer Indonesia.<\/p>\n<p>Pada ARTSUBS kedua, melalui tema <em>Material Ways<\/em>, perhatian bergeser pada eksplorasi bahan dan medium sebagai bahasa visual. Material tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat untuk menghasilkan sebuah karya, tetapi menjadi bagian penting dari gagasan artistik itu sendiri. Bagaimana seniman memilih, memperlakukan, mengolah, dan mempertemukan berbagai material menjadi bagian dari cara karya berbicara kepada publik.<\/p>\n<p>Sementara itu, ARTSUBS ketiga melalui tema <em>Border, Thresholds and Beyond<\/em> bergerak lebih jauh, yakni mengeksplorasi batas-batas ekspresi, materialitas, serta kemungkinan menjembatani tradisi lokal dengan konteks global. Tema ini membuka ruang bagi seniman untuk mempertanyakan batas-batas praktik artistiknya sekaligus mencari kemungkinan baru melalui perjumpaan dengan bidang, tradisi, teknologi, maupun pihak lain di luar praktik seni yang selama ini dianggap konvensional.<\/p>\n<p>Perkembangan tersebut juga terlihat dari semakin luasnya keterlibatan kolektif. Jika pada ARTSUBS pertama keterlibatan kolektif masih relatif terbatas, pada penyelenggaraan ketiga jumlah dan ragam kolektif yang diajak berkolaborasi semakin banyak. Hal ini menunjukkan bahwa ARTSUBS tidak hanya berupaya menampilkan karya individual, tetapi juga membangun jaringan dan mempertemukan berbagai praktik seni yang tumbuh dari komunitas.<\/p>\n<p>Dalam membangun ekosistem tersebut, ARTSUBS juga melihat pentingnya karakter publik dan pasar di Surabaya. Pendekatan yang digunakan bersifat proaktif untuk menjangkau segmen pasar tertentu, termasuk kalangan kolektor dan masyarakat dengan daya beli tinggi yang berdomisili di Surabaya. Hal ini memberikan karakter tersendiri bagi ARTSUBS. Ada perbedaan dengan Yogyakarta, misalnya, yang memiliki ekosistem seni dengan karakter berbeda, di mana sebagian kolektor datang dari luar kota sebagai bagian dari perjalanan mereka mengunjungi pusat-pusat seni.<\/p>\n<p>Surabaya memiliki potensi yang berbeda karena terdapat masyarakat dan kolektor yang memang tinggal dan beraktivitas di kota ini. Potensi tersebut perlu didekati secara aktif agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem seni yang berkembang di Surabaya.<\/p>\n<p>Namun, membangun ekosistem seni tentu tidak dapat dilakukan oleh penyelenggara pameran seorang diri. Karena itu, ARTSUBS berupaya membuka ruang kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Seniman, kolektif, galeri, kolektor, institusi pendidikan, pemerintah, dunia usaha, media, komunitas, dan publik memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem tersebut.<\/p>\n<p>Dengan demikian, perjalanan ARTSUBS dari edisi pertama hingga ketiga bukan sekadar pergantian tema. Ada perkembangan gagasan dari pemetaan, menuju eksplorasi material dan medium, kemudian bergerak pada perluasan batas ekspresi dan kolaborasi. Bersamaan dengan itu, jaringan yang dibangun juga semakin luas. Tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan pameran yang semakin besar, tetapi menciptakan ekosistem seni rupa yang semakin hidup, terbuka, dan berkelanjutan di Surabaya serta memiliki hubungan yang lebih luas dengan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. (<em>put<\/em>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA: Asmudjo J. Irianto, kurator Artsubs menyatakan: Perbedaan antara ARTSUBS 1, ARTSUBS 2, dan ARTSUBS 3 tentu tidak cukup dilihat hanya dari judul atau tema yang diusung\u2014Ways of Dream, Material Ways, dan pada penyelenggaraan ketiga Border, Thresholds and Beyond. Di balik perubahan tema tersebut terdapat tujuan dan fokus yang berbeda pada setiap penyelenggaraan. Masing-masing edisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2781,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15,484,502],"tags":[686,684,467,685,469],"class_list":["post-2780","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-reportase-1","category-seni-rupa","category-terbaru","tag-kempalan","tag-kokoon-hotel","tag-nirwan-dewanto","tag-nur-izzat","tag-rambat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2780"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2780\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2783,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2780\/revisions\/2783"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}