{"id":2827,"date":"2026-10-04T20:51:11","date_gmt":"2026-10-04T20:51:11","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2827"},"modified":"2026-10-04T20:51:11","modified_gmt":"2026-10-04T20:51:11","slug":"nirwan-dewanto-seni-rupa-kontemporer-adalah-medan-omnivora-yang-melampaui-batas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2827","title":{"rendered":"Nirwan Dewanto: Seni Rupa Kontemporer adalah Medan Omnivora yang Melampaui Batas"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA \u2013 Seni rupa kontemporer merupakan medan yang bersifat omnivora atau pemakan segala. Ia mampu menyerap berbagai disiplin, medium, dan praktik kreatif, mulai dari fotografi, fashion, desain, arsitektur, hingga botani. Batas-batas konvensional yang selama ini memisahkan seni rupa dengan bidang lain semakin terbuka, seiring berkembangnya cara pandang dan pembacaan terhadap karya.<\/p>\n<p>Pandangan tersebut disampaikan Nirwan Dewanto dalam diskusi publik bertajuk \u201cPerspektif Fotografi sebagai Karya Seni\u201d yang digelar di sela penyelenggaraan Artsubs, Minggu (4\/10), di selasar lantai 2 Balai Budaya Surabaya. Diskusi yang menghadirkan fotografer Bea Wiharta dan Mamuk Ismuntoro dengan moderator Asmudjo J. Irianto tersebut merupakan kolaborasi Minggu Motret, Matanesia, dan Artsubs.<\/p>\n<p>Menurut Nirwan, keterbukaan terhadap berbagai disiplin bukan sekadar persoalan memasukkan medium atau profesi baru ke dalam pameran. Lebih dari itu, hal tersebut menyangkut bagaimana sebuah praktik kreatif dapat dibaca, dimaknai, dan ditempatkan dalam konteks seni.<\/p>\n<p>Sifat omnivora seni rupa kontemporer, menurutnya, memungkinkan berbagai hal yang sebelumnya berada di luar kategori seni rupa untuk masuk ke dalamnya. Fotografi, misalnya, dapat hadir sebagai karya seni meskipun memiliki karakter dokumenter. Demikian pula fashion, arsitektur, desain panggung, bahkan botani.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut membawa konsekuensi pada gagasan <em><i>the end of art<\/i><\/em>, yakni semakin kaburnya batas definitif mengenai apa yang dapat atau tidak dapat disebut sebagai seni. Sesuatu tidak semata-mata menjadi seni karena bentuk atau mediumnya, tetapi juga bergantung pada bagaimana sesuatu itu dipandang, dibaca, dan diberi kerangka pemaknaan.<\/p>\n<p>Dalam pengertian ini, seni bukan lagi semata-mata persoalan objek, melainkan juga persoalan wacana dan cara pandang yang membentuk pengakuan terhadapnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2829\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-800x450.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-800x450.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-768x432.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Bukan Fenomena Baru \u00a0<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Nirwan menegaskan, masuknya fotografi ke dalam seni rupa kontemporer sebenarnya bukan fenomena baru. Dalam sejarah perkembangan seni rupa Indonesia, keterlibatan fotografi telah terlihat dalam sejumlah pameran pada awal 1990-an.<\/p>\n<p>Pada 1992, misalnya, Jim Supangkat menggelar <em><i>Jakarta Art and Design Expo<\/i><\/em>, sebuah pameran seni kontemporer dan pascamodernisme yang melibatkan lima fotografer dengan pendekatan berbeda. Sementara itu, dalam Biennale Seni Rupa Jakarta IX yang berlangsung pada 17 Desember 1993 hingga 17 Januari 1994, karya fotografi juga ditampilkan melalui pilihan kuratorial Jim Supangkat.<\/p>\n<p>Menurut Nirwan, persoalan fotografi dalam seni rupa bukan terletak pada apakah medium tersebut dapat disebut sebagai seni atau tidak, melainkan bagaimana karya fotografi dibaca dan ditempatkan dalam suatu wacana.<\/p>\n<p>Fotografi pada dasarnya memiliki sifat dokumenter karena merepresentasikan sesuatu yang pernah hadir di hadapan kamera. Namun, pada saat bersamaan, fotografi juga mengandung kemungkinan fiksional. Sebuah foto memang merekam kenyataan, tetapi konteks yang menyertainya dapat berubah, bahkan hilang.