{"id":2895,"date":"2026-10-24T22:10:19","date_gmt":"2026-10-24T22:10:19","guid":{"rendered":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2895"},"modified":"2026-10-24T22:10:19","modified_gmt":"2026-10-24T22:10:19","slug":"di-balik-kanvas-perjalanan-panjang-tiga-perempuan-menemukan-diri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=2895","title":{"rendered":"Di Balik Kanvas, Perjalanan Panjang Tiga Perempuan Menemukan Diri"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA: Menjadi seniman adalah proses yang terus berlangsung: belajar melihat, memahami pengalaman, mengembangkan bahasa visual, mengambil keputusan, dan menghadapi kenyataan hidup. Kanvas mungkin memiliki batas fisik. Namun, perjalanan yang berlangsung di baliknya tidak selalu mengenal batas yang sama. Di situlah seni lukis menemukan kemungkinan terbesarnya: bukan hanya menghadirkan gambar untuk dilihat, melainkan membuka ruang bagi manusia untuk memahami dirinya dan dunia yang ditinggalinya.<\/p>\n<p>Ada banyak jalan untuk menjadi pelukis. Ada yang tumbuh dari pendidikan seni rupa, ada yang berangkat dari disiplin lain, dan ada pula yang menemukan dunia seni setelah bertahun-tahun menjalani profesi berbeda. Pengalaman Gabriel Eva, Nana Yap, dan Zeta Ranniry Abidin memperlihatkan bahwa perjalanan artistik tidak selalu berlangsung lurus. Kadang-kadang, justru melalui persimpangan hidup seseorang menemukan bahasa visual yang paling dekat dengan dirinya.<\/p>\n<p>Bagi Gabriel Eva, alam adalah sumber keindahan sekaligus ruang refleksi. Bagi Nana Yap, melukis merupakan jalan pulang untuk menemukan kembali jati diri. Sementara bagi Zeta Ranniry Abidin, seni lukis berkembang dari latihan menguasai teknik menjadi cara mengolah pengalaman dan gagasan. Ketiganya menempuh jalan berbeda, tetapi bertemu pada satu hal: melukis bukan semata-mata menghasilkan gambar, melainkan sebuah proses menjadi diri sendiri.<\/p>\n<p>Ketiganya berbagi pengalaman dalam program Wicara Seniman bertajuk Seni Lukis Saya: Apa dan Bagaimana? di ARTSUBS 2026, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu, 24 Oktober 2026. Dipandu Nirwan Dewanto, perbincangan itu tidak hanya mengungkap bagaimana mereka membuat lukisan, tetapi juga alasan di balik pilihan artistik, pergulatan pribadi, dan tantangan untuk bertahan hidup sebagai seniman.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2897\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/15-1-800x450.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/15-1-800x450.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/15-1-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/15-1-768x432.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/15-1-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/15-1.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Gabriel Eva <\/b><\/strong>tidak sejak awal membayangkan dirinya akan menjadi seniman. Ia justru menempuh pendidikan desain fesyen di <em><i>Arva School of Fashion <\/i><\/em>dan lulus pada 2010. Kariernya berkembang di bidang yang menuntut kepekaan terhadap warna, tekstur, komposisi, dan bentuk. Ia pernah memenangkan kompetisi desain, merancang kostum untuk Agnes Monica, serta membangun lini pakaian anak bernama <em><i>Bonne Chance<\/i><\/em>.<\/p>\n<p>Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah lain.<\/p>\n<p>Eva mulai menekuni seni lukis secara otodidak pada 2020. Bahkan, ketika pertama kali mencoba melukis, ia mengaku belum memahami cara memegang kuas. Ia belajar secara mandiri, antara lain melalui Pinterest, sambil mengandalkan kepekaan visual yang telah terbentuk selama bekerja di dunia fesyen.<\/p>\n<p>Alam menjadi sumber inspirasi utamanya. Kegemarannya mendaki gunung dan menjelajahi ruang terbuka mempertemukannya dengan vegetasi, bunga, lanskap hutan, serta detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian. Pengalaman itu kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan melalui warna, ingatan visual, foto, dan imajinasi.<\/p>\n<p>Bagi Eva, melukis bukan sekadar memindahkan pemandangan ke atas kanvas. Ada pengalaman batin yang ikut bekerja dalam proses tersebut. Keindahan alam yang megah maupun detail yang sederhana memberinya kesempatan untuk mengenali diri lebih dalam.