Tiga Biola dan Sebuah Tanya: Mengapa Penyanyi Itu Tak Menari?
Catatan Henri Nurcahyo
KATA Hungaria (Hongaria) tiba-tiba menyeruak ketika ada berita digelar “Hungarian Foklore Music Concert.” Sebuah event musik yang digelar oleh Kedutaan Besar Hungaria di Indonesia, bekerjasama dengan JW Marriot Surabaya. Hungaria terdengar seperti kata asing namun pernah singgah. Sebuah negeri yang sangat jauh, berada di jantung Eropa di kawasan Eropa Tengah, tidak memiliki pantai, dan dikepung tujuh negara sekaligus.
Pertunjukan ini merupakan bagian dari Hungarian Cultural Week yang berlangsung di Jakarta dan Surabaya. Tidak hanya menghadirkan konser musik, tetapi juga kolaborasi fashion show dan kuliner. Tapi di Balai Pemuda hanya ada konser musik. Mungkin yang lainnya diselenggarakan di JW Marriot Hotel.
Minggu siang itu, sebuah kelompok musik yang bernama “Flaska Banda” tampil di Balai Budaya, Balai Pemuda Surabaya (29/3). Berdiri dalam jarak yang agak berjauhan, memenuhi lebar panggung, tiga pemain menggesek biola, seorang pemain memegang kontrabas, dan satu-satunya perempuan berdiri di tengah menyanyikan lagu-lagu yang mampu membius penonton.
Selama pertunjukan berlangsung, tiga biola itu seperti membangun percakapan yang tak kasatmata. Dua di antaranya menghamparkan nada-nada panjang—legato yang mengalir seperti napas yang ditarik perlahan, menjaga ruang tetap utuh dan hangat. Sementara satu lainnya menyelinap lincah di antaranya, melontarkan gesekan-gesekan pendek—staccato—yang tajam, cepat, seolah menjadi denyut nadi yang menghidupkan tubuh musik. Di antara aliran dan percik itu, irama tidak sekadar terdengar, melainkan berdenyut: kadang berkejaran, kadang saling menunggu, seperti tiga suara yang tahu persis kapan harus menjadi latar, dan kapan melompat ke depan, mencuri cahaya.
Di belakang riuh percakapan tiga biola itu, kontrabas berdiri seperti tanah yang tak banyak bicara, tetapi menentukan arah pijak. Ia tidak mengejar kelincahan, tidak pula larut dalam lengkung panjang, tapi justru memahat waktu. Setiap petikan atau gesekan nadanya jatuh seperti langkah yang pasti: dalam, bulat, dan menenangkan. Dari sanalah ritme menemukan tulangnya, dari sanalah seluruh permainan berani berlari tanpa takut kehilangan arah.
Sesekali, kontrabas terdengar seperti detak jantung yang sengaja diperlambat—memberi ruang bagi biola untuk menari lebih liar, lebih bebas. Namun justru dalam kesederhanaannya, ia menyimpan wibawa: penjaga keseimbangan, penenun kedalaman, yang membuat musik tidak hanya melayang, tetapi juga mengakar.

Perempuan penyanyi itu tampil dengan rambut pirang yang diikat ke belakang, mengenakan rok terusan dengan ikatan pinggang berwarna dasar putih dan ornamen-ornamen merah muda, berlengan panjang warna merah, sementara sepatu boots membungkus kedua kakinya. Penampilannya sangat meriah, dengan hiasan kerlap-kerlip di sekujur busananya. Bagian bawah roknya yang melebar dan longgar.
Saya membayangkan, dengan musik yang dinamis dan suara yang kadang melengking, penyanyi itu akan menari-nari, atau setidaknya menggerak-gerakkan tubuhnya seiring dengan musik yang menghentak-hentak, sementara roknya akan sedikit berkibar manakala dia memutar tubuhnya. Namun ternyata selama membawakan sekitar 6 lagu panjang, kurang dari 1 jam, dia hanya berdiri tegak, hanya sesekali kedua kakinya berjinjit-jinjit. Kedua lengannya tetap menggantung sepanjang pertunjukan. Bahkan sama sekali tidak menyentuh mik. Sayang sekali.
