{"id":2835,"date":"2026-10-07T03:04:34","date_gmt":"2026-10-07T03:04:34","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2835"},"modified":"2026-10-07T03:04:34","modified_gmt":"2026-10-07T03:04:34","slug":"mono-serigrafi-ketika-sablon-menjadi-medium-ekspresi-seni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2835","title":{"rendered":"Mono Serigrafi: Ketika Sablon Menjadi Medium Ekspresi Seni"},"content":{"rendered":"<p>NAMA resminya terdengar cukup rumit: <em><i>Workshop Mono Serigrafi<\/i><\/em>. Padahal, secara sederhana, peserta diajak melakukan praktik sablon. Namun, di balik nama tersebut terdapat gagasan yang lebih menarik: bagaimana teknik yang selama ini identik dengan produksi massal dapat digunakan sebagai medium ekspresi seni\u00a0untuk menghasilkan karya yang unik.<\/p>\n<p>Itulah yang dilakukan Wahyu Amikarsa bersama timnya dalam salah satu program publik Artsubs pada 2\u20133 Oktober 2026 di Balai Pemuda Surabaya. Berlangsung di bawah tenda sederhana, di depan pintu Aula Barat Balai Pemuda, lokakarya ini mempertemukan teknik sablon dengan pengalaman langsung peserta dalam menciptakan karya.<\/p>\n<p>Dalam satu hari, lokakarya berlangsung dalam dua sesi, masing-masing pukul 13.00\u201315.00 dan 15.30\u201317.30, dengan jumlah peserta dibatasi 10 orang setiap sesi.<\/p>\n<p>Peserta tidak sekadar belajar bagaimana mencetak gambar menggunakan <em><i>screen<\/i><\/em>, rakel, dan tinta. Mereka diajak melihat bahwa hasil cetak tidak harus selalu berupa salinan yang identik. Perbedaan warna, tekstur, sapuan tinta, komposisi, hingga hasil yang tidak terduga justru dapat menjadi bagian dari proses artistik.<\/p>\n<p>Inilah gagasan di balik istilah <em><i>Mono Serigrafi<\/i><\/em>. Teknik serigrafi atau sablon digunakan untuk menghasilkan cetakan yang bersifat tunggal atau memiliki karakter berbeda satu sama lain. Dengan demikian, sablon tidak lagi dipahami semata-mata sebagai teknik reproduksi, tetapi sebagai cara menciptakan karya seni yang eksperimental.<\/p>\n<p>Diksi induknya Monoprint, lengkapnya Monoprint Serigraphy, lantas disederhanalan menjadi Mono Serigraphy atau Mono Serigrafi.<\/p>\n<p>Lantas apa bedanya dengan teknik <em><i>print <\/i><\/em>biasanya? Dijelaskan oleh Wahyu, kalau di Seni Grafis secara umum, penguasaan kemampuan mencetak cenderung ditunjukkan oleh kepresisian dan keidentikan hasil cetakan dalam jumlah banyak. Kemudian ditandai oleh kode edisi, contoh : \u201c1\/10\u201d, \u201c2\/10\u201d, atau \u201c1\/100\u201d dsb.<\/p>\n<p>Namun pada konteks Monoprint (yang pada Artsubs diterjemahkan sekaligus singkat Monoprint Serigraphy menjadi Mono Serigrafi), biasanya ada dua jenis tendensi untuk melakukannya.<\/p>\n<p>Yang pertama merujuk pada percobaan-percobaan awal seniman grafis sebelum mulai proses panjang mencetak karya edisi. Kemudian ditandai dengan kode \u201cAP\u201d (<em><i>Artist Proofing<\/i><\/em>).<\/p>\n<p>Yang kedua, adalah dalam rangka bermain-main mencari nilai estetika baru tanpa mengacu pada pembuatan edisi atau kaidah Seni Grafis secara konvensional. Inilah yang dijadikan materi untuk lokakarya di Artsubs, dengan tujuan peserta bisa mendapatkan karakter estetika yang tetap personal dibandingkan dengan peserta yang lain meskipun mencetak gambar yang sama.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2837\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1-1-800x653.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"653\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1-1-800x653.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1-1-1024x835.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1-1-768x626.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1-1.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Lintasan Sejarah Seni Grafis<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Sebelum peserta memegang <em><i>screen <\/i><\/em>dan rakel, Wahyu terlebih dahulu memberikan pengantar singkat mengenai sejarah seni grafis. Ia menjelaskan bagaimana teknik cetak berkembang dari berbagai metode dasar, mulai dari cetak timbul (<em><i>relief print<\/i><\/em>), cetak dalam (intaglio), hingga perkembangan teknik cetak yang semakin maju dan kemudian melahirkan teknologi seperti offset.