{"id":807,"date":"2018-04-21T00:13:01","date_gmt":"2018-04-21T00:13:01","guid":{"rendered":"http:\/\/brangwetan.com\/?p=485"},"modified":"2018-04-21T00:13:01","modified_gmt":"2018-04-21T00:13:01","slug":"sendratari-trunojoyo-di-taman-candra-wilwatikta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/brangwetan.com\/?p=807","title":{"rendered":"Sendratari Trunojoyo di Taman Candra Wilwatikta"},"content":{"rendered":"<p>SURABAYA:\u00a0 Mahasiswa STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya Sabtu malam ini (21\/4) pukul 19.00, menggelar\u00a0 sendratari kolosal bertajuk &#8220;Trunojoyo&#8221; di Amphitheatre Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, Pasuruan. \u00a0Terbuka untuk umum, gratis.<\/p>\n<p>Lakon ini sebetulnya pernah digelar di tempat yang sama \u00a0dalam\u00a0 rangkaian peringatan Dies Natalis STKW ke 37 tahun lalu (13\/5\/17). Tetapi Abing Santoso selaku sutradara menjanjikan bahwa pergelaran kali ini akan ada yang berbeda dengan sajian sebelumnya. Bagaimanapun sebuah seni pertunjukan tentu tidak sama persis meski dilakukan berulangkali.<\/p>\n<p>&#8220;Kelemahan-kelemahan tahun lalu akan kami perbaiki sehingga kali ini akan menjadi lebih bagus,&#8221; tegas Abing.<\/p>\n<p>Sebanyak 164 orang tercatat menjadi pendukung, terdiri dari\u00a0 110 penari,\u00a0 30 pengrawit dan 24 kru. Mereka\u00a0 berasal dari mahasiswa jurusan tari, karawitan teater. Bagi para mahasiswa, ini sekaligus ajang uji kemampuan selama mereka menyerap ilmu di kampus. Apalagi, sebagian tidak terlibat dalam pertunjukan tahun lalu.<\/p>\n<p>Jika tahun lalu sebelum pergelaran sendratari diawali dengan tari Topeng Gettak, maka kali ini disuguhkan Tari Glipang yang digarap sebagai tari kolosal.<\/p>\n<p>Pergelaran ini kali ini mengisahkan tiga tokoh \u00a0yaitu Pangeran Trunojoyo, Adipati Untung Suropati dan Karaeng Galesong yang bersatu padu melawan penjajahan Belanda. \u00a0Ketika Trunojoyo berhasil mengalahkan pasukan Kompeni di Semarang, kemudian bergabung dengan pasukan Kraeng Galesong dari Makassar dan Untung Surapati untuk mengusir Kompeni dari Pasuruan. Hingga akhirnya, Pasuruan yang semula berada dalam cengkeraman Kompeni berhasil direbut kembali berkat kebersatuan tiga tokoh tersebut. Sang Panglima Perang Trunojoyo disambut sorak sorai yang gegap gempita.<\/p>\n<p>Bagaimanapun kemenangan mereka tidak lepas dari peran tokoh lokal, Demang Kapulungan.<\/p>\n<p>Sebuah <em>udarasa <\/em>pun mengalun dalam suasana itu:<\/p>\n<p><em>Aku Trunojoyo. Aku lahir di tanah yang gersang dan bergaram. Di sanalah tanah menjadi Ibu. Aku tidak rela jika Ibu mendengar derap langkah sepatu (Belanda). Aku juga tidak rela jika Ibu diinjak-injak oleh bangsa Kompeni. Apapun yang aku lakukan adalah untuk satu kesatuan. Surasudira jayaningrat kang rat swuh brastha teka pingulah darmastuti.<\/em> (<strong>lya<\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA:\u00a0 Mahasiswa STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya Sabtu malam ini (21\/4) pukul 19.00, menggelar\u00a0 sendratari kolosal bertajuk &#8220;Trunojoyo&#8221; di Amphitheatre Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, Pasuruan. \u00a0Terbuka untuk umum, gratis. Lakon ini sebetulnya pernah digelar di tempat yang sama \u00a0dalam\u00a0 rangkaian peringatan Dies Natalis STKW ke 37 tahun lalu (13\/5\/17). Tetapi Abing Santoso selaku sutradara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":808,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-807","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-agenda-1"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=807"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/807\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/brangwetan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}