KARYA “ROOT” HARI GHULUR: DEHUMANISASI DI HAMPARAN JAGUNG
Catatan Henri Nurcahyo (bagian 3 – habis) Di atas hamparan terpal biru, tiga orang petani menari di antara bonggol dan butir-butir jagung...
Catatan Henri Nurcahyo (bagian 3 – habis) Di atas hamparan terpal biru, tiga orang petani menari di antara bonggol dan butir-butir jagung...
Catatan Henri Nurcahyo (bagian kedua) Sebuah terpal mengkilat warna kemerahan terlipat di tengah ruangan. Bagian tengahnya yang menonjol sepert...
(bagian satu) Hariyanto alias Hari Ghulur menyajikan karya baru, namanya Root, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Rabu malam (8/7/26...
NGANJUK: Pentas ludruk besutan oleh Meimura (Meijono) kali ini terasa seperti halaman rumah yang tiba-tiba berubah menjadi panggung kenangan. Bukan se...
SIDOARJO: Juragan tambak udang dan tambak bandeng gegeran. Keduanya tak mau mengalah. Masing-masing tidak mau berbagi atas hasil panennya kepada tetan...
Catatan Henri Nurcahyo KATA Hungaria (Hongaria) tiba-tiba menyeruak ketika ada berita digelar “Hungarian Foklore Music Concert.” Sebuah ev...
Gending-gending Karawitan mengalun syahdu dari sebuah rumah sederhana bernama Wisma Budaya Larasati, di Kampung Burengan, Kota Kediri. Malam itu Jumat...
Catatan Henri Nurcahyo TEATER API Indonesia (TAI) menghadirkan pertunjukan bertajuk “Toean Markoen” di Balai Budaya Surabaya, Sabtu (23/8/2...
Catatan Henri Nurcahyo MESKI sekilas tampak sederhana, dua karya Arahmaiani dalam ARTSUBS #2, “Kasih” dan Song of the Rainbow, menyimpan ...
Catatan Henri Nurcahyo PADA mulanya Tari Topeng Lur-Gulur tumbuh di Desa Larangan Barma, Sumenep, Madura, sebagai ritual musim panen yang sak...