{"id":692,"date":"2018-03-01T03:07:46","date_gmt":"2018-03-01T03:07:46","guid":{"rendered":"http:\/\/brangwetan.com\/?p=272"},"modified":"2018-03-01T03:18:12","modified_gmt":"2018-03-01T03:18:12","slug":"janger-berdendang-tidak-lagi-pentingkan-cerita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=692","title":{"rendered":"Janger Berdendang, Tidak Lagi Pentingkan Cerita"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA: Sudah menjadi rahasia umum bahwa pentas Janger sekarang ini tidak lagi mementingkan cerita namun lebih mengedepankan hiburan berupa joget dan nyanyian. Cobalah buka <em>Youtube<\/em>, ketik Janger, maka yang tersaji adalah pentas Janger Berdendang, Janger Koplo dan sebagainya. Salah satunya, adalah Janger Karisma Dewata yang akan pentas di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Sabtu malam (3\/3).<\/p>\n<p>Menurut Hasan Sentot, pria asli Banyuwangi yang tinggal di Surabaya, semua Janger di Banyuwangi sekarang kecenderungannya begitu. Tidak mementingkan cerita, tapi hiburan nyanyi-nyanyi. Bahkan pengosepnya, Sayun Sisianto dari Rogojampi, menamakan konsep baru ini dengan nama &#8220;Janger Berdendang&#8221;. Awalnya nyanyian dalam kesenian Janger sendiri sebagai selingan, saat adengan masuk tokoh perempuan yang kasmaran, kemudian <em>nggendengi<\/em> terus nyanyi-nyanyi dengan lagu Using yang bertemakan asmara.<\/p>\n<p>ini degradasi Janger?\u00a0&#8220;Ya begitulah. Tujuan Sayun saat saya temui di rumahnya, semula dia bermaksud agar Janger itu bisa disenangi anak-anak muda yang lebih suka nyanyian. Namun dia tidak mengira, ternyata justru bergeser ke nyanyian,&#8221; tambah mantan jurnalis SCTV ini melalui komunikasi <em>Whats App<\/em>.<\/p>\n<p>Akibat adanya pergeseran &#8220;Janger Berdendang&#8221; ini maka di kalangan panjak Banyuwangi sampai ada omongan. &#8216;Pokoknya sekarang ini, kalau punya kulit putih bersih dan <em>megal-megol<\/em> di panggung, serta hapal lagu <em>Merkes Ati\u00a0<\/em>\u00a0sudah dapat honor Rp. 80 ribu semalam,&#8221; ujar Hansen, panggilannya, \u00a0menirukan ucapan pelaku Janger di Banyuwangi.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Dr. Ilham Zubasary, dosen Universitas Negeri Jember yang studi Janger dalam disertasi Doktoralnya di Universitas Gadjah Mada (UGM). &#8220;Iya benar. Memang kondisinya seperti itu.\u00a0 Campursari dan dangdutan sudah menjadi bagian utama. Cerita harus mengalah. Kadang-kadang cerita disederhanakan demi melayani penonton yang <em>nyawer<\/em>, waktu tersita untuk nyanyian,&#8221; tuturnya panjang lebar dalam kesempatan terpisah.<\/p>\n<p>Ditambahkan, &#8220;kadang-kadang ada Janger yang jam 1 malam baru masuk ke cerita karena nyanyiannya banyaaak.&#8221; \u00a0Dalam pengamatannya Janger bisa memanggungkan sampai 16 pemain cewek sekaligus di atas panggung yang sempit,\u00a0 menyanyi sambil joget dan disawer.\u00a0 Alasannya klasik, kalau tidak seperti itu ditinggal penonton.<\/p>\n<p>&#8220;Bahkan album Janger Berdendang sudah banyak. Mungkin sekarang sudah album ke 10,&#8221; ujar Ilham yang juga praktisi perfilman ini.<\/p>\n<p>Berarti sama dengan yang terjadi di ludruk? &#8220;Iya. Ludruk di Jember juga begitu,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Hal yang sama disampaikan Hasan Sentot, &#8220;Kalau Ludruk saat adegan banci nyanyi bersama, itu <em>break<\/em> dari adegan cerita. Tetapi kalau Janger, nyanyian itu masuk dalam cerita. Cewek yang <em>nggendengi<\/em> tadi sambil menyanyi. Bahkan Raja dan Patihnya kadang ikut bergoyang<\/p>\n<p><strong>Tidak Erotis<\/strong><\/p>\n<p>Ketika hal ini dikonfirmasi ke staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Aekanu, tidak langsung membenarkan hal tersebut. &#8220;Tidak semua Janger begitu. Yang saya tahu Karisma Dewata yang dikomandani\u00a0<a href='http:\/\/p.sutaji\/'>P. Sutaji<\/a>\u00a0(PNS\/guru SMP) tidak berani goyang koplo,&#8221; ujarnya. Memang sekarang ketika masih <em>jejer<\/em> pertama (ada prajurit, Patih, Raja, Permaisuri, dayang-dayang\/emban cantik-cantik) biasanya\u00a0 ada adegan Raja minta dihibur oleh sederetan emban yang cantik-cantik ini dengan gending-gending Banyuwangen sambil menari.