<\/p>\n<p>Foto jurnalistik, misalnya, pada awalnya memiliki hubungan langsung dengan peristiwa yang diberitakan. Ketika dilepaskan dari berita atau konteks asalnya, informasi mengenai peristiwa tersebut bisa tidak lagi diketahui. Dalam keadaan demikian, foto tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai bukti atau rekaman kenyataan, tetapi dapat menghadirkan pengalaman visual dan artistik.<\/p>\n<p>Nirwan mencontohkan pameran foto Sebasti\u00e3o Salgado yang pernah dilihatnya di Surabaya. Foto-foto tersebut dipasang di ruang terbuka dan disajikan melalui instalasi dengan konstruksi <em><i>scaffolding<\/i><\/em>. Penyajian semacam itu membuat fotografi tidak hanya hadir sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai pengalaman emosional.<\/p>\n<p>Sifat dokumenter tidak sepenuhnya hilang, melainkan berkelindan dengan pengalaman artistik atau deep emotion. Sebuah foto mungkin tidak lagi memberikan informasi lengkap mengenai asal-usul peristiwa yang direkam, tetapi tetap mampu menghadirkan pengalaman emosional yang kuat kepada penonton.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2830\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/13-800x450.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/13-800x450.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/13-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/13-768x432.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/13-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/13.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Konteks Pembacaan \u00a0<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Untuk menjelaskan bagaimana fotografi dapat melampaui fungsi dokumentasinya, Nirwan menyinggung sejumlah praktik seniman yang menggunakan fotografi sebagai bagian dari pernyataan artistik.<\/p>\n<p>Salah satunya adalah karya Marina Kayama yang pernah dilihatnya dalam <em><i>Venice Biennale 2019<\/i><\/em>. Melalui karya tersebut, kondisi tubuh seniman yang tidak memiliki tangan dihadirkan sebagai bagian dari pernyataan artistik. Fotografi dalam konteks ini tidak hanya menjadi dokumentasi kondisi fisik seseorang, tetapi juga berkembang menjadi wacana tentang tubuh, identitas, serta cara manusia memandang kesempurnaan dan ketidaksempurnaan.<\/p>\n<p>Ia juga membandingkannya dengan praktik Cindy Sherman yang menggunakan manipulasi ruang, identitas, dan situasi untuk membangun citra. Kedua pendekatan tersebut menunjukkan bahwa fotografi dapat bergerak melampaui fungsi dokumentasinya.<\/p>\n<p>Contoh lain terlihat dalam perkembangan fotografi Jepang. Sebuah foto yang menampilkan wajah seekor anjing, misalnya, tidak hanya menghadirkan objek yang direkam, tetapi juga ekspresi dan realisme yang kuat. Bahkan, dalam konteks tertentu, foto dapat memiliki kualitas <em><i>painterly <\/i><\/em>atau menyerupai pengalaman visual dalam seni lukis.<\/p>\n<p>Hal serupa terjadi ketika foto-foto yang merekam laut, hujan, atau kilatan petir dipresentasikan di antara lukisan abstrak. Objek yang difoto tidak lagi menjadi perhatian utama. Penonton justru diajak mengalami komposisi, bentuk, dan kualitas visual yang membuat batas antara fotografi dokumenter dan lukisan abstrak menjadi kabur.<\/p>\n<p>Dalam konteks tersebut, Nirwan mengemukakan gagasan the <em><i>author is dead<\/i><\/em>. Pengarang atau pencipta tidak lagi menjadi satu-satunya pusat penentu makna. Cara penonton melihat dan membaca karya juga memiliki peran penting. Sementara itu, kurator berperan sebagai juru baca yang merumuskan kemungkinan-kemungkinan pemaknaan terhadap suatu karya.<\/p>\n<p>Dengan demikian, perubahan status fotografi menjadi karya seni tidak semata-mata ditentukan oleh niat fotografer. Sebuah objek dapat memperoleh posisi dan makna baru ketika ditempatkan dalam konteks pameran serta wacana seni kontemporer.