<\/p>\n<p>Tema pertumbuhan diri atau <em><i>self-growth <\/i><\/em>menjadi salah satu benang merah perjalanan artistiknya. Dalam karya <em><i>Self Reflection <\/i><\/em>yang ditampilkan di ARTSUBS 2025, misalnya, seni lukis menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman dan perkembangan dirinya.<\/p>\n<p>Keputusan untuk serius menekuni seni juga berkaitan dengan pengalaman praktis. Ketika lukisannya terjual dan hasilnya dapat membantu menutup kekurangan dalam bisnis fesyen, Eva mulai melihat kemungkinan lain dari jalan hidupnya. Setelah menutup bisnis fesyen pada Februari 2024, ia semakin memusatkan perhatian pada seni lukis.<\/p>\n<p>Di ARTSUBS 2026, Eva menghadirkan empat karya yang berkelindan dengan dunia imajinatif <em><i>Alice in Wonderland<\/i><\/em>, antara lain <em><i>A Garden Alice Forgot, I Found the Pond, Where Alice Once Dreamed<\/i><\/em>, dan <em><i>Do I Belong Here<\/i><\/em>.<\/p>\n<p>Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana alam dan imajinasi dapat menjadi pintu masuk menuju ruang refleksi. Pengalaman yang mula-mula bersifat personal diolah menjadi dunia visual yang dapat dimasuki penonton dengan pengalaman dan penafsirannya sendiri.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2898\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-2-640x800.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"800\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-2-640x800.jpg 640w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-2-819x1024.jpg 819w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-2-768x960.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3-2.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Melukis Sebagai Jalan Pulang<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Jika Eva menemukan kedekatan dengan dirinya melalui alam, <strong><b>Nana Yap <\/b><\/strong>menempuh perjalanan yang lebih berliku. Baginya, melukis berkaitan erat dengan pencarian identitas, pengalaman keluarga, dan pertanyaan tentang arti pulang.<\/p>\n<p>Nana mengawali perjalanan seninya dengan menggambar bunga. Pilihan itu sederhana: bunga terasa aman karena tidak banyak mengundang kritik. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu memperoleh dukungan yang diharapkannya. Ia bahkan mengisahkan bahwa jejak karya masa kecilnya tidak tersisa.<\/p>\n<p>Ia kemudian menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Ketika kuliah, ia sempat merasa jenuh menggambar. Atas saran orang tuanya, ia melanjutkan pendidikan di bidang manajemen di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.<\/p>\n<p>Menariknya, ketika menjauh dari kegiatan menggambar, Nana justru kembali menemukan ketertarikannya pada seni. Kebiasaannya mengunjungi galeri mempertemukannya lagi dengan dunia yang sempat ditinggalkan.<\/p>\n<p>Ada sesuatu yang tidak selesai dalam hubungannya dengan seni. Melukis menjadi sarana untuk menghadapi pergulatan batin, memahami pengalaman masa lalu, dan menyusun kembali pengertian tentang dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Nana menyebut dirinya sebagai \u201cmanusia galau\u201d. Ungkapan itu bukan sekadar pengakuan tentang suasana hati, melainkan gambaran mengenai proses kreatif yang berangkat dari kegelisahan. Ia membawa pengalaman sebagai perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia, tekanan keluarga, latar belakang spiritual, dan pencarian makna tanah air ke dalam karya-karyanya.<\/p>\n<p>Dalam proses tersebut, seni memiliki fungsi yang menyerupai terapi. Namun, persoalannya bukan hanya menghilangkan kegelisahan. Nana juga berusaha memahami dari mana kegelisahan itu berasal dan bagaimana pengalaman personal dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual.<\/p>\n<p>Pendekatan gestural painting menjadi salah satu pilihannya. Gerakan garis yang mengalir, bentuk-bentuk organik, dan warna ekspresif memungkinkan pengalaman emosional hadir tanpa harus dijelaskan secara harfiah.<\/p>\n<p>Di ARTSUBS 2026, ia menampilkan <em><i>Mencari Jalan Pulang, Mencintai Tanah Air<\/i><\/em>, sebuah karya media campuran pada kanvas linen, serta karya video berdurasi 90 detik dengan judul yang sama.<\/p>\n<p>Judul tersebut memuat pertanyaan yang lebih luas daripada sekadar kerinduan terhadap tempat tinggal. Apa artinya pulang ketika seseorang masih berusaha mengenali dirinya sendiri? Bagaimana mencintai tanah air ketika hubungan dengan identitas dan pengalaman masa lalu tidak selalu sederhana?