<\/p>\n<p>Pengantar tersebut menjadi cara Wahyu menempatkan sablon dalam perjalanan panjang seni grafis. Setiap teknik memiliki karakter, proses, serta kemungkinan visual yang berbeda. Ada teknik yang mengandalkan permukaan yang menonjol, ada pula yang memanfaatkan bagian permukaan yang tergores atau cekung untuk menampung tinta.<\/p>\n<p>Dari perkembangan berbagai teknik itulah seni grafis kemudian terus mengalami perubahan, baik dalam proses pencetakan maupun dalam penggunaan material dan peralatannya. Sablon atau serigrafi menjadi salah satu teknik yang memiliki karakter berbeda karena tinta dipindahkan melalui <em><i>screen <\/i><\/em>dengan bagian tertentu yang terbuka sebagai jalur cetak.<\/p>\n<p>Penjelasan sejarah tersebut penting karena Wahyu tidak ingin peserta melihat sablon semata-mata sebagai teknik mencetak gambar pada kaus atau kain. Sablon merupakan bagian dari perjalanan panjang praktik seni grafis, sekaligus memiliki kemungkinan artistik yang dapat dikembangkan secara mandiri.<\/p>\n<p>Setelah memberikan pengantar tersebut, Wahyu kemudian mengajak peserta masuk ke pengalaman praktik. <em><i>Screen<\/i><\/em>, rakel, tinta, dan permukaan cetak menjadi perangkat utama untuk mengeksplorasi kemungkinan tersebut.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2838\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WAHYU-800x600.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"600\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WAHYU-800x600.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WAHYU-768x576.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WAHYU.jpg 960w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Bukan Sekadar Teknik Reproduksi<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Dalam Workshop Mono Serigrafi itulah \u00a0sablon diperkenalkan bukan semata-mata sebagai teknik reproduksi, tetapi sebagai kemungkinan artistik. Bahwa proses mencetak bukan pekerjaan mekanis. Tekanan rakel, jumlah tinta, pilihan warna, hingga pertemuan antarlapisan ikut menentukan hasil akhir. Sablon pun menjadi bagian dari cara menerjemahkan gagasan ke dalam karya. Sablon bukan sekadar teknik mencetak gambar, tapi screen, rakel, tinta, dan kain telah menjadi bagian dari perjalanan artistik.<\/p>\n<p>Pandangan tersebut pula yang mendasari Mono Serigrafi. Istilah \u201cmono\u201d merujuk pada gagasan tentang cetakan tunggal atau hasil yang tidak harus identik. Teknik serigrafi digunakan bukan untuk mengejar sebanyak mungkin salinan, tetapi untuk membuka kemungkinan visual dari setiap proses pencetakan. Di sinilah sablon bergerak dari wilayah reproduksi menuju ekspresi.<\/p>\n<p>Bagi Wahyu Amikarsa, <em><i>screen<\/i><\/em>, rakel, dan tinta bukan sekadar perangkat produksi. Ketiganya menjadi ruang kerja tempat gagasan diuji melalui tangan, material, dan proses. Karena itu, nilai sablon tidak hanya terletak pada gambar yang akhirnya muncul di permukaan. Ada pengalaman, keputusan, percobaan, bahkan ketidakterdugaan yang ikut membentuk karya.<\/p>\n<p>Dalam posisi tersebut, sablon menjadi lebih dari sebuah teknik. Ia menjadi bahasa artistik yang memungkinkan Wahyu bereksperimen, berkomunikasi, sekaligus mempertahankan hubungan personalnya dengan seni grafis.<\/p>\n<p>Selama ini sablon memang lekat dengan dunia produksi. Teknik tersebut banyak digunakan untuk mencetak gambar pada kaus, poster, kain, kemasan, dan berbagai produk lain secara berulang. Namun, Wahyu melihat kemungkinan yang berbeda. Sablon tidak harus selalu tunduk pada logika keseragaman.<\/p>\n<p>Dalam praktik seni, pengulangan justru dapat menghasilkan variasi. Cetakan yang kedua tidak harus identik dengan yang pertama. Warna bisa berubah, tinta dapat menghasilkan ketebalan berbeda, dan jejak proses dapat muncul secara tidak terduga. Dengan cara itu, setiap cetakan memperoleh kemungkinan untuk memiliki karakter sendiri.<\/p>\n<p>Di sinilah gagasan Mono Serigrafi menemukan relevansinya. Kata \u201cmono\u201d mengacu pada hasil cetak yang tunggal atau tidak harus menghasilkan salinan identik. Teknik serigrafi digunakan bukan semata untuk memperbanyak gambar, melainkan untuk mengeksplorasi kemungkinan dari setiap proses pencetakan. Dengan pendekatan tersebut, satu cetakan tidak harus menjadi tiruan dari cetakan berikutnya. Perbedaan justru dapat menjadi nilai artistik.<\/p>\n<p>Bagi Wahyu, sablon karena itu memiliki kehidupan yang lebih luas daripada sekadar industri atau produk komersial. <em><i>Screen<\/i><\/em>, rakel, dan tinta menjadi perangkat untuk menguji gagasan melalui tangan, material, dan proses. Sablon akhirnya bukan hanya cara mencetak gambar, tetapi bahasa artistik untuk bereksperimen, berdialog, dan mengekspresikan gagasan.