{"id":2871,"date":"2026-10-20T09:43:11","date_gmt":"2026-10-20T09:43:11","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2871"},"modified":"2026-10-20T09:43:11","modified_gmt":"2026-10-20T09:43:11","slug":"yang-tampak-dan-yang-tersembunyi-dalam-karya-garis-edelweiss","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2871","title":{"rendered":"Yang Tampak dan yang Tersembunyi dalam Karya Garis Edelweiss"},"content":{"rendered":"<p>DARI ratusan karya seni rupa yang dipamerkan di Artsubs, ada satu karya yang mengundang rasa penasaran. Nampak sebuah kotak kemasan yang biasa digunakan untuk mengirim lukisan, dari salah satu sisinya terlihat dua lukisan keluar sebagian. Pengunjung jelas tak bisa menyaksikan lukisan itu secara utuh. Sementara kotaknya yang tegak menyamping itu sendiri dihias garis-garis ornamen. Dua lukisan yang tersembunyi sebagian dan kotaknya itulah yang merupakan karya Garis Edelweis.<\/p>\n<p>Kedua lukisan tersebut menggunakan media grafit pada kanvas berukuran 60x50cm, masing-masing berjudul \u201cJelma\u201d dan \u201cTemu\u201d, sedangkan kotaknya sendiri berjudul \u201cCangkang\u201d juga menggunakan media grafit di atas kanvas dan spidol di atas plywood. Bahkan tutup kotaknya pun, yang juga digambari, sengaja disandarkan ke dinding sebagai bagian tak terpisahkan dari keseluruhan karya.<\/p>\n<p>Lantas, bagaimana bisa tahu ujud persis lukisan itu? \u201cBeli dulu, baru bisa dilihat,\u201d ujar Garis dalam diskusi Wicara Seniman di Balai Budaya, Sabtu (17\/10).<\/p>\n<p>Tentu saja jawaban itu bercanda. Atau, jangan-jangan memang ada konsep tertentu yang dimaksudkannya. Nanti saja dibahas.<\/p>\n<p>Selain Garis, juga hadir dua narasumber lain yaitu Ufa Faizah (Situbondo) dan Dwi Januartanto (Lamongan), yang dipandu oleh moderator Nirwan Dewanto. Diskusi ini adalah program publik sebagai rangkaan dari pameran seni rupa kontemporer yang berlangsung 19 September hingga 8 November.<\/p>\n<p>Lantas, bagaimana kalau pengunjung masih penasaran ingin tahu bentuk lukisannya? Setidaknya, sosok\u00a0utuh\u00a0lukisan itu masih bisa dilihat melalui <em><i>barcode <\/i><\/em>di dinding yang bisa dipindai, beserta dengan biodata singkat pelukisnya.<\/p>\n<p>Dari foto karya Garis ini (karena tidak bisa melihat langsung) nampaknya ada sesuatu yang ganjil sekaligus memikat dalam karya-karyanya. Makhluk hidup, tumbuhan, dan tubuh manusia hadir dalam bentuk yang tak selalu bisa dikenali dengan mudah. Bagian-bagian tubuh seolah bertukar tempat, bentuk organik menjelma menjadi sesuatu yang lain, sementara duri, bulu, sisik, dan tekstur menyerupai kulit membangun dunia visual yang terasa dekat dengan alam, tetapi sekaligus asing.<\/p>\n<p>Dalam salah satu karyanya, seekor kupu-kupu raksasa hinggap di tengkuk seorang perempuan tanpa busana yang meringkuk hingga wajahnya menyentuh lantai. Kedua lengannya ditarik ke belakang. Pada punggungnya tampak seperti belahan akibat sayatan senjata tajam. Tubuh manusia itu seakan tak lagi utuh, melainkan menjadi ruang pertemuan antara luka, transformasi, dan imajinasi. Kupu-kupu, tubuh perempuan, serta bentuk-bentuk organik di sekitarnya melebur menjadi satu figur surealistik yang mengundang rasa ingin tahu sekaligus kegelisahan.<\/p>\n<p>Pemandangan seperti itu bukan sekadar permainan bentuk. Garis mengolah detail dengan ketelitian tinggi, menghadirkan makhluk-makhluk fantastik yang seolah berasal dari dunia lain, tetapi tetap memiliki jejak pengalaman yang akrab dengan kehidupan manusia.