<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus dijawab melalui pernyataan verbal. Dalam karya Nana, pencarian tersebut memperoleh bentuk melalui material, gerak, warna, dan pengalaman menatap.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Nana juga pernah mendirikan \u201cDaun Art Studio\u201d\u00a0di Surabaya dan mengajar di kelompok bermain selama dua tahun dengan pendekatan yang dipengaruhi <em><i>art therapy<\/i><\/em>. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa ketertarikannya pada seni tidak terbatas pada penciptaan karya, tetapi juga menyentuh kemungkinan seni menjadi ruang belajar dan pemulihan.<\/p>\n<p>Meski demikian, jalan berkesenian tetap berhadapan dengan kenyataan ekonomi. Nana mengakui bahwa hidup dari seni di Surabaya masih sulit. Ia memilih tidak menjadikan tuntutan pasar sebagai penentu utama eksplorasi artistiknya karena khawatir hal itu membatasi gagasan dan ekspresi.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2899\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/11-640x800.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"800\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/11-640x800.jpg 640w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/11-819x1024.jpg 819w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/11-768x960.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/11.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Dari Kemahiran Teknis Menuju Gagasan<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, perjalanan <strong><b>Zeta Ranniry Abidin <\/b><\/strong>menunjukkan sisi lain dari proses menjadi seniman. Berbeda dengan Eva yang datang dari dunia fesyen dan Nana dari desain komunikasi visual, Zeta tumbuh dengan dukungan keluarga yang akrab dengan seni.<\/p>\n<p>Ia mulai menekuni lukisan sejak SMP. Sebagai pribadi yang pendiam di sekolah, ia menemukan kegiatan melukis sebagai ruang untuk menyalurkan diri. Pada tahap awal, perhatian utamanya adalah mengasah keterampilan teknis dan menjadikan gambar sebagai sarana untuk memahami perasaan serta berhubungan dengan lingkungan sosial.<\/p>\n<p>Bagi Zeta, proses belajar sama pentingnya dengan hasil akhir. Kemampuan menggambar bukan tujuan yang berhenti pada kemahiran meniru objek, melainkan pijakan untuk mengembangkan bahasa artistik.<\/p>\n<p>Lingkungan keluarga, pengalaman mengunjungi pameran, dan pertemuannya dengan para perupa yang lebih berpengalaman turut membentuk perjalanan tersebut. Ia mendapatkan bimbingan dari sejumlah seniman, antara lain Garis Edelweiss, Ivan Sagita, Pupuk DP, dan Erizal A.S.<\/p>\n<p>Zeta sempat melalui fase fotorealisme, yakni pendekatan yang mengutamakan ketepatan visual hingga gambar tampak menyerupai foto. Namun, penguasaan teknik itu tidak membuatnya berhenti pada soal kemiripan objek.<\/p>\n<p>Seiring waktu, ia mulai mengolah pengalaman dan persoalan di sekelilingnya menjadi gagasan. Figur manusia, terutama dirinya sendiri, menjadi salah satu subjek penting. Pengalaman sehari-hari dipertemukan dengan ruang dan ikon budaya populer yang akrab bagi generasinya.<\/p>\n<p>Perubahan tersebut terlihat dalam <em><i>BORDERLESS: Keep the Light Alive<\/i><\/em>, karya yang dipamerkannya di ARTSUBS 2026. Terdiri atas lima panel berukuran masing-masing 200 x 125 sentimeter, karya berskala besar itu menandai upayanya mengelola pengalaman yang berasal dari dalam maupun luar dirinya.<\/p>\n<p>Perjalanan Zeta juga telah membawanya ke sejumlah pencapaian. Ia meraih <em><i>Bronze Award <\/i><\/em>dalam <em><i>UOB Painting of the Year 2023 <\/i><\/em>dan masuk nominasi <em><i>Young Artist Award di ARTJOG 2023<\/i><\/em>. Namun, prestasi dan penguasaan teknik bukan satu-satunya ukuran perkembangan artistiknya.<\/p>\n<p>Yang lebih penting adalah bagaimana kemampuan tersebut digunakan untuk menyampaikan sesuatu. Teknik menjadi bahasa, bukan tujuan akhir.<\/p>\n<p>Dalam konteks itu, BORDERLESS dapat dibaca sebagai penanda pergeseran: dari upaya merepresentasikan sesuatu secara presisi menuju kemungkinan untuk mengolah pengalaman menjadi pernyataan artistik.