Berita•seni rupa•Terbaru

Skenografi, Scanner, dan Cara Baru Menciptakan Seni

no-img
Skenografi, Scanner, dan Cara Baru Menciptakan Seni

SURABAYA: Apakah karya seni harus selalu diciptakan dari sesuatu yang benar-benar baru? Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR) Yogyakarta menawarkan kemungkinan berbeda melalui eksperimen skenografi dan metode salin dalam ARTSUB 2026. Dengan memanfaatkan scanner, gambar atau objek yang sudah ada tidak sekadar direproduksi, tetapi dipilih, diubah, dan ditafsirkan kembali hingga melahirkan bentuk visual baru. Dalam pendekatan ini, menyalin bukan lawan dari kreativitas. Sebaliknya, proses tersebut justru menjadi jalan untuk menemukan kebaruan.

Scanner selama ini dikenal sebagai perangkat untuk memindai dan menggandakan gambar atau dokumen. Namun, dalam proyek Never Alone Scanner yang dihadirkan Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR) Yogyakarta di ARTSUB 2026, perangkat tersebut memperoleh peran yang lebih luas. Ia tidak lagi sekadar alat teknis, melainkan kawan berpikir, rekan bekerja, bahkan semacam co-director yang turut membuka kemungkinan baru dalam penciptaan karya seni.

Gagasan tersebut dijelaskan I Dewa Ngakan Made Ardana dalam lokakarya di Balai Budaya, Minggu (11/10). Menurut salah satu penggagas KBUSR itu, istilah Never Alone Scanner berangkat dari pemahaman bahwa seniman sesungguhnya tidak pernah benar-benar bekerja sendirian. Selain gagasan, intuisi, dan keterampilan tangan, ada perangkat yang dapat dilibatkan dalam proses penciptaan untuk membantu mewujudkan visi artistik.

“Scanner itu tidak melulu mesin, tidak melulu alat, tetapi juga sesuatu yang semacam co-director. Dia seperti teman untuk berbagi pikiran. Ketika saya berada di studio sendiri, dia menjadi bagian dari teman yang biasa kita ajak berpikir, bekerja, dan bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan,” ujar Ardana.

Dalam pandangan ini, teknologi tidak ditempatkan semata-mata sebagai perangkat yang tunduk pada perintah manusia. Karakter teknisnya justru membuka kemungkinan visual yang dapat memengaruhi keputusan seniman. Mesin memang tidak memiliki kehendak artistik seperti manusia, tetapi hasil kerjanya dapat memancing penafsiran, mendorong eksperimen, bahkan mengubah arah penciptaan.

Dari Menyalin Menuju Menciptakan

Perbedaan antara pemindaian biasa dan praktik Never Alone Scanner terletak pada niat serta proses artistik yang menyertainya. Dalam penggunaan konvensional, scanner umumnya berfungsi merekam atau menyalin gambar dengan hasil yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya. Dalam proyek KBUSR, pemindaian justru menjadi bagian dari proses penciptaan, bahkan dapat berfungsi seperti membuat sketsa.

Gambar yang diletakkan di atas permukaan scanner bukanlah hasil akhir yang harus dipertahankan apa adanya. Ia menjadi bahan awal yang dibaca kembali oleh mesin. Hasil pemindaian kemudian diolah melalui komputer. Seniman dapat memilih bagian tertentu, memotong, memperbesar, atau mengubah komposisi sesuai dengan gagasan yang hendak dikembangkan.

“Dalam proses editing, kita memilih bagian mana yang mau kita ambil. Kita mengambilnya sesuai dengan sensibilitas kita. Itu yang membedakan hasilnya dari scan biasa. Masih ada proses memilih, menyeleksi, kemudian menjadikannya satu karya tersendiri, misalnya lukisan,” jelas Ardana.

Karena itu, hasil pemindaian tidak harus menjadi reproduksi yang identik dengan objek asal. Satu gambar dapat melahirkan berbagai bentuk baru, bergantung pada kepekaan dan keputusan artistik senimannya. Sebuah lukisan kecil, misalnya, dapat dipindai lalu diperbesar sehingga menghadirkan karakter visual berbeda. Bagian tertentu dari gambar juga dapat dipilih untuk menghasilkan komposisi yang sama sekali baru.