<\/p>\n<p>Dalam kata pengantar\u00a0diskusi kali ini, Nirwan Dewanto menyoroti cara Garis menggambar yang tidak biasa. Ia menekankan ketelitian atau <em><i>meticulousness <\/i><\/em>Garis dalam menggarap bentuk, hingga detail terkecil sekalipun. Kekuatan itu tampak pada kemampuannya mengombinasikan bentuk binatang, manusia, dan makhluk yang seolah berada di antara keduanya. Karya-karyanya cenderung monokrom, meskipun sesekali ia menggunakan banyak warna.<\/p>\n<p>Melalui teknik manual maupun digital, Garis membangun wilayah surealisme kontemporer yang khas. Karya-karyanya tidak hanya mengandalkan kecermatan teknis, tetapi juga menyimpan narasi personal dan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam, makhluk hidup lain, serta lingkungan yang terus berubah.<\/p>\n<p>Namun, dari mana datangnya bentuk-bentuk ganjil itu? Apakah semuanya lahir dari khayalan yang sengaja dibangun, atau justru bermula dari peristiwa-peristiwa sederhana yang luput diperhatikan orang lain?<\/p>\n<p>Bagi Garis, imajinasi sering kali berawal dari sesuatu yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mudah tertarik pada objek tertentu, kemudian membiarkan pikirannya bergerak ke berbagai arah. Sebuah benda atau pemandangan biasa bisa menjadi pintu masuk menuju gambaran yang sama sekali berbeda.<\/p>\n<p>Sebuah contoh: Ia pernah melewati ladang jagung yang sudah mengering. Ketika mendekat dan memperhatikan salah satu tongkolnya, ia melihat kulit jagung yang mengelupas. Dari situ, muncul sebuah bayangan yang kemudian terus mengusik pikirannya.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana kalau biji-biji jagung itu adalah janin-janin?\u201d\u00a0batinnya.<\/p>\n<p>Pertanyaan sederhana tersebut berkembang menjadi gagasan sebuah karya. Setibanya di rumah, bayangan tentang janin itu masih melekat di kepalanya. Ia mulai membuat sketsa kasar, mencoba beberapa posisi, lalu mencari referensi visual. Karena tidak mungkin mengamati janin secara langsung, ia mempelajari foto-foto bayi untuk memahami bentuk tubuh dan proporsinya.<\/p>\n<p>Proses berikutnya berlangsung secara manual. Garis membuat sketsa langsung di atas kertas, tanpa olahan digital, sebelum memindahkannya ke kanvas berukuran besar. Hasilnya adalah gambaran jagung raksasa dengan biji-biji yang menjelma bayi.<\/p>\n<p>Pengalaman lain datang ketika ia menyiram tanaman di depan rumah. Saat memperhatikan bunga mawar, ia membayangkan bunga itu tiba-tiba memiliki kaki dan berdiri seperti seorang perempuan. Bagi orang lain, mawar mungkin hanya bunga yang perlu disiram. Bagi Garis, ia bisa menjadi sosok hidup yang sedang menunggu untuk digambar.<\/p>\n<p>Demikian pula ketika dia memandang rumpun bambu yang sedang tertiup angin. Dia bisa tahan puluhan menit memandangnya sambil imajinasinya berkelana ke mana-mana.<\/p>\n<p>Pola semacam itu terus berulang. Ketertarikan pada suatu objek memancing asosiasi, asosiasi berkembang menjadi imajinasi, lalu imajinasi mencari bentuk melalui gambar. Tidak selalu ada cerita yang dirancang sejak awal. Terkadang, justru gambar yang kemudian menemukan ceritanya sendiri.<\/p>\n<div id=\"attachment_2873\" style=\"width: 610px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2873\" class=\"size-full wp-image-2873\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Garis-2-Jelma_grafit-pada-kanvas_60x50cm_2026-Copy.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"720\" \/><p id=\"caption-attachment-2873\" class=\"wp-caption-text\">Untitled Artwork<\/p><\/div>\n<p><strong><b>Terjerumus <\/b><\/strong><strong><b>k<\/b><\/strong><strong><b>e Dunia Seni Lukis<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Garis Edelweiss memiliki nama asli Garis Kabe Muslim. Bakat seni bukan sesuatu yang sepenuhnya asing dalam keluarganya. Ayahnya juga seorang pelukis, yang menekuni seni lukis abstrak. Namun, pada awalnya Garis tidak secara khusus membayangkan dirinya akan menjadi pelukis.