<\/p>\n<p>Aekanu adalah Kepala Seksi Wisata dan Budaya Disbudpar Kabupaten Banyuwangi, yang sekarang menduduki posisi sebagai Kasi Adat dan Cagar Budaya. \u00a0&#8220;Tapi \u00a0karena saya \u00a0punya lisensi <em>Guide<\/em> maka sering <em>kedhapuk<\/em> memandu, mulai kelas Menteri, Dubes atau tamu Bupati untuk memandu acara dan cerita budaya,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Ketika disampaikan fakta bahwa banyak Janger Koplo yang diunggah ke <em>Youtube<\/em>, Aekanu menyampaikan, &#8220;ketika ada yang goyang erotis diunggah di <em>youtube<\/em> maka Disbudpar mengundang semua ketua group Janger untuk diberi pembinaan. Karena dulu pernah saya berbincang dengan\u00a0 Pak Taji, dia katakan Karisma Dewata tidak berani joget-joget yang erotis.&#8221;<\/p>\n<p>Memang yang beredar di <em>Youtube<\/em> sebetulnya tidak erotis, kostum juga masih sopan dengan busana Banyuwangen, hanya bergoyang-goyang seperti penyanyi dangdut namun tidak berlebihan. Tetapi promosinya menyebut &#8216;Janger Berdendang Koplo.&#8217;\u00a0Biasa, mungkin untuk menarik perhatian.<\/p>\n<p>Ilham Zubasary juga tidak membenarkan soal erotisme itu. &#8220;Janger tidak menonjolkan erotisme, itu sisi baiknya. Hanya nyanyi dan joget sekadarnya dengan kostum yang tetap klasik.&#8221;<\/p>\n<p>Aekanu menolak kalau dikatakan Disbudpar tidak melakukan pembinaan. &#8220;Kami kumpulkan mereka dengan pesan, gerak yang sopan, banyolan yang sopan dan lain-lain.\u00a0 Kita undang untuk gantian pentas dengan pesan-pesan khusus,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Lantas dikirimkan sebuah foto pentas Janger dengan pembuka Jejer Gandrung. Juga contoh <em>keber<\/em> (layar) janger yang dipentaskan di panggung Taman Blambangan, bisa menyesuaikan, tidak seperti diundang untuk mantenan di desa.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, masih adakah Janger yang bertahan sebagai kesenian tradisi, yang tidak berlebihan menonjolkan dangdutnya?\u00a0 Ilham Zubasari menjawab, Janger yang seperti itu nyaris tidak ada. Tapi yang mendekati seperti ada, yaitu jangernya Pak Sugiyo dari Banje. Sastranya masih terjaga.\u00a0 Nyanyian tidak mendominasi. Sisi akting dan dialog terjaga. Mendekati klasik. &#8220;Tapi Pak Sugiyo sudah senior. Dialah benteng klasik itu. Kalau nanti dia sudah tiada, pasti akan lain ceritanya,&#8221; tukas Ilham.<\/p>\n<p>Bagaimana dengan pentas di TBJT kali ini? &#8220;Saya kira tidak, sebab biasanya singkat dan masih mementingkan alur cerita,&#8221; kata Hansen.<\/p>\n<p>Kepala UPT Taman Budaya Jatim, Soekatno, juga menampik kemungkinan terjadinya Janger Berdendang itu. &#8220;Hanya dua jam, murni lakon, tidak ada sesi lagu-lagu.&#8221;<\/p>\n<p>Benarkah begitu? Kalau penasaran silakan tonton pertunjukan Janger Karisma Dewata di TBJT. (<strong>hnr<\/strong>)<\/p>\n<p>Teks foto: Aekanu diapit pemain Janger dan penari Gandrung.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA: Sudah menjadi rahasia umum bahwa pentas Janger sekarang ini tidak lagi mementingkan cerita namun lebih mengedepankan hiburan berupa joget dan nyanyian. Cobalah buka Youtube, ketik Janger, maka yang tersaji adalah pentas Janger Berdendang, Janger Koplo dan sebagainya. Salah satunya, adalah Janger Karisma Dewata yang akan pentas di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":693,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-692","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-seni-tradisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/692","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=692"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/692\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/693"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=692"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=692"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=692"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}