Praktik semacam ini berkaitan dengan gagasan skenografi yang diperkenalkan dalam eksperimen KBUSR. Yuli Prayitno menjelaskan dalam acara Wicara Seniman, bahwa skenografi adalah sebuah cara memaksimalkan potensi sesuatu yang tersedia dan dibutuhkan. Pendekatan tersebut tidak terbatas pada penciptaan bentuk visual, tetapi juga melibatkan kemampuan mengamati, mengomposisikan, dan mengolah objek keseharian melalui cara yang tidak biasa.

Dengan alat dan material yang sama, setiap seniman tetap dapat menghasilkan karya berbeda. Selera, intuisi, pengalaman, dan cara berpikir menentukan bagaimana sebuah objek dibaca serta diolah. Artinya, kreativitas tidak selalu bergantung pada penemuan material atau alat baru, tetapi juga pada kemampuan menemukan kemungkinan lain dari sesuatu yang sudah tersedia.

Dalam konteks itu, skenografi dan metode salin bertemu sebagai pendekatan yang mendorong seniman keluar dari kebiasaan. Objek tidak lagi dilihat hanya berdasarkan bentuk dan fungsi awalnya. Ia dapat dipindahkan ke konteks lain, diubah skalanya, dipotong, disusun ulang, dan ditafsirkan kembali.

Tidak Sekadar Menggandakan

Handiwirman Saputra menjadi salah satu rujukan penting dalam pengembangan metode salin melalui scanner di KBUSR. Pemanfaatan alat pemindai untuk kepentingan artistik sebenarnya bukan hal baru. Namun, potensinya dapat dikembangkan lebih jauh ketika proses menyalin tidak berhenti pada penggandaan gambar.

Dalam praktik yang lazim, hasil pemindaian sering diterima begitu saja sebagai salinan. Padahal, gambar yang telah direkam masih dapat diintervensi melalui pemilihan bagian, perubahan ukuran, penyuntingan, dan berbagai penyesuaian lainnya. Proses tersebut membuka peluang bagi lahirnya karya yang tidak sekadar mengulang bentuk sebelumnya.

Handiwirman mengembangkan kemungkinan ini dengan memaksimalkan kemampuan scanner untuk menghasilkan pengalaman visual yang berbeda. Pengetahuan dan pengalamannya kemudian menjadi bagian dari proses berbagi di KBUSR, sehingga seniman lain dapat mengeksplorasi teknik tersebut sesuai dengan pendekatan masing-masing.

Dalam kesempatan Wicara Seniman sebelum berlangsung workshop, Asmudjo J. Irianto mengaitkan metode salin dengan seni grafis yang mengenal proses penggandaan atau edisi. Namun, dalam pendekatan ini, penggandaan bukan semata-mata menghasilkan sejumlah salinan yang seragam. Proses menyalin justru dapat menjadi titik awal eksplorasi artistik, dengan hasil yang berbeda-beda sesuai gagasan dan keputusan seniman.

Di sinilah metode salin memperoleh makna yang lebih luas. Menyalin bukan berarti kehilangan orisinalitas atau sekadar mengulang sesuatu yang sudah ada. Sebaliknya, tindakan merekam dan mengolah ulang dapat menghasilkan interpretasi baru. Karya tidak selalu harus dimulai dari penciptaan objek yang sepenuhnya baru, tetapi dapat tumbuh dari pengamatan serta pengolahan kembali terhadap sesuatu yang telah tersedia.

Pendekatan tersebut sekaligus memperluas pemahaman mengenai hubungan antara penciptaan, reproduksi, dan distribusi karya seni. Teknologi yang biasanya dipakai untuk membuat salinan justru dapat menjadi medium eksperimentasi, tempat seniman menemukan bentuk yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Material dan Keterlibatan Mesin

Dalam praktik Never Alone Scanner, material transparan seperti lembaran akrilik menjadi salah satu pilihan penting. Bahan tersebut memungkinkan mesin membaca gambar atau jejak visual yang dibuat di atas permukaannya. Mika juga dapat digunakan, sedangkan kertas biasa memiliki keterbatasan tertentu bergantung pada ketebalan dan karakter materialnya.

