ReportaseSeni TradisiTerbaru

KARAWITAN KAMPUNG BURENGAN

no-img
KARAWITAN KAMPUNG BURENGAN

Gending-gending Karawitan mengalun syahdu dari sebuah rumah sederhana bernama Wisma Budaya Larasati, di Kampung Burengan, Kota Kediri. Malam itu Jumat (8/12) ada tiga kelompok Karawitan yang tampil bergantian di ruang sempit, yaitu Kelompok Karawitan Wreda Laras, yang terdiri dari para pensiunan ASN anggota PWRI (Wredotama). Kedua, Puspito Laras, yang beranggotakan ibu-ibu PKK, di mana kesibukan lainnya adalah mengurusi Bank Sampah. Dan yang ketiga adalah kelompok Kartika Laras, yang anggotanya mayoritas lelaki.

Menurut Nyonya Rumah, Ibu Endang Sumarwanti (77), acara bernamaTemu Budaya Temu Larasati ini berlangsung tiap bulan sejak tahun 2001. Kali ini adalah yang pertama sekaligus menyambut tahun baru 2026. Selain Karawitan sebetulnya juga ada Kelompok Campursari bernama Kencana Laras.

Ketua RW V, Faizal, yang ikut hadir menyebutkan bahwa Kampung Ini memang Kampung Seni Berseri. Ada juga Komunitas Karaoke di Kampung ini. Ibu Lurah juga hadir, dan mengaku bangga bahwa warganya masih setia uri-uri Kebudayaan Jawi.

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Kediri Wahyu “Alam” Yuwono, memberikan informasi bahwa Kampung Burengan ini memang bisa disebut Kampung Budaya. Nama Burengan itu sendiri berasal dari nama Mbah Singo Bureng, yang dipercaya sebagai sosok yang mbabat alas Kampung ini. Konon mBah Singo Bureng adalah abdi dalem Raden Gunungsari, adik Dewi Sekartaji.

“Mohon maaf nggih bapak ibu warga RW V yang terganggu dengan bebunyian Karawitan kami. Mohon dimaklumi bahwa kami sedang uri-uri Kabudayan Jawi. Namun kami tahu diri, jam 23.00 dipastikan acara ini sudah selesai,” ujar Bu Endang, perempuan sepuh yang masih energik ini.

Dalam acara yang berlangsung sejak pukul 20.30 itu juga terlihat hadir beberapa mahasiwa yang mengenakan jaket almamater UIN Syech Wasil, Kediri.

Di ujung acara, Tiba-tiba ada yang tak tahan untuk berdiam diri. Diiringi gending karawitan, mereka lantas berjoget ria.

Dan saya, yang kesasar datang ke acara itu, Tiba-tiba didaulat memberikan sambutan atas nama “Budayawan dari Tingkat Satu.” Ya sudahlah, maksud hati hanya menghabiskan malam lantaran acara saya baru besok pagi, jadinya menemukan suasana yang membuat tenteram hati. Matur suwun Mas @Arif Kusuma, dan Mas @Jamran, pematung dan mantan ketua DK Kota Kediri.
Terimakasih juga pada Mas Kahar, yang baru kenal malam itu. Dia adalah Seniman langka yang membuat ukiran dengan tema khusus Panji. Nanti saya tulis sendiri. (hn)

In category: ReportaseSeni TradisiTerbaru
Related Post
no-img
Ludruk Besutan Meimura: Kearifan Lokal yang Terlupakan

MOJOKERTO:  Melalui tema “Batu-batu Bersuara”, kita diajak mendengarka...

no-img
Besutan Masuk Kampus di Mojokerto

MOJOKERTO: Setelah tampil di empat kota, Ludruk Garingan “Besut Jajah Des...

no-img
Panggung Besutan Diserbu Anak-anak

NGANJUK: Pentas ludruk besutan oleh Meimura (Meijono) kali ini terasa seper...

no-img
Besutan Meimura “Sambang Putu” di Nganjuk

NGANJUK: Pentas keliling Ludruk Garingan Meimura (Meijono) kali ini akan be...

no-img
Besutan Meimura Masuk Kandang Macan

JOMBANG: Meimura alias Meijono tak ubahnya masuk kandang macan ketika dia m...

no-img
Besut Mudik ke Jombang

JOMBANG: Setelah Surabaya dan Sidoarjo, kali ini pentas keliling “Besut J...

  • 7,030
  • 7