<\/p>\n<p>Ia lebih tertarik pada dunia desain. Secara otodidak, ia mengerjakan berbagai pekerjaan visual, mulai dari tata letak atau layout, desain kaus, spanduk, hingga ilustrasi. Dunia desain memberinya pengalaman dalam mengolah bentuk dan membangun komposisi, meskipun jalur tersebut belum tentu membawanya ke praktik seni rupa seperti yang dijalaninya sekarang.<\/p>\n<p>Perubahan mulai terjadi sekitar 2012. Ayahnya mendorong Garis mengikuti sebuah pameran lukisan bersama yang digagas lima orang di Pasuruan, termasuk ayahnya sendiri. Pameran itu menjadi pengalaman pertamanya memasuki ruang pamer sebagai perupa.<\/p>\n<p>Sejak saat itu, Garis merasa dirinya telah \u201cterjerumus\u201d ke dunia seni lukis. Kata yang terdengar ringan itu menyimpan sebuah perjalanan: dari pekerjaan desain yang bersifat praktis menuju praktik artistik yang memberinya keleluasaan untuk mengeksplorasi imajinasi dan pengalaman personal. Meski demikian, ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia desain dan ilustrasi.<\/p>\n<p>Ada ironi kecil pada namanya. Garis, yang dalam bahasa sehari-hari bisa berarti sebuah goresan sederhana, justru menjadi pelukis yang mengandalkan kekuatan garis untuk membangun bentuk-bentuk rumit. Sementara itu, nama Edelweiss berasal dari nama studio desain kecil yang pernah dimilikinya, <em><i>Edelweiss Design<\/i><\/em>, sebelum ia lebih serius menekuni dunia seni gambar.\u00a0Nama tersebut kemudian melekat sebagai identitas artistiknya.<\/p>\n<p>Dunia Garis tidak berhenti pada seni rupa. Ia bergaul dengan seniman teater, musisi, dan sastrawan. Ia suka menonton pertunjukan teater dan memperhatikan gerak tubuh para pemain maupun penari. Gerakan-gerakan tersebut sering memberinya inspirasi untuk membangun komposisi dan figur dalam gambar.<\/p>\n<p>Hubungannya dengan sastra juga berlangsung melalui cara yang serupa. Garis menikmati puisi, meskipun ia merasa tidak mampu mengekspresikan dirinya melalui kata-kata. Sebagai gantinya, ia mencoba menghadirkan pengalaman puitik melalui gambar.<\/p>\n<p>Ia tidak selalu memulai dengan konsep yang rumit. Terkadang, ia cukup menangkap suasana yang ditemuinya, mengolahnya melalui imajinasi, lalu membiarkan gambar itu berbicara.<\/p>\n<p>Gagasan tentang puisi visual tersebut menemukan ruang pertemuannya dengan publik melalui Instagram. Garis mengunggah karya-karyanya, lalu menerima tanggapan dari orang-orang yang melihatnya. Sebagian mengirimkan pesan langsung untuk menceritakan pengalaman atau perasaan yang muncul ketika mengamati gambar-gambar itu. Ada pula yang meresponsnya dengan mengirimkan puisi.<\/p>\n<p>Respons semacam itu melampaui perkiraannya. Gambar yang berangkat dari pengalaman personal ternyata dapat membuka ruang tafsir yang berbeda bagi setiap orang. Pengalaman yang dituangkan Garis ke dalam bentuk visual bisa bertemu dengan pengalaman orang lain, bahkan melahirkan cerita yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.<\/p>\n<p>Di titik itulah karya-karyanya memperoleh kehidupan lain. Ia tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali pembuatnya, melainkan membuka kemungkinan dialog antara gambar dan penontonnya.<\/p>\n<p>Akun instagram miliknya pun berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat memajang karya. Dengan unggahan yang dipenuhi gambar-gambarnya, <em><i>platform <\/i><\/em>itu menjadi semacam portofolio terbuka yang mempertemukan Garis dengan khalayak lebih luas. Jangkauan digital tersebut turut menarik perhatian pelaku seni rupa. Heri Pemad, direktur ArtJog, bahkan secara khusus mencari perupa asal Pasuruan ini untuk menjadi semacam agensi atau perwakilan yang menghubungkannya dengan peluang-peluang profesional.