Berita•seni rupa•Terbaru

Andy Rahman: Arsitektur Dituntut Kurangi Eksploitasi Alam

no-img
Andy Rahman: Arsitektur Dituntut Kurangi Eksploitasi Alam

SURABAYA – Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan dengan mengurangi eksploitasi material alam. Prinsip tersebut menjadi landasan Andy Rahman dalam mengembangkan material bangunan alternatif berbahan limbah plastik dan PVC, sebagai bagian dari upayanya mencari kemungkinan baru bagi keberlanjutan arsitektur Nusantara.

Eksplorasi tersebut dipaparkan Andy Rahman dalam program Wicara Seniman di ajang ARTSUBS di selasar lantai 2 Balai Budaya Surabaya, Sabtu (3/10/2026). Dalam diskusi yang dimoderatori Asmudjo J. Irianto itu, Andy menjelaskan perjalanan riset material yang telah berlangsung selama dua dekade, dari pengembangan arsitektur konvensional hingga eksplorasi warisan tradisi Nusantara dan material alternatif.

Menurut Andy, dunia arsitektur memiliki keterikatan sangat erat dengan material. Karena itu, seorang arsitek tidak cukup hanya merancang bentuk bangunan, tetapi juga harus melakukan riset mendalam mengenai bahan yang digunakan, termasuk dampaknya terhadap lingkungan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah penggunaan bata konvensional yang selama ini mengandalkan tanah liat. Eksploitasi tanah secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhan industri bata dinilai dapat berdampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan.

Persoalan tersebut mendorong Andy mengembangkan alternatif material dengan memanfaatkan limbah terakota, PVC, dan plastik. Dalam karya instalasinya di ARTSUBS, material tersebut diolah menjadi elemen berbentuk bata yang memperlihatkan kemungkinan pemanfaatan limbah sebagai bahan bangunan masa depan. Selain Andy,  arsitek lain yang berpartisipasi adalah Dhaniesal, dan Dendy Darman.

Andy menjelaskan, pengembangan material bata yang dilakukannya berlangsung melalui lima tahap. Proses itu dimulai dari penelitian dan pengembangan bata RMH, dilanjutkan dengan inovasi bata lego.

Tahap berikutnya adalah pengembangan bata dari tanah tidak subur yang tidak melalui proses pembakaran di Bangkalan. Dalam proyek tersebut, Andy juga membangun rumah subsidi dan mendirikan pabrik bata lego di dekat kawasan perumahan untuk melibatkan masyarakat lokal.

Riset kemudian beralih pada pemanfaatan limbah terakota untuk menghasilkan bata tanpa pembakaran. Langkah ini dilakukan agar produksi material bangunan tidak terus-menerus bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.

Pada tahap kelima, Andy mulai menggunakan limbah plastik dan PVC sebagai respons terhadap persoalan lingkungan global. Ia berharap material tersebut dapat menjadi alternatif bahan bangunan yang bersumber dari limbah, bukan dari pengambilan material alam secara berlebihan.

“Prinsipnya, selama manusia tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan, bumi memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri,” ujar arek Suroboyo yang tinggal di Sidoarjo ini.

Cakra Manggilingan sebagai Filosofi Instalasi

Gagasan mengenai keberlanjutan lingkungan tersebut diterjemahkan Andy melalui karya instalasi berbentuk melingkar yang mengangkat filosofi Jawa, Cakra Manggilingan. Andy sendiri mengakui bahwa keikutsertaannya di ARTSUBS merupakan pengalaman pertama berpameran dalam konteks seni rupa.

Karya tersebut berupa tumpukan material mirip batu bata yang terpasang hampir melingkar, dengan bata-bata yang melayang-layang di bagian ruangan tengah. Instalasi tersebut tidak sekadar menghadirkan bentuk visual, tetapi juga merepresentasikan hubungan manusia dengan alam semesta, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Filosofi Cakra Manggilingan mengingatkan bahwa kehidupan senantiasa berputar. Manusia tidak sepatutnya sombong ketika berada di atas dan tetap bersyukur ketika berada di bawah.

Filosofi ini menggambarkan kehidupan manusia yang senantiasa berputar. Manusia diingatkan agar tidak sombong ketika berada di atas dan tetap bersyukur ketika berada di bawah. Dalam konteks karya, gagasan tersebut sekaligus merepresentasikan siklus kehidupan dan perputaran bumi.

Instalasi tersebut juga memuat hubungan horizontal antarsesama manusia, hubungan vertikal dengan Tuhan, serta hubungan manusia dengan alam.

Untuk mewujudkan karya itu, Andy melibatkan pembuatan sekitar 1.800 keping bata yang dicetak menggunakan mesin CNC berdasarkan desain yang telah disiapkan. Susunan material, bentuk melingkar, dan tata pencahayaan dirancang sebagai satu kesatuan ekspresi artistik.

Inspirasi bentuk bata tidak sepenuhnya mengacu pada bentuk kotak konvensional. Andy juga merujuk pada sejarah Mesopotamia yang mengenal beragam kemungkinan bentuk bata.

Dalam pengembangannya, terakota dipadukan dengan material PVC dan plastik limbah. Bagian abu-abu pada instalasi memperlihatkan penggunaan agregat campuran limbah PVC dan plastik.

