Agenda•Terbaru

Besutan Masuk Kampus di Mojokerto

no-img
Besutan Masuk Kampus di Mojokerto

MOJOKERTO: Setelah tampil di empat kota, Ludruk Garingan “Besut Jajah Deso Milangkori”  oleh Meimura kali ini menyambangi lingkungan kampus. Pentas Besutan digelar pada Kamis pagi (7/5) pukul 10.00 WIB di kampus Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar. Dalam pementasan kali ini, isu yang diangkat bertajuk “Batu Batu Bersuara.”

Pemilik nama asli Meijono ini sengaja memilih format seni Besutan karena menghadirkan dua kekuatan sekaligus: kepiawaiannya sebagai aktor tunggal dalam tradisi teater modern, sekaligus kecintaannya terhadap seni tradisi ludruk. Jika teater modern kerap mengandalkan bangunan dramatik yang tertata, maka Besutan justru lincah bergerak di antara spontanitas, kritik sosial, dan kelakar yang membuat pesan terasa lebih membumi.  Besutan mampu membangun kedekatan langsung dengan penonton melalui gaya bertutur, humor khas, dan improvisasi.

Melalui format Besutan, Meimura tidak semata-mata mempertunjukkan seni pertunjukan yang menghibur, tetapi juga mengajak generasi muda kampus untuk berjumpa kembali dengan tradisi yang akrab, cair, dan relevan dengan isu-isu kekinian. Ludruk, dalam tangan Besutan, tidak hadir sebagai artefak museum yang berdebu, melainkan sebagai medium hidup yang masih bisa “berbicara” tentang zaman.

“Saya ingin mengajak anak-anak muda untuk mencintai ludruk dan secara aktif menumbuhkan serta mengembangkannya tanpa tergantung fasilitas dan beaya besar,” tegasnya.

Melalui Ludruk Garingan ini, tambahnya, bahwa ludruk bisa dipentaskan tanpa iringan gamelan, tanpa panggung dan perlengkapannya, tanpa kelompok yang permanen, dan bahkan bisa dipentaskan kapan saja dan di mana saja.

Karena Besutan bisa tampil cair dan improvisatif, sebagaimana pentas-pentas sebelumnya, Meimura akan menggandeng dua aktor lokal untuk menemaninya di atas panggung, yaitu: Kukun Triyoga dan Taufik. Keduanya adalah pegiat teater dan seni tradisi di Mojokerto yang memerankan tokoh Sumo Gambar dan Man Jamino. Sedangkan usai pementasan, disambung dengan sarasehan dengan pembicara Ki Bagong Sinukarto (Ketua FPK Jatim), dan Achmad Fatony dari UNIM, dengan moderator Henri Nurcahyo.

Tentang topik batu yang dihadirkan dalam pentas kali ini bisa melebar dalam banyak hal. Yang jelas, batu (situs) menjadi persoalan lokal di Mojokerto. Mulai jadi umpak rumah hingga berbagai keperluan yang selalu muncul di tengah masyarakat. Nah, pertengkaran Sumo Gambar dan Man Jamino bermula dari sana, ketika mereka menemukan batu dijadikan umpak, cowek, lumpang, sampai akik.

Pada mulanya tokoh Besut monolog dengan situs yang disebut cok bakal (sajen). Sedangkan Sumo Gambar dan Jamino adalah penambang pasir, sirtu, dan batu kali juga kadang batu andesit. Seiring kebutuhan yang terus melaju, keduanya sudah terlanjur jauh.  Di masa yang lalu keduanya sering menemukan berbagai hal, tanpa berfikir panjang memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah, hingga menjual ke pasar bahkan dalam bentuk yang berbeda.

Seiring meningkatnya pengetahuan keduanya akan bahaya penambangan terhadap lingkungan dan perlindungan terhadap situs-situs bersejarah, mereka merasa lahan penghasilannya semakin menyempit. Di sanalah perdebatan lahir. Dari satu jejak yang sama, tumbuh beragam makna. Ada yang melihat kejayaan, ada yang membaca luka. Ada yang percaya ini warisan agung, ada pula yang mencurigai manipulasi kuasa. Tafsir berkembang, berkelindan, bahkan saling bertolak belakang—seperti hidup itu sendiri yang tak pernah tunggal arti.

Toh hidup harus terus berjalan. Maka dibutuhkan pihak lain yang dapat memberikan solusi. Tentu bukan Besut pemberi solusinya. (put)

In category: Agenda•Terbaru
Related Post
no-img
Mengenang Nasirun: Dari Wayang hingga Kritik Kemapanan

SURABAYA: Nasirun telah berpulang. Pelukis dan perupa kelahiran Doplang, Ke...

no-img
Tiga Perupa Jatim Cerita Dapur Kreatifnya

SURABAYA:  Tiga perupa Jatim, yaitu Dwi Januartanto (Lamongan), Garis Edel...

no-img
Skenografi, Scanner, dan Cara Baru Menciptakan Seni

SURABAYA: Apakah karya seni harus selalu diciptakan dari sesuatu yang benar...

no-img
Museum di ARTSUBS: Teror dari Seniman yang Berkantor

KEHADIRAN Museum Tanpa Jangkar dan Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR) ...

no-img
Mono Serigrafi: Ketika Sablon Menjadi Medium Ekspresi Seni

NAMA resminya terdengar cukup rumit: Workshop Mono Serigrafi. Padahal, seca...

no-img
Nirwan Dewanto: Seni Rupa Kontemporer adalah Medan Omnivora yang Melampaui Batas

SURABAYA – Seni rupa kontemporer merupakan medan yang bersifat omnivora a...

  • 10,326
  • 10