Surabaya Kaya Materi untuk Eksplorasi Seni
SURABAYA: Kota Surabaya ini sangat kaya dengan materi yang dapat dieksplorasi menjadi karya seni. Kreativitas perupa jangan hanya terbelenggu oleh karya dua dimensi yang itu-itu saja, namun harus berani menjelajah ruang kreativitas yang masih terbuka luas. Keberadaan Pasar Loak misalnya, adalah salah satu titik penting yang menyediakan bahan baku untuk menciptakan karya seni rupa yang inovatif.
Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi seni rupa “Membaca Kota Lewat Material dan Karya Seni” yang diselenggarakan Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Sabtu malam (3/10). Acara yang dilangsungkan di Galeri DKS ini menghadirkan perupa Bagas Karunia Putra dan Agung Tato sebagai narasumber dengan moderator Agus Kucink.
Bagas mengisahkan masa kecilnya bersekolah di SD Simpang, depan Grahadi, tiap hari berjalan kaki ke rumahnya di kampung Genteng, melewati kompleks Balai Pemuda. Ketika masih SD itulah dia sudah mengetahui keberadaan Aksera, sehingga di kemudian hari dia mengkuti kursus melukis Sekolah Minggu ketika Aksera tutup. Dalam perjalanan berikutnya, Bagas sempat ikut pameran lukisan di Loka Seni dan Galeri DKS ketika dia masih SMA.
Ketika kemudian kuliah seni rupa di IKIP Negeri Surabaya, Bagas berkarya dekoratif dan terlibat dalam komunitas Holopis Kuntul Baris. Dalam kelompok ini, para pelukis ditantang membuat karya berukuran besar, mencapai 4 x 7 meter. Sejumlah nama yang tercatat dalam lingkungan kelompok tersebut antara lain Koeboe Sarawan, S. Yadi, Dadang Rukmana, Sugiarso Widodo, Gatot Pujiarto, dan Slamet Hendro Kusumo.
Satu peristiwa yang membekas dalam diri Bagas terkait kelompok ini adalah, ketika digelar lelang saat pameran di Balai Pemuda tahun 2000, karya Bagas tidak diikutsertakan. Bahkan karyanya yang berupa seni rupa kinetik itu diminta untuk “dimatikan” agar bunyinya tidak mengganggu suasana lelang.
“Sejak saat itulah saya tertantang untuk menekuni seni rupa kinetik hingga saat ini,” tegas arek asli Suroboyo ini.

Seni rupa kinetik (Kinetic Art) adalah cabang seni rupa yang mengutamakan unsur gerak sebagai bagian utama dari karya seni. Gerakan tersebut dapat terjadi secara nyata melalui mekanisme tertentu, atau melalui ilusi optik yang membuat karya seolah-olah bergerak ketika dilihat oleh penonton. Dalam seni rupa kinetik, unsur bunyi sangat mungkin hadir, bahkan dapat menjadi bagian integral dari karya. Namun, bunyi bukan unsur wajib atau ciri utama seni kinetik.
Melalui seni rupa kinetik inilah Bagas memanfaatkan bahan-bahan bekas atau limbah yang dia dapat dari Pasar Loak, bahkan dia rela berburu di “Pasar Maling” pukul 03.00 dini hari sambil membawa senter untuk menerangi barangnya.
Kebiasaan yang sama juga dilakukan oleh Agung Tato, yang kecanduan berburu majalah bekas, buku, dan kaset-kaset lama. Agung sepakat dengan Bagas bahwa barang-barang rongsokan itu dianggap sampah dan harus dibuang. Dan itu terjadi dengan “koleksi” barang-barang bekasnya sendiri sehingga harus ditempatkan di ruangan khusus agar tidak dibuang lagi.
Menurut dosen STKW Surabaya ini, merakit benda-benda limbah ini jangan sampai terjebak dalam ketrampilan teknis. Apalagi kemudian dipoles-poles. “Kita harus menghapus jejak sejarah limbah itu sehingga menjadi karya seni baru,” tuturnya.
Kebetulan karya Agung dan Bagas sama-sama dipajang di pameran Artsubs yang masih berlangsung hingga 8 November nanti. Sedangkan karya Bagas juga masih terpajang di Pameran Titik Temu yang diselenggarakan di Galeri DKS hingga Minggu besok (4/10).
Diskusi yang juga dihadiri oleh dua kurator Artsubs, Nirwan Dewanto dan Asmujo Irianto ini lantas berkembang ke mana-mana. Tidak bisa dihindari pada ujung diskusi juga mempersoalkan pemaknaan Artsubs yang dilontarkan oleh ketua DKS, Chrisman Hadi. (hn)