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2831\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-800x450.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-800x450.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-768x432.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Artsubs Membuka Ruang \u00a0<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Pandangan mengenai seni rupa yang omnivora tersebut juga menjadi dasar pemikiran Nirwan terhadap program Artsubs. Menurutnya, pameran seni rupa kontemporer perlu membuka ruang bagi praktisi dari berbagai disiplin.<\/p>\n<p>Setelah melibatkan ilustrator pada tahun sebelumnya, terdapat gagasan untuk mengajak desainer fashion dan desainer panggung. Desain panggung, menurutnya, memiliki banyak kemungkinan artistik yang dapat dihadirkan dalam pameran seni rupa.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan Robert Wilson, tokoh teater yang karya dan rancangan panggungnya juga dipresentasikan dalam konteks seni rupa. Hal itu menunjukkan bahwa praktik kreatif tidak harus terkurung dalam batas profesi atau disiplin asalnya.<\/p>\n<p>Kehadiran arsitek dalam Artsubs juga merupakan bagian dari upaya memperluas kemungkinan tersebut. Arsitektur yang selama ini memiliki wilayah praktik dan presentasi sendiri dapat dibaca sebagai bagian dari seni rupa kontemporer melalui pendekatan tertentu.<\/p>\n<p>Nirwan yang juga terlibat sebagai kurator Artsubs melihat Surabaya sebagai kota dengan potensi kebudayaan besar dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Karakter omnivora tersebut dapat menjadi landasan bagi perkembangan seni rupa kontemporer di kota ini.<\/p>\n<p>Namun, menghadirkan praktisi dari disiplin lain bukan perkara mudah. Mereka memiliki kesibukan, kepentingan, serta tanggung jawab profesional masing-masing. Di sisi lain, penyelenggara juga menghadapi keterbatasan produksi dan pembiayaan.<\/p>\n<p>Karena itu, diperlukan pendekatan dan persuasi agar para praktisi bersedia terlibat. Bagi Nirwan, yang terpenting bukan sekadar membicarakan perluasan wilayah seni rupa secara konseptual, melainkan mewujudkannya dalam praktik.<\/p>\n<p>Keterbukaan seni rupa kontemporer pada akhirnya bukan hanya persoalan memperluas daftar peserta pameran. Lebih jauh, hal itu merupakan upaya membangun pertemuan antardisiplin, membuka cara pandang baru, dan menghadirkan kemungkinan pemaknaan yang lebih luas terhadap praktik seni. (<strong><em><b><i>put<\/i><\/b><\/em><\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA \u2013 Seni rupa kontemporer merupakan medan yang bersifat omnivora atau pemakan segala. Ia mampu menyerap berbagai disiplin, medium, dan praktik kreatif, mulai dari fotografi, fashion, desain, arsitektur, hingga botani. Batas-batas konvensional yang selama ini memisahkan seni rupa dengan bidang lain semakin terbuka, seiring berkembangnya cara pandang dan pembacaan terhadap karya. Pandangan tersebut disampaikan Nirwan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2828,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,484,502],"tags":[468,700,701,702],"class_list":["post-2827","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-1","category-seni-rupa","category-terbaru","tag-asmujo-jono-irianto","tag-bea-wiharta","tag-mamuk-ismuntoro","tag-sebastiao-salgado"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2827","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2827"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2827\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2832,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2827\/revisions\/2832"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2828"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2827"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2827"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2827"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}