<\/p>\n<p><strong><b>Bunga yang <\/b><\/strong><strong><b>B<\/b><\/strong><strong><b>erbeda bagi <\/b><\/strong><strong><b>S<\/b><\/strong><strong><b>etiap <\/b><\/strong><strong><b>O<\/b><\/strong><strong><b>rang<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Perbedaan jalan ketiga pelukis tersebut menjadi salah satu pokok menarik dalam diskusi yang menjadi bagian dari program publik pameran seni rupa kontemporer Artsubs ini.<\/p>\n<p>Nirwan mengajak peserta melihat seni lukis bukan semata-mata sebagai kegiatan mengolah cat pada bidang dua dimensi. Sejarah seni lukis memperlihatkan perubahan panjang dalam cara seniman memahami objek, medium, dan fungsi gambar. Pada satu masa, lukisan berusaha merepresentasikan dunia nyata secara meyakinkan. Kemunculan fotografi dan perkembangan seni modern kemudian ikut mengubah pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan oleh sebuah lukisan.<\/p>\n<p>Dalam pembicaraan itu, Nirwan menyoroti bahwa objek yang sama dapat diterjemahkan secara berbeda oleh setiap seniman. Bunga, misalnya, tidak harus berhenti sebagai representasi tumbuhan yang indah. Dalam pengalaman seorang seniman, bunga dapat berubah menjadi bentuk lain, bahkan menyerupai monster.<\/p>\n<p>Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa objek bukanlah makna itu sendiri. Pengalaman, ingatan, perasaan, dan cara pandang seniman ikut menentukan bagaimana sesuatu hadir di dalam karya.<\/p>\n<p>Gagasan itu membantu menjelaskan perbedaan pendekatan Eva, Nana, dan Zeta. Alam yang menjadi sumber inspirasi Eva tidak harus menghasilkan makna yang sama ketika diterjemahkan oleh Nana. Demikian pula pengalaman personal yang diolah Zeta tidak dapat dilepaskan dari perjalanan dan konteks hidupnya sendiri.<\/p>\n<p>Ketiganya sama-sama melukis, tetapi tidak berangkat dari pertanyaan yang sama. Eva menemukan ruang refleksi melalui alam. Nana berusaha memahami identitas dan makna pulang. Zeta menggunakan keterampilan teknis sebagai pijakan untuk mengolah pengalaman menjadi gagasan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, seni lukis tidak hanya berkaitan dengan apa yang terlihat di atas kanvas, tetapi juga dengan proses yang membuat seorang seniman memilih, mengolah, dan memberi makna pada apa yang dilihatnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2900\" src=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-2-800x450.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-2-800x450.jpg 800w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-2-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-2-768x432.jpg 768w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-2-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/2-2.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><strong><b>Ketika Seni Berhadapan <\/b><\/strong><strong><b>d<\/b><\/strong><strong><b>engan Pasar<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Perbincangan kemudian bergerak dari persoalan artistik menuju pertanyaan yang tidak kalah mendasar: dapatkah seorang seniman hidup dari karya-karyanya?<\/p>\n<p>Pertanyaan yang diajukan Adi dari Senirupa.id membuka pembicaraan mengenai pasar seni rupa Indonesia dan posisi ARTSUBS di dalamnya.<\/p>\n<p>Eva mengisahkan bahwa pada awalnya ia tidak memiliki jaringan di dunia seni rupa murni. Ia belajar melalui proses mencoba dan memperbaiki kesalahan. Sejumlah karyanya terjual, memberinya pengalaman langsung mengenai kemungkinan karya seni menemukan pembeli.<\/p>\n<p>Bagi Eva, ARTSUBS menjadi kesempatan penting karena menghadirkan ruang pameran berskala besar di Surabaya. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat berlangsung secara konsisten sehingga seniman memiliki tempat untuk menunjukkan karya dan menjangkau publik yang lebih luas.<\/p>\n<p>Nana melihat persoalan dari sisi ekosistem. Menurutnya, Surabaya masih menghadapi tantangan untuk membangun lingkungan yang memungkinkan seniman hidup dari profesinya. Sebagai kota perdagangan, Surabaya belum memiliki lingkaran kolektor dan struktur pendukung seni yang sekuat ekosistem di sejumlah kota lain.<\/p>\n<p>Karena itu, keberadaan pameran besar saja belum cukup. Diperlukan struktur, jaringan, dan dukungan bersama yang memungkinkan kegiatan seni berkembang secara berkelanjutan. Ia mencontohkan ARTJOG di Yogyakarta sebagai peristiwa seni yang turut membangun iklim dan struktur pendukung di sekitarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Zeta menekankan pentingnya pijakan finansial, termasuk dukungan keluarga. Menurutnya, seniman perlu memahami konsekuensi ekonomi dari pilihan berkarya, termasuk siapa yang mungkin menjadi pembeli dan bagaimana sebuah karya dapat dipasarkan.