Sebagai penonton, saya tanpa sadar mengetuk-ngetukkan tangan ke pegangan kursi, juga sedikit menghentak-hentakkan kaki ke lantai, mengikuti irama riang gembira yang seolah merayap dari panggung ke tubuh. Musik itu tidak lagi tinggal di telinga; ia menjalar ke sendi, ke otot, ke ingatan yang entah dari mana terasa akrab. Dalam sekejap, batas antara pemain dan penonton mencair. Saya merasa bukan lagi sekadar yang menyaksikan, melainkan yang ikut digerakkan, digiring, bahkan diajak menari diam-diam di dalam diri. Dan di sanalah, di antara ketukan kecil yang tak disadari itu, musik menemukan rumahnya yang paling jujur: tubuh manusia yang tak bisa berbohong pada irama.
Timbul pertanyaan: Mengapa si cantik itu tidak menari? Bukankah musik rakyat dan tarian adalah pasangan yang ideal? Padahal ada tari rakyat paling terkenal di Hungaria, namanya Csárdás. Tarian ini ditandai dengan tempo yang dimulai lambat lalu semakin cepat dan energik. Pasangan penari dengan kostum tradisional menampilkan gerakan penuh semangat, menggambarkan kebersamaan dan kekuatan komunitas.
Tarian csárdás tidak hanya populer di desa-desa, tetapi juga sering ditampilkan di panggung internasional. Banyak kelompok tari Hungaria yang melakukan tur ke luar negeri, memperkenalkan warisan budaya bangsa ke audiens global. Hal ini memperkuat citra Hungaria sebagai negara dengan tradisi seni yang mendalam.
Konon musik rakyat Hungaria tak hanya soal hiburan, tetapi juga identitas nasional. Dari pedesaan hingga kota besar, musik dan tari rakyat tetap dilestarikan lewat festival, pertunjukan, hingga pendidikan seni. Generasi muda pun terus belajar agar tradisi ini tak hilang.
Selain biola, kontrabas, dan klarinet, sebetulnya ada instrumen khas Hungaria, namanya Cimbalom. Instrumen ini dipadukan untuk menciptakan harmoni yang kuat, mendukung energi tarian Csárdás. Cimbalom adalah alat musik perkusi khas Hungaria, dimainkan dengan pemukul kecil di atas senar logam. Suaranya nyaring dan dinamis, sering digunakan dalam orkestra rakyat. Cimbalom menjadi simbol musik tradisional Eropa Tengah yang terkenal hingga ke kancah internasional.
Jujur saja, saya pingin sekali menyaksikan Cimbalon dimainkan di konser ini. Bukan biola yang sudah universal di seluruh dunia. Apalagi ini konser musik rakyat. Disayangkan juga, tidak ada penjelasan sama sekali terhadap setiap lagu.
Duta Besar (Dubes) Hungaria untuk Indonesia H.E. Lilla Karsay menyebut dalam sambutannya, bahwa musik folklor Hungaria yang ditampilkan memiliki karakter beragam, mulai dari tempo cepat hingga melankolis, serta menghadirkan berbagai ritme dan instrumen khas. Musik menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas. “Musik adalah bahasa universal yang bisa menyampaikan cerita tanpa batas bahasa,” tuturnya.
Musik memang tak harus dipahami syairnya. Apalagi kali ini menggunakan bahasa Magyar, bahasa nasional Hungaria, yang konon merupakan bahasa yang paling sulit dipelajari. Kita sebagai penonton hanya bisa menyerahkan diri pada suasana yang tercipta. Kadang seperti ada nyanyian yang dilantunkan di tengah padang rumput, ada yang menghentak-hentak seperti derap-derap kaki kuda: Sebagaimana tradisi menunggang kuda yang disebut Csiko. Tradisi ini sudah ada sejak Hungaria dihuni penduduk pertama, yakni orang-orang Magyar. Mereka menunggang kuda dari wilayah Asia Tengah menuju wilayah yang kini disebut Hungaria.

Membayangkan Hungaria
Salah satu tujuan acara ini, sebagaimana dikatakan Ibu Dubes, adalah memperkenalkan budaya Hungaria kepada masyarakat Indonesia agar tertarik ke negeri yang menyukai paprika dalam banyak menu makanannya itu. Bisa membayangkan masakan sop berisi potongan daging domba, kentang, dan buncis? Nah itu salah satu menu khas Hungaria, kuahnya berwarna merah yang light dan berempah. Rasanya cenderung asam. Namanya Palouc Soup.
