Tiga Perupa Jatim Cerita Dapur Kreatifnya
SURABAYA: Tiga perupa Jatim, yaitu Dwi Januartanto (Lamongan), Garis Edelweiss (Pasuruan), dan Ufa Faizah (Situbondo), kali ini tampil dalam program publik ARTSUBS: Wicara Seniman hari Sabtu (17/10) pukul 13.00 – 15.00 WIB, di selasar Balai Budaya, Balai Pemuda, Surabaya, dengan topik: “Seniman, Kota, dan Medan Seni.” Moderator: Nirwan Dewanto
Berikut ini adalah biodatanya:

Dwi Januartanto
Dwi Januartanto, tinggal dan berkarya antara Lamongan dan Surabaya. Praktik artistiknya lahir dari ketegangan antara lanskap agraris pedesaan dan lingkungan metropolitan yang dibentuk oleh industri, perdagangan, serta pembangunan infrastruktur. Kontras tersebut menjadi titik berangkat bagi eksplorasinya terhadap relasi pusat–pinggiran, sistem kerja dan ekstraksi, serta jejak kolonial yang masih memengaruhi kehidupan di Global Selatan.
Bekerja melalui lukisan, performans, dan instalasi, Dwi mengeksplorasi hubungan antara material, tubuh, dan struktur sosial-ekonomi dengan pendekatan konseptual yang bersifat eklektik dan berperspektif dekolonial. Melalui karya-karyanya, ia menempatkan pengalaman lokal sebagai bentuk pengetahuan yang hidup sekaligus menawarkan ruang refleksi mengenai kerja, identitas, dan solidaritas lintas komunitas.
Konsistensinya dalam berkarya membawanya meraih Gold Award UOB Painting of the Year Indonesia (2019), ColorPro Award (2022), serta menjadi finalis berbagai kompetisi nasional dan internasional, termasuk Decolonial Memorial Design Competition di Berlin (2024). Karyanya telah dipresentasikan di berbagai institusi dan perhelatan seni bergengsi, seperti Galeri Nasional Indonesia, Museum Neukölln Berlin, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, Jatim Biennale, Indonesia Bertutur, dan Lumbung Indonesia.
Selain aktif mengikuti program residensi di Indonesia dan luar negeri, Dwi juga berkiprah sebagai kurator dan penggerak ekosistem seni. Ia merupakan salah satu pendiri Serbuk Kayu dan Noise Brut, dua komunitas seni yang berfokus pada kolaborasi lintas disiplin, produksi pengetahuan, dan pengembangan praktik seni kontemporer di Indonesia.

Garis Edelweiss
Sebagai seniman visual, Garis Edelweiss bekerja dengan teknik manual dan digital. Praktik artistiknya bergerak di wilayah surealisme kontemporer dengan karakter visual yang memadukan ketenangan, kompleksitas, dan imajinasi. Karya-karyanya sering menampilkan makhluk hidup, tumbuhan, serta elemen-elemen organik yang diolah menjadi metafora atas pengalaman personal, hubungan manusia dengan alam, dan dinamika kehidupan. Detail-detail seperti duri, bulu, sisik, serta beragam tekstur organik menjadi ciri khas yang memperkuat kualitas visual sekaligus kedalaman simbolik dalam setiap karyanya.
Garis dikenal karena kemampuannya menggabungkan ketelitian teknis dengan narasi yang puitis dan reflektif. Melalui perpaduan media tradisional dan digital, ia membangun dunia visual yang mengundang penonton memasuki ruang antara realitas dan imajinasi. Karya-karyanya tidak hanya menawarkan pengalaman estetik, tetapi juga mengajak penonton merenungkan relasi antara manusia, makhluk hidup lain, dan lingkungan yang terus berubah.
Karyanya telah dipamerkan dalam berbagai ajang seni di Indonesia maupun mancanegara, termasuk ArtJog (2025), Art Jakarta Papers (2026), ArtSubs (2024), pameran di Grey Art Gallery Bandung, Galeri Salihara Jakarta, Haven Gallery New York, Suburbs Gallery Montreal, Outré Gallery Australia, Copro Gallery California, dan Scalea Bruno Zevi di Roma. Pada 2022, ia menerima AMI Award untuk kategori Best Album Design Graphic, disusul penghargaan Juara Pertama Beautiful Bizarre Art Prize 2023 – iCanvas Digital Award.

Ufa Faizah
Ufa Faizah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, kemudian meraih Magister Hukum di Universitas Airlangga. Selama beberapa tahun terakhir, Ufa secara intensif mengembangkan praktik seni lukis cat minyak dengan pendekatan direct painting (alla prima), sebuah metode yang memungkinkannya menghadirkan sapuan spontan sekaligus mempertahankan intensitas ekspresi pada setiap karya. Bahasa visualnya berpusat pada figur boneka yang ditransformasikan dari sekadar objek permainan menjadi metafora yang merepresentasikan emosi, ingatan, dan pengalaman batin manusia. Melalui penataan latar, properti, serta pencahayaan yang dirancang secara cermat, ia membangun ruang-ruang imajinatif yang mengaburkan batas antara realitas dan fantasi.
Sejak aktif berpameran pada 2018, Ufa terus memperluas praktik artistiknya melalui berbagai pameran tunggal dan kelompok. Ia menggelar pameran tunggal Lost in Wonderland di Indieart House Yogyakarta (2021), yang kemudian diikuti oleh Mlaku-Mlaku nang Alun-Alun Suroboyo di Balai Pemuda Surabaya (2023), The Icon di Jakarta (2023), Jogja Affordable Art di Yogyakarta (2023), The Beginning di ArtLab Lounge Surabaya (2024). Selain itu, karya-karyanya juga dipresentasikan dalam pameran bersama, antara lain Perupa Muda #6: You Nom It di Yogyakarta (2024), The Grandeur of Classicism Reimmaginari Renaissance di Bandung, SENS OF SELF di Jakarta (2025), dan The Subconscious Room Yogyakarta (2025). (put)