<\/p>\n<p>Secara visual, karya Garis kerap tampil dalam pendekatan monokrom. Penggunaan satu warna dengan variasi tingkat terang dan gelap membuat perhatian penonton tertuju pada bentuk, garis, tekstur, dan detail.\u00a0Duri, sisik, bulu, serta permukaan organik lainnya memperoleh penekanan yang kuat tanpa harus bersaing dengan banyak warna.<\/p>\n<p>Namun, Garis tidak membatasi dirinya pada pendekatan tersebut. Ia juga menghasilkan karya polikrom dengan penggunaan warna yang lebih beragam. Pilihan ini, antara lain, berkaitan dengan pekerjaannya sebagai ilustrator musisi yang menuntut penggunaan warna.<\/p>\n<p>Perpindahan di antara kedua pendekatan itu menunjukkan bahwa praktik artistiknya tidak berdiri terpisah dari pengalaman profesional di bidang desain dan ilustrasi. Keduanya justru saling berhubungan. Ketelitian teknis yang diasah melalui pekerjaan visual bertemu dengan kebebasan imajinasi dalam seni rupa, sementara pengalaman lintas disiplin memperkaya cara Garis membangun narasi melalui gambar.<\/p>\n<p>Dalam praktiknya, ia juga memadukan pengerjaan manual dengan teknologi digital. Teknologi bukan semata-mata jalan pintas untuk menghasilkan gambar, melainkan salah satu perangkat yang dapat memperluas cara karya dibuat, disebarkan, dan dipertemukan dengan publik.<\/p>\n<div id=\"attachment_2874\" style=\"width: 610px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2874\" class=\"size-full wp-image-2874\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Garis-3-Temu_grafit-pada-kanvas_60x50cm_2026-Copy.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"720\" \/><p id=\"caption-attachment-2874\" class=\"wp-caption-text\">Untitled Artwork<\/p><\/div>\n<p><strong><b>Dari Pasuruan ke <\/b><\/strong><strong><b>P<\/b><\/strong><strong><b>anggung <\/b><\/strong><strong><b>I<\/b><\/strong><strong><b>nternasional<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Perjalanan Garis memperlihatkan bagaimana seorang perupa dapat membangun jangkauan melalui kombinasi ketekunan artistik, jejaring, dan pemanfaatan media digital. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai ajang seni rupa di Indonesia maupun mancanegara.<\/p>\n<p>Di dalam negeri, ia tercatat mengikuti ArtSubs pada 2024, dan ArtJakarta Papers pada 2026, selain pameran di Grey Art Gallery Bandung dan Galeri Salihara Jakarta. Di luar Indonesia, karya-karyanya hadir di Haven Gallery, New York; Suburbs Gallery, Montreal; Outr\u00e9 Gallery, Australia; Copro Gallery, California; serta Scalea Bruno Zevi di Roma.<\/p>\n<p>Pengakuan juga datang melalui penghargaan. Pada 2022, Garis menerima AMI Award untuk kategori <em><i>Best Album Design Graphic<\/i><\/em>. Setahun kemudian, ia meraih Juara Pertama <em><i>Beautiful Bizarre Art Prize 2023 <\/i><\/em>dalam kategori <em><i>iCanvas Digital Award<\/i><\/em>.<\/p>\n<p>Selain melalui pameran dan penghargaan, Garis memanfaatkan teknologi <em><i>Non-Fungible Token <\/i><\/em>(NFT), yang berbasis <em><i>blockchain <\/i><\/em>dan dapat digunakan untuk mengaitkan karya digital dengan sertifikat kepemilikan digital. Teknologi ini membuka salah satu jalur bagi karya digital untuk dipasarkan dan menjangkau kolektor lintas negara, meskipun nilai jual dan keberhasilan pemasaran tetap bergantung pada banyak faktor.