{"id":758,"date":"2018-04-01T06:40:45","date_gmt":"2018-04-01T06:40:45","guid":{"rendered":"http:\/\/brangwetan.com\/?p=386"},"modified":"2018-04-01T06:42:23","modified_gmt":"2018-04-01T06:42:23","slug":"novyta-mijil-koreografer-terbaik-tari-pergaulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=758","title":{"rendered":"Novyta Mijil, Koreografer Terbaik Tari Pergaulan"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA: Mencipta dan menggarap tari bukan hal yang baru bagi Novyta Mijil Purwana Is. Perempuan kelahiran Tulungagung 26 November 1986 ini sudah aktif menjadi koreografer tari sejak 2008. Bergabung bersama Sanggar Tari Pendopo Blitar, tari-tari garapannya ditampilkan di berbagai festival lokal, daerah dan nasional.<\/p>\n<p>Tidak berlebihan ketika dirinya didaulat sebagai Penata Tari Terbaik di ajang Festival Tari Pergaulan, Kamis (29\/3). Perempuan yang tinggal di Desa Podorejo Kecamatan Sumbergempol Tulungagung itu juga pernah menjadi Duta Seni Indonesia ke Thailand 2007. Banyak garapan tarinya yang menorehkan prestasi yang membanggakan.<\/p>\n<p>Mijil, sapaan akrabnya bukan kali pertama menjadi penata tari terbaik. Sejak 2008, ia sudah kerap meraih penghargaan itu. Hal itu dibuktikan ketika Festival Karya Tari\u00a0 Budaya Adhikara Jawa Timur 2008,\u00a0 lewat <em>Tari Momong <\/em>garapannya ia dinobatkan sebagai koreografer terbaik. Timnya juga berhasil meraih tiga penyaji terbaik, penata musik terbaik dan penata kostum terbaik.\u00a0 Di event PPST 2008, tari <em>Suksmantarlina <\/em>garapannya mampu mengantarkan timnya meraih juara 3.<\/p>\n<p><img class='alignleft size-medium wp-image-390' src='https:\/\/brangwetan.com\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/IMG-20180331-WA0015-Copy-300x169.jpg' alt='' width='300' height='169' \/><\/p>\n<p>Tari <em>Ledek Jimbe, <\/em>garapannya yang ditampilkan di acara yang diadakan Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPP Kesenian) Jawa Timur itu diciptakannya selama 1 bulan. Berangkat dari ide mengenalkan kembali adanya pusat pelatihan ledek terbaik di Blitar yang mati suri, ia menelurkan karyanya. Mengingat pusat pelatihan yang konon melahirkan ledek terbaik dan berciri khas <em>Blitaran <\/em>itu hanya menyisakan segelintir sinden atau ledek Jimbe yang masih bertahan.<\/p>\n<p>&#8220;Hal itulah yang menjadi inspirasi saya untuk mengangkat Ledhek Jimbe sebagai upaya menggugah kembali kesadaran bahwa di Blitar pernah ada pusat pelatihan ledek yang terkenal,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Frasa <em>Ledhek Jimbe <\/em>yang digunakannya sebagai judul tari garapannya terinspirasi dari pandangan masyarakat Blitar. Meski kegiatan pusat pelatihan yang digelar skala besar tidak ada lagi, tapi masyarakat Blitar masih familiar dengan Ledhek Jimbe. Ketika ada orang yang mengatakan kata, &#8220;ledhek&#8221;, secara otomatis diikuti kata &#8220;Jimbe&#8221; yang artinya Ledek atau Tandak dari Desa Jimbe Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar.<\/p>\n<p>Kepiawaian Mijil menggarap tari sudah tidak bisa diragukan lagi. Terbukti ketika 2017 lalu, ia sudah beberapa kali menggarap tari dan sukses meraih penghargaan. Tari <em>Pramugari, <\/em>misalnya berhasil masuk 10 penyaji terbaik di Festival Tari Jawa Timur 2017. Begitupun dengan tari <em>Siraman Gong Kyai Pradah <\/em>di Karnival Budaya Nusantara mewakili kontingen Jawa Timur dan berhasil meraih penyaji terbaik 2017, tari <em>Sesinglon Kelud <\/em>yang masuk Tiga Penyaji Terspektakular dan ornamen mobil terbaik di ajang pawai bernama &#8220;Jatim Night Spectacular Carnival 2017&#8221; di Malang, tari <em>Pitik Walik Sobo Kebun <\/em>berhasil meraih juara 3 FLS2N 2017, tari <em>Pesona Bumi Penataran <\/em>di acara pertunjukan seni agenda Kabupaten Blitar mulai 2007-2017.<\/p>\n<p>Selain itu, perempuan yang memiliki dua anak laki-laki ini terlibat aktif sebagai koreografer Kirab Budaya Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Blitar mulai\u00a0 2012-2017. Ia menggarapnya dengan menampilkan tari <em>Bedhaya Sri Tanjung<\/em> dan beberapa kesenian lokal Blitar. Tari <em>Mubeng Blitar<\/em> yang selalu ditampilkan tiap pembukaan acara di Kabupaten Blitar adalah satu karya terbaiknya.<\/p>\n<p>Beberapa event pertunjukan besar di Blitar tak luput dari garapannya. Mijil juga pernah menata tari massal pada acara\u00a0 pembukaan <em>Meet <\/em><em>a<\/em><em>nd Great<\/em> Sukarelawan PMI Provinsi Jatim di Blitar 2017. Di acara penutupan Kirab Pemuda Nusantara yang diadakan di Blitar 2017 lalu, ia menata tari <em>Sapa Nusantara<\/em>. \u00a0Bahkan kini alumnus Seni Tari Universitas Negeri Malang ini menjadi Duta Seni Pertunjukan Kabupaten Blitar di Taman Mini Indonesia Indah 4 tahun berturut-turut.<\/p>\n<p>Mengikuti acara Festival Tari Pergaulan yang diadakan LPPK, ia berharap agar kegiatan tersebut berkelanjutan sehingga bisa menjadi wadah para seniman untuk menelurkan karya dan berekspresi. (<strong>n<\/strong><strong>ur<\/strong>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA: Mencipta dan menggarap tari bukan hal yang baru bagi Novyta Mijil Purwana Is. Perempuan kelahiran Tulungagung 26 November 1986 ini sudah aktif menjadi koreografer tari sejak 2008. Bergabung bersama Sanggar Tari Pendopo Blitar, tari-tari garapannya ditampilkan di berbagai festival lokal, daerah dan nasional. Tidak berlebihan ketika dirinya didaulat sebagai Penata Tari Terbaik di ajang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":759,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-758","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-seni-tradisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=758"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/758\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/759"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}