<\/p>\n<p>Bagi Wahyu, mengajar bukan hanya mentransfer keterampilan. Pertemuan dengan orang lain justru membuatnya dapat menguji kembali gagasan dan proses kreatif. Ia beberapa kali menjadi dosen tamu, antara lain di Universitas Ciputra, untuk memperkenalkan teknik sablon kepada mahasiswa, terutama yang menekuni bidang fashion.<\/p>\n<p>\u201cKalau dilakukan sendiri terus, lama-lama bisa bias. Seperti monolog. Kalau dialog, prosesnya jauh lebih dinamis,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2839\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/7-800x762.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"762\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/7-800x762.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/7-1024x976.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/7-768x732.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/7.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Sablon Menjadi Bahasa Ekspresi<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Wahyu mengaku sudah sulit lepas dari sablon. \u00a0Padahal dia sebenarnya juga mempelajari cukil kayu, litografi, dan intaglio. Namun, sablon tetap menjadi medium yang paling dekat dengan praktik personalnya. Bisa saja dia melukis akrilik di kanvas, tapi jiwanya tidak di situ. \u00a0Dia lebih merasa dekat dengan \u00a0<em><i>screen.<\/i><\/em><\/p>\n<p>Kedekatan itu bermula ketika ia menempuh pendidikan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2008. Memilih Seni Grafis, ia kemudian mendalami sablon sebagai spesialisasi. Sejak itu, ia tidak hanya mempelajari cara menghasilkan cetakan, tetapi juga mengeksplorasi kemungkinan visual yang muncul dari warna, lapisan, tekstur, tinta, dan karakter material.<\/p>\n<p>Lulus dari ITB tahun 2013, dia lantas kembali ke kota asalnya, Surabaya, tahun 2015. Ternyata, dia menemukan ekosistem seni grafis yang berbeda. Pengetahuan mengenai jenis tinta, <em><i>screen<\/i><\/em>, perangkat teknis, hingga komunitas untuk bertukar pengalaman belum mudah ditemukan.<\/p>\n<p>Di tengah kondisi tersebut, Wahyu bersama istrinya mendirikan Studio Subtura pada 2015 yang bergerak di bidang arsitektur, interior, dan branding. Kesibukan profesional kemudian berkembang dan membuat aktivitas berkesenian harus berjalan berdampingan dengan pekerjaan.<\/p>\n<p>Sablon pun sempat dicoba sebagai bisnis. Peluang pasar sebenarnya tersedia karena komunitas dan <em><i>brand <\/i><\/em>lokal membutuhkan jasa sablon manual. Namun, kesulitan menemukan tenaga terampil membuat usaha tersebut tidak berlanjut. Sangat berbeda dengan tenaga konstruksi.<\/p>\n<p>Namun berhenti menjadikan sablon sebagai bisnis tidak berarti Wahyu meninggalkannya. Sebaliknya, medium tersebut kembali ke wilayah yang lebih personal sebagai bagian dari praktik seni. (<strong><b>puteri elysia<\/b><\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NAMA resminya terdengar cukup rumit: Workshop Mono Serigrafi. Padahal, secara sederhana, peserta diajak melakukan praktik sablon. Namun, di balik nama tersebut terdapat gagasan yang lebih menarik: bagaimana teknik yang selama ini identik dengan produksi massal dapat digunakan sebagai medium ekspresi seni\u00a0untuk menghasilkan karya yang unik. Itulah yang dilakukan Wahyu Amikarsa bersama timnya dalam salah satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2836,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15,484,502],"tags":[695,704,703],"class_list":["post-2835","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-reportase-1","category-seni-rupa","category-terbaru","tag-arsitektur-its","tag-itb-bandung","tag-wahyu-amikarsa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2835","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2835"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2835\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2840,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2835\/revisions\/2840"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2836"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2835"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2835"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2835"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}