<\/p>\n<p>Bagi perupa yang berangkat dari Pasuruan ini, batas antara pekerjaan desain, ilustrasi, seni lukis, dan karya digital tidak harus menjadi sekat yang kaku. Semuanya dapat menjadi bagian dari perjalanan artistik yang terus berkembang.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kekuatan Garis Edelweiss bukan hanya terletak pada kemampuannya menggambar dengan sangat teliti. Yang lebih menarik adalah caranya menemukan kemungkinan lain dalam objek yang tampak biasa, lalu mengubahnya menjadi bentuk yang mengusik persepsi. Ladang jagung bisa melahirkan bayangan tentang janin; bunga mawar dapat menjelma sosok perempuan; tubuh manusia dapat menjadi ruang pertemuan berbagai makhluk dan tekstur organik.<\/p>\n<p>Dari hal-hal yang dijumpainya sehari-hari, Garis membangun dunia yang ganjil, puitis, dan terbuka terhadap beragam tafsir. Ia mungkin tidak menulis puisi dengan kata-kata, tetapi garis-garisnya menawarkan cara lain untuk membaca kehidupan: bukan melalui kalimat yang selesai, melainkan melalui bentuk-bentuk yang terus mengundang pertanyaan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2875\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG_0017-Copy.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG_0017-Copy.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG_0017-Copy-768x512.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Yang Terlihat dan yang Tersembunyi<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Karya seni rupa kontemporer memang tidak selalu dapat dinilai dari benda atau wujud visualnya belaka. Yang lebih penting adalah pesannya. Sebuah batu yang biasanya tergeletak di jalanan misalnya, itu adalah sebuah teks tersendiri. Tetapi ketika batu itu diambil, dibersihkan, ditempatkan dalam kotak kaca, dipajang di atas pedestal, maka teks batu itu sudah dicerabut dari konteksnya dan ditempatkan dalam konteks yang baru. Sebuah batu yang biasanya tidak pernah menjadi perhatian, kini menjadi sesuatu yang lantas diamati, ditafsirkan, diapresiasi, dan mengundang banyak pertanyaan. Batu yang semula biasa-biasa saja telah hadir membawa pesan baru.<\/p>\n<p>Demikian pula karya Garis Edelweis. Andaikata 2 lukisan itu hanya dipajang biasa saja sebagaimana lukisan-lukisan lainnya, maka tidak bakal mengundang pertanyaan. Orang hanya fokus pada objeknya yang surrealistis, pada goresan-goresan garis-garisnya, dan mencoba menerka-nerka apa yang disampaikan dari lukisan tersebut.<\/p>\n<p>Tetapi dengan tampilan yang \u201cmenyembunyikan sebagian lukisan dalam kotaknya itu\u201d maka menarik dibaca sebagai permainan antara apa yang diperlihatkan dan apa yang sengaja disembunyikan. Apalagi jika kotak dan tutupnya sendiri juga diolah menjadi bagian dari keseluruhan karya. Artinya, kotak itu bukan sekadar wadah atau bingkai, melainkan turut menentukan bagaimana penonton mengalami karya tersebut.<\/p>\n<p>Jadi, kali ini Garis Edelweiss tidak membiarkan karyanya hadir secara utuh di hadapan penonton. Karya lukisannya ditempatkan di dalam kotak sehingga hanya sebagian gambar yang dapat dilihat. Bahkan, kotak dan tutupnya turut menjadi bagian dari komposisi artistik. Penonton pun tidak lagi berhadapan dengan lukisan semata, melainkan dengan pengalaman melihat dan tidak melihat, mengetahui dan menduga.<\/p>\n<p>Bagian yang tersembunyi justru mengundang rasa ingin tahu. Apa yang ada di balik tutup kotak? Apakah bagian yang tidak terlihat itu lebih penting daripada yang diperlihatkan? Garis seolah membiarkan penonton melengkapi sendiri gambaran yang belum utuh melalui imajinasi mereka. Tindakan menyembunyikan menjadi cara untuk membangkitkan rasa ingin tahu, sekaligus mengingatkan bahwa apa yang terlihat belum tentu mewakili keseluruhan.