Mengenang Nasirun: Dari Wayang hingga Kritik Kemapanan
SURABAYA: Nasirun telah berpulang. Pelukis dan perupa kelahiran Doplang, Kecamatan Adipala, Cilacap, pada 1965 itu meninggal dunia di Yogyakarta pada 1 Agustus 2026. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, terutama melalui karya-karya yang mempertemukan tradisi, ingatan masa kecil, mitologi, humor, serta kegelisahan terhadap kehidupan sosial dan politik.

source: tempo.co
Kepergian Nasirun menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan dan sumbangannya. Melalui diskusi “Mewicarakan Nasirun (1965–2026)” dalam rangkaian program publik ARTSUBS 202, menghadirkan Jumaldi Alfi, Sarah Monica, dan Ugo Untoro, serta dimoderatori kurator Nirwan Dewanto. Mereka akan membicarakan Nasirun dari berbagai perspektif: perjalanan kekaryaan, posisi artistiknya, relasinya dengan tradisi dan medan seni rupa, hingga kemungkinan membaca kembali karya-karyanya setelah ia tiada.
Pelaksanaannya: Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 15.00–17.00 WIB, di Selasar Balai Budaya, Balai Pemuda Lt. 2, Jl. Gubernur Suryo No. 15, Surabaya
Nasirun bukan sosok yang asing bagi ARTSUBS. Dalam penyelenggaraan ARTSUBS 2025, ia menjadi salah satu peserta dengan menghadirkan instalasi “Kuda Terbang” serta sejumlah lukisan dalam berbagai ukuran. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana praktik artistik Nasirun terus bergerak melampaui batas medium, sekaligus mempertemukan dunia imajinasi, ingatan budaya, dan bahasa visual yang telah menjadi ciri khasnya. Karya-karya tersebut juga menjadi bagian dari jejak perjumpaan Nasirun dengan medan seni rupa Surabaya melalui ARTSUBS.
Nasirun tumbuh dari lingkungan pedesaan Jawa yang kaya dengan cerita, tradisi, dan ekspresi kebudayaan. Ingatan masa kanak-kanaknya—dongeng yang dituturkan sang ibu, pertunjukan wayang purwa, kehidupan masyarakat desa, serta latar keislaman yang diperolehnya dari sang ayah—menjadi bagian penting dari sumber visual dan gagasan dalam kekaryaannya.
Jejak masa lampau Jawa dan Nusantara kemudian muncul dalam berbagai bentuk: tokoh-tokoh wayang, makhluk-makhluk imajiner, figur manusia, hingga bentuk-bentuk yang sulit dikategorikan. Semua itu tidak hadir sebagai upaya romantisasi masa lalu, melainkan diolah kembali melalui bahasa visual yang bebas, ekspresif, dekoratif, bahkan jenaka.

Di titik inilah kekaryaan Nasirun memperlihatkan persilangan yang menarik. Ia menyerap jejak sejumlah perupa penting Indonesia seperti Affandi, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Widayat, tetapi tidak berhenti pada pengaruh modernisme seni rupa Indonesia. Nasirun meramu kualitas ekspresif-ekspresionistis dengan kecenderungan dekoratif dan kekayaan ragam hias tradisi, menghadirkannya melalui bahasa visual yang khas dan kerap tak terduga.
Nasirun seolah memperlihatkan bagaimana sesuatu yang dianggap “ndeso”, kampungan, atau berasal dari pinggiran justru dapat menjadi sumber daya kreatif untuk membaca dunia yang semakin modern dan pascamodern. Satu kakinya berpijak pada modernisme seni rupa Indonesia, sementara kaki lainnya menjejak pada tradisi, kekriyaan, folklor, wayang, dan warisan kebudayaan Nusantara.
Dari persilangan itulah muncul humor yang menjadi salah satu kekuatan penting dalam karya Nasirun. Ia tidak hanya mengajak penonton tertawa, tetapi juga menghadirkan tawa yang getir. Wayang, mitologi, simbol keagamaan, dan berbagai bentuk tradisi dapat menjadi sarana untuk meledek sesuatu yang dianggap mapan—termasuk fundamentalisme politik, agama, maupun identitas kedaerahan.
Namun sasaran humor Nasirun tidak selalu berada di luar dirinya. Karyanya juga mengajak kita menertawakan diri sendiri: masyarakat, kebiasaan, keyakinan, serta cara kita memahami identitas dan perubahan zaman. Karena itu, kelucuan dalam karya Nasirun sering kali menyimpan lapisan kritik yang lebih dalam.
Dalam perjalanan berkaryanya, Nasirun tidak membatasi diri pada lukisan. Ia juga mengembangkan gagasan melalui patung, instalasi, objek, dan berbagai kemungkinan medium lainnya. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa bagi Nasirun, tradisi bukanlah sesuatu yang beku untuk dilestarikan, melainkan bahan yang terus dapat dibongkar, ditafsirkan, dipelesetkan, dan dihidupkan kembali dalam konteks kekinian.

“Mewicarakan Nasirun (1965–2026)” bukan semata-mata diskusi untuk mengenang seorang seniman yang telah pergi. Perbincangan ini merupakan upaya membaca kembali perjalanan Nasirun bersama medan seni rupa Yogyakarta sekaligus melihat bagaimana karya-karyanya berkontribusi terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. (put)