<\/p>\n<p>Kesadaran terhadap nilai jual bukan berarti seniman harus mengikuti tren secara membabi buta. Literasi ekonomi justru diperlukan agar seniman mampu mempertimbangkan hubungan antara gagasan, pasar, dan kebutuhan hidup tanpa kehilangan arah artistiknya.<\/p>\n<p>Nirwan menggarisbawahi bahwa pasar seni rupa kontemporer Indonesia relatif sempit. Ia memetakan beberapa lapisan pembeli, mulai dari kolektor yang turut membentuk wacana dan historiografi seni, kelompok kelas menengah yang membeli karya untuk memperkaya lingkungan rumah, hingga pembeli melalui <em><i>art shop<\/i><\/em>.<\/p>\n<p>Gambaran itu menunjukkan bahwa persoalan seniman tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan karya yang baik. Ada persoalan lain yang turut menentukan keberlanjutan praktik seni: jaringan, akses terhadap pembeli, ruang pamer, dan keberadaan publik yang terbiasa berinteraksi dengan seni.<\/p>\n<p><strong><b>Surabaya Membutuhkan Ruang <\/b><\/strong><strong><b>y<\/b><\/strong><strong><b>ang Berkelanjutan<\/b><\/strong><\/p>\n<p>Dalam konteks tersebut, ARTSUBS memperoleh arti lebih luas daripada sekadar tempat memamerkan karya. Nirwan memandangnya sebagai <em><i>window display<\/i><\/em>, jendela yang membawa persoalan seni rupa nasional ke Surabaya sekaligus membuka kesempatan bagi publik kota ini untuk berinteraksi dengan perkembangan seni kontemporer.<\/p>\n<p>Namun, jendela hanya berguna jika ada sesuatu yang terus dihadirkan di baliknya. Pameran besar dapat membuka perhatian, tetapi keberlanjutan membutuhkan lebih dari satu peristiwa.<\/p>\n<p>Pengalaman ketiga seniman memperlihatkan pentingnya ruang yang memungkinkan perupa bereksperimen, bertemu dengan publik, membangun jaringan, dan menemukan kemungkinan ekonomi dari praktik artistiknya. Tanpa dukungan semacam itu, perjalanan kreatif mudah berhenti pada perjuangan individual.<\/p>\n<p>Eva, Nana, dan Zeta datang dari latar belakang yang berbeda. Mereka pun memiliki cara yang tidak sama dalam memandang hubungan antara karya, pengalaman pribadi, dan pasar. Namun, ketiganya menunjukkan bahwa menjadi seniman bukanlah status yang selesai diperoleh setelah seseorang mahir melukis atau berhasil mengikuti pameran.<\/p>\n<p>Menjadi seniman adalah proses yang terus berlangsung: belajar melihat, memahami pengalaman, mengembangkan bahasa visual, mengambil keputusan, dan menghadapi kenyataan hidup.<\/p>\n<p>Kanvas mungkin memiliki batas fisik. Namun, perjalanan yang berlangsung di baliknya tidak selalu mengenal batas yang sama. Di situlah seni lukis menemukan kemungkinan terbesarnya: bukan hanya menghadirkan gambar untuk dilihat, melainkan membuka ruang bagi manusia untuk memahami dirinya dan dunia yang ditinggalinya. (<em><strong>put<\/strong><\/em>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA: Menjadi seniman adalah proses yang terus berlangsung: belajar melihat, memahami pengalaman, mengembangkan bahasa visual, mengambil keputusan, dan menghadapi kenyataan hidup. Kanvas mungkin memiliki batas fisik. Namun, perjalanan yang berlangsung di baliknya tidak selalu mengenal batas yang sama. Di situlah seni lukis menemukan kemungkinan terbesarnya: bukan hanya menghadirkan gambar untuk dilihat, melainkan membuka ruang bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2896,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,484,502],"tags":[720,722,467,721],"class_list":["post-2895","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-1","category-seni-rupa","category-terbaru","tag-gabriel-eva","tag-nana-yap","tag-nirwan-dewanto","tag-zeta-ranniry-abidin"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2895","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2895"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2895\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2901,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2895\/revisions\/2901"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2895"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2895"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2895"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}