Dalam diskusi tersebut, Andy juga menegaskan bahwa pengembangan arsitektur Nusantara tidak seharusnya berhenti pada upaya menghidupkan kembali bentuk-bentuk tradisional. Arsitektur Nusantara justru memiliki kekuatan karena mampu merespons kondisi nyata, seperti iklim, geografi, ketersediaan material, dan intensitas sinar matahari.

Ia membedakan antara arsitektur tradisional yang kerap diperlakukan sebagai warisan museum dan arsitektur Nusantara yang terus berkembang melalui penyesuaian terhadap lingkungan.

“Yang dikembangkan bukan sekadar bentuk fisiknya, tetapi bagaimana arsitektur merespons kondisi lingkungan yang ada,” kata alumnus Arsitektur ITS lulusan tahun 2004 ini.

Andy mencontohkan pengalamannya mempelajari arsitektur Nusantara ketika mengembangkan Rumah Cukil. Dari proses tersebut, ia menemukan bahwa bangunan tradisional tidak hanya dirancang berdasarkan kebutuhan fungsi, tetapi juga mengandung pesan simbolis dan filosofis yang menyatu dengan keseluruhan elemen bangunan.

Rumah Tongkonan, misalnya, memperlihatkan bagaimana setiap elemen memiliki makna dan dirancang secara holistik. Demikian pula Rumah Joglo bagi masyarakat Jawa.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan arsitektur di Indonesia selama ini masih banyak berkiblat pada Barat. Padahal, menurutnya, arsitektur Nusantara memiliki pencapaian dan kekuatan tersendiri yang tidak perlu ditempatkan dalam posisi inferior dibandingkan arsitektur Eropa.

Karena itu, diperlukan momentum untuk mengambil kembali proses dan pengetahuan arsitektural yang berkembang di Indonesia, sehingga setiap generasi dapat menghasilkan pencapaian berbeda.

Arsitek Harus Bijak Merespons Lingkungan

Andy menilai peran arsitek sangat krusial karena profesi tersebut bersinggungan langsung dengan sektor pembangunan. Setiap keputusan mengenai lokasi, material, dan rancangan bangunan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.

Ia berupaya meyakinkan klien bahwa praktik arsitektur seharusnya meminimalkan kerusakan alam, antara lain dengan merespons kontur tanah dan mempertahankan objek alami yang telah ada di lokasi pembangunan.

Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip arsitektur yang tidak melawan kondisi alam, melainkan meresponsnya melalui pemilihan material dan pendekatan desain yang tepat.

Menurut Andy, nenek moyang telah memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan. Mereka tidak berusaha melawan iklim, tetapi menyesuaikan rancangan bangunan dengan kondisi alam melalui penggunaan material secara jujur. Karena itu, keberlanjutan arsitektur juga harus bertumpu pada ketersediaan material dan pemberdayaan potensi lokal.

Diskusi yang dipandu Asmudjo J. Irianto tersebut juga membicarakan pertemuan antara disiplin arsitektur dan seni rupa kontemporer. Hubungan keduanya telah memiliki akar sejarah panjang. Pada masa Renaisans, seni lukis, seni patung, dan arsitektur dikenal sebagai tiga pilar utama seni. Tokoh seperti Michelangelo bahkan menjalankan peran sebagai pelukis sekaligus arsitek. Dalam perkembangan seni kontemporer, perlintasan antardisiplin semakin terbuka. Praktisi desain dan arsitektur dapat menyeberang ke dunia seni rupa, demikian pula sebaliknya.

Ia mengatakan terdapat perbedaan mendasar antara merancang bangunan dan membuat instalasi seni. Dalam arsitektur, fungsi menjadi pertimbangan utama karena bangunan akan dihuni dan digunakan. Sementara dalam pameran seni, instalasi tidak lagi dituntut memenuhi fungsi bangunan, melainkan hadir sebagai karya seni.

Meski demikian, Andy tidak memandang seni sebagai sesuatu yang terpisah dari arsitektur. Menurutnya, arsitektur merupakan bentuk seni tersendiri, sementara proses menyelesaikan persoalan desain juga merupakan bagian dari praktik artistik.

Bagi Andy, keterlibatannya dalam pameran tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas kemungkinan ekspresi arsitektur melalui pendekatan seni rupa, sekaligus mempertemukan gagasan tentang material, tradisi, teknologi, dan keberlanjutan lingkungan. (put)

 

In category: Berita•seni rupa•Terbaru
Related Post
no-img
Nirwan Dewanto: Seni Rupa Kontemporer adalah Medan Omnivora yang Melampaui Batas

SURABAYA – Seni rupa kontemporer merupakan medan yang bersifat omnivora a...

no-img
Surabaya Kaya Materi untuk Eksplorasi Seni

SURABAYA: Kota Surabaya ini sangat kaya dengan materi yang dapat dieksplora...

no-img
Andy Rahman: Arsitektur Dituntut Kurangi Eksploitasi Alam

SURABAYA – Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan dengan men...

no-img
ArtSubs dan Tantangan Membangun Ekosistem Seni Rupa Surabaya

SURABAYA — Penyelenggaraan ArtSubs di Surabaya tidak hanya memperlihatkan...

no-img
WICARA KURATOR ARTSUBS

Bagaimana pertimbangan dan kriteria yang digunakan kurator dalam menentukan...

no-img
Dari GWK, Nyoman Nuarta Belajar Memperjuangkan Gagasan Besar

SURABAYA: Pengalaman panjang membangun Garuda Wisnu Kencana (GWK) mengajark...

  • 10,124
  • 3