Ada lagi yang disebut Beef Stew khas Hungaria: Daging sapi yang dimasak dengan tambahan red wine. Tekstur dagingnya sangat lembut. Rasanya sedikit asam dan kaya rasa. Sedangkan makanan yang populer adalah Goulash Soup. Berupa potongan daging sapi, kentang, wortel, bawang bombay, bawang putih, dan paprika bubuk. Bubuk parika ini juga digunakan dalam menu yang bernama Gundel Sirloin Steak. Potongan daging sapi dengan kuah berwarna merah dan kaya rasa, dimasak dengan buncis, jamur shimeji, bawang bombay, dan bawang putih.
Ah jangan bicara kuliner. Bikin ngiler. Karena kali ini hanya pertunjukan musik saja. Jadi, dengan musik rakyat seperti itu, bagaimanakah dapat memahami budaya negara Hungaria? Pada mulanya negara ini berupa kerajaan, berdiri tahun 896 M sehingga menjadi salah satu negara tertua di Eropa, lebih tua dibanding Prancis, Jerman, dan Inggris. Sementara di tanah Jawa masih berada di bawah kerajaan Mataram Kuno. Setelah berulangkali berganti sistem pemerintahan, bekas negara satelit Uni Soviet ini menganut sistem pemerintahan republik parlementer. Menariknya, Hungaria juga pernah menjadi negara muslim selama 150 tahun pada masa khilafah Usmaniyah (1541 – 1699 M). Banyak masjid dan bangunan-bangunan Islam yang artistik diubah menjadi gereja di negeri yang mayoritas Katolik Roma ini.
Hungaria hanya negara kecil, namun wilayahnya tercatat nomor 18 terluas di Eropa. Padahal hanya 93.000 kilometer persegi atau setara dengan sekitar 1,3 kali luas provinsi Jawa Timur. Sementara menurut catatan statistik tahun 2020, penduduk Hungaria sebanyak 9.769.526 jiwa. Itupun banyak yang berdesakan di ibukota, sehingga Budapest menjadi kota terbesar ke-9 di Uni Eropa berdasarkan jumlah populasinya.
Bandingkan dengan jumlah penduduk Jawa Timur sekitar 40 juta jiwa lebih. Meski luas Hungaria lebih besar sedikit dibanding Jatim namun jumlah penduduknya hanya sekitar seperempatnya.
Jumlah penduduk yang sedikit itu ternyata sangat berkualitas. Tidak pernah terbayangkan, bahwa tahun 2007 sebanyak 13 orang Hongaria menerima Hadiah Nobel setiap kategori, kecuali kategori perdamaian. Bahkan, yang mengagumkan, negeri ini melahirkan banyak penemu dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Di antaranya: korek api tanpa suara, kubus rubik, bohlam listrik, motor listrik, trafo modern, telepon dua arah, vitamin C, kamera termografis dan tivi plasma, reaksi rantai nuklir, ballpoint, karburator dan mesin stasioner, bahasa pemrograman basic, hingga penemuan bom hidrogen.
Lantas, kalau penduduknya sedikit, seperti apakah sebagian besar wilayahnya berupa lahan-lahan terbuka dengan padang rumput yang membentang luas? Saya membayangkan tanah Sumba, di mana kuda-kuda berkejaran di padang-padang terbuka, dan sapi-sapi dilepas liar. Apalagi, banyak menu kuliner di Hungaria yang memanfaatkan daging sapi. Sebagian besar lansekap negeri Hungaria terdiri dari tanah yang rata, sementara di sisi utara berupa kawasan perbukitan berbatasan dengan negara Slovakia.
Meski tidak memiliki pantai, namun Hungaria dilalui oleh dua sungai besar yang bisa dilayari kapal-kapal besar, membelah dari utara ke selatan, serta satu sungai lagi di sisi timur di tapal batas negara Slovenia dan Croatia.
Yang menarik, negara yang beribukota di Budapest ini memiliki 1.500 mata air panas, terbanyak di seluruh dunia, 123 di antaranya ada di Budapest. Sehingga banyak sekali pemandian air panas yang bahkan sudah ada sejak zaman Romawi. Tidak heran maka mandi spa menjadi salah satu gaya hidup yang populer di negeri ini.
