Besut Mudik ke Jombang
JOMBANG: Setelah Surabaya dan Sidoarjo, kali ini pentas keliling “Besut Jajah Deso Milangkori” mudik ke Jombang. Besutan memang cikal bakal ludruk, berasal dari Jombang, maka pergelaran Ludruk Garingan oleh Meimura ini bagaikan perjalanan pulang ke kampung halaman. Kali ini acara digelar di Sanggar Komunitas Rebung, Jl. Anggrek RT 6 RW 11, Mojokrapak, Tembelang, Jombang, pada hari Sabtu (18/4/26) pukul 19.00.
Meimura (Meijono) sebagai tokoh Besut akan didampingi oleh dua pemain lokal, Azis dan Takim, anggota Komunitas Rebung. Sedangkan usai pementasan diselenggarakan diskusi dengan narasumber budayawan Nasrulillah, dan ketua Komunitas Rebung, Suwasis, dengan moderator Henri Nurcahyo.
Pentas keliling ini merupakan program Pemberdayaan Ruang Publik dari Kementerian Kebudayaan RI, yang dilakukan di 10 kota di Jawa Timur. Selain 3 kota tersebut di atas, minggu depan (25/4) pentas di Nganjuk, menyusul Mojokerto, Kediri, Madiun, Blitar, Malang, dan Jember.
Menurut Meimura, Mudik dalam tafsir paling sederhana, adalah pulang kampung. Tapi bagi Besut—sosok dalam kesenian Besutan yang konon lahir dari rahim kultural Jombang—mudik bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan ideologis, estetis, bahkan politis. Ia bukan hanya pulang ke tanah, tapi pulang ke asal-usul makna.
Sebelum Nusantara menjelma menjadi NKRI, Besut sudah lebih dulu menjadi “warga negara imajiner” yang setia mengabdi pada rakyat: menghibur, menyindir, dan diam-diam mencerdaskan. Ia bukan pahlawan bersenjata, tapi bersuara. Ia tidak mengangkat bambu runcing, tapi mengasah nalar publik lewat guyonan yang tampak remeh namun seringkali menggigit lebih tajam dari pidato resmi.
Di Surabaya, Besut menjelma menjadi Ludruk—kesenian rakyat yang tak sekadar tontonan, tapi juga tuntunan (meski seringkali tuntunan itu diselipkan dalam tawa yang nyaris tak dianggap serius). Ludruk bukan hanya panggung hiburan, melainkan “universitas rakyat” tempat wong cilik belajar membaca realitas: tentang ketimpangan, kolonialisme, hingga absurditas kekuasaan.
Dan ketika kita menyebut Jombang sebagai kampung halaman Besut, kita tidak sedang bicara kampung biasa. Kita sedang menyebut sebuah “lumbung kesadaran”—tempat lahirnya para pemikir bangsa yang mengolah iman, ilmu, dan kebudayaan menjadi energi perubahan.
Sebagaimana kita ketahui bersama, di tanah ini tercetak jejak Hasyim Asy’ari, yang merumuskan relasi antara agama dan kebangsaan. Dari rahim pemikiran beliau, lahir resolusi jihad—sebuah doktrin spiritual yang menjelma menjadi gerakan historis.
Di jalur lain, kita menemukan Abdurrahman Wahid—tokoh yang mengajarkan bahwa humor adalah cara paling cerdas untuk melawan kekuasaan yang kaku. Gus Dur, dalam banyak hal, adalah “Besut” dalam panggung politik nasional: santai, jenaka, tapi mematikan dalam gagasan.
Lalu ada Nurcholish Madjid, yang mengguncang cara berpikir umat dengan gagasan “Islam Yes, Partai Islam No”—sebuah upaya memisahkan nilai dari kendaraan politiknya.
Dan tentu saja Emha Ainun Nadjib, yang hingga hari ini menjadikan panggung sebagai ruang dialog spiritual, sosial, dan kultural—mirip dengan bagaimana Besut bekerja, hanya dengan spektrum yang lebih luas.
Maka, ketika Besut mudik ke Jombang, ia sebenarnya sedang pulang ke “rumah besar pemikiran”. Dan di titik ini, pertanyaannya menjadi semakin tajam:
“Apa yang paling tepat diberikan kepada kampung halaman yang sudah begitu kaya ini? Paling paling Besut yang ini malah kulak-an,” ujar Mei disusul tawa.
Apakah cukup dengan nostalgia. Kampung halaman seperti Jombang tidak membutuhkan “kenangan”, ia membutuhkan “kelanjutan dialektika”. Mudik adalah bentuk dialog antara tradisi dan transformasi. Dalam logika ini, Besut tidak boleh pulang sebagai sosok yang selesai. Ia harus pulang sebagai pertanyaan yang hidup.
Apakah tradisi masih menjadi sumber kebijaksanaan, atau sudah jadi pajangan budaya? Apakah humor masih menjadi alat kritik, atau sekadar hiburan tanpa risiko? Apakah pemikiran masih tumbuh, atau hanya dikutip?
Jika Jombang adalah “laboratorium pemikiran”, mungkin Besut adalah “metode eksperimental”-nya. Ia bekerja lewat praktik, bukan teori. Ia membumikan gagasan besar menjadi percakapan warung kopi, menjadi tawa di gardu ronda, menjadi kesadaran yang tumbuh tanpa terasa.
Maka, yang paling tepat diberikan kepada kampung halaman adalah: keberanian untuk terus berpikir—dengan cara yang membumi dan menggelitik. Bukan sekadar mengutip Gus Dur, tapi berani menertawakan kekuasaan seperti beliau. Bukan hanya mengagumi Cak Nur, tapi berani merumuskan ulang hubungan agama dan kehidupan publik. Bukan hanya mendengar Cak Nun, tapi berani membuka ruang dialog yang jujur.
Dan tentu saja, bukan hanya memainkan Besut—tapi menghidupkan rohnya. Besut harus menyadari dan berani berkata, dengan gaya khasnya: “Jombang iki gudange pemikir, disambang seksama yg paling mutakhir”
Dengan begitu cinta yang paling dalam tumbuh lagi—cinta yang tidak membekukan, tapi menggerakkan. Pada akhirnya, mudik bukan tentang kembali ke tempat di mana kita berasal. Tapi tentang memastikan bahwa tempat itu tetap menjadi sumber inspirasi kehidupan. (*)