<\/p>\n<p>Biasanya, kotak atau bingkai hanya berfungsi sebagai pelindung dan pembatas karya. Namun, ketika kotak dan tutupnya turut menjadi bagian dari karya, batas antara lukisan dan wadah menjadi kabur. Mana yang sebenarnya lukisan, mana yang sekadar wadah, dan mana yang merupakan bagian dari pengalaman artistik? Unsur yang semula dianggap sebagai pelindung justru menentukan cara karya itu dilihat dan ditafsirkan. Pendekatan ini sejalan dengan kecenderungan seni rupa kontemporer yang mempertanyakan batas-batas konvensional sebuah karya.<\/p>\n<p>Di balik permainan visual tersebut, muncul persoalan tentang keterbatasan manusia dalam memahami kenyataan. Kita tidak pernah mengetahui sesuatu secara utuh hanya dengan melihat sebagian darinya. Apa yang tampak di hadapan mata hanyalah potongan dari keseluruhan. Kotak itu dapat dibaca sebagai metafora tentang cara manusia memahami dunia: melihat, menafsirkan, lalu menyusun kesimpulan berdasarkan informasi yang terbatas. Padahal, selalu ada sesuatu yang belum diketahui.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari, kotak kerap digunakan untuk menyimpan sesuatu yang berharga, bersifat pribadi, atau sengaja dirahasiakan. Dengan menempatkan lukisan di dalamnya, Garis mungkin sedang membangun hubungan antara karya seni dan sesuatu yang tidak langsung diberikan kepada publik. Penonton tidak hanya mengamati gambar, tetapi juga berhadapan dengan tindakan menyimpan, membuka, dan membatasi akses. Pada akhirnya, karya itu tidak semata-mata menawarkan apa yang bisa dilihat, tetapi juga mengajak penonton memikirkan apa yang tidak mereka ketahui.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Garis Edelweiss tidak sedang menawarkan satu tafsir yang harus diterima penonton. Ia justru melemparkan pertanyaan dan membiarkan setiap orang menemukan kemungkinan jawabannya sendiri. Sebab, bukankah hakikat kesenian terletak pada kemampuannya mengajukan pertanyaan, bukan membagikan jawaban tunggal?<\/p>\n<p>Jika seni langsung memberikan jawaban yang sudah jadi, ia tak ubahnya penyuluhan. Karya seni membuka ruang bagi beragam penafsiran, pengalaman, dan pemahaman yang mungkin berbeda antara satu orang dan orang lain. Di sinilah seni berbeda dari rambu-rambu lalu lintas yang harus dipahami secara tunggal agar tidak menimbulkan kekacauan. Dalam karya Garis, bahkan sesuatu yang sengaja disembunyikan dapat menjadi awal dari percakapan panjang antara karya, seniman, dan penontonnya. Begitulah. (<strong><b>henri nurcahyo<\/b><\/strong>)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DARI ratusan karya seni rupa yang dipamerkan di Artsubs, ada satu karya yang mengundang rasa penasaran. Nampak sebuah kotak kemasan yang biasa digunakan untuk mengirim lukisan, dari salah satu sisinya terlihat dua lukisan keluar sebagian. Pengunjung jelas tak bisa menyaksikan lukisan itu secara utuh. Sementara kotaknya yang tegak menyamping itu sendiri dihias garis-garis ornamen. Dua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2872,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17,484,502],"tags":[486,552,709,467,711],"class_list":["post-2871","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel-1","category-seni-rupa","category-terbaru","tag-artsubs","tag-balai-budaya","tag-dwi-januartanto","tag-nirwan-dewanto","tag-ufa-faizah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2871"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2871\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2876,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2871\/revisions\/2876"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}