Catatan rekor yang diraih Hungaria, antara lain, memiliki gedung parlemen terbesar di dunia, sinagog terbesar kedua di dunia, juga mempunyai salah satu universitas di dunia, yaitu Universitas Pecs yang berdiri tahun 1.367. Lantaran penduduknya yang multikultural, Pecs sudah ditetapkan sebagai Kota Perdamaian oleh Unesco.

Dikutip dari Wikipedia, Hungaria telah memberikan banyak kontribusi dalam bidang musik rakyat, populer, dan klasik. Musik rakyat Hungaria merupakan bagian penting dari identitas nasional dan terus memainkan peran besar dalam kehidupan musik di negara tersebut. Musik klasik sejak lama dipandang sebagai sebuah “eksperimen, yang lahir dari akar-akar tradisi dan bertumbuh di tanah Hungaria, untuk menciptakan suatu bentuk kesadaran budaya musik dengan memanfaatkan dunia musikal dari lagu-lagu rakyat.
Meskipun kalangan elit Hungaria telah lama memiliki hubungan budaya dan politik dengan Eropa—yang membawa masuk berbagai gagasan musik Eropa—masyarakat pedesaan tetap mempertahankan tradisi mereka sendiri. Akibatnya, pada akhir abad ke-19, para komponis Hungaria dapat menggali musik rakyat pedesaan untuk (kembali) membangun gaya musik klasik khas Hungaria.
Sebagai contoh, Béla Bartók dan Zoltán Kodály, dua komponis paling terkenal dari Hungaria, dikenal luas karena penggunaan tema-tema rakyat dalam karya mereka. Bartók mengumpulkan lagu-lagu rakyat dari berbagai wilayah Eropa Tengah dan Timur—termasuk Kroasia, Ceko, Polandia, Rumania, Slovakia, dan Serbia—sementara Kodály lebih menaruh perhatian pada upaya menemukan gaya musik yang benar-benar mencerminkan identitas Hungaria.
Salah satu aspek penting dalam lanskap budaya Hungaria adalah musik Romani, yang telah hadir secara historis selama berabad-abad.
Pada masa pemerintahan Komunis di Hungaria (1949–1989), sebuah Komite Lagu menelusuri dan menyensor musik populer untuk mencari jejak subversi dan ketidakmurnian ideologis. Namun setelah periode itu, industri musik Hungaria mulai bangkit kembali, melahirkan para musisi sukses di berbagai bidang—seperti jazz dengan pemain trompet Rudolf Tomsits dan pianis-komponis Károly Binder, serta dalam bentuk modern dari musik rakyat Hungaria melalui Ferenc Sebő dan Márta Sebestyén.
Sementara itu, tiga raksasa musik rock Hungaria—Illés, Metró, dan Omega—tetap sangat populer hingga kini.
Dan kali ini, ketika Flaska Banda hendak mengakhiri pertunjukannya di Surabaya, si penyanyi cantik itu berjalan ke luar panggung dan kembali lagi membawa sebuah buku. Ternyata itu buku catatan teks lagu daerah Nangroe Aceh Darussalam: ‘Bungong Jeumpa.’ Maka ketika lagu itu dinyanyikan, meledaklah tepuk tangan di gedung Balai Budaya.
Bungong Jeumpa atau bunga Cempaka, yang termasyhur dari tanah Aceh, digambarkan sebagai bunga yang elok rupanya—warnanya memadu putih, kuning, dan merah dalam satu tangkai yang begitu indah. Di bawah sinar rembulan, ia bergoyang pelan diterpa angin, hingga kelopaknya gugur dan bertumpuk, meninggalkan jejak keharuman yang lembut namun memikat. Aromanya begitu wangi, seakan mengundang siapa saja untuk mendekat dan menghirupnya. Dalam keelokan rupa dan semerbak baunya, bunga cempaka hadir bukan sekadar sebagai bunga, melainkan sebagai lambang keindahan yang sederhana, namun diam-diam meresap ke dalam rasa.
Mengapa lagu ini yang dipilih? Barangkali karena ritmenya nyaris sama dengan musik rakyat Hungaria. Sama-sama ceria dan rancak. Selain itu, lagu Bungong Jeumpa ternyata merupakan lagu kuno, sudah ada sejak abad ke-7, hampir sama tuanya dengan usia Hungaria. Begitulah. Köszi (terimakasih). Nagyon jó előadás! (pertunjukan yang bagus).