Pemilihan material memperlihatkan bahwa proses kreatif tidak hanya berlangsung di depan layar komputer. Proses itu dimulai ketika seniman menentukan bahan, membuat gambar, menyusun lapisan, dan menempatkan objek di atas mesin. Setelah dipindai, hasilnya kembali diolah melalui keputusan artistik.

Setiap tahap membuka kemungkinan berbeda. Perubahan material, susunan, atau bagian gambar yang dipilih dapat menghasilkan citra yang berlainan. Scanner menjadi penghubung antara kerja manual dan pengolahan digital, sekaligus menyediakan ruang bagi seniman untuk menguji kemungkinan visual yang tidak selalu dapat diperkirakan sejak awal.

Bagi Ardana, proses ini dapat dipahami sebagai kelahiran kembali. Sebuah karya tidak harus berhenti pada bentuk pertamanya. Ketika dipindai, karya itu dapat bersalin rupa, berubah skala, mengalami pergeseran komposisi, dan hadir kembali melalui bentuk yang berbeda. Seniman dapat meneruskan proses tersebut atau menghentikannya ketika hasil yang diinginkan telah tercapai.

Scanner sebagai Produser

Pada akhirnya, Never Alone Scanner bukan sekadar proyek tentang pemanfaatan teknologi dalam seni rupa. Lebih jauh, proyek ini menawarkan cara pandang mengenai proses penciptaan itu sendiri: karya dapat lahir dari pertemuan gagasan seniman, karakter material, kemampuan teknis mesin, dan keputusan artistik yang berlangsung sepanjang proses.

“Scanner itu tidak sekadar alat atau tool. Dia juga produser yang sejajar dengan kita,” kata Ardana.

Pernyataan tersebut menempatkan mesin sebagai mitra produksi, bukan sekadar perangkat pasif. Scanner tetap bekerja berdasarkan sistem dan instruksi, tetapi karakter teknisnya menghadirkan kemungkinan yang dapat mengubah cara seniman melihat objek dan mengambil keputusan. Hubungan itu bersifat kolaboratif: mesin menyediakan kemungkinan, sedangkan seniman memilih, menafsirkan, dan menentukan makna hasil akhirnya.

Melalui Never Alone Scanner, KBUSR mengajak seniman dan publik melihat kembali batas antara alat, material, dan gagasan. Mesin pemindai yang sehari-hari digunakan untuk menyalin dokumen dapat berubah menjadi ruang eksperimen artistik. Sebuah gambar bisa dibaca ulang, dipecah, diperbesar, disusun kembali, lalu dilahirkan dalam bentuk baru.

Di tangan seniman yang bersedia bereksperimen, proses menyalin bukan lagi akhir dari penciptaan, melainkan awal bagi kemungkinan berikutnya. Scanner pun tidak sekadar merekam apa yang sudah ada. Ia menjadi kawan berpikir yang membantu seniman menemukan sesuatu yang sebelumnya belum terlihat. (put/hn)

 

In category: Berita•seni rupa•Terbaru
Related Post
no-img
Skenografi, Scanner, dan Cara Baru Menciptakan Seni

SURABAYA: Apakah karya seni harus selalu diciptakan dari sesuatu yang benar...

no-img
Museum di ARTSUBS: Teror dari Seniman yang Berkantor

KEHADIRAN Museum Tanpa Jangkar dan Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR) ...

no-img
Mono Serigrafi: Ketika Sablon Menjadi Medium Ekspresi Seni

NAMA resminya terdengar cukup rumit: Workshop Mono Serigrafi. Padahal, seca...

no-img
Nirwan Dewanto: Seni Rupa Kontemporer adalah Medan Omnivora yang Melampaui Batas

SURABAYA – Seni rupa kontemporer merupakan medan yang bersifat omnivora a...

no-img
Surabaya Kaya Materi untuk Eksplorasi Seni

SURABAYA: Kota Surabaya ini sangat kaya dengan materi yang dapat dieksplora...

no-img
Andy Rahman: Arsitektur Dituntut Kurangi Eksploitasi Alam

SURABAYA – Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan dengan men...

  • 10,272
  • 2