Besutan Meimura Masuk Kandang Macan
JOMBANG: Meimura alias Meijono tak ubahnya masuk kandang macan ketika dia menggelar pentas Besutan di Warung Komunitas Rebung, Mojokrapak, Tembelang, Jombang Sabtu malam (18/4). Disebut kandang macan karena Besutan itu sendiri berasal dari Jombang. Dimulai dari tokoh Pak Santik, yang kemudian berubah menjadi kesenian Lerok, dan akhirnya menjadi seni pertunjukan ludruk sebagaimana yang dikenal selama ini. Itu sebabnya gelar ketiga dari rangkaian pertunjukan di 10 kota ini dinamakan “Besut Mudik.”
Dalam diskusi usai pementasan budayawan Nasrul Illah sebagai salah satu narasumber menyebut bahwa Besutan Jombang dan Surabaya itu beda. Besutan itu cikal bakal ludruk, bukan ludruk itu sendiri. Dengan menyebut Ludruk Besutan, itu kurang tepat, karena campur aduk. Nasrul bahkan bicara panjang lebar perihal sejarah dan asal mula Besutan secara runtut dan detail.

Dalam kesempatan diskusi juga muncul gugatan dari peserta, mengapa topi yang dikenakan Meimura seperti topi bayi, bukan kerpus warna merah. Mengapa Besut membawa daun pisang, ini berbeda dengan Besutan Jombangan, apa maksudnya.
Pertanyaan-pertanyaan ini memang sebetulnya bisa dijawab langsung oleh Meimura selaku sutradara dan sekaligus aktor yang membawakan tokoh Besut. Namun moderator Henri Nurcahyo sengaja tidak memberinya kesempatan agar hal itu mengundang tafsir tersendiri dari penonton. Nasrul Illah memberikan tanggapan, juga Suwasis, narasumber lainnya. Semuanya sah-sah saja.
“Biarlah semuanya itu menjadi pertanyaan, karena kesenian yang baik itu manakala mampu melahirkan pertanyaan dan renungan. Kalau menuntut jawaban kongkrit, itu namanya penyuluhan,” ujar Henri.
Suwasis, yang juga ketua Komuitas Rebung Pring Ori, mengudar asal mula keterlibatannya sendiri dalam dunia ludruk. Di mana pergaulannya dengan kalangan waria malah menjadi titik awal ketertarikannya dengan ludruk. Bahwasanya pemain-pemain perempuan dalam pementasan ludruk biasanya diperankan oleh laki-laki.
Dan ini sejalan dengan yang ditampilkan Meimura kali ini, di mana dia muncul mengawali pertunjukan dengan memerankan sosok Rusmini, perempuan pasangan Besut. Rusmini muncul dari arah belakang penonton, membawa obor, dan sehelai daun pisang, sambil mendendangkan kidungan. Dia menyampaikan ucapan selamat datang pada penonton, melontarkan ucapan-ucapan doa yang berharap penonton mendapatkan rezeki, kebahagiaan, dan keselamatan.
“Sik yo, aku tak nyusul Cak Besut disik,” ujarnya lantas ke luar panggung.

Maka muncullah tokoh Sumo Gambar (diperankan Sarip) yang ngudarasa soal kehidupan di desanya. Soal ambisinya menjadi lurah dengan cara apapun. Hal ini lantas menimbulkan perdebatan sengit ketika Man Jamino (Mustaqim) muncul ke panggung. Perdebatan seru tak bisa mereda, bahkan sampai tokoh Besut hadir mendamaikan, masih juga menemui jalan buntu. Akhirnya, sebagaimana biasa, lantas tokoh Besut mengundang salah satu penonton hadir di panggung untuk menjadi penengah gegeran soal pilihan lurah ini. Kali ini yang didaulat tampil adalah Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Anom Antono.
Meski sebagai pejabat, Anom dikenal akrab dengan seniman, bahkan menyaksikan acara ini hingga tuntas, bahkan masih disambung dengan perbincangan santai dengan sejumlah peserta diskusi. Dalam kesempatan memberikan sambutan, Anom bahkan menyenandungkan sejumlah kidungan. Dia memberikan apresiasi yang bagus terhadap pentas Besutan oleh Meimura ini.
Bukan hanya Anom, Kepala Kantor Kementerian Agama Cabang Jombang, Muhajir, tampil membawakan geguritan alias puisi Jawa. Sebelummya pegiat budaya dan penulis Dian Sukarno membawakan kidungan juga. Maka ketika Cak Ukil, yang dikenal sebagai pasangan Cak Silo tampil ke panggung. Suasana menjadi ger-geran penuh dengan gelak tawa.

Pentas yang dimulai pukul 20.30 ini sempat dikhawitarkan gagal lantaran hujan turun sangat deras. Tapi ternyata begitu hujan reda penonton datang berduyun-duyun sehingga halaman samping Warung Angkringan Rebung ini penuh sesak penonton yang duduk lesehan.
Pentas Besutan ini merupakan program Pemberdayaan Ruang Publik Kementerian Kebudayaan yang diterima oleh Meijono (Meimura) secara perorangan. Usai Jombang, minggu depan (25/4) dilanjutkan pentas di Nganjuk, dan Mojokerto (7/5). (*)